
Malam itu, Nada menghabiskan waktunya di tempat tidur memandangi wajah suaminya. Dia sangat rindu pada Pradipta. Padahal baru saja, suaminya itu menelpon cukup lama, 15 menit. Nada bahagia sekali, sampai sampai dia catat di buku hariannya. Ya, 15 menit Pradipta menelpon Nada tanpa membicarakan pekerjaan. Tanpa diganggu oleh ibu mertua dan adik- adiknya. Katanya sih, mereka bertiga sedang berjalan jalan, entah kemana. Pradipta baru saja pulang dari kantor dan menyempatkan diri menelpon Nada.
Nada melamun menghayalkan pelukan dan kata kata manis suaminya. Tadi, Pradipta bilang akan membangun sebuah rumah besar dan indah untuk Nada di Jakarta, dan Nada diminta menyiapkan sertifikat tanah milik Nada yang ada di daerah Pol Tangen, Pasar Minggu. Tanah yang cukup luas yang dibelikan Papa Nada sebagai tabungan. Kata Pradipta, dengan tabungannya dan jabatannya sebagai direktur di LC. Nada bangga dan bahagia. Wajahnya tidak berhenti tersenyum. Diciuminya guling yang dia bungkus kemeja Pradipta sambil tersenyum.
Tadi saat Nada mengatakan rindu dan meminta Pradipta untuk pulang, Suaminya itu sempat menggodanya. Ya, Pradipta memang manis sekali dan banyak bicara kalau di telpon. Akan sedikit berbeda kalau berduaan. Selama delapan tahun pernikahannya, Nada jarang berkumpul dengan suaminya. Namun komunikasi melalui telepon dilakukan setiap hari. Kata ibu sih sama saja. Toh banyak suami istri yang serumah malah tidak bicara setiap hari.
Selama delapan tahun pernikahannya, Pradipta lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri Singa.
Beberapa kali Nada menyusul ke Singapura. Namun saat Nada disanapun, waktu Pradipta sangat sulit. Pradipta
yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, hanya menemuinya saat sarapan dan malam sebelum tidur. Bahkan makan malampun Pradipta habiskan bersama kolega atau dikantor. Nada sangat mengenal Pradipta yang memang pekerja keras.
Saat menyusul suaminya ke Singapura, Ibu mertua dan kedua adik ipar selalu mengikutinya. Biasanya, Ibu yang menentukan penggunaan kamar. Ibu tidur dikamar Pradipta dengan alasan kangen pada anak laki-laki satu-satunya, dan ibu lebih berhak pada anak laki-lakinya disbanding istri. Sedangkan Nada akan tidur dengan adik adiknya, atau bahkan di karpet depan televise. . Apartemen Pradipta tidak besar, hanya 2 kamar. Kadang mereka mencoba bermesraan di depan televisi. Namun hanya sebatas duduk bersama dan ngobrol, tidak bisa lebih. Pradipta selalu beralasan ada ibu dan adik adiknya yang mondar mandir, jika Nada mendekatinya. Ya sepolos dan sebaik itulah Nada.
Khayalan Nada akan suaminya terputus saat terdengan dering dari gawainya. Dilihatnya layar gawai yang menunjukan nama Sandra sahabatnya. Dilihatnya jam menunjukan pukul 7 malam. Diambilnya gawainya yang ternyata sudah menunjukan miscall 5 kali.
“Halo,” salam Nada dengan lembut dan ceria, yang khas.
“Hai, Nada! Ngapain aja sih? Lama banget sampai lima kali telpon nggak diangkat. Mentang-mentang lagi sama suami,” kata Sandra nyerocos.
“Ya maaf San. Aku nggak denger tadi. Maksudnya gimana?” tanya Nada
“Aish, bolot kumat. Kamu dimana? Lagi di Grand Indonesia kan? Ketemuan yuk mumpung sama-sama di GI,”
ajak Sandra.
“GI, nggak kok. Aku lagi dirumah,” kata Nada heran.
“Hah dirumah? Kenapa nggak ikut Pradipta? Jarang jarang kan dia di Jakarta,” tanya Sandra keheranan. “Eh tapi, Pradipta sama siapa Nad?” “Pradipta? Salah orangkali. Mas Pradipta di Singapura kok. Baru sore tadi nelpon,” jawabku.
“Nggak nad, beneran, di depanku sekarang ada Pradipta lagi berdua sama cewek. Dia pakai celana selutut denim hitam dan kaos Nike warna biru, samaan sama ceweknya gitu,” kata Sandra dengan bisik bisik.
“Nggak mungkin, kamu ngaco ah. Kalau mas Pradipta pulang, pasti ya kerumah kan. Ini nggak ada.Lagian kalau suamiku pulang, ibu dan adik adikku pasti heboh,” kataku. “Udah ah, lagian ngapain kamu di Jakarta nggak bilang bilang?”
“Aku tuh baru saja selesai meeting dengan klien yang akan merayakan pernikahan di resto kita di Dago, Nad. Karena aku pikir Cuma meeting dan pulang Bandung, ya aku nggak ngabarin kamu. Eh malah lihat suamimu. Ya aku pikir kamu di GI bisa sekalian ketemuan kan.”
“Nggak, aku dirumah dan mas Pradipta di Singapura,” kataku yakin.
“Eh bentar, itu ada temennya datang. Aku nguping bentar,” kata Sandra. Dan beberapa saat yang kudengar hanya suara dengungan dan berisik kas mall.
“Tuh kan, bener. Dia Pradipta. CTO Lion Communication Jakarta yang baru. Nama sama, tempat kerja sama kan Nad,” kata Sandra. “Bentar ya Nad matiin dulu, nantikukirimin videonya biar kamu percaya.” Nada yang sangat percaya padasuaminya, tidak terlalu memikirkan kata kata Sandra.
Sepuluh menit kemudian, Nada kembali mendengar gawainya berdenting tanda ada pesan masuk. Sandra mengirimkan video yang sebenarnya tidak cukup jelas karena diambil dari jarak yang cukup jauh. Dalam video itu ada seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Pradipta sedang makan malam bersama seorang wanita cantik dengan dandanan yang keren. Tampak laki-laki itumendapat suapan dari kekasihnya. Kekasih? Ya pasti mereka sepasang kekasih, karena tampak sangat mesra. Nada bangun dari tiduran dan mengulang memutar video tadi beberapa kali, meyakinkan matanya. Dalam video itu Sandra bilang akan mendekat agar lebih jelas. Kalau perlu
Sandra akan menegur Pradipta. Namun belum sempat melangkah mendekat, Sandra ditabrak ibu-ibu yang kelihatannya sangat cerewet, sampai gawainya terpental jauh. Bukannya minta maaf, ibu tersebut malah langsung mengomeli Sandra. Tentu saja Sandra langsung ngamuk dan terjadilah pertengkaran. Setelah usai dengan ibu ibu
itu, Sandra akan kembali dua sejoli itu kebingungan karena mereka sudah tidak ada disana.
Jantung Nada berdebar keras. Ada rasa sakit yang membakar didadanya. Dibanding wanita cantik tadi, Nada seperti remahan rengginang dipojokan kaleng berisi Emping premium. Nada kembali teringat kata-kata Prita dan
Pipit. Ingin rasanya Nada segera menyelesaikan Make Overnya dan bisa berdiri bangga disamping Pradipta seperti wanita tadi. Ya Nada sedikit yakin kalau laki-laki itu adalah Pradipta.
“Ah mungkin itu hanya temannya yang kebetulan ingin makanannya dicicipi mas Pradipta. Mungkin Mas pradipta datang ke Jakarta karena urusan kantor dan tak sempat menemuinya. “ kataku. Telponku ke nomor mas Pradipta dari tadi tidak tersambungkan. Mungkin gawai mas Pradipta kehabisan baterai. Ah , kasihan sekali. Pasti repot,” gumam Nada pada diri sendiri. Namun ternyata tidak mudah menghilangkan rasa tidak nyaman ini. Pikiran Nada dipenuhi oleh suaminya hingga dia tidak bisa tidur meski kalender hari sudah berganti. Nada tidak tahu harus bagaimana.
Inikah yang namanya cemburu?
POV NADA
Pagi-pagi, Aku bangun,mandi lalu menyiapkan sarapannya. Mataku yang lelah karena kurang tidur. Namun kalau aku terlambat bangun, maka semua orang dirumah ini akan kelaparan, tanpa sarapan. Tentu saja, aku harus bangun dan melakukan tugas rutinku dipagi hari.
Di meja makan, Ayah, ibu, Prita dan Pipit tampak sudah rapi. Sekilas Nada mendengar dua adik iparnya itu sedang berencana jalan jalan dengan Juli sahabat mereka, yang seorang artis terkenal. Secara tidak sengaja, Nada melihat tangan Ibu mencubit tangan Pipit yang sedang nyerocos, tentang Juli sahabatnya. Aku langsung teringat dengan
wanita yang menemani Mas Pradipta kemarin. Ya aku ingat sekarang. Itu kan Juli. Oh, mungkin mereka kebetulan
__ADS_1
ketemu kemarin. Wajar kan kalau mas Pradipta akrab dengan Juli.. Kan Juli sahabat Pipit
“Ibu, Pipit, apakah mas Pradipta sedang di Jakarta? Apa kemarin Mas Pradipta makan di GI dengan Juli?” tanyaku ragu saat aku sudah selesai menghidangkan makanan diatas meja. bergabung dengan mereka.
“Nada, unuk apa sih pagi pagi kamu bicara tidak jelas tanpa jluntrungannya?” kata ibu berteriak. Prita dan Pipit yang tadi semangar ngobrol tiba-tiba terdiam. Benar-benar suasanaya jadi aneh. Hanya ayah yang tidak terganggu dengan pertanyaanku. Aku terdiam sesaat.
“Bukan begitu bu, kemarin Sandra bilang ketemu dengan mas Pradipta di GI,” kataku
“Aneh aneh aja kamuNada, Suami lagi kerja keras nyariin uang buat dia, eh malah dicurigai nggak jelas. Kamu itu benar-benar tidak tahu diri ya,” sungut ibu yang langsung di angguki kedua anak perempuannya. Aku mulai merasa tidak enak dan bersalah. Kutundukan kepalaku seperti sedang menghitung jumlah nasi dipiring. Kulahap nasi goreng yang ada didepanku. “Sudah-sudah, mungkin Sandra salah liat Nada. Kalau Pradipta pulang, pasti ada disini sekarang kan. Mau pulang kemana lagi dia,” kata bapak menengahi. “Nggak usah mikir macem-macem ya Nad. Insya Allah Pradipta segera pulang.”
Aku malu pada diri
sendiri. Mengapa pikiranku terhasut oleh setan. Namun aku mencoba meredam dan tidak bicara lagi. Kudengar tarikan kursi Prita, Pipit dan Ibu. Mereka meninggalkan meja akan tanpa membereskan bekas makan mereka sendiri. Sudah biasa kok, nggak apa apa, membereskan meja makan dan dapur kan tugasku.
Setelah ayah berangkat kerja, Ibu juga pergi bersama genk sosialitanya. Sedangkan Prita dan Pipit sudah dijemput teman laki-lakinya, aku segera masuk kekamar. Kubuka gawaiku dan kubaca pesan pesan yang masuk. Saat melihat video yang kemarin aku kembali gelisah. Aku menghubungi Sandra melalui chat untuk memastikan semuanya.
- San\, bantuin aku boleh?-
- Apa? Suruh videoin lagi? Ogah!-
- Ish\, ya nggak lah.
- Aku pingin memastikan keberadaan mas Pradipta aja kok-
- Kenapa nggak nanya ibu mertua sih-
-Udah tapi malah kena semprot. Jadi gimana?-
-Iya iya aku bantuin.-kata Sandra menutup percakapan. Dia menghubungi temannya
Aku kembali dengan rutinitasku, berusaha menyingkirkan cemburu dan kesal ku. Sorenya, Sandra sudah
memberikan hasilnya. Betapa terkejutnya = Malam itu, Nada menghabiskan waktunya di tempat tidur memandangi wajah suaminya. Dia sangat rindu pada Pradipta. Padahal baru saja, suaminya itu menelpon cukup lama, 15
menit. Nada bahagia sekali, sampai sampai dia catat di buku hariannya. Ya, 15 menit Pradipta menelpon Nada tanpa membicarakan pekerjaan. Tanpa diganggu oleh ibu mertua dan adik- adiknya. Katanya sih, mereka bertiga sedang berjalan jalan, entah kemana. Pradipta baru saja pulang dari kantor dan menyempatkan diri menelpon Nada.
Tadi saat Nada mengatakan rindu dan meminta Pradipta untuk pulang, Suaminya itu sempat menggodanya. Ya, Pradipta memang manis sekali dan banyak bicara kalau di telpon. Akan sedikit berbeda kalau berduaan. Selama delapan tahun pernikahannya, Nada jarang berkumpul dengan suaminya. Namun komunikasi melalui telepon dilakukan setiap hari. Kata ibu sih sama saja. Toh banyak suami istri yang serumah malah tidak bicara setiap hari.
Selama delapan tahun pernikahannya, Pradipta lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri Singa.
Beberapa kali Nada menyusul ke Singapura. Namun saat Nada disanapun, waktu Pradipta sangat sulit. Pradipta
yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, hanya menemuinya saat sarapan dan malam sebelum tidur. Bahkan makan malampun Pradipta habiskan bersama kolega atau dikantor. Nada sangat mengenal Pradipta yang memang pekerja keras.
Saat menyusul suaminya ke Singapura, Ibu mertua dan kedua adik ipar selalu mengikutinya. Biasanya, Ibu yang menentukan penggunaan kamar. Ibu tidur dikamar Pradipta dengan alasan kangen pada anak laki-laki satu-satunya, dan ibu lebih berhak pada anak laki-lakinya disbanding istri. Sedangkan Nada akan tidur dengan adik adiknya, atau bahkan di karpet depan televise. . Apartemen Pradipta tidak besar, hanya 2 kamar. Kadang mereka mencoba bermesraan di depan televisi. Namun hanya sebatas duduk bersama dan ngobrol, tidak bisa lebih. Pradipta selalu beralasan ada ibu dan adik adiknya yang mondar mandir, jika Nada mendekatinya. Ya sepolos dan sebaik itulah Nada.
Khayalan Nada akan suaminya terputus saat terdengan dering dari gawainya. Dilihatnya layar gawai yang menunjukan nama Sandra sahabatnya. Dilihatnya jam menunjukan pukul 7 malam. Diambilnya gawainya yang ternyata sudah menunjukan miscall 5 kali.
“Halo,” salam Nada dengan lembut dan ceria, yang khas.
“Hai, Nada! Ngapain aja sih? Lama banget sampai lima kali telpon nggak diangkat. Mentang-mentang lagi
sama suami,” kata Sandra nyerocos.
“Ya maaf San. Aku nggak denger tadi. Maksudnya gimana?” tanya Nada
“Aish, bolot kumat. Kamu dimana? Lagi di Grand Indonesia kan? Ketemuan yuk mumpung sama-sama di GI,”
ajak Sandra.
“GI, nggak kok. Aku lagi dirumah,” kata Nada heran.
“Hah dirumah? Kenapa nggak ikut Pradipta? Jarang jarang kan dia di Jakarta,” tanya Sandra keheranan. “Eh
__ADS_1
tapi, Pradipta sama siapa Nad?”
“Pradipta? Salah orang kali. Mas Pradipta di Singapura kok. Baru sore tadi nelpon,” jawabku.
“Nggak nad, beneran, di depanku sekarang ada Pradipta lagi berdua sama cewek. Dia pakai celana selutut denim hitam dan kaos Nike warna biru, samaan sama ceweknya gitu,” kata Sandra dengan bisik bisik.
“Nggak mungkin, kamu ngaco ah. Kalau mas Pradipta pulang, pasti ya kerumah kan. Ini nggak ada. Lagian kalau suamiku pulang, ibu dan adik adikku pasti heboh,” kataku. “Udah ah, lagian ngapain kamu di Jakarta nggak bilang bilang?”
“Aku tuh baru saja selesai meeting dengan klien yang akan merayakan pernikahan di resto kita di Dago, Nad. Karena aku pikir Cuma meeting dan pulang Bandung, ya aku nggak ngabarin kamu. Eh malah lihat suamimu. Ya aku pikir kamu di GI bisa sekalian ketemuan kan.”
“Nggak, aku dirumah dan mas Pradipta di Singapura,” kataku yakin.
“Eh bentar, itu ada temennya datang. Aku nguping bentar,” kata Sandra. Dan beberapa saat yang kudengar hanya suara dengungan dan berisik kas mall.
“Tuh kan, bener. Dia Pradipta. CTO Lion Communication Jakarta yang baru. Nama sama, tempat kerja sama kan Nad,” kata Sandra. “Bentar ya Nad matiin dulu, nantikukirimin videonya biar kamu percaya.” Nada yang sangat percaya pada suaminya, tidak terlalu memikirkan kata kata Sandra.
Sepuluh menit kemudian, Nada kembali mendengar gawainya berdenting tanda ada pesan masuk. Sandra mengirimkan video yang sebenarnya tidak cukup jelas karena diambil dari jarak yang cukup jauh. Dalam video itu ada seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Pradipta sedang makan malam bersama seorang wanita cantik dengan dandanan yang keren. Tampak laki-laki itumendapat suapan dari kekasihnya. Kekasih? Ya pasti mereka sepasang kekasih, karena tampak sangat mesra. Nada bangun dari tiduran dan mengulang memutar video tadi beberapa kali, meyakinkan matanya. Dalam video itu Sandra bilang akan mendekat agar lebih jelas. Kalau perlu
Sandra akan menegur Pradipta. Namun belum sempat melangkah mendekat, Sandra ditabrak ibu-ibu yang kelihatannya sangat cerewet, sampai gawainya terpental jauh. Bukannya minta maaf, ibu tersebut malah langsung mengomeli Sandra. Tentu saja Sandra langsung ngamuk dan terjadilah pertengkaran. Setelah usai dengan ibu ibu
itu, Sandra akan kembali dua sejoli itu kebingungan karena mereka sudah tidak ada disana.
Jantung Nada berdebar keras. Ada rasa sakit yang membakar didadanya. Dibanding wanita cantik tadi, Nada seperti remahan rengginang di pojokan kaleng berisi Emping premium. Nada kembali teringat kata-kata Prita dan
Pipit. Ingin rasanya Nada segera menyelesaikan Make Overnya dan bisa berdiri bangga disamping Pradipta seperti wanita tadi. Ya Nada sedikit yakin kalau laki-laki itu adalah Pradipta.
“Ah mungkin itu hanya temannya yang kebetulan ingin makanannya dicicipi mas Pradipta. Mungkin Mas pradipta datang ke Jakarta karena urusan kantor dan tak sempat menemuinya. “ kataku. Telponku ke nomor mas Pradipta dari tadi tidak tersambungkan. Mungkin gawai mas Pradipta kehabisan baterai. Ah kasihan sekali. Pasti repot,” gumam Nada pada diri sendiri. Namun ternyata tidak mudah menghilangkan rasa tidak nyaman ini. Pikiran Nada dipenuhi oleh suaminya hingga dia tidak bisa tidur meski kalender hari sudah berganti. Nada tidak tahu harus bagaimana.
Inikah yang namanya cemburu?
POV NADA
Pagi-pagi, Aku bangun,mandi lalu menyiapkan sarapannya. Mataku yang lelah karena kurang tidur. Namun kalau aku terlambat bangun, maka semua orang dirumah ini akan kelaparan, tanpa sarapan. Tentu saja, aku harus bangun dan melakukan tugas rutinku dipagi hari.
Di meja makan, Ayah, ibu, Prita dan Pipit tampak sudah rapi. Sekilas Nada mendengar dua adik iparnya itu sedang berencana jalan jalan dengan Juli sahabat mereka, yang seorang artis terkenal. Secara tidak sengaja, Nada melihat tangan Ibu mencubit tangan Pipit yang sedang nyerocos, tentang Juli sahabatnya. Aku langsung teringat dengan
wanita yang menemani Mas Pradipta kemarin. Ya aku ingat sekarang. Itu kan Juli. Oh, mungkin mereka kebetulan
ketemu kemarin. Wajar kan kalau mas Pradipta akrab dengan Juli.. Kan Juli sahabat Pipit
“Ibu, Pipit, apakah mas Pradipta sedang di Jakarta? Apa kemarin Mas Pradipta makan di GI dengan Juli?” tanyaku ragu saat aku sudah selesai menghidangkan makanan diatas meja. bergabung dengan mereka.
“Nada, unuk apa sih pagi pagi kamu bicara tidak jelas tanpa jluntrungannya?” kata ibu berteriak. Prita dan Pipit yang tadi semangar ngobrol tiba-tiba terdiam. Benar-benar suasanaya jadi aneh. Hanya ayah yang tidak terganggu dengan pertanyaanku. Aku terdiam sesaat.
“Bukan begitu bu, kemarin Sandra bilang ketemu dengan mas Pradipta di GI,” kataku
“Aneh aneh aja kamu Nada, Suami lagi kerja keras nyariin uang buat dia, eh malah dicurigai nggak jelas. Kamu itu benar-benar tidak tahu diri ya,” sungut ibu yang langsung di angguki kedua anak perempuannya. Aku mulai merasa tidak enak dan bersalah. Kutundukan kepalaku seperti sedang menghitung jumlah nasi dipiring. Kulahap nasi goreng yang ada didepanku.
“Sudah-sudah, mungkin Sandra salah liat Nada. Kalau Pradipta pulang, pasti ada disini sekarang kan. Mau pulang kemana lagi dia,” kata bapak menengahi. “Nggak usah mikir macem-macem ya Nad. Insya Allah Pradipta segera pulang.”
Aku malu pada diri sendiri. Mengapa pikiranku terhasut oleh setan. Namun aku mencoba meredam dan tidak bicara lagi. Kudengar tarikan kursi Prita, Pipit dan Ibu. Mereka meninggalkan meja makan tanpa membereskan bekas makan mereka sendiri. Sudah biasa kok, nggak apa apa, membereskan meja makan dan dapur kan tugasku.
Setelah ayah berangkat kerja, Ibu juga pergi bersama genk sosialitanya. Sedangkan Prita dan Pipit sudah dijemput teman laki-lakinya, aku segera masuk kekamar. Kubuka gawaiku dan kubaca pesan pesan yang masuk. Saat melihat video yang kemarin aku kembali gelisah. Aku menghubungi Sandra melalui chat untuk memastikan semuanya.
- San\, bantuin aku boleh?-
- Apa? Suruh videoin lagi? Ogah!-
- Ish\, ya nggak lah.
- Aku pingin memastikan keberadaan mas Pradipta aja kok-
- Kenapa nggak nanya ibu mertua sih-
__ADS_1
-Udah tapi malah kena semprot. Jadi gimana?-
-Iya iya aku bantuin.- kata Sandra menutup percakapan. Dia menghubungi temannya