
POV NARA (flash back on)
Di taman yang tampak mulai sepi pengunjung, aku menikmati malam, berdua suamiku, Pradipta. Kami menghabiskan waktu dengan berbincang sambil menyantap cemilan yang tadi dibeli oleh Pradipta. Tak jauh dariku, M dan dua sahabatnya tampak mengamati kami dengan santai sambil makan cemilan yang tadi dibeli anak buahnya saat berada disamping Pradipta. Perbincangan santai kami dipenuhi dengan rayuan dan kata rindu Pradipta yang membuat pipiku memanas. Awalnya aku sedikit menjaga jarak dengan Pradipta. Entah kenapa ketika aku menyadari M ada disana, aku tidak nyaman dengan sikap mesra Pradipta. Saat itu juga rasanya aku ingin menjaga jarak dengan laki-laki yang notabene adalah suamiku.
__ADS_1
Entah menyadari atau tidak dengan sikapku yang menjaga jarak, Pradipta masih terus berusaha mendekatiku. Sepertinya dia tidak peduli dengan sikap menjaga jarakku. Bahkan dengan terang-teragan dia merayuku, seolah olah dia saat ini bukan tunangan siapapun. Dia berani mengatakan bahwa dia selalu memikirkanku.
“Aku ingin selalu bertemu denganmu” kata Pradipta dengan muka memerah. Tatapan matanya yang lembut namun nanar membuatku sedikit risih tapi juga meleleh. Bagaimanapun juga, Pradipta adalah laki-laki tampan yang pernah menjadi bagian hidupku cukup lama. Semua yang dilakukan Pradipta ini tentu saja membawa kembali kenanga masa lalu dan membuat perasaanku campur aduk. Namun entah kenapa, kehadiran M mampu memecah perasaan tadi dan membuat semuanya menjadi buram. kepada Nara. Jantung Pradipta berdebar keras.
__ADS_1
Kehadiran Julilah yang mengubah semuanya. Aku harus membuat Juli cemburu dan marah. Untuk itu, aku harus mampu membuat Pradipta fokus kepadaku sehingga tidak menyadari kehadiran tunangannya itu. Aku cukup berhasil rupanya. Pradipta saat itu fokus padaku, hingga tidak menyadari kehadiran Juli, M, henry dan Adrian yang mendekat pada kami. Bahkan dia tidak menyadari pandanganku yang mengamati sebuah mobil yang melintas pelan di jalanan samping taman tak jauh dari kami. Mobil warna merah yang tidak asing bagiku. Juli sedang mengendarai mobilnya dan menyadari keberadaan kami ditaman itu. Aku bersiap siap menghadapi Juli, jika mengamuk dan melabrak kami.
Aku memang tidak secara terang-terangan menatap kearah Juli, namun aku tahu, gadis yang pernah menjadi rivalku setahun lalu itu, sedang turun dari mobil dengan muka marah. Oke, aku harus menjalankan bagianku dengan baik dan benar. Aku mulai menerima sentuhan Pradipta. Aku membiarkan laki menggenggam tanganku dan mengatakan rayuannya. Wajah Pradipta tampak sangat bahagia, saat aku mengijinkannya menyentuhku. Hal inipun membuatku tersenyum geli.
__ADS_1
Dari sudut mataku, aku juga menangkap pergerakan di kursi M dan timnya. Henry dan Adrian terlihat bergerak cepat mendekati kursiku tanpa terlihat siapapun. Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Aku tahu, justru merekalah yang mengkhawatirkan aku. Kini Aku kembali membagi konsentrasi antara kedatangan Juli dan membuat Pradipta hanya fokus padaku. Wanita yang pernah membuat aku menangis berhari-hari itu berhenti beberapa langkah dari tempatku duduk bersama Pradipta. Dia menatap kami nanar sambil kedua tangannya menutup mulutnya. Mungkin dia hanya ingin memastikan apakah yang duduk berssamaku adalah Pradipta, tanpa ingin kehadirannya diketahui sang tunangan.
Juli menatapku nanar. Aku tahu dia mengenaliku. Kini matanya menatapku tajam sambil memastikan siapa aku. Aku pun tahu bahwa dia sadar aku juga melihatnya. Namun Juli tidak bergerak mendekat ataupun bersuara.
__ADS_1