Nada Nara

Nada Nara
BAB 17 Perubahan 'Beauty is Pain’ Disayat, Dihancurkan, Disedot dan Dibius (bagian 4)


__ADS_3

Kali ini aku terbangun dengan seluruh tubuh, tangan dan kaki dibalut dengan perban elastis. Keadaanku saat ini persis seperti mumi dari mesir berukuran besar. Menurut M, aku harus menjalani ini selama beberapa hari kedepan sampai semua benar-benar sembuh. Tubuhku benar-benar kaku dan sakit, sulit untuk digerakan. Aku dengar dari pembicaraan Mahardika dan dokter yang merawatku, mereka akan memberikan obat penahan sakit melalui infus untuk beberapa hari. Pikiran dan kepalaku sangat ringan. Aku seperti melayang dan pikiranku sulit untuk kukendalikan.


“Hai Nada, bagaimana rasanya? Mungkin akan sedikit fly beberapa saat. Seperti ketika kamu mabok. Atau mungkin kamu akan merasa seperti hangover. Aku akan terus disini memantau keadaanmu. Jika kamu merasakan sesuatu yang tidak wajar, sakit atau apapun, kamu harus segera mengatakan padaku,” kata Mahardika sambil menggegam jari-jariku.


“Lalu aku akan langsung menjadi kurus? Apakah saat perban ini dibuka, tubuhku akan langsung terlihat seperti Juli?” tanyaku dengan polos, tanpa menanggapi kata-katanya tadi. M hanya tersenyum sambil menggeleng. Beberapa kali pertanyaan ini aku ucapkan namun sepertinya M tidak ingin menjawabnya. Sepertinya dia belum mau mengatakan apa yang akan terjadi pada tubuhku setelah perban-perban ini dibuka. Mungkin dia tidak ingin aku terlalu berharap hingga berakhir pada kekecewaan setelah melakukan proses berbagai operasi panjang menyakitkan, tanpa jeda.


Besok perban ini akan dibuka. Aku kembali penasaran apakah tubuhku akan langsung berubah. M kembali masih ingin menghindar dari menjawab pertanyaanku. Namun kali ini aku tidak akan melepaskannya. Dia menikmati kopinya sambil duduk di sofa yang ada di kamar rawat.  Desakan demi-demi desakan terus kulayangkan padanya, hingga akhirnya dia mengangkat tangannya, memintaku berhenti bertanya. Diapun menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. Sambil berdiri dari sofa menuju kearahku, dia mencoba berdiplomasi atas jawaban


pertanyaanku.


“Nara, aku belum bisa menjawab pertanyaanmu ini. Tapi yang pasti akan banyak bekas sayatan dan gelambir


kulit,” kata M.


“Setelah ini kamu akan kembali kami evaluasi apakah perlu dilakukan pengulangan atau tidak. Jika tidak, maka proses selanjutnya adalah operasi yang akan menjaga keadaan ini stabil dimasa nantinya. Baru kemudian kita akan mengatasi kelebihan kulit, strechmark, selulit dan bekas luka ditubuhmu. Jika sudah kita akan lanjut dengan mengurus kulitmu,” kata Mahardika. Aku tahu Mahardika tidak terlalu senang mengatakan ini padaku. Sangat terlihat dari raut muka dan caranya berbicara. Aku bersyuku, sebelum semua proses Nada’s Project dimulai, aku telah membuat laki-laki didepanku ini bersumpah untuk selalu jujur dan terbuka tentang proses dan keadaanku, seburuk apapun itu. Tanpa itu semua aku tidak mau melakukan proses apapun. Aku tidak mau dihibur dengan kebohongan atau harapan palsu. Sepahit apapun keadaanku, aku harus tahu. Seberat apapun konsekwensi yang akan kujalani, aku harus memahami. Aku harus terlibat penuh dalam project ini, bukan hanya sebagai object.

__ADS_1


Dari hasil pemeriksaan dan evaluasi, proses liposuction dinyatakan berhasil. Dokter segera akan melakukan prosedur berikutnya. Menurut yang aku baca, proses ini lebih merupakan tindakan medis dibanding bedah kecantikan, meski banyak yang menganggap ini bagian dari bedah kecantikan. Menurut yang aku baca, metode Sleeve gastrectomy  dilakukan dengan membuang sekitar 75-80% bagian lambungku. Bagian lambung yang disisakan berbentuk ramping dan memanjang seperti pisang. Dengan begitu, daya tampung lambung pun berkurang secara signifikan dan pasien akan menjadi lebih cepat kenyang setelah menjalani operasi pemotongan lambung. Sekali lagi tubuhku harus dibius, disayat, dipotong dan dibuang beberapa bagian yang menemaniku sejak kecil.


Berbeda dengan liposuction, proses pemulihan dari tindakan ini tidak terlalu terlihat. Tubuhku biasa-biasa saja. Hanya nyeri di bekas sayatan dan sedikit sesak nafas. Aku mulai bersahabat dengan selang infus


yang menempel di tangaku. Aku kini mulai terbiasa dengan kehadiran jarum, selang dan botol yang mengikutiku kemana-mana, yang dinamakan infus ini. Bahkan dia sudah menjadi bagian darikudan proses mengubah takdir.


Mau bertanya keadaanku? Aku baik baik saja. Meski aku sadari bahwa aku menjadi sensitif, beberapa kali sesak nafat, tidak nyaman saat berbaring karena hampir disetiap bagian tubuhku ada sayatan. Akan tetapi aku adalah Nada. Bukan perempuan cengeng yang lemah. Aku adalah wanita yang sedang berjuang mengubah takdirku dan cintaku. Jadi aku baik baik saja.


“Aku Nara … Aku cantik … Aku sexy … Aku berharga … Aku baik baik saja,” kataku pada diriku sendiri. Kamu bertanya tentang airmata? Tentu ada. Tapi haruskah aku ceritakan pada dunia tentang perihku. Haruskah kuceritakan pada semesta betapa banyaknya cairan tubuhku kutumpahkan dalam bentuk keringat dan darah? Seharusnya kamupun tahu bahwa itu telah banyak kuhamburkan dan takkan bisa lagi kuhitung. Aku bisa apa?


Setelah aku dinyatakan baik-baik saja, lambungku dinyatakan bisa bekerja dengan semestinya, Mahardika menawarkanku untuk pulang dan beristirahat. Dia mengatakan ingin memberikan jeda pada tubuhku dari deraan anetesi, pisau operasi dan kesakitan. Pradipta menawarkan padaku untuk berlibur dari rasa sakit, menikmati keindahan kota Seoul.


“Tidak perlu M, jangan membuang waktu dan uang. Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki. Lagipula aku tidak akan bisa tenang berlibur karena membayangkan setelah ini harus kembali merasakan rasa sakit bertubi-tubi,” kataku. Mahardika mendekatiku. Dia duduk disampingku dan memelukku. Setelah beberapa saat, Dia jauhkan tubuhnya dengan tangannya tetap berada dipundakku.


“Menangislah jika ingin menangis. Aku tahu ini sangat menyakitkan. Beauty is pain, isn’t it?” katanya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya. Aku tertawa getir.

__ADS_1


“Hell yeah! “ kataku sambil terus tersenyum getir. Entah kenapa, airmataku mengalir begitu saja. Ada perasaan hangat menerima perlakuan laki-laki didepanku ini. Ada rasa janggal yang hadir diperutku. Seperti digelitik dari dalam. Seperti ada beberapa kupu-kupu yang beterbangan disana. Mungkin ini yang orang bilang Butterfly efect . Tapi bukankah efek itu hanya untuk orang yang jatuh cinta?


Aku memutuskan menolak tawaran Mahardika untuk jalan-jalan. Alih-alih jalan-jalan dan istrirahat, aku meminta proses selanjutnya segera dijalankan. Masih jauh jalan yang harus kutempuh. Masih banyak tapak yang harus kukumpulkan.


***


Setelah aku terlihat lebih baik, Mahardika memutuskan untuk melanjutkan proses perubahan Nada Nara. Tentu dengan desakanku yang tidak kunjung berhenti. Bagiku, menunggu rasa sakit itu membuang waktu dan malah bikin aku stress. Aku lebih suka semua proses itu dilakukan bersama-sama kalau bisa. Sayangnya, mereka memiliki prosedur yang aku tidak bisa paksakan.


Pagi ini, suster dan Mahardika kembali mempersiapkan aku untuk melakukan abdomonoplasty.  Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan liposuction, tapi ini lebih spesifik. Mahardika mulai menggambar dan menandai perutku dengan pensil kusus. Setelah itu baru anestesi diberikan, akupun mulai tak sadar. Namun dari yang aku baca, dokter akan melakukan sayatan lagi. Lokasi sayatan akan dibuat berdasarkan gambar yang dibuat. Sayatanku membentuk berbagai elemen perut, seperti otot, lemak, dan jaringan, serta mengubah posisi pusar.  Kemudian, kulitku akan diangkat hingga ke area tulang rusuk agar otot perut mudah dijangkau dan dikencangkan. Kulit akan dikencangkan pada area perut, sedangkan lemak dan kulit berlebih akan dipotong dan dibuang. Karena posisi dan bentuk pusarku diubah, maka dibuat sayatan tambahan. Setelah semuanya selesai, seluruh sayatan dijahit perutku kembali dibalut.


Proses kedua dilakukan di punggungku. Dokter melakukan  Sirkumferensial. Prosedurnya sama dengan yang diperutku. Hanya lokasinya saja sekarang di punggung. Sayatan, sedotan dan darah kembali mewarnai perjuanganku. Hal yang sama juga dilakukan di payudaraku.


Operasi demi operasi terus aku jalani setelah selesai dengan prosedur sirkumferensial, beberapa hari kemudian aku harus tertidur dimeja operasi untuk melakukan abdominal contouring dengan membuang kelebihan kulit & lemak yang  tersisa setelah Liposuction, disertai dengan penguatan dinding abdomen.  Selain itu dokter juga membuang kulit yang berlebih atau kendur di seputar dada dan mengencangkan jaringan di sekitarnya untuk membentuk dan menyangga bentuk payudara yang baru. Daerah berpigmen sekitar ****** susu yang melebar dengan tindakan ini diperbaiki hingga tidak menjadi besar.  Kali ini yang dilakukan adalah memotong dan membuang bagian tubuhku.


Setelah selesai dan luka-lukaku mongering, dokter juga melakukan perawatan selulit. Proses ini tidak terlalu sakit menurutku, dokter menghilangkan selulit, dan strechmak dengan cairan kimia dan alat tertentu. Proses selanjutnya adalah pemberian zat kimia tertentu untuk membuat kulitku menjadi putih, lembut dan tak berbulu.

__ADS_1


__ADS_2