Nada Nara

Nada Nara
BAB 41 J Project


__ADS_3

Hai, ketemu lagi ya.


Masih harus minta maaf sepertinya. Kondisi belum membaik seperti ini jadi nggak konsen untuk nulis. Tapi terus diusahakan karena aku sayang kalian.


Banyak Cinta buat kalian


SKS



Setelah berkutat dengan diagram, riset dan detil perencanaan J Project selama 24 jam, aku memutuskan untuk istirahat. Tanpa aku sadari aku tidur seharian, setelah sarapan Bersama Shasa. Aku terbangun menjelang makan malam dan menyempatkan diri bermain dengan bayi-bayi mungilku yang aku cintai dan rindukan. Buatku, bekerja 24 jam sehari tidak melelahkan dan sudah terbiasa saat melakukan project. Namun, meninggalkan dua bayi ini selama 24 jam tanpa bermain dengan mereka itumelelahkan, karena harus merindukan mereka. Benar kata Dilan, rindu itu berat sayang.


Setelah puas bermain dengan bayi bayi menggemaskan, aku menemukan Shasa di ruang televisi. Dia sedang berbicara serius dengan anak buahnya. Mukanya terlihat memerah geram, karena marah. Hal yang hanya kulihat saat keadaan benar-benar genting dan diluar kendali. Sesuatu yang jarang terjadi dalam kehidupan laki-laki ini.  Aku memang tidak selalu bisa membantunya mengatasi masalah organisasi. Bahkan hampir tidak pernah. Shasa terlalu melindungiku, hingga seringkali tidak mengijinkanku terlibat dalam pekerjaan organisasi secara langsung. Namun dia akan melibatkanku saat berhubungan dengan dunia maya dan strategi, tanpa seorangpun tahu. Bahkan anak buahnyapun tidak tahu keterlibatanku di organisasi. Kemampuan dan pengetahuanku untuk menyatukan data, membuat strategi dan menjadikan sebuah rencana pelaksanaan sangat diakui oleh Shasa. Kemampuan inilah yang aku ajarkan dan dapat diserap dengan baik oleh Mahardika.


Aku segera mendekatinya dan mengelus tangannya pelan, untuk menenangkannya. Shasa langsung menoleh dan tersenyum. Raut muka geram yang ditunjukannnya tadi, hilang begitu saja. Kulihat, anak buah Shasa yang tadi bicara serius tersenyum lega dan  memberikan salam padaku yang kubalas dengan senyum. Shasa memegang tanganku dan menggegamnya erat. Ada kilat kekawatiran dimata indahnya yang tajam. Saat itu aku tahu, masalah kami memang serius dan berhubungan denganku.


“Janu, apakah ada barang-barang berhargamu di rumah Maria?” tanya Shasa. Aku memang tidak pernah punya barang berharga sejak keluar dari rumah keluarga asliku. Untuk apa? Semua kebutuhanku dicukupi oleh Shasa. Dulu saat ada Ibu dan Maria, semua uangku aku serahkan kepada mereka dan Shasa. Aku hanya meminta pada mereka jika membutuhkan sesuatu. Sebelum meninggal, Ibu dan Maria memberikan semua tabungannya padaku. Buku tabungan dan surat berharga kedua bayiku langsung aku simpan di deposit box ruko rahasiaku. Perhiasan Ibu dan Maria? Mereka berdua tidak pernah membeli perhiasan kecuali yang standard melekat ditubuh kedua Wanita itu, sebuah giwang, yang terakhir aku letakkan di kamar Maria. Aku rasa hanya itu yang tertinggal.


 “Memangnya ada apa? Rumah kemasukan maling atau perampok?” Tanyaku


“Lebih parah sih hon,” kata Shasa.

__ADS_1


“Maksudnya?” tanyaku khawatir.


“Rumah Maria habis terbakar tanpa sisa. Kita kehilangan orang kita yang menjaga disana, empat orang.  Semua ikut terbakar. Namun dugaanku, mereka memang sudah dibunuh sebelum dibakar. Aku tidak tahu pasti apakah mereka sudah memberikan informasi tentang lokasi kita saat ini sebelum mati. Meskipun aku percaya kepada mereka, dan kemungkinannya sangat kecil, tapi aku tidak mau mengambil resiko. Saat ini juga kamu dan anak-anak harus peindak lokasi. Disini dan BIG house tidak aman buat kalian,” kata Shasa dengan tenang. Aku tahu, dibalik ketenangan laki-laki ini ada kemarahan besar.


“Maaf tuan, Sergei berhasil mendeteksi zat halusinasi di salah satu anak buah kita yang meninggal di rumah Maria.  Kemungkinan besar mereka diberikan obat saat diinterogasi, sebelum kemudian dibunuh dan dibakar. Jika memang diberikan obat terbaru ini, maka kemungkinan besar, mereka tanpa sadar akan memberitahukan apa yang mereka tahu pada yang bertanya,” kata Asisten Shasa yang sedang berkutat dengan smartphonenya. Sepertinya dia sedang sibuk mengumpulkan laporan dari anak buah yang dilapangan.


“Oke, no doubt. Cepat packing semua barang jangan sampai tersisa, kita pindah ke rumah selatan, “ kata Shasa sambal mengecupku ringan. “Bersiaplah hon. Terutama berkas-berkas J Project tidak boleh ada yang tertinggal.” Aku yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini sangat paham apa yang terjadi dan apa yang dilakukan. Begitu juga seluruh isi rumah. Tidak sampai satu jam, rumah sudah sangat bersih, seperti tidak pernah ditinggali. Semua barang kami sudah dipindahkan ketempat yang baru. Aku, Shasa, Juli dan Agusta masuk ke mobil Mercedes Benz G-Class milik Shasa yang sudah disiapkan dan dikemudikan oleh asisten dan bodyguard khusus Shasa. Kami segera melaju menuju tempat yang baru, terpisah dari rombongan yang membawa barang. belum sampai 5 menitperjalanan, kami


berpapasan dengan sebuah mobil rubicon dan beberapa mobil Dakar Ultimate AT 4x2, yang menuju arah kami datang. Sekilas aku melihat plat G 374 LD di rubicon yang melintas. Aku melirik Shasa yang terlihat meringis licik.


“Bodoh, senamg sekali dia pamer mobil. Bahkan platnya pun menggunakan Namanya,” kata Shasa sambil mengusap Agusta yang berada dalam kursi khusus bayi didepannya. Aku memandang heran padanya.


“Maksudmu tadi Gerald? “ tanyaku.


kembali berkutat dengan smartphonenya.


“One down, bye bye Gerald,” kata Shasa sambil menunjukan sebuah gambar mengerikanyang dikirimkan anak buahnya. Mayat Gerald yang terbakar namun masih bisa dikenali. Menurut Shasa, mobil dan mayat Gerald akan dikirim ke jalan berkelok menuju villa dan diatur sedemikian rupa seolah-olah mengalami kecelakaan. Berita tentang meninggalnya Gerald yang menyusul sahabatnya itu ramai diperbincangkan di media social keesokan harinya. Dari berita yang menyorot pemakaman Gerald, terlihat sekali kesedihan di wajah Mama Jerry dangacara gila itu.


edangkan wajah papa Jerry terlihat dingin dan datar. Jerry dan Gerald disebut sebagai pasangnan sahabat yang malang, sama-sama meninggal dalam kecelakaan tragis, hingga jasanya hancur sulit dikenali. Nasib yang sama


menurut para netizen, bukan bagi kami dan keluarga Jerry. Mereka sangat tahu apa yang terjadi pada dua pemuda itu. Perang sudah dimulai.

__ADS_1


***


Shasa mulai menjalankan J Project. Dua pemerkosa Maria memang sudah mati. Namun kini bukan lagi tentang membalas kejadian malam dimana keluargaku mulai dihancurkan. Saat ini menjalankan J Project lebih tentang bertahan  dan menang. Keluarga Jerry mengerahkan pasukannya untuk mencari kami. Mereka bahkan menyewa beberapa mafia untuk memburu kami. Untunglah mereka tidak pernah benar-benar tahu siapa dibelakangku


dan aku juga tidak pernah benar-benar terlibat dalam bisnis Shasa. Jadi mereka tidak menghubungkan organisasi Shasa dengan aku, Juli dan Agusta.


J Project dimulai dengan mengirim kesedihan lewat terror kematian Gerald. Beberapa foto ledakan mobil Gerald dikirimkan kepada papa Gerald  dan Ibu Jerry dengan rekaman suara Gerald dan Jerry yang kami palsukan, seolah-olah kedua pemuda itu menyalahkan dua orang tuanya atas kematian mereka. Hal ini cukup efektif. Menurut informan yang kami tanam di dalam rumah mereka, Ibu Jerry sempat ketakutan dan stress karena itu. Papa Jerry sampai harus menyuntikan obat penenang dan mendatangkan ahli kejiwaan untuk menanganinya.


Papa Gerald sendiri sejak kematian anaknya hanya diam didalam sayap rumah yang ditinggali Bersama Papa Jerry. Dia tidak lagi pergi mengurus firma dan   ma baik. Satu persatu video tentang Jerry dan Gerald muncul di media sosial. Tentu dengan wajah para gadis yang aku blur habis-habisan agar tidak terkena imbasnya. Simpati para netizen atas kematian kedua pemuda itu langsung mendadak hilang. Banyak yang mengutuk kebejatan mereka dan mengatakan bahwa kematian akibat kecelakaan itu adalah karma yang terlalu indah buat mereka. Dari sini aku mulai menggiring opini bahwa Jerry salah namun semua kebejatannya bukan karena dirinya tapi lebih


karena kedua orang tuanya yang lebih bejat lagi. Satu persatu video hubungan sex mama jerry dengan para brondong bermunculan di media sosial dan langsung viral. Disusul dengan video *** Papa Jerry dan Papa gerald di beberapa hotel yang langsung beredar dimana-mana. Disana terpampang jelas siapa saja pemain dalam video itu, nama, jabatan dan perusahaan.


Semua lini bisnis keluarga Jerry  perlahan mengalami kemunduran dan kehancuran.Saham yang mereka miliki jatuh sejatuh-jatuhnya. Beberapa project berjalan danklien mereka menarik diri dan memindahkan kerjasama ke perusahaan lain, disinilah Shasa maju dan mengambil alih semua project dan bisnis keluarga Jerry.  Kejadian yang beruntun ini makin membuat mama Jerry terpuruk dan berakhir di rumah sakit jiwa. Papa Jerry sudah tidak tahan


menghadapi kelakuan istrinya yang sering mengamuk dan tertawa sendiri. Sedangkan papa Gerald sekarang sudah menjadi pecandu narkoba akut yang hampir tidak pernah keluar kamar. Lagi-lagi hanya papa Jerry yang mencoba berjuang dan bertahan mengatasi kesulitan di perusahaannya. Dia sudah melepaskan bisnis restoran


dan butik milik istrinya. Laki-laki itu konsentrasi pada perusahaan.


Dengan semua kejasdian ini, keluarga Jerry mulai melupakan aku dan anak-anak. Sebenarnya sejak awal aku tidak melihat keterlibatan papa Jerry dalam usaha mencelakai Juli dan Agusta. Semua rencana itu milik Mama Jerry


dibantu Gerald dan papanya. Sehingga saat tiga orang ini tidak ada, otomatis  ancaman itu berhenti. Setelah berjalan satu tahun, terdengar kabar Papa Gerald meninggal karena over dosis. Setelahnya, Papa Jerry tampak tidak lagi gigih mempertahankan usahanya. Dengan mudah Shasa mengambil alih perusahaan dan menjadikannya atas namaku. Meskipun aku sendiri tidak meminta dan tidak akan mampu mengembangkannya. Namun menurut Shasa, perusahaan ini adalah milikku yang akan dikelola orang kepercayaannya. Tugasku hanya sesekali memeriksanya.  Perusahaan ini nantinya akan menjadi bekal bagi anak-anak.

__ADS_1


Selain itu, aku juga mengalihk   an beberapa aset keluarga Jerry ke rekening organisasi. Bahkan uang tak terlacak mereka berhasil kutarik dan kupindahkan. Hanya kusisakan sedikit uang di rekening papa Jerry dan satu rumah yang sekarang mereka tinggali. Kalau rumah itu dijual, masih bisa sih untuk hidup papa dan mama Jerry. Akan tetapi semua kejadian dan kejatuhan beruntun ini ternyata mempengaruhi Papa Jery yang memiliki muka datar. Tak lama setelah dinyatakan bangkrut laki-laki itu memilih mengakhiri hidupnya, meninggalkan sang isytri sendirian di rumah sakit jiwa, Dengan demikian b  erakirlah J Project


__ADS_2