
POV Mahardika
Kami membicarakan rencana yang harus kami jalani saat bertemu dengan Pradipta dan Franco dirumah. Aku, Nara, Adrian dan Henry. Aku tahu, ada rahasia yang aku sembunyikan dari Nara. Dan itu tidak adil mengi gat dialah yang menjadi ujung tombok kedua misi ini, misi rahasia dan Nada’s Project. Namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa Misi Rahasia ini adalah misi warisan Papa dan ayah yang berbahaya dan semakin sedikit yang tahu semakin baik.
Aku tahu, Nara pun bingung dengan perubahan misi ini. Namun aku meyakinkan dia bahwa mendapakan kalung ini adalah bagian dari misi Nada’s Project. Kukatakan, melihat antusias Pradipta saat lelang kemarin, dan kehadiran Pradipta dalam penyerahan kalung kali ini, maka Nara akan bisa mengenal dekat dengan Pradipta. Seharusnya kalung itu diserahkan setelah pelelangan kan. Kenapa harus ditunda. Padahal kalungnya juga sudah ada ditempat tersebut, pembayaran juga sudah selesai juga. Namun aku sendiri memang curiga bahwa ini menjadi taktik Franco. Entah apa yang diinginkannya.
Aku sendiri tidak ingin terlalu membohongi Nara. Aku katakan kalung Lidya Dirgantara itu sangat penting untukku. Namun aku tidak mengatakan bahwa Kalung itu kuanggap sebagai pengganti Bunda. Namun ternyata memang semesta mendukung. Kemunculan kalung yang aku pikir sudah terbakar habis itu bersamaan dengan pelaksanaan
Nada’s Project. Hal ini sebenarnya juga diluar dugaanku. Namun mengingat siapa dan bagaimana Franco, aku tidak mungkin gegabah. Pasti ada sesuatu dibalik kemunculan kalung Lidya Dirgantara di lantai lelang.
Untuk mengalihkan perhatian Nara dari kegugupannya menghadapi Pradipta dan kecurigaannya pada misi rahasia, Aku Adrian dan Henry menggoda Nara. Dia yang sering gugup menghadapi Pradipta yang aku juluki sebagai titisan Medusa bernama Modusa. Gara gara kami ganggu, Nara menampilkan wajah cemberut tapi tersenyum malu-malu. Pipinya memerah dan bibirnya mengerucut. Sangat menggemaskan. Sayang disaat aku menikmati kelucuan wajah gadis ciptaanku itu, Mbak Sri datang menyelamatkan Nara.
__ADS_1
“Oke, semetara Nara dan Mbak Sri bersiap siap, kita harus mempersiapkan semuanya. Adrian, kita bicara di kamarku saja karena ada yang harus kita bahas tentang organisasi dan juga projec DD,” kataku mengalihkan perhatian dari Nara ke tugas kami.
Setelah Nara dan tim Mbak Sri masuk kamar, aku Adrian dan Henry berbicara serius tentang misi utama, misi Nara dan beberapa masalah di perusahaan serta organisasia yang muncul. Untuk misi kali ini, kendali terbesar memang ada di Nara yang didampingi oleh Adrian tanpa jeda. Apapun yang dilakukan Nara, Adrian harus bisa melihat dan dalam diameter jangkauan Adrian jika terjadi sesuatu. Bahkan jika masuk ke ruang ganti atau kamar mandi meski itu kemungkinan kecil, aku mengijinkan Adrian untuk mendampingi Nara. Sementara itu, Henry harus bisa bergerak cepat menyelamatkan Kalung asli dan menggantinya dengan kalung yang sudah aku persiapkan. Sebenarnya kalung yang aku persiapkan bukan kalung sembarangan. Kalung itu adalah duplikat asli dari kalung Lidya Dirgantara, namun fungsinya tidak bisa diduplikat. Kalung ini dibuat oleh Ayah Dirgantara dan Papa Shasha sendiri, termasuk dua dogtag Dirgantara lainnya.
Jika kalung pengganti sudah ada di leher Nara, maka Adrian benar-benar harus mengawasi Nara. Kami sepakat bahwa akan ada kejadian tak terduga nantinya, yang kami sendiri tidak tahu apa rencana Franco dan Pradipta kali ini. Jika memang ada rencana buruk, Maka keselamatan Nara taruhannya. Adrian harus ekstra kerja keras karena aku dan Henry tidak mungkin muncul membantunya. Meskipun begitu, aku akan mengganti beberapa personil restoran dengan personilku. Hal yang tidak mudah dilakukan karena mereka makan siang di restoran Korea yang di tower LC, gedung Dirgantara. Notabene restoran ini sebagian adalah milik Franco. Jika ada pergantian yang menyolok, akan diketahui dan dicuriga oleh Franco dan Pradipta.
Walaupun tidak ada permasalahan di Perusahaan maupun organisasi yang signifikan, kami berbicara cukup lama. Ada beberapa hal yang harus kami atur agar kedepannya bisa kami remote. Keadaan lapangan dan kemajuan dua misi iini membuat kami bertiga sepertinya akan menuntut konsentrasi lebih dari kami bertiga. Apa yang terjadi kemarin mengubah banyak hal. Kemunculan kalung Lidya Dirgantara milik Bunda membuatku optimis bisa mendapatkan dogtag Dirgantara yang terakhir.
Henry menepuk pundakku menyadarkandiriku sendiri dari keterpanaan. Ku menengok kepada Adrian dan Henry yang sepertinya sedang mentertawakanku.
“Dika, awas tuh ilernya dilap dulu,” kata Henry.
__ADS_1
“Sial, memangnya aku balita, ileran,” kataku kesal. Tak urung aku tetap mengusap mulutku seolah aku tidak yakin apakah aku sampai ileran memandang wanita cantik didepanku. Nara sendiri yang menjadi obyek pembicaraan kami seolah tidak peduli. Dia hany terdiam dan beberapa kali memejamkan mata seolah sedang bersiap.
“Adrian, semua sudah siap? Berangkatlah terlebih dulu. Henry akan menyusul kemudian bersama tim pengawalan. Tadi tim restoran sudah melaporkan bahwa Franco dan Pradipta sudah berada di LC Tower sejak pagi. Tadi mereka sudah memberikan briefing dengan tim khusus yang tidak bisa didekati. Yang pasti, berhati hatilah dengan asisten
Pradipta dan manager restoran. Mereka mendapat pengarahan langsung dari Frnaco. Untuk dapur sementara ini masih aman. Namun Adrian sebaiknya kamu makan sedikit, dan jangan makan apapun disana. Untuk minuman, tim akan menyediakan wie khusus kesukaanmu. Jangan minum yang lain,” kataku dengan tegas.
Dua asisten sekaligus sahabat yang sudah seperti saudaraku itu mengerti. Henry kemudian memeriksa peralatannya. Sedangkan Adrian tampak menghampiri Nara dan berbicara singkat diikuti anggukan kepala tanda mengerti dari Nara. Aku sendiri menyiapkan segala peralatanku. Aku berangkat dengan motorkesayanganku, sehingga aku hanya membawa peralatan standar. Sisanya sudah ada di markas sementara kami di basement LC
Tower. Setelah semua siap, Nara dan Adrian berangkat menuju restoran yang dipersiapkan oleh mereka. Meskipun mereka baru memberitahukan restoran yang dipilih jam 10 tadi, namun aku sudah mengetahui restoran tempat pertemuan tersebut, sejak semalam. Henry menyusul berangkat dengan mobil yang berbeda. Hal ini dilakukan agar jika ada yang menguntit Nara, mereka tidak tahu kami berangkat atau bahkan tinggal di rumah yang sama. Sesuai rencana, aku menggunakan motorku dan jauh lebih cepat dari Adrian dan Henry.
Di gedung LC aku memarkis motorku di samping markas sementara kami, berganti baju dan membawa peralatan kami. Aku segera menempati sebuah ruangan VIP. Restoran ini memiliki memeliki 2 ruangan VIP Masing masing ruangan di memiliki satu meja berbentuk bulat yang bisa diisi oleh 6 orang. Aku bersama 5 timku segera masuk ke ruangan dan memesan makanan. Setelah semua makanan disajikan, aku meminta pelayang untuk tidak mengganggu sama sekali sampai kami keluar. Hal ini sangat umum di ruang VIP restoran yang menyajikan makanan korea ini. Jadi mereka mengikuti perintahku tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
Perhitunganku tidak meleset. Saat aku menutup pintu ruang VIP yang kusewa, kulihat Adrian bersama Nara berjalan diantar oleh seorang wanita cantik dengan rambut cepak. Wanita ini terlihat sangat smart, angkuh dan kuat. Aku tidak heran jika dia memiliki kemampuan beladiri yang luar biasa. Sementara itu seoranglaki-laki berusia 40an tampak berjalan dibelakang Adrian dan Nara. Aku mengenalinya sebagai manajer restoran. Mereka berempat melewatiku yang menutup pintu meski belum terlalu rapat. Aku tahu kalau wanita itu sempat menghentikan langkahanya sejenak dan menghadap ke pintu yang aku buka sedikit unuk melihat mereka tadi. Matanya tajam menatapku, seolah tidak ada pembatas pintu diantara kami. Saat itulah aku tahu, wanita ini adalah salah satu musuh yang harus aku waspadai. Aku segera menutup pintu dan mengalihkan pandanganku pada CCTV yang menampilkan seisi ruang restoran. Aku melihat Nara dan tiga pengawalnya masuk ke ruang Super VIP yang ada disebelahku. Ruang Super VIP sebenarnya mirip dengan ruanganku. Namun menurut foto pengaturan yang aku dapat, disana ada dua meja terpisah. Satu meja kecil yang tadinya diletakan di sudut ruangan dengan 2 kursi dan Satu meja medium dengan 2 kursi berhadap-hadapan. Meja itu dihias sangat indah, dengan taplak berwarna biru tua, senada dengan nuansa ruangan yang berwarna biru muda. Tadi pagi salah satu anak buahku menyelinap untuk menggeser meja kecil dari sudut ruangan menjadi di belakang kursi yang disediakan untuk Nara.