
Pov pradipta
Pagi ini semua terasa begitu cerah. Ah, belum secerah itu rupanya. Karena pagipun belum menjelang. Matahari masih ada di peraduannya. hanya matahariku yang ada dipelukanku saat ini yang membuat pagi dini hari ini careh. Aku terbangun dengan wajah cantik dipelukanku. Semalam kami menguras tenaga diiringi ******* nikmat menghasilkan puncak kepuasan, sebagaimana malam-malamku bersama wanita cantik ini. Juli, artis kenamaan yang begitu memujaku dan takluk dalam pelukanku sejak lebih dari dua tahun lalu. Saat itu
aku masih berstatus suami perempuan lugu yang polos bernama Nada. Perempuan ini pun tahu aku suami Nada. Bahkan dia pernah bertemu dengan Nada. Akan tetapi dia tidak perduli, selama aku selalu ada untuknya, memenuhi hasratnya. Hasrat ditempat tidur dan hasrat belanja tentunya.
Pagi ini, sebenarnya aku terbangun oleh suara dering telpon. Masih sangat pagi, bahkan ayampun belum berkokok. Seperti aku bilang,matahari pun masih di peraduannya. Aku yang memang sudah mempersiapkan diri akan menerima telepon ini, segera bangkit dan meraih smartphone diatas nakas. Aku sedikit menjauh dari tempat tidur, menuju balkon kamarku. Sebelum mengangkat telpon aku berdehem sejenak membersihkan tenggorokanku, bagai seorang aktor yang siap memainkan peranannya. Kembali kupandangi smartphoneku. Kulihat nama Ayah disana.
"Halo, ya ayah? kenapa pagi-pagi begini menelponku? masih terlalu pagi untuk bicara, meski itu ayahku sendiri," kataku pura-pura kesal.
“Pradipta, pulang! Istrimu nak… Istrimu kecelakaan!” kudengar suara Ayah yang histeris dari seberang sana. Aku tersenyum sejenak sebelum kemudian membalas ucapan ayah dengan suara mengantuk yang kubuat-buat.
“Ayah, tenang. Maksud ayah apa? Masih terlalu pagi buat ngeprank yah,” kataku.
“Ini serius Pradipta. Segera pulang kamu. Istri kamu kecelakaan. Mobilnya terbakar habis dan Nada tidak bisa diselamatkan. Nada meninggal nak. Istrimu meninggal,” suara Ayah terdengar seperti mencoba tenang, meski masih histeris. Dibelakangnya kudengar tangisan dari ibu dan kedua adikku. Yah, mungkin mereka memang syok mendengar berita ini. Mereka sebenarnya cukup dekat dengan Nada. Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama istriku itu. Jadi saat Nada meninggal dengan cara yang mengerikan, mereka pasti akan syok.
“Apa! Yang benar yah! “kataku dengan keras dan suara kaget dan panik. Ayah kembali mengulang kata-kata yang sama yang tadi diucapkan. Dibelakang kudengan suara ibu yang menangis sambil menyebutkan nama Nada dan
__ADS_1
memintaku pulang. Oke baiklah, aku tidak boleh lama-lama, karena Juliku masih tidur.
“Nada yah. Kok Bisa. Arghh!" Teriakku ke speaker. "Ternyata ini yang terjadi. Pradipta menyesal yah. Pradipta menyesal!" Aku lalu terdiam beberapa saat. Kupandangi langit pagi yang mulai menampakan semburat cahaya. Diseberang sana masih kudengar tangisan ibu dan adik-adikku. sementara itu suara ayah memanggilku berulang-ulang kibiarkan saja.
"Pradipta akan segera membeli tiket pulang segera, pagi nanti Yah. Tunggu Pradipta. Jangan dimakamkan sebelum Pradipta sampai disana,” kataku dengan suara seperti orang yang hendak menangis, panik dan bahkan sedikit berteriak. Setelah itu, telpon Ayah segera kututup. Kulihat Juli menggeliat karena merasa terganggu dengan teriakanku. Namun karena pagi kembali senyap, gadisku kembali tertidur. Aku mendekatinya perlahan dengan senyum licik diwajahku. Yeah, aku punya rencana yang jauh lebih menyenangkan dibanding mendengarkan ocehan ayah dan isak tangis. Juli, tampak tertidur tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Begitu juga aku saat ini. Kulihat wajah tidurnya yang sexy, dengan bibir sedikit terbuka. Kupastikan dia akan segera bangun dan melanjutkan kegiatan nikmat kami semalam. Aku tidak dapat menahan senyuman isengku dan mulai mengganggu kekasihku yang super hot.
“Ahh, honey, jangan ganggu. Aku mengantuk,” katanya dengan suara serak seksi yang menambah tinggi gairahkukuciumi seluruh wajah, leher dan tubuhnya. Kutelusuri jejak jejak merah yang semalam kubuat dengan brutal. Ya gadisku yang satu ini memang selalu bisa mengimbangi permainan brutalku di ranjang. Dia tidak pernah mengeluh jika kami bermain brutal dan kasar. Tidak seperti wanita-wanita lain yang menjadi teman tidurku. Bahkan dia sangat menikmati kebrutalanku. Dia seperti terbakar gelora permaian kasarku setiap kali kami melakukannya.
Baginya, yang penting adalah pada setiap permainan kami, tidak boleh meninggalkan jejak luka. Karena hal itu akan sangat mengganggu penampilannya saat syuting atau pemotretan. Dan itu akan sangat berpengaruh pada karirnya. Dengan kata lain selama tidak mengganggu karirnya, kami menikmati apapun itu, bahkan yang sering dibilang tidak wajar oleh manusia cupu diluar sana.
Sekitar pukul tujuh pagi, aku bangun dan mandi. Kulihat Juli juga sudah rapi. Dia sedang duduk di sofa menunggu managernya menjemput, saat aku melangkah ke dapur. Jika di rumah, jam seperti ini makanan sudah tersaji lengkap di meja dan kami sedang menikmati sarapan lezat buatan Nada. Jika dengan Juli, jangan harap ada sarapan, bahkan untuk sekedar membuatkan kopi untukku pun harus kuminta. Biasanya dia hanya menyeduh minuman dietnya dan mengambil buah yang ada dilemari es, untuk dirinya sendiri.
Ah iya, Nada. Aku teringat kalau aku harus pulang untuk mengurus pemakamannya. Aku perhitungkan jika flight pertama dari singapura jam enam pagi, aku akan sampai rumah jam 9 kurang. Ayahku tidak tahu kalau aku sudah menetap di Jakarta. Ibu dan kedua adikkupun merahasiakannya. Jadi sebagai pelengkap sandiwara, aku akan
menyesuaikan waktuku dengan penerbangan. Sekarang masih jam tujuh lebih, aku masih bisa bersantai dan menikmati sarapan di coffeshop di bawah.
“Juli, aku harus pulang kerumah pagi ini. Mungkin untuk tiga hari kedepan aku tidak akan pulang. Jika kamu kangen, kamu kerumah saja. Tapi jangan terlalu mencolok karena ada ayah dan mamanya Nada,” kataku.
__ADS_1
“Urusan Nada ya Honey? Jangan lupa emailnya,” kata Juli dengan enteng. Pagi ini dia sudah tampak tenang dan tidak terlalu memikirkan kejadian semalam. Pertempuran kami ditempat tidur, mampu menyembuhkan histeris dan
tremornya. Pagi ini dia sudah jauh lebih tenang, bahkan sudah biasa saja membicarakan kematian Nada. The power of sex memang luar biasa kan. Paling tidak untuk orang-orang seperti kami.
Aku mengancingkan kemeja hitamku, kupadu dengan jeans hitam. Tidak lupa jam tangan Hublot Classic Fusion Chronograph Titanium kulingkarkan di tangan. Kacamata hitam melengkapi penampilanku pagi ini. Jika dirumah, biasanya Nada yang menyediakan semua perlengkapanku. Disini, aku memang harus menyiapkan sendiri. Juli kadang mau juga menyiapkan baju untukku. Akan tetapi itu hanya teradi jika kami pergi bersama dan untuk keperluan pekerjaannya. Dia akan sangat teliti mengatur penampilanku.
“Aku pergi dulu ya beb. Jangan nakal selama aku tinggal,” kataku mencium bibir Juli dan meremas puncak dadanya yang selalu menantangku. Juli terkikik geli dengan tingkahku. Dipandanginya sejenak wajahku. Tangannya kembali mengelus dadaku, memancing hasrat dan gairah. Dia selalu berhasil untuk hal yang satu ini. Berbeda dengan Nada. Meski dia istri yang baik, namun dia selalu berhasil mematikan hasratku seketika dengan hanya melihatnya.
“Not bad, tetep ganteng, meski agak kuyu dan kurang tidur karena terlalu diforsir,” kata Juli sambil mengedipkan matanya. Tangannya terus bergerilya menyusuri setiap inchi tubuhku yang sudah mulai terpancing. Aku tertawa melihat tingkahnya. Kulirik jam di dinding sudah mendekati pukul delapan. Aku rasa tidak mungkin jika ini dilanjutkan. Tapi bermain sebentar rasanya tidak buruk.
“Iya dong. Pradipta.. Dan lagi, tidak apa-apa terlihat kuyu dan kurang tidur. Lumayan buat bekal dirumah nanti,” kataku sambil menggoda bagian sensitive Juli sampai dia kembali mendesah.
“Ah iya, so smart! Cocok buat peran suami yang ditinggal mati istrinya kan maksudnya?” kata Juli sambil mencoba membuka kancing celanaku. Matanya berkilat aneh yang sebenarnya membuatku tidak nyaman meski terbiasa. Kesadaran akan waktu kembali mengingatkanku agar aku segera berangkat atau rencanaku berantakan. Tangan Juli segera kutahan dan kugenggap erat. Jika dilanjutkan, maka aku bakalan terlambat sampai dirumah nanti.
“No honey, stop. I got to go, oke,” kataku sambil mencium bibirnya yang cemberut dengan cepat. Aku segera mengenakan sepatuku dan keluar dari apartemen, menuju kediaman Hermawan.
***
__ADS_1