Nada Nara

Nada Nara
Bab 62 Kalung Lidya Dirgantara (bagian 2)


__ADS_3

“Nara, awas nanti rambutmu botak. Tidak usah berpikir bagimananya. Aku sudah menemukan caranya. Sebaiknya kamu segera ikut Adrian dan kita bertemu diruang sebelah. Kita akan membuat manuver rencana dan akan membuatmu menjadi pusat perhatian, bukan hanya Pradipta, namun juga seluruh undangan di ballroom ini.  Go!” kata Mahardika sambil meninggalkan ballroom. Adrian segera menghampiri Nara yang sudah ditinggalkan oleh pasangan Pradipta dan Juli.


Acara di ballroom sendiri terus berlanjut. Lelang barang dan perhiasan memang sudah dimulai. Namun ada puluhan barang yang dilelang malam itu. Kalung keluarga Dirgantara akan menjadi lelang terakhir yang menutup acara.


Dengan cepat namun tidak mengundang perhatian, Nara, Adrian, Henry dan Mahardika sudah berada di sebuah ruangan kecil disebelah ballroom. Jika dilihat dari keadaannya, ruang ini adalah truang penyimpanan minuman dan makanan yang akan disajikan di ballroom. Saat Nara tiba, Mahardika sudah duduk disebuah kursi disamping Henry sambil menikmati segelas wine. Sementara itu Henry tampak menikmati sebotol bir dingin. Dipangkuannya terdapat sebuah Ipad yang tampak menyala, memperlihatkan gambar kalung yang sangat mirip dengan yang dipakai Juli.


“M kamu beneran baik baik saja? “ tanya Nara. Ternyata dia masih mengkhawatirkan Mahardika dan Juli. Laki-laki yang ditanya langsung tersenyum lebar dan mengelus pucuk kepala Nara yang sudah didekatnya sambil menggegam sebelah lengannya.


“Aku baik-baik saja Nara. Aku sudah sangat terbiasa melihat Juli dengan laki-laki lain, sejak dia SMP, ingat kan?” kata Mahardika. Nara hanya mengangguk lucu. Mata mahardika terlihat berkilat dan dia menggigit bibirnya. Henry dan Adrian saling berpandangan dan menutup bibir mereka dengan tangan seperti menahan tawa.  Mahardika menyadari itu dan langsung melotot pada dua orang asisten yang juga sahabatnya itu. Sementara Nara yang terfokus pada wajah Mahardika, tidak menyadari apa yang mereka lakukan.


“Oke, jangan buang waktu. Karena tadi kamu sudah terkena pesona Medusa laki-laki, maka kita harus manuver,” kata Mahardika yang disambut dengan pukulan dari Nara. “Kita akan membuat sensasi untukmu Nara. Kita akan membeli kalung Dirgantara berapapun harganya. Aku perkirakan, harganya akan mencapai 150 juta, bisa lebih.”


“Apa? 150 juta? Dari mana kita punya uang sebanyak itu M?” teriak Nara kaget. Dia tahu berlian itu mahal. Dan dia tahu kalau kalung tadi juga tidak akan murah. Tetapi Mahardika memintanya membeli kalung dengan harga 150 juta?


“Iya Nara. Kamu harus berhasil membeli kalung itu malam ini. Dan kamu harus minta Pradipta yang mengirimkannya padamu besok,” kata Mahardika. “Dengan begitu, besok kamu bisa bertemu dengan Mahardika saat makan siang dan kamu bisa segera menjeratnya.”


“Oke, idemu memang luar biasa M, tetapi ada maslah,” kata Nara


“Apa? Kamu akan membeku lagi? Bukankah yang melelang bukan Pradipta?” aku rasa kamu tidak akan menemukan masalah saat lelang nanti,” jawab Mahardika.


“Kita ada masalah M, pertama, harga kalung itu,” kata Nara ragu.


"Kenapa dengan harganya?” kata Mahardika dengan cepat.


”Kamu bilang minimal 150 juta kan dan kita tidak punya uang sebesar itu M,” kata Nara


“Punya. Aku punya. Pastikan kamu membeli kalung itu berapapun harganya,” kata Mahardika dengan tegas. “Adrian, dampingi Nara dan pastikan dia mendapatkan kalung itu apapun yang terjadi.”


“Tapi ini 150 juta lho… bukan 150 ribu. Uang dari mana kamu?” kata Nara.

__ADS_1


“Oke, biar cepat selesai. Aku tahu kamu pasti penasaran aku ini siapa dan dari mana uangku kan? Aku berikan satu identitasku yang tidak boleh diketahui oleh siapapun selain yang berada diruangan ini. Kamu bisa menjaganya Nara?” kata Mahardika.


“Maksudmu, identitas rahasiamu? Oke aku bisa jaga rahasia. Tapi apa hubungannya? “ tanya Nara keheranan.


“Kau tahu grup teratas dari bisnis Komunikasi, hotel, hiburan dan industri restoran?” tanya Mahardika.


“Dirgantara Corporation? “ kata Nara


“Betul. Dan sekarang kamu tahu kan kedudukan Lion Communications?” tanya Mahardika lagi.


“LION COMMUNICATION diakuisisi oleh Dirgantara Corporation,” Nada menjawab dengan ragu.


“Bukan diakuisisi tapi mengakuisisikan diri. Aku adalah Dika putra dari Putra Dirgantara. Aku memiliki uang yang Dirgantara Corp milik ayah dan bundaku almarhum, yang dititipka ke Papa Shasa. Papa Shasa adalah sahabat dekat Ayah Putra. Jadi 15 juta bukan maslah bagiku,”  jawab Mahardika. Sejenak Nara terpana. Namun kemudian Nara ingat tadi sekilas dia melihat Adrian dan Henry tertawa geli memandang Mahardika.


”Wow, usaha yang bagus M. Bercanda memang bagus menghilangkan gugup dan frustasi karena kegagalan, tapi bukan begini caranya. 150 juta itu bukan main main,” kata sambil tertawa.


“Bos, lelang kalung Bunda segera dimulai. Sebaiknya segera kembali ke ballroom,” kata Henry setelah mendengar laporan anak buahnya yang berada di ballroom.


“Oke, Nara dan Adrian segera kembali ke ballroom. Ingat kalung itu tidak boleh lepas kepada siapapun,” kata Adrian. “Henry, segera setelah mendapatkan harganya, siapkan uangnya ke rekening Nara. Atau kalau tidak sekarang saja kamu pindahkan 200 juta ke rekening Nara. Jika meleset, kamu tinggal menambahkan kekurangannya. GO!”


Nara yang masih terpana segera dituntun oleh Adrian menuju ballroom melalui pintu kusus. Sedangkan Mahardika memasuki ballroom lewat pintu lain. Henry masih tetap diruangan untuk mengurus uang yang dibutuhkan. Nara sadar bahwa Mahardika serius ingin mendapatkan kalung itu entah alasannya benar seperti itu atau tidak. Namun dia harus mendapatkan kalung itu demi Mahardika dan demi Nada’s Project. Perhatiannya segera beralih ke panggung lelang. Nara berusaha sedekat mungkin dengan panggung. Adrian memberikan  sebuah papan bertuliskan angka 150 kepadanya. Nara langsung bersiap, apalagi saat itu lelang kalung Dirgantara dimulai. Nara masih tenang saat harga kalung mulai disebutkan mulai dari 10 juta.  Jalannya lelang cukup seru. Harga bergerak dengan cepat sampai di angka 120 juta. Disaat itulah Mahardika mulai meminta Nara untuk ikut berpartisipasi.


“!25 juta,” kata Nara dengan tenang. Suaranya yang indah membuat semua orang langsung melihat kepada Nara. Nara tersenyum kepada seluruh hadirin yang memandangnya. Para wanita tampak langsung berbisik saat melihat ke Nara. Sedangkan sebagian besar laki-laki memandang Nara dengan nanar. Beberapa laki-laki bahkan menatapnya  seperti hendak menerkam. Pradipta dan Franco yang ada diatas panggung menyadari hal itu.


“127.500,” teriak Pradipta sambil terseyum manis pada Juli yang membalasnya dengan senyum manis. Namun dibelakang Juli Pradipta mengedipkan mata pada Nara. Franco yang menyadari itu langsung tertawa tergelak.


“!30,” kata Nara yang mengacuhkan Pradipta.


“Wua seru nih, gimana yang lain?” kata MC pemandu lelang. Penawar penawar sebelumnya langsung menggeleng tanda menyerah.

__ADS_1


“132.500,” kata Pradipta. Nara terdiam sejenak.


“Bagaimana mbak Nara? Mr Pradipta menaikan tawarannya ini.


“135,” kata Nara sambil tersenyum.


“Gimana mr Pradipta? Demi kekasih hati nih. Demi mbak Juli tersayang, masih mau naik lagi?” kata MC.


“oke 140, terakhir” kata Pradipta sambil mengangkat bahunya.


“Bagaimana Mbak Nara. Beliau ini model yang luar biasa. Begitu muncul langsung meroket dan menjadi model terbaik,” kata MC lagi


“142.500.” kata Nara lagi


“Wow, hebat kali ini lawanmu bro. Gimana? Mau naik lagi?”


“Oke tapi beneran terakir ya, 145.” Kata Pradipta


“Langsung aja ya 150,” kata Nara disambut dengan dua tangan terangkat keatas.  Franco melihat gaya Pradipta tertawa tergelak. Nara sendiri masih bingung bagaimana caranya membuat Pradipta yang menyerahkan pada Nara seperti permintaan Mahardika.


“Oke ternyata pemenangnya sicantik Nara,” kata Franco. “Namun karena sudah malam, untuk penyelesaian bisa kita lakukan besok sambil makan siang. Gimana kalau saya undang dua penawar terakhir untuk makan siang bersama besok, sekalian Ms Nara bisa mengambil kalungnya, gimana?” kata Franco yang sekaligus membuat Nara bernafas lega.


“Oke, no problem, “ kata Nara.


“Gimana Pradipta?” kata Franco.


“Oke, no problem juga,” kata Pradipta sambil melirik Juli. Namun Juli saat itu sedang sibuk melepas kalung  dan menyerahkan pada asisten  Franco.


Setelah semua selesai, Franco segera menyerahkan kepada MC. Nara segera berlalu setelah berbicara dengan panitia. Nara berusaha untuk menghindari Pradipta dan Juli serta Franco.  Adrian segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil dan mereka meninggalkan LC Tower sambil bernafas lega.

__ADS_1


__ADS_2