Nada Nara

Nada Nara
Bab 72 Makan Siang Nara vs Pradipta (bagian 2)


__ADS_3

POV NARA


Cerita tentang gelang anyaman benang Pradipta membuatku mengingat nenek Hermawan yang sangat menyayangiku. Nenek yang menjagadan membesarkanku. Nenek yang selalu membelaku saat aku dibully karena bentuk tubuhku.  Masa-masa dimana Nenek selalu mengajakku untuk makan pagi bersama-sama menguatkan aku menghadapi apapun yang terjadi disekolah. Selalu menghibur saat aku pulang sekolah dengan


baju kotor dan menangis karena dibully. Dia membuatkan jeruk dingin dan mengajakku duduk dimeja makan sambil bercerita setelah aku mandi dan berganti baju.


Kesedihanku kehilanga Nenek yang selalu mendampingiku, membuat dadaku sesak. Ingatan saat saat terakir, aku yang mengurus nenek. Dari bangun sampai tidur lagi membuatku ingin meneteskan air mata. Sayang semua itu hanya kenangan bagiku. Tidak lebih. Bahkan keinginanku mengunjungi makam Nenek dan ayah Saat memberikan gelang anyaman pada Pradipta, sebenarnya nenek juga membuatkan gelang yang sama padaku. Aku masih menyimpannya. Aku mengeluarkan gelang tersebut saat aku sedih dan ingin bercerita kepada Nenek.


“Nara…,” panggil Pradipta dengan lembut. Panggilan ini mengejutkan, sekaligus menarikku kembali dari lamunan masa lalu. Aku sedkit mendongak, memandang laki-laki  tampan didepanku ini. di wajahnya yang cukup tegas. Tangan pradipta terulur seperti ingin memegang pipiku. Sayangnya  gelang anyaman tanya tersangkut garpu yang ada disana. Entah bagimana, tiba-tiba gelang tersebut putus, terlepas dari tangan pradipta dan jatuh ke lantai. Reflek aku mengambil gelang tersebut.


“Nara” panggil  Pradipta saat aku masih memegang gelang tersebut cukup lama.


“Oh maaf” jawabku gugup. Aku memberikan gelang itu pada Pradipta dengan sedikit gugup. Namun tanganku tanpa sengaja menyenggol gelas dan menjatuhkan kembali gelang    itu kebawah meja. Aku juga tidak menyadarai saat Aku langsung melompat kebawah meja dan mencari gelang tersebut. Saat ketemu aku mengambilnya dan berniat untuk bangun.


“Nara, apa yang kamu lakukan?” tanya Pradipta mengagetkanku, membuatku  langsung menegakan badanku yang setengahnya masih ada diatas meja. Karena kerasnya benturan kepalaku ke meja membuat gelas diatas meja bergelimpangan dan menyiram bajuku dan baju Pradipta. Aku segera menegakan badan dengan perasaan malu. Adrian yang sudah disampingku membantuku dan memeriksa keadaanku. Pradipta sudah berjongkok didepanku.


"Nona, kamu  baik-baik saja?” tanya Adrian khawatir.


“Nara, kamu tidak apa-apa? Maaf aku mengagetkanmu,” kata Pradipta bersamaan dengan Adrian. Sebuah kejadian yang memalukan membuat mukaku merah padam. Belum lagi bajuku yang basah tersiram minuman. Meja yang berantakan karena makanan dan minuman yang tumpah.


“Nona, apakah sebaik nya kita pulang?” tanya Adrian


“Tidak-tidak, tunggu sebentar agar diambilkan baju oleh stafku. Sebaiknya kita pindah meja dan mengganti makanan,” kata Pradipta.


%8eaudak perlu, ada baju Nona Nara di mobil yang bisa saya ambilkan,” kata Adrian cepat.


“Oke, tolong segera ambilkan, kata Pradipta sambil melepas jasnya menutupi badanku yang basah.


“Sisca, tolong  ambilkan baju gantiku diatas bisa?” kata Pradipta entah pada siapa. Aku bahkan terlalu malu untuk mengangkat muka. Kebodohanku mengakibatkan segala kekacauan  ini.


“Hei Nara, kamu baik baik saja? Kepalamu bagaimana?” kata Pradipta. Ah, iya, karena terlalu malu aku sampai tidak merakan apapun dikepalaku. Seharusnya benturan sekeras  tadi akan membuat kepalaku sakit dan pusing. Tapi saat ini aku bahkan tidak merasakan apapun. Aku memegang kepalaku dan memegang kepala dibagian yang tadi terbentur. Pradipta men gatakan maaf lalu mengangkat tanganku dan memeriksa kepalaku. Tiba tiba dia mengecup kepalaku yang terbentur.


“Sudah aku obati, semoga tidak apa-apa,” kata Pradipta sambil berjongkok didepanku dan tersenyum. Sesaat aku baru menyadari sedekat ini aku dan Pradipta. Namun aku tidak merasakan lagi debar yang luar biasa, kegugupan ataupun mematung. Semua menjadi biasa saja saat ini. Mungkin kalah dengan rasa malu yang aku alami.


“Makasih. Kamu juga basah. Maaf,” kataku menyesal melihat celananya yang basah. Aku meraba jas yang menutupi bajuku dan ternyata juga basah.

__ADS_1


“Tidak apa apa Nara, aku sudah minta asistenku untuk mengambilkan baju ganti,” kata Pradipta.


“Maaf,” kataku lagi antara malu dan menyesal.


“Ssst, sudahlah, tidak apa-apa,” kata Pradipta sambil meletakan jarinya dibibirku. Aku menunduk malu dan sedikit menggeser mukaku agar jarinya tidak lagi menempel di bibirku. Ada rasa tidak nyaman saat dia melakukan itu dan aku mengingat M. Tak lama kemudian Ardian dan asisten Pradipta datang dengan baju ganti untuk kami.


“Sisca, antarkan Nona Nara berganti baju dan aku juga akan berganti. Setelah kami selesai, meja dan makan siang yang baru sudah harus siap,” kata Pradipta sambil berdiri memandang datar pada perempuan yang membawa sebuah paperbag untuknya dan kepala pelayan yang juga ada disana. Beberapa pelayan sedang membereskan meja kami yang tadi berantakan.


Aku buru buru mengambil paper bag yang tadi dibawa Adrian dan berjalan bersama perempuan yang bernama Sisca tadi. Adrian mengikuti kami dari belakang.


“Adrian, Saya kira biar Sisca yang mengantar Nara. Anda bisa meneruskan makan siang Anda,” kata Pradipta menahan Adrian dan memegang tangannya.


“Maaf tuan, tugas saya menjada nona Nara dimanapun dia. Dengan segala hormat, saya akan menemani Nona Nara sampai di depan ruang ganti, dan memastikan dia aman,” kata Adrian dingin sambil melepas tangan Pradipta. Aku segera menghentikan langkahku menunggu Adrian


“Mari nona saya antar,” kata Sisca.


“Iya, tunggu sebentar ya. Ayo Adrian, aku harus ganti baju,” kataku pada Adrian, membuat Pradipta mau tidak mau melepaskan Adrian. Sekilas aku melihat Sisca memandang kepala pelayan dengan tatapan aneh. Perasaanku tidak nyaman namun aku berusaha untuk biasa-biasa saja. Aku berjalan disamping Adrian mengikuti sisca. Kepala pelayan yang tadi berpandangan dengan sisca juga mengikuti kami. Sesampainya di ruang ganti yang disediakan, aku memandang Adrian sejenak. Aku sedikit tidak nyaman dengan ruangan itu. Sisca membukakan pintu untukku. Saat Adrian akan masuk, kepala pelayan melarangnya masuk.


“Maaf, karena ini ruangan untuk perempuan, sebaiknya bapak tidak ikut masuk,” katanya dengan sopan. Adrian memandangku sejenak.


“Kenapa Nona? Anda baik-baik saja?” kata Adrian cemas.


“Argh, aku sakit perut. Sebaiknya antar    aku ke toilet dulu Adrian.


“Baik Nona,silahkan,” kata Adrian yang membiarkan tanganku berpegangan di lengannya dan menuntunku ke kamar mandi wanita yang tidak jauh dari ruangan tadi. Sekilas kembali aku melihat Kepala pelayan itu memandang sisca sambil mengerutkan dahinya. Ada perasaan aneh melihat sikap mereka berdua. Aku buru buru masuk toilet dan menutupnya. Aku melihat kesekeliling, memastikan semua baik-baik saja. Aku lalu duduk di toilet dan buang air kecil namun seolah olah menuntaskan hajat yang membuatku sakit perut tadi. Setelah itu aku mengganti baju dengan cepat. Baju kotor aku lipat bersama jas Pradipta dan aku memasukannya kedalam paper bag. Aku merapikan rambut dan mukaku yang berantakan karena kejadian memalukan tadi. Setelah terdiam beberapa saat aku menarik nafas dan keluar dari kamar mandi. Adrian memandangku dan memastikan apakah aku baik baik saja.


“Iya, aku baik-baik saja Adrian,” kataku sambil tersenyum. Kuedarkan pandanganku mencari dua orang yang tadi mengikuti kami. Namun keduanya tak nampak batang hidungnya.


“Mereka tidak mengikuti kita kekamar mandi Nona. Sepertinya keduanya tadi masuk kedalam ruang ganti dan tidak muncuk lagi,” kata Adrian seolah tahu apa yang aku cari.  Aku memutuskan untuk tidak peduli dan kembali ke mejaku. Kulihat Pradipta sudah ada disana dengan baju yang lebih santai. Dia  tersenyum menyambutku.


“Kamu cantik  sekali dengan baju ini,” kata Pradipta memujiku.


“Berarti aku nggak cantik ya kalau pakai baju yang lain?” kata ku pura-pura ngambek


“Nggak, kamu cantik banget malah. Selalu cantik,” kata Pradipta.

__ADS_1


“Makasih,” kataku malu malu.


“Kenapa kau melakukanya? Kenapa kau sampai mencari gelang itu ke bawah meja?” tanya Pradipta padaku.


“Lho emang salah? Menurutku gelang itu berharga untukmu,” kataku mencoba mencari alasan.


“Maksudnya?”


“Ya kan tadi Mas Pradipta cerita kalau gelang itu dari neneknya. Aku juga punya nenek.  Aku yang mengurusnya. Karena dia begitu istimewa bagiku. Dan dia juga pintar membuat gelang benang seperti itu,” Jawabku


“Maafkan aku mengagetkan dan membuatmu malu. Aku sebaiknya pulang saja, agar tidak membuatmu tambah malu.”


“Nara. Tinggalah.Aku tidak malu, hanya khawatir. Aku senang kamu menemaniku. Kau orang yang cantik. Membeli kalung dengan harga malam untuk lelang amal. Kamu sangat peka pada lingkungan, cerdas dan luar biasa”. katanya Pradipta sambil memegang tanganku memintaku duduk lagi.


“ Kita sudah bertemu di pesta, kemudian saat lelang, sikapmu tadi pada bodyguard dan wakil manajemen kamu, kejadian gelang Ketiganya nya berbeda. Tapi dari semua kejadian itu, memiliki persamaan”. Lanjut Pradipta


“Apa itu”  tanyaku kembali duduk.


“Aku merasa kehangatan yang luar biasa. Baiklah, cukup bicaranya, bisakah kita selesaikan makan siang ini dan kamu baru boleh pergi,” katanya sambil tetap memegang tanganku. Lalu pelayan menyajikan dua porsi steak. Seperti tadi, aku meminta black papper  dan tabasco untuk Pradipta, lalu memotongkan steaknya. Setelah selesai aku memotong dagingnya, aku menaburkan blackpapper dan tabasco, lalu aku serahkan kembali padanya. Kali ini Pradipta diam dan hanya tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Aku kembali ke piringku sendiri lalu memotong motong dagingku. Setelah selesai, aku menaburkan blackpapper dan menuang saos dipinggir piring. Saat aku selesai dan ingin memulai makan, Pradipta menghentikanku. Dia mengambil garpuku dan tersenyum. Aku tidak mengerti apa yang diinginkannya.


“Buka mulutmu Nara,” kata Pradipta sambil menusuk satu daging dari piringk u. Ah, rupanya dia ingin menyuapiku. Baiklah. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dengan garpu yang sama, bergantian dia menyuapi dirinya sendiri dan aku, sampai habis. Kami makan tanpa bicara, hanya sesekali aku memandangnya dan tersenyum. Sementara itu Pradipta terus memandangku tanpa menoleh ke yang lain. makan tanpa bicara, hanya sesekali aku memandangnya dan tersenyum. Sementara itu Pradipta terus memandangku tanpa menoleh ke yang lain.


Setelah menyelesaikan main course tanpa hambatan, makan malam kami dilanjutkan dengan makanan penutup khas korea, Chapssaltteok. Ini adalah salah satu jajanan tradisional Korea. Chapssaltteok ini mirip mirip dengan mochi Jepang.Teksturnya kenyal dan kali ini diberi isian manis. Chapssalteok ini disajikan bersama dengan Sujeonggwa. Kalau menurutku sih ini adalah   wedang jahe, yang diberi kayu manis.  Chapssalteok disajikan khusus untukku, sedangkan Pradipta lebih memilih wine yang tadi sempat terselamatkan meski tumpah sedikit.


Setelah makan siang selesai, Pradipta melihat ke jam yang melingkar ditangannya. Dia menarik nafas panjang, seolah tidak ingin pertemuan ini berakhir, namun dia harus pergi.


“Nara, kamu sangat cantik dan gadis yang luar biasa,” kata Pradipta. Aku memutar bola  mataku dan berdecak.


“Mas, kamu tuh gombal banget ya. Dari tadi itu terus bilangya,” kataku dengan nada protes tapi manja. Pradipta tertawa tergelak mendengar jawabanku.


“Itu kenyataan kok. Gombalnya dimana coba. Nara, bolehkah aku bertemu denganmu lagi?” tanya Pradipta. Aku mengangguk dan tersenyum. Pradiptapun tersenyum lebar.


“Boleh. Sebaiknya sekarang aku pulang. Aku tidak mau mengganggu acaramu dan menyita waktumu lebih banyak,“ kataku.


“No, its okay. Kamu tidak pernah menggangguku. Anytime kamu ingin bertemu, telpon aku. Aku akan usahakan. Kita harus bertemu lagi ya cantik,” kata Pradipta. Aku menganggukan   kepala lalu tersenyum. Bersama Adrian yang ternyata sudah berdiri di belakangku, aku segera melangkahkan kaki menuju pintu keluar dan pulang.

__ADS_1


__ADS_2