
POV Nara
Setelah tadi aku terpeku cukup lama. Aku kembali menguatkan diri. Aku tahu aku sudah terlihat aneh saat melihat beberapa orang disekelilingku menanyakan keadaanku. Bahkan ada seorang model yang beberapa waktu lalu sempat pemotretan bersamaku, memberikan aku air minum. Aku kembali menyadarkan diri untuk lebih tegar, kembali menjadi Nada yang tidak baperan. Aku berusaha berbicara dengan beberapa orang yang aku kenal.
Aku kembali melihat Pradipta dan Juli berjalan kearah panggung dari arah berbeda. Mereka tampak rapi dan seperti
tidak pernah terjadi apa-apa. Ah, sudah selesai rupanya mereka. Acarapun segera dimulai. Adrian mengingatkanku bahwa acara sudah akan dimulai. Disaat yang sama Adrian menanyakan keadaanku yang aku jawab dengan anggukan dan memberikan jempol dibalik tas tanganku.
Acara resmi sudah dimulai. Aku tahu bahwa aku sudah mengacaukan kesempata pertamaku tadi. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Bagaimanapun, Pradipta adalah cinta pertamaku. Pradipta adalah satu-satunya laki-laki selain ayah, yang mau mencintaiku, selalu ada untukku dan menikahiku juga. Aku masih merasa bahwa dia hanya tergoda dengan Juli. Pada dasarnya dia orang baik yang menyayangiku dan
keluargaku. Dia melakukan semua yang dia lakukan kemarin hanya karena ibu dan karena kesepian di Singapura. Dia pasti sangat menyesal dan akan kembali menyayangi dan menghargaiku, menjadikan kami tim hebat seperti dulu lagi. Aku harus berusaha agar bisa merebut Pradipta dari Juli. Meski sekarang aku juga belum tahu harus bagaimana. Saat ini aku hanya harus menunggu acara selesai. Saat ini Pradipta sedang menjadi laki-laki luar biasa diatas panggung, bertindak sebagai CTO dan pemilik ide, meluncurkan project kami Studio digital terlengkap LC yang akan mengembangkan siaran digital dan film animasi 4D. Juli tampak sibuk menjadi host acara.
__ADS_1
Aku bangga ideku yang aku garap dari awal sebagai bahan skripsi kemudian aku lakukan riset lebih lanjut dan melakukan banyak inovasi, kemudia aku lanjutkan sebagai tesis yang cukup melelahkan sampai bisa menjadi blueprint yang bisa aku presentasikan.Setelah selesai, aku kemudian menunjukan pada suamiku dan dia bilang, dia yang akan menjual project itu pada bosnya. Kami bisa kaya dengan project ini nantinya, dan uangnya bisa kami gunakan untuk jalan jalan keliling dunia. Pradipta mengatakan bahwa dia akan mempresentasikan project ini pada Mr. Franco bosnya di LC. Ternyata dengan bekal presentasi video dan blueprint serta bussiness plan lengkap yang aku berikan, kini Pradipta berhasil mewujudkan mimpi kami. Aku tersenyum lebar dan hatiku berbunga-bunga.
Ini adalah project besarku yang aku banggakan. Project yang akan membawaku dan suamiku keliling dunia setelah aku berhasil mendapatkannya lagi nanti.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiriku yang sedang terpaku menatap panggung. Dia adalah direktur HR LC yang tadi aku panggil nenek lampir. Dia mengajak seorang produser yang menjadi klien LC dan mengatakan bahwa mereka ingin menjadikanku bintang di sebuah project film besar. Sebentar, bukankah Dia Mr. Arya, yang tadi bersama Juli? Saat bersalaman denganku, mr. Arya menggelus tanganku dan memandangku seperti mau menerkamku. Aku sangat risih dengan sikap laki-laki ini dan buru buru menarik tanganku. Aku melirik Adrian yang langsung paham dengan apa yang terjadi. Adrian segera mendekatiku dan mengatakan bahwa ada beberapa orang yang emnungguku untuk membicarakan kontrak. Aku berusaha tersenyum pada Mr. Arya dan ibu direktur
sambil mengatakan bahwa semua urusan kontrak akan diurus oleh managerku nanti. Aku juga pamit pada mereka karena ditunggu. Aku melihat tatapan tidak suka Mr. Arya pada Adrian. Tapi ya sudahlah, peduli apa?
Setelah itu ada beberapa orang yang mengajakku berbincang diantara mereka aku tahu dari Adrian, tadi mengajakku bicara. Aku harus memperbaiki keadaan dan memasang toipengku kembali. Apapun yang terjadi, malam ini aku adalah Nara, sang bintang yang sedang menancapkan kukunya di dunia interteinment. Tidak boleh mengecewakan siapapun.
Untunglah semua baik baik saja. Ada beberapa tawaran yang ditawarkan kepadaku. Namun aku berusaha menjawab dengan sopan bahwa malam ini aku tidak ingin bicara bisnis. Tapi nanti manager dan tim Nara yang akan menghubungi mereka. Walau sebenarnya aku juga bingung bagaimana menghandle tawaran itu. Selama ini M yang mengerjakan dan mengurus semua itu kan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk kembali konsentrasi pada suamiku didepan sana. Semua yang dia presentasikan masih aku ingat. Dia tidak mengubah banyak dari yang aku buat. Tapi sebentar, apa yang dia katakan? Project ini mendapat pujian sebagai sebuah ide brilian dengan jangkauan teknologi masa depan yang cukup jauh. Sebuah lompatan bisnis teknologi dan penyiaran yang sangat jauh kedepan. Aku sangat tahu itu. Dan
semua yang disampaikan Pradipta masih sama persis dengan yang aku buat.
“Bapak Pradipta memang luar biasa visioner di bidang komunikasi dan penyiaran. Ide-idenya kita kenal sejak lama selalu spektakuler dan penuh kejutan. Bagaimana Bapak bisa mendapatkan ide seperti ini?” suara Juli memuji Pradipta untuk lebih terlihat hebat. Tapi pertanyaan ini cukup menggelitikku. Apakah dia akan menyebutku sebagai pemilik ide? Atau paling tidak sebagai tim nya? Ini adalah karyaku yang aku persembahkan untuknya memang, itu terjadi menjelang kecelakaan.
“Terimakasih sayang, Dipuji oleh wanita hebat dan cantik seperti dia, ternyata mampu membuat saya gugup,” jawab
Pradipta diatas panggung yang disahuti dengan suara tawa para undangan. Apa? Dia memanggil Juli sayang didepan orang banyak? Lihat! Juli mukanya memerah karena tersipu. Sangat menyebalkan.
“Saya mengerjakan ini sejak lama. Awalnya ini adalah project untuk skripsi saya, meskipun pada akhirnya tidak saya lanjutkan dan saya memilih untuk membuat skripsi tentang komunikasi corporate. Namun kemudia saya melanjutkan project ini. Tidak mudah memang. Apalagi saya harus banyak bekerja di berbagai project dan juga menyelesaikan kuliah. Saya beruntung kenal dengan Mr. Franco , bos saya di LC. Seslamat malam Mr Franco,” kata Pradipta yang memberikan salam salut pada pemilik LC yang baru saja tiba.
__ADS_1
Franco hanya tertawa sambil mengangkat gelasnya. Aku tidak tahu siapa bos Pradipta, yang aku tahu hanya namanya. Menurut Pradipta, bos dan teman-temannya tahu bahwa akulah orang dibalik ide briliannya.
“Seperti saya katakan tadi, saya beruntung kenal dengan Mr. Franco dan bekerja di LC, sehingga saya berhasil mengembangkan konsep ini. Tidak mudah dan cukup melelahkan menyelesaikan, bisa dikatakan menghabiskan banyak dana, waktu dan keringat. Tapi semua tidak sia-sia dan hasilnya dengan bangga saya persembahkan kepada Anda semua,” kata Pradipta. Seorang wanita yang tampaknya dari sebuah televisi memberikan selembar kertas kepada Juli. Wanita itu segera mendekati Pradipta dan memberikannya. Apa? Bahkan dia tidak menyebut namaku? Dan sepertinya Mr. Franco dan teman-temannya setuju dengan apa yang dikatakan Pradipta. Apa selama ini Pradipta membohongi semua orang dengan mengakui karyaku sebagai karya karyanya?