Nada Nara

Nada Nara
Bab 11 Aku Cantik dan Sexy (Bagian 1)


__ADS_3

Sore yang cerah diIbukota Jakarta secerah wajah seorang gadis cantik yang sedang menikmati secangkir kopi disebuah gerai kopi ternama. Dia memandang sekelilingnya dengan senyum mengembang. Dia tidak memperdulikan banyak orang yang terpesona dengan kecantikannya. Baginya dipandang kagum oleh semua orang seperti itu sudah biasa. Bahkan dia sangat menikmati ketika menjadi pusat perhatian. Baginya, tersenyum dan menyenangkan orang lain dengan keramahannya adalah hal yang mulia.


Seorang wanita cantik berjalan melenggang di PIM semua orang menatap kecantikannya bahkan ada yang sampai mengikutinya. Rambutnya bergelombang lembut dan berkilau terurai dengan hiasan jepit mutiara di belakang. Kulitnya yang kuning langsat tampak bercahaya alami. Hidung mancungnya  tampak sempurna diapit oleh dua netra besar memanjang sempurna. Mata yang memancarkan keceriaan cemerlang menambah keindahan wajah nan elok. Bibir tipis merekah sempurna, merah muda berkilau,begitu sexy dan menggemaskan. Wajah berbentuk hati yang pas dengan tulang pipi yang tinggi menyangga kedua pipi yang merah merona. Leher jenjang tanpa cela


menghubungkan kepala cantik itu dengan tubuh bak gitar yang pas dan seksi, Kaki putih mulus, jenjang dialasi sepatu tanpa hak senada dengan warna baju yang dikenakan. Gaun sutra selutut yang pas dengan tubuhnya, melampai lembut dan menjaga keindahan tubuh pemiliknya. Elegan, sopan namun sekaligus sexy. Itulah gambaran yang tepat baginya.


Berjalan melenggang dengan santai, menebar senyum dan langkah ringan membuat gadis itu tampak percaya diri sekaligus ceria yang manis. Dia menikmati udara pagi yang cerah dan menikmati menjadi pusat perhatian banyak orang, tanpa mengesankan keangkuhan. Tak ada rasa ragu sekalipun, meski taksatu wajah disana yang dia kenal. Wanita itu melihat ke dompetnya sejenak lalu tersenyum.


“Ah ada serratus ribu rupiah, kok beli kopi sambil duduk sebentar,” gumamnya. Dia lalu menuju ke barista dan memesan Large Caramel Machiato ice.


“Atas nama siapa kakak?” Seorang barista dengan nama Chacha menyapanya.


“Nara, ya Nara.” Katanya setelah berpikir sejenak.


“Oke kak Nara, ditunggu sebentar pesanannya ya kak. Silahkan,” kata barista tersebut setelah menuliskan namanya.


“Terimakasih,” kata Nara sambil tersenyum. Dia melayangkan pandangannya ke sekeliling, untuk mencari meja kosong. Satu-satunya kursi kosong ada di sudut ruangan. Namun diasana sudah duduk seorang wanita cantik, dengan kerudung lilit, sedang asyik memandangi gawainnya. Nara bergerak menghampirinya.


“Permisi tante,” kata Nara. Wanita cantik itu memandangnya dengan mata coklat tajam namun berkesan


teduh.


“Ya? Ada apa? Mau duduk sini?” tanyanya sambil tersenyum. Nara berkernyit sebentar lalu mengangguk.


“Duduklah, siapa namamu nak?” tanyanya lagi.


“Nara, tante. Terimakasih. Soalnya kursi yang kosong tidak ada lagi,” kata Nara.


“Oh tidak apa-apa. Panggil saja saya Shinta,” kata wanita itu sambil tersenyum. Tepat kemudian barista yang melayani Nara tadi datang dengan membawa segelas Caramel Mchiato panas dan Avocado Cheese cake. Nara menatap kue itu dengan nanar, namun kemudian segera mengalihkan pandangannya.


“Bunda, ini kopinya  dan ini Avocado Cheese Cakenya. Kalau ada yang bunda butuhkan, panggil Chacha aja ya. Jangan lupa nanti diramal lagi ya bun,” kata barista tadi dengan manja. Wanita itu mengucapkan terimakasih dan tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


“Boleh Nara juga panggil Bunda?” kata Nara ragu. Wanita itu urung menyesap kopinya, memandang Nara sejenak lalu tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia menyesap  kopinya dengan kidmat.


“Bunda akrab sekali dengan barista disni. Sering kesini? Bunda bisa meramal ya? Bayar tidak?” Tanya


Nara.


“Aduh cantik, nanyanya banyak ya,” kata wanita yang dipanggil Bunda tersebut. “Iya, saya memang biasa disini untuk meeting dengan klien. Kebetulan rumah saya dekat dari sini. Tempat ini cukup nyaman untuk meeting dan ngopi. Jadi ya hampir setiap hari saya disini untuk sekedar mencari kopi atau meeting. Mereka sudah hapal sama saya. Meramal? Kenapa? Kamu ingin diramal?” kata Bunda.


“Nara ingin diramal, tapi uang nara hanya ini,” kata Nara sambil mengeluarkan kembalian kopi yang tadi diberikan barista. Bunda tertawa sambil memandang wajah Nara yang riang, polos dan menggemaskan.


“Memangnya kamu ingin tahu tentang apa?” Tanya Bunda.


“Ehm apa ya? Bingung sih. Nara merasa banyak pertanyaan di kepala Nara tapi tidak tahu apa. Bahkan Nara tidak tahu hidup Nara seperti apa,” kata Nara kebingungan. Bunda mengambil tangan Nara dan mengelusnya pelan dengan jemarinya yang lentik sedikit keriput karena usia. Ada sebuah ketenangan yang Nara tidak pahami apa. Tiba tiba ada sebaris rindu muncul dihatinya.


“Mama...” satu kata yang begitu saja keluar dari mulut Nara.


“Kamu merindukan mamamu nak?” tanya Bunda.


Nara menitikan air mata. Apa yang dikatakan Nada membuatnya bersedih. Entah mengapa, Nara merasa mengenal Nada, tapi Nara tidak mengingat dia siapa. Nara berpikir dan terus berpikir namun tidak ada satupun yang muncul dalam ingatannya. Matanya nanar menatap televise, namun tak satupun yang tertangkap netra atau telinganya. Pikirannya terus berputar pada Nada dan kata-katanya.


“Nara, kamu baik-baik saja?” sebuah tangan lembut menyentuhnya, mambuat Nara kembali ke bumi. Kembali


pada es Charamel Machiato ditangannya.


“Nara, apa yang kamu rasa dan pikir? Kamu mengenal Nada?” kata wanita yang entah kenapa ingin dia panggil Bunda.


“Entahlah Bunda, melihat dia aku seperti sangat mengenalnya tapi entahlah,” kata Nara.


“Ehm, itu Nada yang waktu itu viral karena menyerang artis yang bernama Juli itu bukan sih?”


“Iya, Dia itu sebenarnya bukan orang miskin. Tapi dia selalu dihina dan dilecehkan karena gendut dan hitam. Bahkan dia sering dipanggil gajah. “  terdengar suara di kanan kiri Nara yang membuat Nara kembali tercenunng. Viral? Nada? Juli? Gajah?

__ADS_1


Acara Makeover kembali menampilkan Nada yang diperlakukan tidak baik oleh keluarganya, dijadikan pembantu, ditertawakan  dan ditinggal kerja suaminya di luar negeri. Nara melihat semua itu sangat menyakitkan hatinya. Rasanya seolah di remukan oleh tangan tak kasat mata. Kepalanya seperti dipukul oleh palu godam. Nara mengelengkan kepalanya. Tangannya mengepal kuat. Keringat dingin mengucur di pelipis , tengkuk bahkan seluruh


tubuhnya.


“Nara,” kata Bunda sambil kembali menggegam tangan Nara.


“Eh, maaf Bunda, aduh, kepala Nara pusing,” kata Nara sambil memegang kepalanya.


“Tenang Nara, Tarik nafas… buang… Tarik nafas… buang… terus begitu ya nak,” kata Bunda sambil memanggil chacha. Dengan gerakan tangan bunda meminta sesuatu pada chacha, namun matanya tetap menatap Nara.


"Konsentrasi sayang, lihat Bunda, terus bernafas.” kata Bunda dengan lembut tapi dalam.  Pandangannya tetap fokus pada gadis cantik itu.


“Bunda, ini teh manisnya,” Kata Chacha yang datang dengan dua cangkir teh. Bunda tersenyum dan mengatakan makasih dengan gerakan mulutnya.


“Minum tehnya nak. Tenangkan hati dan pikiranmu. Apapun yang terjadi padamu atau Nada, memang sudah harus terjadi. Tinggal bagaimana kamu menyikapinya. Jika sekarang kamu sedang dalam kebingungan, ingatlah bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Jangan terlalu berpikir tetang hal buruk yang dilakukan orang lain, sampai kamu lupa untuk menjadi baik. Apapun yang terjadi nantinya, tetap jadilah orang baik seperti dirimu yang sebenarnya. Bunda hanya mengingatkan, jangan terlalu percaya pada orang lain. Berpikir positif, Tidak berprasangka buruk memang sudah seharusnya, namun bukan berarti kamu tidak waspada dan menjadi bodoh,”


kata Bunda lembuh sambil melepaskan tangan Nara. Dia mengambil cangkir tehnya


dan menyesap perlahan. Nara mengikuti apa yang dilakukan Bunda sambil berpikir.


“Aku nggak mengerti maksud Bunda?” kata Nara.


“Kadang Cinta memang harus dipertahankan. Namun jika sudah terlalu banyak keburukan yang ditimbulkannya sampai kamu lupa mencintai dirimu sendiri, dia bukan lagi cinta, namun racun. Lepaskan. Kamu minta bunda ramal kan? Hati-hati pada orang-orang yang terlihat baik padamu. Terlalu banyak orang seperti itu disekitarmu. Jika kamu berhasil melihat dan menempatkan semua pada tampatnya, maka kamu akan menemukan cinta sejatimu,”kata Bunda sambil membereskan tasnya. Dia memanggil Chacha yang kemudian datang membawa selebar kertas tagihan.


“Sudah termasuk teh barusan kan Cha?” tanyanya


“Sudah bunda, kak Nara sudah membayar Charamel Machiatonya juga kok,” kata Chacha.


“Baiklah Nara, Bunda harus pulang. Ini untuk membayar ramalan tadi ya,” kata Bunda sambil mengambil uang 2000 dari tumpukan uang yang tadi diletakan Nara didepannya. Sisa uang yang diatas meja lalu bunda masukan ke tas Nara. Diusapnya pelan ujung kepala Nara sambit tersenyum.


Sebuah aliran sejuk mengalir dari elusan Bunda kedalam diri Nara membuat gadis itu seperti tersadar. Dia berdiri dan mencium ujung tangan wanita yang baru dikenalnya. Semua kata-kata wanita itu seperti bergema dikepalanya. Semua diingatnya. Nara merasa, hanya itu dan kisah Nada  yang menjadi isi kepalanya sekarang. Nara kembali berusaha mengingat Nada dan kisahnya, kata-katanya, wajahnya. Dia langsung mengeryit keras dan memegang

__ADS_1


dadanya yang terasa nyeri. Rasa sakit yang begitu akrab sekaligus asing. Kepalanya sedikit melayang dan kakinya terasa lemas. Nafasnya terasa sesak dan mukanya memucat. Nara memutuskan untuk duduk duduk di bangku pejalan kaki, menenangkan dirinya.


__ADS_2