Nada Nara

Nada Nara
Bab 112 Pertanyaan di Kepala Nara


__ADS_3

POV Nara


Setelah M keluar dari kamarnya, Aku masih terus memikirkan kejadian hari ini. Sikap Juli menghadapi perselingkuhan, sangat berbeda dengan sikap Nada dulu. Nada dan Juli sama sama marah dan terganggu dengan perselingkuhan Pradipta. Namun cara mereka menghadapi sangat berbeda. Dulu Nada bertahan dengan menangis dan menderita. Sestelah itu dia mendatangi Juli dan berbicara. Sedangkan tadi, meski terlihat terluka, Juli memilih diam dan pergi. Aku yakin saat inipun Juli sedang bersama Pradipta. Kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Apakah  Juli akan marah pada Pradipta? Atau dia akan bertanya pada Pradipta seperti dulu Nada bertanya? Akankah Pradipta marah jika Juli bertanya? Apakah sikap Pradipta kepada Juli akan sama dengan sikap laki-laki itu pada Nada?


Aku lalu teringat kata kata M tentang Juli. Menurut M, Juli itu sangat cerdas dan selalu memikirkan langkah langkahnya saat menginginkan sesuatu. Dalam keluarga Juli termasuk ahli strategi kata M. Dia juga harus mendapatkan apa yang dia mau apapun caranya. Begitu juga dengan hubungannya bersama Pradipta. Menurut M, diam dan perginya Juli kemarin adalah salah satu strategi yang dipikirkan Juli.

__ADS_1


“Dan lagi, Pria benci wanita yang cerewet. Juli tau itu,” Kata M.


“Kalau begitu apa yang akan dia lakukan?” tanyaku saat itu.


“Dia akan mengambil hati Pradipta melalui perhatian dan manjanya dia. Aku rasa Juli juga sudah memegang kartu truf Pradipta,” jelas M.

__ADS_1


“Tapi apa yang kami perebutkan sebagai hadiah? Pradipta? Apakah dia seberharga itu?” gumamku perlahan. Kembali terbayang saat saat kecilku bersama Pradipta yang membuat senyum diwajahku mengembang. Namun bayangan indah itu disusul dengan bayangan perlakuan keluarga mertuaku setelah pernikahan dengan Pradipta, di rumah kediaman Hermawan. Bayangan yang membuatku mengerutkan dahi tanpa aku sadari. Aku menyadari betapa bodohnya aku dulu, mengabaikan ucapan-ucapan Sandra tentang sikap mereka, tentang melawan mereka dan menunjukan akulah yang berkuasa di rumah itu. Setelah syuting Makeover, dan menonton episode demi episode, aku mulai melihat semua dengan lebih jelas. Mungkin karena saat menonton acara itu, aku memposisikan diri sebagai penonton, orang luar, bukan Nada.


Lalu muncul kenangan bersama Pradipta. Saat malam pertama yang menyedihkan. Saat aku menunggunya untuk  menyerahkan kesucian yang begitu berharga dengan bayangan indah yang selalu dibacanya di novel. Saat pada akhirnya semua berakhir dengan kesakitan menghadapi Pradipta yang mengambil kegadisanku dalam keadaan mabuk.


Dalam benakku terbayang bagaimana sikap Pradipta padaku selama masa pernikahan yang panjang. Aku tak pernah mendapatkan nafkah lahir batin yang layak dari suamiku. Bahkan aku hampir tidak pernah disentuhnya, saat sebagai Nada. Jika melihat apa yang dimiliki oleh Pradipta sekarang, dia tidak pernah memberiku nafkah lahir juga. Semua yang kumiliki dan kumakan adalah uang Papa. Lalu, layakkah dia menjadi suami? Layakkah dia kurebut kembali? Lalu mengapa Juli membuat strategi untuk mempertahankan laki-laki seperti Pradipta? Apakah sikap Pradipta akan berbeda denganku sekarang? Lalu bagaimana kalau dia tahu aku ini Nada?

__ADS_1


Semua pertanyaan itu terus berkecamuk dan berputar di kepalaku sampai akhirnya membuatku lelah dan tertidur.


__ADS_2