
POV Mahardika
Seperti yang sudah diduga, pertemuan penyerahan kalung lelang ini akan dijadikan ajang buaya Pradipta kepada Nara. Nara pun masih belum terlalu siap untuk menghabadi Pradipta. Itulah sebabnya aku harus menjaganya dengan ekstra hati-hati. Nara cukup pandai bermain peran dan kata. Seperti saat menjawab pancingan Pradipta yang menginginkan meeting kali ini menjadi Lunch date mereka.
“It’s ok buat saya, karena saya memang tidak punya pacar atau orang yang bisa melarang saya buat melakukan kencam. Tapi saya rasa, justru akan menjadi masalah untuk mas Pradipta nanti. Sebaiknya kita tetap mengatakannya hari ini sebagai pertemuan bisnis. Saya tidak mau artis senior sekelas Juli memarahi saya dan
menganggap saya sebagai pelakor, lalu melabrak saya dan viral” itulah jawaban Nara yang sekaligus sebagai
sindiriran. Tentu saja hal ini bisa dilakukan siapapun. Toh Pradipta dan Juli mengumumkan rencana pernikahan mereka di berbagai media komunikasi. Wajar kan kalau seorang Nara tahu, Pradipta sudah memiliki pasangan. Apalagi Juli sekarang merupakan salah satu dari artist selebritis yang cukup terkenal. Pradipta tertawa tergelak
mendengar sindiran Nara. Dia memandang Nara dengan pandangan gemas.
“Wow, saya tersanjung, karena artis terkenal yang cantik dan cerdas seperti Nara mempelajari kehidupan seorang Pradipta. Tapi jangan kuatir, Juli itu urusan saya. Saya sungguh-sungguh tertarik sama Nara. Kamu wanita cantik yang luar biasa. Saya juga dengar, Nara langsung memukau banyak orang, dalam waktu yang cukup singkat. Semua memuji kecantikan, kebaikan dan kecerdasan Nara. Nara luar biasa. Laki-laki akan mengorbankan apapun untuk bisa memilikimu, cantik,” kata Pradipta. Tatapannya tidak melepaskan Nara sedikitpun. Sebelum Nara sempat menjawab, pelayan menyajikan makanan utama dihadapanku. Salah satu menu main course favorit Nara saat berada di Korea. Dol sot bi bim bap yang disajikan dalam hot stone bowl mewah ala hotel bintang lima. Nasi dengan sajian lengkap sayuran, daging dan telur yang diolah secara tradisional ala Korea. Dengan kata lain, sajian ini merupakan bibimbap yang dihidangkan dalam mangkuk dari batu yang sudah dipanaskan. Dolsot berarti "mangkuk batu". Panas dari mangkuk batu akan mematangkan telur mentah yang diletakkan di atas nasi sebagai lauk. Sangat menggiurkan, bahkan lebih menggiurkan dari rayuan Pradipta. Sedangkan untuk Pradipta, Sogogi Bokkeum Steak yang diolah dan disajikan berbeda dari versi tradisional. Dari data yang aku kumpulkan kalau Pradipta memang sangat menyukai steak. Tidak heran jika pilihannya tidak jauh dari makanan yang satu ini.
Pertemuan yang dianggap kencan oleh Pradipta ini cukup membuatku lega. Semua berjalan sesuai dengan yang kami rencanakan. Meskipun Nara sendiri masih sering tergugu menghadapi Pradipta, namun dia masih bisa mengalahkan buaya darat itu. Seperti saat ini, Pradipta terus menerus menggempur Nara dengan gombalan gombalannya, namun dia tampak tidak terlalu peduli. Nara segera menyantap makanan didepannya. Yang aku ahu, inilah Nada Nara saat makan, menyantap makanan dengan lahap dan tak berbicara. Bedanya, saat menjadi Nada, ketika suami membutuhkan sesuatu, dia akan langsung tahu dan menyediakannya. Ya, benar, aku baru merasa lega, karena instingku mengatakan masih akan ada hal lain yang bisa membahayakan Nara, meski aku tidak tahu apa.
Kulihat Nara memanggil pelayan dan meminta black papper dan tabasco. Aku cukup heran sebenarnya. Makanannya sama sekali tidak membutuhkan black papper. Dan aku juga tahu, Nara bukan penyuka bumbu berwarna hitam itu. Lalu tabasco? Sambal yang satu ini, hanya sesuai untuk steak kan? Setelah Black papper dan tabasco datang, Nara segera mengambil nya dan menaburkan diatas piring makanan PradiptaSetelah selesai, Nara mengambil gelas Pradipta dan meminta pelayan untuk mengisinya dengan air putih hangat. Cara Nara melakukan semua itu, seperti seorang istri yang melayani suaminya. Saat itulah aku menyadari bahwa semua yang dilakukan Nara adalah kebiasaan Nada saat melayani Pradipta, suaminya,Nara kemudian mengambil piring Pradipta dan memotong-motong steaknya, kemudian kembali mengembalikan tanpa berkata apapun. Nara melakukannya seperti robot, tanpa kata tanpa berpikir. Aku merasa saat ini, Nara bergerak tanpa sadar, memunculkan sisi Nada.
__ADS_1
“Adrian, Nara,” kataku khawatir sampai tidak tahu harus berkata apa. Adrian mengerti apa yang kumaksud. Aku yakin dari tadi dia mengawasi Nara. Dia mulai siaga, bersiap melakukan sesuatu jika ada hal yang berbahaya
karena penyamaran Nara terbongkar. Aku juga melihat raut muka Pradipta yang terkejut sesaat. Namun dia berusaha menutupi dan terdiam sesaat lalu mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Dikepalanya muncul beberapa kecurigaan yang kemudian dia bantah sendiri. Aku rasa tindakan Nara tadi mengingatkannya pada Nada.
“Nara, apa yang kamu lakukan? “ kata Pradipta dengan pelan namun cukup membuat Nara tersadar dari transformasinya sebagai Nada tadi. Dia sadar sepenuhnya sekarang, bahwa apa yang dilakukannya tadi membahayakan Nada’s Peoject.
“Aduh maaf, aku hanya ingin melayanimu setelah semua kata-kata manismu. Mungkin aku jadi terbawa suasana,” kata Nara malu malu. Sepertinya dia berusaha terlalu keras untuk menutupi kelakuannya yang absurd tadi.
“Ehm, tidak apa apa. Namun aku jadi inget seseorang yang selalu melakukan hal ini padaku beberapa tahun lalu,” kata Pradipta sambil sedikit menerawang. Benar kan kataku, Pradipta pikirannya langsung kepada Nada.
“Iya, dia menyayangiku, sangat. Sayangnya sekarang dia sudah tidak bisa melakukannya. Dia sudah tidak ada, sudah meninggal,” kata Pradipta dengan muka sedih. Aku lihat muka Nara berubah mendengar jawaban Pradipta. Mukanya menggambarkan perasaan bahagia karena dikenang suaminya dan sedih serta marah. Dia langsung
melamun dan pikirannya berkelana.
“Adrian, Jangan sampai Nara tak sengaja membuka identitasnya. Ingatkan dia,” perintahku
“Siap boss!” kata Adrian dengan suara dalam, yang hanya terdengar olehku. Tak lama kemudian Adrian menjatuhkan sendoknya dan berdehem. Kearah Nara. Untuk menutupi aksinya, Adrian mengambil gelas dan minum sedikit. Nara ternyata cukup peka. Hanya dengan deheman Adrian yang ditujukan langsung pada Nara, menyadarkan gadis itu dari lamunannnya. Dia langsung tersenyum manis pada Pradipta yang memandanginya, lalu melanjutkan makan, hidangan yang ada didepannya dengan diam. Aku tahu, Nara masih terus penasaran. Dari tadi matanya tidak beralih dari Pradipta yang sepertinya juga melamun.
__ADS_1
“Jadi apakah kamu masih mengingat dia?” Nah, benarkan, Nara masih penasaran dengan sikap dan pikiran Pradipta pada dirinya. Gadis ini masih berusaha mengorek dengan pertanyaannya.
“Ya, selalu, meski aku juga pernah tidak memperdulikan dia,” kata Pradipta datar.
“Apakah dia orang istimewa bagimu?” tanya Nara
“Keluarganya adalah orang yang baik dan berjasa bagiku. Dia sebenarnya sangat baik. Dia sahabat terbaik yang pernah aku punya. Dia adalah salah satu orang yang selalu mendukungku,” katanya. Pradipta terlihat sedikit gugup dan tegang. Dia tidak menjawab pertanyaan Nara sebenarnya. Untuk menutupi meteganannya, Pradipta memainkan sebuah gelang dari anyaman benang yang indah. Ah, ya, Nara juga memperhatikan hal tersebut. Aku rasa, Nara mengenali gelang itu.
“Gelang yang indah, apakah itu juga darinya?” pancing Nara sambil memandang gelang di tangan Pradipta.
“Ini milik seseorang yang sangat berarti bagiku yang meninggal saat aku masih SMA. Dia memberikan ini sambil berkata bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi orang besar yang tidak perlu bergantung pada siapapun bahkan untuk hidup dan penghidupanku,” kata Pradipta. Jika melihatnya seperti ini, Buaya yang satu ini lebih menyerupai manusia sih.
“Siapa dia?” kejar Nara. Aku sedikit bingung dengan apa yang diinginkan Nara. Kenapa wanita ini mengejar pertanyaan yang bersifat pribadi di masa lalu. Namun Nara adalah wanita yang cerdas. Apa yang dilakukannya ada tujuannya.
“Seorang wanita cantik meski usianya sudah lebih dari 70 tahun. Kami memanggilnya Nenek Hermawan. Berkat dia aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan berhasil seperti aku yang sekarang ini. Dia yang mengangkatku menjadi cucunya dan berjuang melawan anak-anaknya yang tidak setuju membawaku pulang dari jalanan. Bahkan Dia memberikan ayahku pekerjaan sebagai sopir keluarganya dan menyekolahkan aku,” kata Pradipta. Oh, Nara mengingat pada keluarganya rupanya. Dia ingin menggiring Ingatan Pradipta pada hal-hal yang berbau emosi masa lalu keluarga Nada. Sayangnya, selain Pradipta, Nara juga terpengaruh dengan kisah Nenek keluarga Hermawan ini. Bahkan menurutku, kenangan Nara pada Neneknya jauh lebih dalam dibanding
Pradipta.
__ADS_1