Nada Nara

Nada Nara
Bab 109 Dejavu


__ADS_3

POV NARA  (flash back on)


Aku terus mengamati pergerakan Juli sambila mengikat perhatian Pradipta padaku. membagi konsentrasi antara kedatangan Juli dan membuat Pradipta hanya fokus padaku. Dari sudut mataku aku memandang wanita yang merebut suamiku dan menghancurkan hidupku. Dia berhenti beberapa langskah dari bangku dimana  aku duduk sambil menutup muliutnya dengan kedua tangan. Matanya terbuka lebar. Dia memandang Pradipta dengan serius. Mungkin dia ingin memastikan apakah yang duduk bersamaku adalah laki-laki yang mengajaknya bertunangan beberapa waktu lalu. Aku tersenyum sekaligus merasa kasihan. Aku tahu kok bagaimana sakitnya.


Juli menatapku nanar. Aku tahu dia mengenaliku. Kini matanya menatapku tajam sambil memastikan siapa aku. Aku pun tahu bahwa dia sadar aku juga melihatnya. Namun Juli tidak bergerak mendekat ataupun bersuara. Menurutku Juli seperti tidak ingin Pradipta tahu kehadirannya. Entah alasan dia apa, namun aku tidak terlalu peduli. Toh itu juga menguntungkan diriku. Aku kan harus membuat Pradipta fokus padaku. Kalau dia bersuara atau Pradipta tahu kehadirannya, kemungkinan besar Pradipta akan meninggalkanku kan. Paling tidak, Pradipta akan tidak fokus padaku. Beberapa kali mata nanar Juli berpindah anatara aku dan Pradipta. Aku melihat dengan jelas kilasan marah dankecewa tersimpan dimata Juli.

__ADS_1


Aku sempat terpikir pada M. Aku khawatir dengan keadaannya saat ini. Bagaimana rasa dia, dengan kehadiran Juli. Apakah hatinya juga sakit melihat Juli yang cemburu pada Pradipta? Apakah dia marah dengan kemarahan dan sedihnya Juli pada Pradipta?  Sepertinya iya, namun aku juga tidak bisa mencari tahu atau mengiburnya. Meskipun saat ini aku ingin sekali berada di dekatnya.


Aku mecoba membuang pikiranku tentang M. Aku kembali pada Pradipta dan Juli. Sekilas aku melirik wanta yang marah besar. Matanya nanar memandang tunangannya. Pradipta saat itu sedang menatapku lekat sambil menggenggam erat tanganku yang sedikit berkeringat karena gugup. Aku yakin dengan jarak antara aku dan Juli, aku tidak mendengar apa yang kami bicarakan. Namun Juli pasti tahu apa yang dilakukan dan dikatakan Pradipta ke aku. Aku yakin, wanita seperti Juli yang juga saudara M, tahu pasti bahasa tubuh Pradipta. Pasti Juli paham arti bagaimana dia memperlakukanku dan pancaran mata Pradipta padaku. Muka Juli tampak mengeras. Ada kecewa dan sakit dimata itu. Aku seperti merasa dejavu. Aku kembali teringat pada masa dimana Juli memanasi dan merendahkanku. Aku hanya tersenyum. Tak lama kemudian kulihat Juli berbalik dan kembali ke mobil. Aku melihat salah satu anak buah Henry nangkring diatas motor di belakang mobil Juli.  Setelah beberapa saat kemudian mobil Juli kembali berjalan.


Setelah Juli pergi aku kembali konsentrasi dengan Pradipta. Aku mencoba membuat suamiku itu merasa nyaman disisiku. Aku ingin dia benar benar mengingatku saat nanti ketemu Juli. Seperti dia dulu teringat Juli saat bersamaku.

__ADS_1


“Kamu sudah mengantuk, Nara,” kata Pradipta.


“Iya, hari ini cukup melelahkan. Apalagi besokmasih ada pemotretan yang cukup padat,” kataku.


“Ya sudah, kita pulang yuk. Tidak baik buat Nara juga kalau terlalu malam di luar. Yuk aku antar Nara pulang,” kata Pradipta.

__ADS_1


“Nggak perlu mas, aku pulang sendiri saja,” kataku sambil melirik kearah M dan teman temannya. Namun Pradipta memaksa mengantarku pulang. Akhirnya akupun mengatakan iya setelah M membisikkan untuk pergi bersama Pradipta. Mereka akan mengikuti dari belakang. Selama perjalanan pulang, Pradipta menggandeng tanganku dengan mesra. Kami tidak banyak berbicara sampai kami berdiri didepan pagar. Pradipta langsung pamit. Dia mengecup keningku dan pamit pulang. Aku segera masuk kedalam rumah dan bersih bersih.


Flash Back off


__ADS_2