
POV Mahardika
Suasana melankolis diantara Pradipta dan Nara tercipta karena urusan gelang anyaman ditangan Pradipta. Aku ingat cerita Nara tentang orang-orang yang menjaganya dari kehancuran akibat dibully saat menjadi Nada dulu. Salah satunya tentang Nenek Hermawan yang baik hati. Seandainya bisa aku juga ingin bertemu nenek hebat yang mengingatkanku pada nenek hebat lainnya, Nenek Dirgantara.
Nenek Hermawan ini, menurut Nara adalah nenek yang selalu menyayanginya setelah Papa dan Mamanya. Nenek yang menjaga dan membesarkan Nada. Nenek yang selalu membela Nada saat dia mengalami pelecehan dan
hinaan akibat bentuk tubuhnya sangat besar dibanding anak-anak lain saat itu. Dengan kata katanya saat makan pagi dan malam, Neneklah yang menguatkan dia menghadapi apapun yang terjadi disekolah. Selalu menghibur saat Nada pulang sekolah dengan baju kotor dan penuh air mata karena dibully. Bersama dengan segelas juice jeruk yang mendinginkan tenggorokan Nada, Nenek duduk dimeja makan sambil bercerita.
Kesedihan Nara kehilangan Nenek yang selalu mendampinginya tampaknya membuatnya terpukul saat ini. Aku melihat tarikan nafasnya yang berat dan garis mukanya yang kaku. Urat-urat dikeningnya menegang. Sorot matanya kosong dan ada getaran halus ditangannya. Ada bulir bening mengambang dimata indah Nara, membuatku ingin berlari kesana dan merengkuhnya, memeluknya lalu mengatakan agar dia melupakan semuanya. Namun aku tidak bisa. Aku yakin dia sedang berada pada ingatan bersama sang nenek. Dia pernah bilang kalau dia ingin mengunjungi makan nenek dan ayahnya.
“Seorang wanita cantik meski usianya sudah lebih dari 70 tahun. Kami memanggilnya Nenek Hermawan. Berkat dia aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan berhasil seperti aku yang sekarang ini. Dia yang mengangkatku menjadi cucunya dan berjuang melawan anak-anaknya yang tidak setuju membawaku pulang dari jalanan. Bahkan Dia memberikan ayahku pekerjaan sebagai sopir keluarganya dan menyekolahkan aku,” kata Pradipta yang tergiring pertanyaan mengingat Nada dan keluarganya. Sayangnya, selain Pradipta, Nara juga terpengaruh dengan kisah Nenek keluarga Hermawan ini. Bahkan menurutku, kenangan Nara pada Neneknya jauh lebih dalam dibanding Pradipta.
“Nara…,” panggil Pradipta dengan lembut. Panggilan ini mengejutkan, sekaligus menarik Nara kembali dari lamunan masa lalu. Juga menarikku dari keinginanku berlari ke ruangan sebelah untuk memberikan sedikit pelukan kepada Nara. Nara sedkit mendongak, memandang laki-laki buaya didepannya. Pradipta ternyata sudah mulai bisa menguasai diri. Dia kembali memasang tampang buayanya. Pandangannya dibuat lembut di wajahnya yang cukup
tegas, merayu para wanita yang akan menjadi korbannya. Tangan pradipta terulur
seperti ingin memegang pipi Nara. Ingin rasanya aku menepis tangan kotor itu jauh-jauh. Dia sangat tidak pantas bersentuhan dengan pipi indah dan murni dari wajah perempuan cantik ciptaanku ini.
Untunglah rencana itu gagal karena gelang anyaman Pradipta yang tadi mampu mengubah suasanya, tersangkut garpu yang ada disana. Entah bagimana, tiba-tiba gelang tersebut putus, terlepas dari tangan pradipta dan jatuh ke lantai. Aku lihat dengan cepat Nara membungkuk turun mengambil gelang.
“Nara” panggil Pradipta dengan nada heran. Aku lihat Nara terpana sambil memegang gelang tersebut cukup lama.
__ADS_1
“Adrian,” geramku bersiap agar Adrian menghampiri Nara jika situasi membekunya Nara ini berlangsung lebih lama. Adrian menyadari ini, langsung bergerak ke sisi dimana Nara sedang membungkuk sambil duduk dengan gelang ditangannya.
“Oh maaf” jawab Nara. Suara dan gesture tubuhnyamenunjukan kegugupan yang sangat. Nara memandang Pradipta sekilas lalu mengulurkan gelang ditangannya. Karena tidak fokus, tangan Nara menyenggol gelas dan menjatuhkan kembali gelang itu kebawah meja. Entah apa yang ada dipikiran Nara. Namun spontan Dia langsung melompat kebawah meja dan mencari gelang tersebut. Tak lama usaha Nara mencari gelang dengan berjongkok dibawah meja. Saat ketemu Nara mengambilnya dan berniat untuk bangun. Namun kemudian dia dikagetkan oleh suara Pradipta. “Nara, apa yang kamu lakukan?”
Keterkejutan Nara akibat suara Pradipta, membuat gadis itu langsung menegakan badannya yang setengahnya masih ada dibawah meja, hingga membuat kepalanya terbentur meja dengan keras. Karena kerasnya benturan kepalaku ke meja membuat gelas diatas meja bergelimpangan dan menyiram baju Nara dan baju Pradipta. Nara yang makin gugup segera bergeser unuk kemudian berdiri dengan rasa malu yang terlihat di wajahnya. Mukanya merah merona menahan malu. Menggemaskan melihat Nara seperti ini.
“Ehem, boss, bukan saatnya untuk terpesona saat ini,” kata Bayu yang ada disebelah Mahardika. Terdengar tawa keras Henry yang rupanya sudah kembali terhubung dengan mereka dan mendengar perkataan Bayu tadi.
“Makin jatuh cinta kan boss, makanya buruan ditembak. Nanti ditangkap orang lain, nangis guling guling,” kata Henry.
“Sialan kalian. Henry, segera kesini. Tunggu di basement. Firasatku mengatakan sebentar lagi akan ada sesuatu,’ kataku mencoba serius.
"Bram, bersiaplah. Bayu, siapkan baju ganti untuk Nara. Tadi ada di markas sementar," perintahku dengan cepat. Bayu segera keluar mengikuti perintahku.
“Nona, kamu baik-baik saja?” kudengar suara Adrian khawatir, memastikan keadaan Nara, bersamaan dengan Pradipta. “Nara, kamu tidak apa-apa? Maaf aku mengagetkanmu.”
Aku memastikan Nara baik-baik saja. Aku tidak bisa mengetahui keadaan kepalanya yang terkena meja. Pasti benjol. Namun sepertinya Nara lebih merasakan malu yang luar biasa dibanding memikirkan rasa sakitnya. Mukanya menjadi sangat merah, tangannnya bergetar namun aku yakin tidak ada ekspresi kesakitan disana. Hal ini sedikit membuatku lega. sementara itu Nara terlihat sangat malu, dan mukanya merah padam.. Apalagi saat itu dia melihat kekacauan di meja restoran. Bajunya yang basah tersiram minuman. Meja yang berantakan karena makanan dan minuman yang tumpah.
“Adrian, mungkin sebaiknya kita tarik Nara. Kita cukupkan sampai disini," kataku dengan sedikit cemas. Namun aku sadar aku juga tidak bisa menarik Nara begit
“Nona, apakah sebaiknya kita pulang?” tanya Adrian tanpa menjawabku.
__ADS_1
“Tidak-tidak, tunggu sebentar agar diambilkan baju oleh stafku. Sebaiknya kita pindah meja dan mengganti makanan,” kata Pradipta sambil menatap tajab Adrian.
“Tidak perlu, ada baju Nona Nara di mobil yang bisa saya ambilkan,” kata Adrian cepat.
“Oke, tolong segera ambilkan,” kata Pradipta sambil melepas jasnya menutupi badan Nara yang basah.
“Sisca, tolong ambilkan baju gantiku diatas bisa?” kata Pradipta pada wanita cantik dengan rambut cepak, dan terlihat sangat smart, angkuh dan kuat, yang mengawal Nara tadi. Wanita ini ternyata sudah ada didalam ruangan entah sejak kapan. Lumayan juga gerakannya. Wanita ini berbahaya.
“Bayu cepat berikan baju Nara pada Adrian. Jangan sampai Nara memakai baju dari mereka dan ditarik untuk berganti baju. Adrian cepat kembali ke samping Nara,” kataku dengan cepat.
“Siap bos, sudah ditangan kak Adrian,” jawab Bayu yang rupanya sudah bertemu Adrian.
“Henri, Bram, bersiap bersama tim. Yang kita hadapi bukan kaleng-kaleng,” kataku. Kudengar suara pintu terbuka. Bayu melongokan sedikit kepala sambil berteriak.
"Bos, manajer restoran menanyakan apakah bosa membutuhkan sesuatu. Dia juga ingin menyampaikan komplimen minuman nih,” kata Bayu memberi kode bahaya. Aku segera mengubah tampilan layar ku begitu juga dengan tim lain. Segera kupakai topi dan maskerku, tepat saat Bayu membuka pintu dan manajer restoran masuk ke dalam. Dengan langkah gamang, sang manajer mendekatiku memberikan sebotol wine. Namun matanya melakukan scaning pada ruangan VIP.
“Terimakasih pak. Tidak perlu repot-repot. Maaf saya sedang flu berat, namun pekerjaan harus tetap berjalan meski sakit kan pak,” suaraku kubuat sesengau mungkin seperti orang yang sedang flu berat. Sementara itu anak buahku yang juga mengenakan masker bersikap seolah olah takut sang manajer ketularan penyakitku.
“Ah tidak apa apa pak Anton, Kami senang melayani. Jika ada yang bapak butuhkan, sebaiknya beritahu saya atau pelayan disini, “ katanya. Matanya melirik ke layar laptopku yang menampilkan neraca bisnis dan saham yang terjadi hari ini. Setelah puas melihat sekelilingnya, sang manajer memutuskan untuk pamit pergi. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih, pura pura sibuk dengan grafikku.
Setelah pintu ditutup, Bayu kemudian masuk kedalam, memberikan tanda aman. Aku mengubah tampilan layarku, kembali memantau keadaan Nara. Wanita itu masih duduk terdiam menunggu Adrian. Sebelum pergi Adrian sudah berbisik dan memberikan kode untuk diam menunggu dia yang akan mengambil baju. Adrian meminta Nara tidak menerima apapun dari siapapun. Sementara itu aku lihat Pradipta menatap Nara dengan muka mesumnya. Suasana di ruangan itu masih tampak kacau.
__ADS_1