
Aku menghabiskan sore di kamar untuk menguatkan diri. Baru pada saat senja menjelang, aku memutuskan untuk keluar. Aku ingat kalau tadi siang M meletakan belanjaannya begitu saja didapur dan belum sempat kami bongkar. Baiklah, dari pada memikirkan hal-hal yang membuatku ketakutan taka da gunanya, lebih baik sekarang aku bekerja membereskan belanjaan lalu masak untuk makan malam.
Aku membongkar semua belanjaan yang menumpuk dipojok dapur, Kupisahkan belanjaan untuk keperluan
dapur dan rumah tangga, dengan barang-barang untuk keperluan pribadiku. Kuteliti semua belanjaan untuk memastikan apakah ada belanjaan milik M. Ternyata tidak ada sama sekali. Aku segera membereskan dapur dan menata semua belanjaan yang sepertinya bisa digunakan untuk keperluan seminggu. Setelah itu aku memutuskan
untuk memasak makan malam. Sup dan bakwan tadi siang, sudah benar-benar tandas oleh M. Setelah selesai, semua makanan aku tata di meja makan.
Aku membawa belanjaan untukku dan kuletakkan di kamar. Biarlah besok aku tata. Sekarang aku segera mandi dan berganti pakaian. Selesai semua, aku mengetuk kamar kerja M untuk mengajaknya makan malam. M keluar dengan wajah kusut dan terlihat lelah. Aku sangat kasihan dan merasa bersalah.
“M, jangan bekerja terlalu keras. Istirahatlah sejenak. Kita makan malam dulu saja yuk,” kataku pelan.
“Oke Nada, aku memang sudah lelah. Aku masih belum bisa menemukan komposisi yang pas untuk melakukan rekayasa ini, Terlalu banyak yang harus diubah. Jika tidak hati-hati akan sangat berbahaya bagimu,” katanya sambil berjalan menuju meja makan. Aku mengikutinya dalam diam. Di meja makan, M tampak makan dengan sangat lapar. Sepertinya dia berpikir sangat keras hingga kelaparan. Setelah selesai makan, M langsung masuk keruang kerja. Aku berinisiatif membuatkan secangkir kopi dan cemilan untuk menemaninya bekerja. Saat masuk untuk meletakan kopi, M memandangku dengan iba.
“Nada, untuk terakhir kalinya. Apa kamu yakin akan melanjutkan ini? Atau mungkin lebih baik kamu merelakan semua, pulang kerumah ibumu dan hidup bahagia sebagai Nada? Kamu umumkan pada dunia tentang hubungan Juli dan Pradipta di media hingga mereka putus,” kata M, dengan muka putus asa.
“M, jangan membuatku goyah. Kamu sendiri yang bilang kalau aku tidak mungkin mumcul didepan Pradipta
sebagai Nada kan?” kataku denngan tegas.
“Tapi ini akan sangat menyakitkan Nada. Perlu berkali-kali operasi untuk membentuk ulang tubuhmu. Akan ada banyak sayatan ditubuhmu. Akan banyak bagian dari tubuhmu yang harus dibuang. Selama itu kamu tidak bisa makan normal. Belum lagi banyaknya latihan di gym untuk membentuk otot dan tubuh. Diet, obat-obatan untuk pemulihan, semua harus kamu jalani. Seperti aku bilang kemarin. Jika kita sudah memulai semua, kita tidak akan pernah bisa menyerah atau berhenti sebelum semua selesai. Bahkan banyak kasus, untuk pengobatan, latihan dan diet harus kamu jalani disisa hidupmu,” kata M dengan gamang, memandangku. Ya aku tahu, semalampun aku memikirkan hal itu sampai seperti orang gila. Namun pada akhirnya aku yakin menjalani ini semua demi Cinta pertamaku, demi janji pada Papa untuk bahagia. Demi sumpah nikah yang pernah terucap olehku.
“Aku yakin. Sangat yakin dengan keputusanku. Ayo kita lanjutkan sampai selesai M. Jika kamu yang ragu, aku tidak bisa memaksamu, karena akupun tahu aku akan banyak berhutang padamu. Aku tahu, dengan dimulainya Nada’s Project juga berarti aku menyerahkan hidup matiku padamu,” jawabku berusaha setenang mungkin agar M tak lagi ragu.
“Baiklah. Mari kita lakukan. Semangat!” kata M sambil mengangkat tangan kanannya keudara. Sepertinya dia memang sedang menyemangati dirinya sendiri.
“Semangat!” aku membalas dengan lebih semangat sambil memberika senyum terbaikku. Inilah saat dimulainya hidup baru yang mengubah jalan hidupku untuk selamanya. Langkah awal mengubah takdirku sebagai wanita kuat.
__ADS_1
***
Hari ini seharian, aku hanya beristirahat dikamar. Rumah ini tidak seluas kediaman Hermawan dan penghuninyapun hanya aku dan M. Tidak membutuhkan banyak waktu mengurusnya. Selain membuat omlet sayur lengkap dan kopi saat sarapan, membuat makan siang berupa salad sayur dan spaghety carbonara dengan juice apel, membersihkan sedikit disana sini yang sebenarnya juga tidak kotor, aku hanya membaca buku di kamar. Sementara Mahardika sepertinya mengurung diri di kamar seharian. Dia hanya keluar untuk mengambil minum dan makan. Hingga saat malam tiba, aku membuat steak dengan saus creamy mushroom, aku bisa berbicara dengan M yang tampak sangat kelaparan. Bahkan dia menghabiskan setengah dari jatahku tanpa dia sadari. Namun aku
biarkan. Bagaimanapun dia saat ini sangat membutuhkan energy untuk membantuku. Setelah selesai, kamu berdua menikmati kopi sambil sedikit berbincang.
“Nada, besok aka nada orang yang datang untuk mengurus semua perubahaan identitas kamu. Kamu ingat baik, baik bahwa namamu sekarang adalah Nara Mahardika. Untuk kamu adalah anak yatim piatu. Papamu sudah meninggal dan Mamamu tidak tahu dimana. Selama ini, kamu dibesarkan di Yayasa, Bunda Kasih di daerah Senen. Sisanya pakai saja cerita aslimu sebagai Nada. Semua sudah kita masukan di data internet,” kata Mahardika sambil menghela nafas lega. Aku mengambil kertas dan pensil yang ada di meja dan menulis semua ucapan M.
“Baik. Jadi mulai sekarang, aku adalah Nara Mahardika, seorang gadis yang besar di Panti Asuhan Bunda Kasih Senen Jakarta, Papaku sudah meninggal dan ibuku tidak tahu dimana. Aku seorang sarjana komunikasi. Ulang tahunku .... Masih sama kan M?” Kataku memastikan.
“Iya masih, Alamatmu pakailah alamat rumah ini,” kata Mahardika. “Aku harap besok kamu sudah berubah menjadi Nara, siapapun bertanya. Seperti kamu katakana, Nada sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah Nara,” kata M dengan tegas, menatap lurus kemataku. Matanya yang setajam elang seperti membelenggu, mengikat pikir dan rasaku.
“Baiklah. Aku Nara… Aku Nara… Aku Nara…” kataku mensugesti diri sendiri sambil memejamkan mata. Aku berjalan menuju cermin dan menatap wajahku disana.
“Aku Nara… Aku Nara… Aku Nara…” kataku berulang kali sambil mensugesti diriku sendiri.
setiap bangun tidur dan sebelum tidur,” kata Mahardika melihat apa yang aku lakukan.
“Aku Nara… Aku cantik…Aku sexy… Aku berharga…” kataku berulang ulang bahkan mungin lebih dari 10 kali sambil memandang lurus mataku sendiri dicermin. Perlahan aada rasa aneh yang muncul dari hatiku. Rasa hangat yang menyenangkan. Seperti sebuah energy yang mengisi ulang energi positif dalam diriku. Setelahnya, aku kembali ke sofa menanyakan apa rencana selanjutnya.
“Aku akan menyelesaikan rekayasa ulang transformasi Nada menjadi Nara besok. Setelah itu akan langsung aku kirim ke tim dokterku di Korea. Tadinya aku akan membawamu ke Thailand, yang lebih dekat. Namun setelah melihat tingkat kesulitan Nada’s Project yang sangat tinggi, aku memutuskan kita ke Korea untuk mendapatkan tim
terbaik,” kata M dengan yakin.
“Jadi kapan kita akan berangkat? Untuk berapa hari?” kataku memastikan.
“Dalam dua tiga hari kedepan setelah semua dokumenmu selesai. Lebih baik kamu siapkan barang-barangmu. Kita akan tinggal di Korea cukup lama antara 3 bulan atau bahkan bisa tahunan. Untuk baju tidak perlu membawa banyak. Toh disana kamu akan lebih banyak memakai baju rumah sakit. Setelah selesai, kamu tidak akan membutuhkan baju-baju itu lagi. Kita akan membeli baju dengan ukuran yang sesuai dengan Nara yang baru,” kata M.
__ADS_1
“oh oke baiklah. Tapi aku tidak punya koper,” kataku dengan malu-malu.
“Apakah kamu membutuhkan koper? Bukankah aku bilang satu dua baju saja?” kata M.
“Boleh aku membawa buku-bukumu? Aku ingin membacar buku buku tentang transformasi tubuh, tentang bedah plastik, juga tentang image communications,” kataku dengan ragu.
“Hem, membawa buku ya? Oke tunggu disini,” kata M. Laki-laki itu masuk ke ruang kerjanya. Aku menunggu sambil membaca buku yang tadi sudah kubawa untuk kuselesaikan. Entah berapa lama aku tidak terlalu menyadari waktu, ditengah keasyikaku membaca buku. Aku tersadar saat suara baritone Mahardika memanggilku.
“Nara, ini,” katanya yang sudah berdiri didepanku menyerahkan sebuah kotak. Aku memandangnya tidak mengerti. Dia memberiku sebuah Smartphone canggih,. Aku yakin harga barang ini sangat mahal.
“Ambillah ini untukmu. Didalamnya sudah aku simpan nomor telponku, nomor telpon rumah sakit dimana nanti Nada’s Project dilakukan, dan nomor Apartemen kita di Korea. Disana juga sudah aku masukan folder e-books berisi buku buku yang tadi kamu ingin pelajari. Ada yang berbentuk audiobooks juga. Ada saatnya nanti kamu
membutuhkannya\, karena keadaanmu tidak memungkinkan untuk membaca dan memegang smartphone. Ada juga beberapa novel yang cukup bagus untuk mengisi waktumu. Salah satunya ada novel bagus karya SK Sari berjudul *Hujan Untuk Langit dan Bumi*. Bacalah\,” kata Mahardika sambil meletakan Smartphone itu ditanganku.
“Oh oke, terimakasih. Sepertinya aku memang membutuhkan smartphone baru karena smartphoneku entah dimana. Terakhir aku gunakan saat aku mencarimu kemarin. Meskipun sebenarnya aku tidak membutuhkan yang secanggih ini,” kataku. “ Tapi tak apa, masukan saja ke daftar hutangku. Setelah semua kembali baik-baik saja,
aku akan bekerja keras untuk membayar hutangku.”
“Oke, tidak masalah. Jadi, aku kira tas ransel ini cukup untuk perjalananmu ke Korea. Jika nanti ada yang kurang, kita bisa membelinya disana. Bawalah hanya yang benar-benar penting,” kata Mahardika. Aku menyambut tas ransel berwarna biru tua itu. Aku rasa memang cukup. Toh aku bukan tipe gadis yang memiliki banyak peralatan
pribadi. Bahkan saat ini aku hanya memiliki satu sisir, satu bedak dan satu lipstick, yang kemarin dibelikan asisten Mahardika. Ditambah dengan sikat dan pasta gigi sebotol sampo bayi, sebotol baby shower gel, serta minyak kayu putih tak akan membutuhkan banyak tempat.
“Oke, aku akan meneruskan bekerja. Istirahatlah. Jaga kesehatanmu baik baik. Seluruh proses perubahan nanti akan sangat berat dan membutuhkan banyak energi dan menguras emosi. Kamu harus selalu fit. Staminamu harus terjaga apapun yang terjadi dan sesakit apapun itu. Selalu ingat, bahwa kita hanya sendiri, Hanya kita yang menjaga diri kita sendiri Nara,” kata Mahardika meyakinkanku. Ya aku tahu Mahardika sangat benar. Semua tergantung pada diriku sendiri.
“Apa kamu membutuhkan sesuatu? Katakan dan aku akan menyediakan sebelum aku ke kamar? Mau aku buatkan cemilan?” tanyaku
“Tidak perlu. Biscuit yang kamu buat kemarin masih ada 'kan ditoples. Aku bawa kopi ini saja ke kamar,” kata Mahardika sambil melangkah masuk ke kamarnya. Aku berpikir sejenak. Kuputuskan untuk ke dapur dan membuat juice orange untuk kuantar ke ruangan M sebelum aku kembali ke kamar, packing lalu tidur.
__ADS_1
***