
Setengah dari perjalanan mengubah takdirku, demi cinta, telah terlampaui. Perjalanan yang kuyakini akan merubah jalan hidupku dan mengembalikan apa yang menjadi milikku, Perjalanan yang berat, penuh rasa sakir dan kesedihan. Akan tetapi menurut Mahardika, perjalanan berat belum usai. Bahkan badai perjalanan belum akan mereda. Aku harus tetap mempersiapkan mental dan staminaku. Karena fase kedua ini, akan lebih tidak nyaman dibanding fase pertama. Fase dua adalah rekonstrusi leher keatas. Kebayang ‘kan, bagaimana daerah-daerah yang lembut dan penuh nadi berbahaya serta syaraf itu, akan disayat, dipotong dan di rekontrusksi. Padahal, keadaanku saat ini pun belum benar-benar pulih. Aku masih merasakan lelah dan sakitnya rekonstruksi leher kebawah di fase pertama.
Aku yakin aku bisa. Aku tidak akan menyerah. Terbayang wajah Pradipta dengan senyum lembutnya, yang selalu menjagaku dari anak-anak lain. Dia yang sejak aku kecil, membelaku dari orang-orang yang membuliku. Pradipta adalah satu-satunya laki-laki yang mau menikahiku, disaat laki-laki lain menatapku jijik. Kini, aku harus kuat mengubah takdirku. Aku harus kuat demi membuat Pradipta tersenyum bangga berdiri di sebelahku. Aku harus kuat dan menjadi takdir cinta Pradipta. Aku harus kuat untuk bisa mengubah takdir Nada yang kehilangan cinta karena pelakor, menjadi Nara yang merebut kembali cinta dan hidupnya.
Pagi ini, Mahardika datang dengan membawa seikat bunga mawar putih. Dia letakan bunga itu di nakas samping tempat tidurku.
“Hai Nada, selamat pagi,” salamnya sambil mengelus lembut puncak kepalaku. Sebuah tindakan sederhana yang membakar pipi dan otakku, memacu jantungku.
“Hai. Pagi sekali kamu datang? Padahal semalam kamu kan pulang terlalu malam dari sini. Bahkan aku sudah
tidur kamu masih di sini,” kataku menyambut senyumnya. Aku berusaha melerai jantungku dan memadamkan semburat merah di pipiku.
“Hahaha, aku tidak pulang Nada. Tadi aku hanya keluar sebentar untuk berolahraha, mencari makanan, dan membelikan ini untukmu,” katanya dengan mata berkilat jenaka. Aku suka saat Mahardika tertawa lepas. Makin hari, dia makin sering tertawa.
“Oh, kamu habis ngegym? “ tanyaku tak penting. aku berusaha untuk menanggapi dan berkomunikasi dengan dia tanpa putus. Karena itu membuatku tenang dan bahagia. Aku tidak ingin dia merasa diabaikan.
“Heem, sekalian cari tempat mandi. Kamu bagaimana hari ini? Semalam tidur nyenyak? Kamu baik-baik saja?” laki-laki itu memberondongku dengan pertanyaan rutin yang selalu ditanyakannya setiap pagi.
“Aku baik baik saja. Semalam tidurku juga jauh lebih baik. Cuma makanan pagi ini sangat membosankan, hanya telur dan brokoli rebus sama juice kiwi,” kataku sedikit menyelipkan keluhan.
“Sabar, nanti aku belikan makanan enak. Memangnya apa yang kamu mau?” kata Mahardika sambil menarik kursi ke sebelah tempat tidurku.
“Seperti kataku semalam, Aku rindu Nasi padang, mie ayam, mie instant dan makanan pinggir jalan di Jakarta,” kataku sambil nyengir. Mahardika memandangku sambil geleng-geleng kepala. Tiba-tiba kilat binary dimatanya perlahan menghilang. Matahari diwajahnya seolah bersembunyi di balik awan kesedihan yang bergelanyut.
“Nara, aku bohong saat aku bilang kalau sudah mulai tidak akan bisa mundur atau berhenti. Sekarang aku mau bertanya, dan kamu harus memikirkan jawabanmu dengan sungguh-sungguh. Apakah kamu masih ingin meneruskan ini?” kata Mahardika dengan lembut namun tegas. Pertanyaan yang sebenarnya sudah mulai membuat aku bosan.
“Sudah berkali-kali aku katakan kalau aku mau ini diteruskan sampai selesai. Kalau perlu tanpa jeda dan semua bersamaan. Jangan terlalu mengkawatirkan aku. Ayolah M, aku rasa berbulan-bulan kita bersama, kamu sudah tahu bagaimana aku menghadapi ini semua,” kataku. Mahardika memandangku lembut dan menarik nafas panjang. Sekilas aku lihat tatapan kuatir dan entahlah, sayang mungkin? Akan tetapi, aku tidak mau memikirkan itu sekarang. Aku hanya konsentrasi menghadapi perjuanganku mengubah takdir dalam kehidupanku.
__ADS_1
Siang hari, Mahardika kembali datang, membawakanku makanan enak. Dia memasak mie instant goreng ditambah telur ceplok setengah matang, bakso, suwiran ayam dan potongan rawit. Mungkin karena dari kemarin aku bercanda, mengatakan aku rindu pulang ke Indonesia karena rindu makan mie instan.
“Aku bawakan mie goreng instant kesukaan mu,” kata Mahardika sambil membuka tempat makan yang dibawanya. Aku yang sudah berbulan-bulan harus makan makanan rumah sakit, langsung tergiur dengan santapan yang dibawa Mahardika. Bagiku mie itu merupakan santapan terlezat didunia. Melihat reaksiku, Mahardika tertawa lepas.
“Ha … ha … ha … mukamu benar benar lucu Nada. Kamu memandang mie ini seperti melihat steak restoran bintang lima saja. Kamu bahkan seperti orang yang tidak pernah makan,” katanya dengan muka memerah karena menahan tawa. Bagaimanapun juga, meski sudah seperti rumah bagiku, ini tetap rumah sakit, ‘kan?
“Ini lebih nikmat dari steak, M. Terimakasih ya,” kataku meraih kotak makanan dan mulai menikmatinya.
“Habiskan, kalau masih lapar, bilang. Kamu mau apa akan aku buatkan untukmu. Malam ini adalah malam terakhir kamu bisa makan dengan nyaman, sampai beberapa bulan ke depan,” kata Mahardika memandangiku yang sedang mengunyah dengan nikmatnya. Ya aku memang sangat menikmati makanan yang aku makan. Buatku makan adalah hal yang serius dan harus dinikmati dengan sungguh-sungguh. Sandra pernah bilang padaku kalau
dia ingin aku duduk didepan restoran sambil makan, untuk bisa menarik pelanggan. Karena caraku makan membuat orang lain menjadi lapar dan ingin makan.
“mmyeanyua kenyapa?” tanyaku
“Ish jorok. Telan dulu baru bicara Nada. Tidak baik bicara saat mulut kamu super penuh seperti ini,” kata Mahadika tersenyum. Dia mengambil tisu dan melap sudut bibirku yang terkena saus. “Mulai nanti malam kamu harus puasa selama 6 jam minimal. Besok pagi kita akan meneruskan operasi untuk wajahmu.”
“Iya, kita akan memulai fase kedua, leher ke atas. Sementara ini kita mulai dengan wajahmu,” terang Mahardika. Laki-laki yang merawat dan memperhatikanku selama beberapa bulan ini, selalu mengatakan apa adanya. Dia sudah pernah mengatakan bahwa fase kedua akan cukup berat. Akan ada perjalanan operasi yang panjang dan menyakitkan yang berhubungan dengan leher dan mukaku. Untuk leher pasti masih mengandalkam pembentukan, sayatan, sedot dan buang. Masih tidak jauh berbeda, namun harus extra hati-hati banyak syaraf dan pembuluh penting disana. Setelah itu aku akan menjalani operasi mulai dari garis wajah, gigi, mata, hidung, dan lain sebagainya. Jika aku melihat rancangan Nada’s Project, Mahardika juga mengubah struktur tulang dan juga beberapa bagian wajah.
Sebenarnya, berkat kemauan kerasku untuk beralajar, membaca dan mencari tahu tentang operasi plastik, aku tahu pasti apa yang terjadi padaku dan akan seperti apa jadinya. Resiko yang harus aku hadapi, juga sudah sangat kupahami. Ya, Aku sudah tahu dan tidak terlalu ingin memikirkannya.
Aku kembali melahap mie yang ada didepanku. Ini adalah kotak kedua dari tempat makan dua susun itu. Kulihat Mahardika memandangku dengan heran. Kedua matanya melotot dan mulutnya terbuka. Mungkin karena terlalu heran dengan porsi makanku yang luar biasa ini. Kenapa? Apakah ada saus diwajahku? Atau ada mie nempel di hidung dan mulutku? Aku segera mengambil tisu dan membersihkan sekitar mulutlku. Tapi ternyata tidak ada kotoran apapun.
“Hoy, kenapa melongo dan memandangiku seperti itu? “ Tanyaku.”Apakah ada yang aneh dengan wajahku?”
“Itu ... itu … “ katanya sambil menunjuk ke kotak makanku. Aku ikut menunjuk makanan yang sudah lebih dari setengah aku habiskan, keheranan. Apa yang salah dengan kotak makanan ini? Iya, ini makanan yang dia bawa untukku, ‘kan?
“Ini kenapa? Kamu mau?“ kataku sambil melihat makanan dihadapanku. Aku baru sadar kalau dari tadi aku makan sendiri, tanpa menawari nya. Jangan-jangan Mahardika menganggapku aneh karena aku makan sebanyak ini? Jangan-jangan dia keheranan melihatku makan banyak? Tapi bukankah dia sudah tahu kalau aku adalah Nada, yang suka sekali makan?
__ADS_1
“Kamu sudah makan?” tanyaku perlahan, menghentikan makanku. Mahardika menarik nafas dan menggeleng.
“Sebenarnya tadi aku sengaja membuat dua kotak, karena ingin makan siang bersamamu disini,” katanya sambil berdiri dan berpindah duduk di sofa. Aku terdiam memikirkan apa maksud perkataannya. Laki-laki itu menyandarkan badannya ke sofa dan tampak terpejam. Kudengar suara aneh keluar dari perutnya. Saat itu aku tersadar dan mengerti apa maksudnya. Segera kuberesi kotak makan yang tinggal setengah.
Kupandangi kotak bekal yang baru saja kumakan isinya. Bentuknya sudah sangat kacau. Aku memang memiliki
kebiasaan mengaduk dan mencampur makanan yang hendak ku makan. Aku ingat bentuk isi kotak bekal ini saat dibuka. Sangat indah dan mengundang selera. M sudah menata dengan indah di kotak makan yang dibawanya sebagai makan siang kami berdua. Dan aku dengan rakusnya menguasai bekal makan siang kami. Akupun
sebenarnya tidak tega memberikan makanan yang sudah acak-acakan ini. Rasa bersalah itu tumbuh dengan cepat dihati. Aku merasa seperti orang rakus yang tidak tahu diri.
“Mahardika, maaf ….” Kataku terputus. Aku melihat dia diam disana Sungguh aku merasa bersalah. Apalagi mendengar suara dari dalam perutnya yang kembali berbunyi.
“M, ini masih ada setengah, makanlah. Kamu pasti lapar sekali,” kataku. Dia memandangku dan tersenyum.
“Teruskan makanmu. Habiskan kalau kamu mau. Aku bisa mencari makanan di kantin rumah sakit setelah kamu selesai makan,” katanya dengan senyum mengembang. Setelah selesai bicara, perutnya kembali bernyanyi, memberitahu pemiliknya untuk segera diperhatikan.
“Sudah, aku sudah cukup. Makanlah sedikit sebelum kamu mencari makan di kantin,” kataku dengan rasa berdosa. Tapi kemudian kesadaranku muncul, mungkin memang dia juga tidak mau memakan makanan bekasku yang sudah tidak karuan ini. Dia pasti jijik melihat. Aku benar-benar tidak tahu diri dan tidak sopan.
“Tapi memang sih ini sudah tidak berbentuk. Maaf. Kamu jijik ya makan-makanan bekasiku?” kataku pelan, Mahardika berdiri menghampiriku, mengambil sumpitku dan menyuap segumpal mie ke mulutnya. Setelah itu dia mengusap kepalaku dengan ceria. Aku hanya bisa melongo, tidak bisa berkata-kata.
“Sudah kan, aku tidak jijik padamu Nada. Tapi kamu lebih membutuhkan mie ini dari aku. Setelah ini kamu akan kesulitan makan. Sedangkan aku bisa makan kapanpun aku mau,” katanya masih dengan senyumannya.
“Kalau begitu pergilah cari makan. Nanti kamu sakit. Aku tunggu disini. Atau mau aku temani?“ Tanyaku. Ya dengan keadaanku saat ini, meski aku masih kesulitan bergerak dan berjalan, dokter mengijinkanku keluar kamar. Namun
tentu akan jadi perhatian dengan bentuk badanku yang masih dibebat perban elastis seperti ini.
“Tidak usah Nada. Aku tunggu kamu selesai makan, baru aku turun mencari makan sendiri. Kan, aku mau menemanimu makan,” katanya.
__ADS_1
“No! tidak boleh. Cacing diperutmu sudah demo dari tadi. Nanti terjadi pemberontakan. Aku tidak mau itu terjadi didepanku ya. Pergilah makan. Aku bisa menghabiskan ini sendiri,” kataku meyakinkan. Akhirnya, Dia pun setuju dan beranjak keluar kamar, untuk mencari makan. Aku yang sebenarnya masih ingin menghabiskan mie instan ala M, segera menyelesaikan makanan itu. Meskupun masih dengan rasa bersalah. Aku merasa seperti perempuan rakus yang tak punya perasaan. Dalam hati aku bertekad, nanti saat semua ini sudah selesai aku akan selalu membuatkan makanan lezat untuk M.