
POV NARA
Dadaku terasa sesak, karena rasa bersalah pada dua laki-laki penting dalam hidupku. Saat kesadaran
bahwa Nada’s project akan membawa kesengsaraan bagi laki-laki yang telah disumpah dihadapan Tuhan untuk selalu menjadi tempatku mengabdi dalam susah dan senangku, aku mulai meragu. Aku telah bersumpah untuk mendampinginnya apapun yang terjadi. Janjiku dihadapan Tuhan dan Papa bukan seperti ini. Bukan untuk
__ADS_1
merencanakan sebuah kisah yang aku tahu akan menghancurkannya. Ini semua tidak terasa benar bagiku.
Namun jika aku mundur dari Nada’s Project, itu berarti aku menyia nyiakan kerja keras kami selama setahun ini. Menyia-nyiakan kerja keras, rasa sakit dan semua pengorbanan yang aku alami. Menyia-nyiakan pengorbanan waktu, materi dan emosi yang diberikan M padaku dan project ini. Apakah aku bisa melakukan itu. Aku melihat kekecewaan M saat aku mengungkapkan ketidaksanggupan ini saja, aku tidak mampu. Apalagi jika aku harus mengatakan bahwa aku tidak mau meneruskan project yang akan menyakiti suamiku. Bisa dibayangkan, betapa besar kekecewaan M nantinya. Dadaku benar-benar sesak, seperti oksigen di ruangan ini tersedot keluar. Aku harus segera keluar untuk mencari oksigen. Aku melangkahkan kakiku menuju teras depan tanpa berkata-kata.
Aku terdiam di beranda. Kepalaku sibuk dengan segala pemikiran dan pertimbangan. Dunia terasa menyempit. Nafasku tersengal tanpa aku sadari. Aku terfokus pada diri dan pemikiranku. Sampai-sampai aku tidak mendengar langkah kaki M yang ternyata mengikutiku keluar. Aku baru tersadar saat mendengar suaranya menyapaku. Ternyata dia sudah berhenti di depanku.
__ADS_1
“Hai, kita punya Nada’s Project karenamu. Kita ingin mengambil semua apa yang menjadi hakmu yang di hancurkan laki laki. Kita membalas kejahatan suami yang ingin membunuh istrinya. Dengan pencapaianmu saat ini, kamu bisa menghancurkan suamimu minggu ini. Nara.kenapa dengan ekspresimu. Kenapa dengan matamu itu? Ceritakan padaku” katanya padaku dengan lembut. Mendengar perkataannya aku makin merasa ragu yang menyesakan dada. Demi mengambil oksigen untuk mengisi paru-paruku, aku berusaha menarik nafas panjang yang terasa sangat berat Nara menarik nfas panjang dan dalam. Aku memutus untuk mengatakan apa yang ada di kepalaku.
“M, Aku tahu semua ini kamu lakukan untukku. Aku tahu semua ada di tanganku Saat ini karenamu. Dan aku tahu keinginan dan perasaanku saat ini pasti akan sangat mengecewakanmu. Bagaimanapun, kamu sudah begitu banyak berusaha dan mengeluarkan banyak dana. Jadi apa yang ada dikepalaku sekarang, seharusnya tidak pernah terlintas. Tapi bagaimana lagi. Setelah mendengar apa yang akan terjadi pada mereka. Apa yang akan terjadi pada Pradipta, Juli, adik-adik ipar, aku tidak tega. Dan aku bingung. Aku tidak ingin mengatakannya karena tidak mau menyakitimu,” kataku dengan lemas. Setelah mengatakan semua itu, aku seperti merasa kehabisan tenaga. Aku hanya menunduk dan terjatuh dalam pelukan M yang terasa sangat nyaman. Badanku menegang saat bibir lembut M mendarat dipucuk kepalaku. Ada rasa mendesir yang aneh yang belum pernah kurasakan. Ini berbeda dengan desir yang muncul saat dikecup oleh Pradipta. Tapi aku juga tidak bisa menerangkan aneh yang seperti apa. Aku bahkan tidak berani mengangkat mukaku. Warna mukaku yang terasa panaspun pasti sudah seperti tomat. Tiba tiba jantungku berdetak kencang saat sambil tetap memelukku, dia mengangkat daguku agar aku memandangnya.
“Tidak Nara, katakan. Katakan apa yang ada di dalam kepala mungil yang indah ini. Aku tidak ingin kamu merasa berat dan sedih,” katanya lembut namun menuntut.
__ADS_1
“M, sebenarnya aku tidak ingin balas dendam. Keinginan itu sudah hilang” jawabku hati hati. Kupandang mata elangnya yang hangat dan membuatku nyaman.