
Hampir enam bulan aku dan Mahardika menghabiskan waktu di Korea. Hari ini kami kembali ke tanah air, meninggalkan negeri drama dan oppa. Aku rindu Jakarta. Aku rindu menghirup udara di negeriku. Aku rindu orang orang yang selalu ada untukku. Mama, Sandra, dan yang pasti, aku rindu cinta pertamaku, Pradipta. Penerbanganku kembali ke Jakarta membuatku sangat kelelahan. Selain karena tujuh jam penerbangan, ditambah dengan menunggu pesawat yang sempat delay di bandara Seoul Incheon International. Menunggu di ruang tunggu bandara, dengan keadaan tubuhku yang masih merasakan rasa nyeri diseluruh badan, leher dan wajah, serta efek-efek operasi lain yang menyiksa, sangat tidak nyaman.
Untunglah Mahardika memahami keadaanku. Mungkin karena aku bukan orang pertama yang dia hadapi. Mahardika banyak membantuku melewati kesulitan pasca operasi dengan banyolan garingnya. Jika sebagai Nada,
aku akan melarikan rasa sakit, galau dan ketidaknyamanan ini dengan mengunyah, namun tidak dengan Nara.
Sebagai Nara, makananku diatur sedemikian rupa. Semua dibatasi dan tidak semua makanan boleh aku makan.
Atau lebih tepatnya, hampir semua makanan yang aku sukai dilarang aku makan. Untuk manusia yang sejak kecil menjadikan makanan sebagai pelarian, diet adalah siksaan terberat. Untungnya, Mahardika bukan tipe tukang jajan dan tukang makan.Aku masih senang makan, namun sekarang, perutku akan sakit jika aku terlalu banyak makan.
Mahardika sangat pemilih dalam hal makanan. Dia lebih suka makanan-makanan sehat dan tidak menyukai cemilan berlebihan. Apalagi dia sangat ahli di dapur. Masakannya juga luar biasa enak. Sayangnya, kemauannya untuk memasak juga termasuk langka. Tapi tidak apa-apa. Bukankah aku sudah berjanji, setelah ini, aku yang akan
mengurusnya sebagai balas budi?
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 saat kami tiba di bandara Soekarno Hatta. Aku yang merasa cukup lelah dan kesakitan, menyerahkan semua urusan kepada Mahardika dan asistennya, Henry.
“Nara, duduklah disana,” kata Mahardika sambil menunjuk pada sebuah kursi yang tak jauh dari kami.
__ADS_1
“Kita tunggu barang, sepertinya tidak akan lama. Biar aku dan henry saja yang menunggu barang,” katanya. Akupun mengangguk patuh. Ya aku memang sudah sangat lelah. Tidak ada salahnya aku duduk sejenak, beristirahat.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, Cukup lama aku meninggalkan bandara in. Aku memindai perubahan yang terjadi dibangunan ini. Saat mataku mengarah pada Air Port Conveyor Belt sebelah kanan, pandanganku menangkap sosok yang sangat aku kenal. Pradipta! Suamiku ada disini, ditempat ini, sedang berdiri menunggu barang bagasi. Aku yang begitu merindukannya, mencoba berdiri dan berniat menghampirinya. Akan tetapi, belum sampai kakiku melangkah, seorang perempuan dengan menggunakan hoodie, masker dan kacamata hitam menghampiri dan memeluknya dengan erat. Perempuan itu segera memberikan hoodie dan masker dengan
warna senada kepada Pradipta. Laki-laki tampan yang kurindukan itu segera memakai barang barang yang diangsurkan kepadanya. Keduanya sempat sedikit tolah-toleh, seperti takut ada yang mengenali mereka.
Setelah Pradipta memastikan keadaan aman dan tidak ada yang mengenali, keduanya kembali berpelukan bahkan saling mencium. Ada beberapa orang yang melirik mereka. Ada yang tak acuh ada juga yang tersenyum. Bagiku,
pemandangan romantis ini membuat hatiku remuk dan perih yang sangat. Kurasakan rasa sakit dan lelah tubuh yang tadi menderaku, kini tak lagi kurasa. Semua rasa itu digantikan oleh rasa sakit yang lebih hebat, dari dalam dada dan hatiku. Tak terasa air mataku berdesakan keluar dari mata dan membanjiri pipiku yang kini tirus. Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus kuat dan aku butuh kekuatan.
Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari dewa pelindungku. Aku ingin segera berlari ke pelukan Mahardika untuk mendapatkan kekuatan menghadapi perih yang tak terlihat ini. Aku membutuhkannya. Aku terus mencari kehadirannya. Aku menemukan Mahardika yang berdiri diantara beberapa penumpang lain, sedang sibuk dengan gawainya. Asistennya juga sedang sibuk dengan gawainya. Aku menatap mereka tanpa punya kekuatan untuk memanggal. Aku hanya menatap mereka dengan deraian airmata, mengharap Mahardika menengok kearahku.
Kurasakan sebuah tangan merengkuh pundakku, menarik kepalaku dengan lembut dan membenamkan didada bidangnya. Aku tahu siapa dia. Sangat tahu. Aku hirup aroma laki-laki yang selama setengah tahun lebih ini menjadi tempatku bersandar. Dia yang salalu membuatku tenang dan mampu menerima semua sakitku. Aku tidak mengatakan Mahardika mampu menghilangkan rasa sakitku. Rasa sakit itu masih tetap ada, namun aku bisa menerimanya berkat pelukan hangat yang diberikan M.
“Jangan dilihat jika itu hanya membuatmu sakit. Mulailah belajar untuk mengendalikan dirimu sendiri. Kamu tidak akan bisa mengendalikan semua orang agar tidak bertingkah dan melakukan hal-hal yang menyakitimu. Tapi kamu bisa mengatur dirimu untuk menghindari sumber rasa sakit itu atau tidak memperdulikannya,” bisik Mahardika ditelingaku. “Tenangkan dirimu. Bajingan itu tidak pantas kau tangisi. Kamu terlalu berharga. Jangan merendahkan dirimu dengan menangisinya seperti ini,”
“Mahardika?” suara wanita yang sanngat kubenci itu memanggil laki-laki yang sedang memelukku. Kurasakan tubuh Mahardika langsung tegang, saat mendengar suara itu. Dia langsung melepaskan pelukanku dengan sedikit kasar dan menjauhiku. Dia memutar badannya sambil melihat arah suara tadi. Apakah Mahardika mengenal Juli? Apakah kali ini Juli juga akan mengambil tempat bersandarku? akapah dia belum puas telah mengambil suamiku?
“Tunggu disini dan jangan berbicara dengan siapapun,” kata Mahardika dengan geraham yang mengeras.
__ADS_1
“Hai Jul. Tunggu, Aku yang kesana,” kata Mahardika sambil berdiri meninggalkanku. Juli yang tadi hendak melepaskan pelukan Pradipta untuk mendatangi kami, sedikit menahan langkahnya. Aku berusaha menyembunyikan mukaku dibalik kacamata dan kerah jaket yang lumayan tinggi. Saat merasa aman, aku memandang apa yang mereka lakukan.
Keduanya tampak berpelukan akrab lalu bercakap cakap sebentar. Sedekat apa mereka? Bagaimana Juli bisa berpelukan dengan laki-laki lain didepan Pradipta, tunangannya? Mahardika segera berbalik kearahku dengan cepat. Aku memperhatikan semua itu, masih sambil bersembunyi dibalik kerah Coatku yang tinggi, seolah-olah
tidak mau dikenali oleh Pradipta dan Juli. Aku takut mereka mengenaliku sebagai Nada. Saat Mahardika mendorong troly kami, dia berbisik diantara eratnya gigi geligi.
“Nara, berdiri yuk. Cepat kita jalan. Henry sudah menunggu kita di depan dengan mobilnya. ” kata Mahardika. Tanpa pikir panjang aku bangun dan mengejar Mahardika yang sudah berjalan mendahuluiku, keluar dari area kedatangan. Di depan tampak, Henry, asisten Mahardika sudah menunggu di samping mobil. Sementara aku masuk ke mobil, mereka memasukan barang ke bagasi. Tanpa banyak bicara sepatah katapun, kami melaju menuju Jakarta tanpa bicara
Aku semakin lelah dengan apa yang terjadi tadi, mencoba untuk memejamkan mataku. Pikiranku mengembara pada dua sejoli yang tanpa sengaja kami temui di bandara tadi. Pradipta tidak banyak berubah. Hany acara dia berpakaian yang berubah menjadi selayaknya pria eksekutif papan atas. Dengan kemeja santai lengan panjang yang dilipat sampai kesiku, celana denim selutut, sepatu Adidas dan kacamata hitam, membuat aura eksekutif muda yang sukses menguar dengan jelas.
Sementara itu, Juli mengenakan atasan Sabrina dari sifon sutra yang tampak mahal, dan celana denim pendek yang memperlihatkan paha mulus dan kaki jenjangnya, membuat gadis itu tampak sangat mempesona. Tidak glamour atau berlebihan memang tapi berkelas. Tubuh seksinya dialasi dengan sepatu wedges dengan tali yang dianyam dari mata kaki sampai betis menghiasi kaki putih mulusnya, menambah sempurna penampilan gadis itu.
Aku, Nara, meski sudah berubah dan tak lagi menjadi gajah bengkak, tapi penampilanku jauh dari kata keren. Hanya rip jeans yang pas badan dan kaos oblong biru polos. Kakiku yang meskipun sangat indah, hanya dihiasi flat shoes. Sebuah sepatu sederhana namun sangat nyaman dikakiku, yang kubeli di toko kecil di kota Seoul sebelum kami pulang ke Indonesia. Aku memang selalu belanja baju, sepatu dan perlengkapan diri berdasarkan kebutuhan dan kenyamanan. Seindah apapun sepatu dan baju, bermerek atau tidak, ngetred atau tidak, tidak akan aku beli.
Kulirik laki-laki disampingku yang menyandarkan badannya ke kursi mubil. Matanya terpejam dan tangannya tampak mengurut puncak hidup diantara kedua alis. Dia tampan. Mahardika tidak kalah tampan dari Pradipta. Jika dia sedang berpenampilan rapi, Mahardika lebih mempesona dan berkarisma disbanding Pradipta. Dia adalah gambaran laki-laki smart yang mampu menempatkan diri dimanapun dia berada. Laki-laki pekerja keras yang bisa menaklukkan dunia. Itulah kesan yang diberikan Mahardika saat dia berperan sebagai CEO perusahaannya. Namun saat dia menemaniku seperti ini, penampilannya jauh dari rapi. Hanya kaos oblong tanpa merek dan jeans belel dengan sandal gunung dan tas pinggang. Sesederhana itu penampilannya. Namun bagiku, dengan penampilan seperti ini, Mahardika tetap mempesona. Loh! Kok? Kenapa aku malah memuji Mahardika? Kenapa pikiranku tentang Pradipta sangat mudah beralih kepada laki-laki disebelahku? Bahkan aku memujinya! Oh tidak boleh Nada! Kamu masih istri sah seorang Pradipta. Kataku dalam hati mencoba mengusir pikiran anehku.
Kupejamkan kembali mataku sambil bersandar. Jantungku tiba tiba berdegup saat aku merasa seseorang memandangku. Aku melirik ke Mahardika untuk memastikan rasaku. Namun laki-laki itu tampak masih seperti posisinya tadi, menyandar di kursi dan terpejam. Aku merasa aneh. Aku benar-benar yakin tadi Mahardika memandangku. Hal ini terjadi beberapa kali. Aku berdecak tak yakin. Aku tahu kalau Mahardika tampak tidur dengan tenang. Tetapi setiap kali aku memejamkan mata mencoba tidur, Aku merasa dia memandangiku.
Akupun kembali keposisiku dan sedikit menurunkan kepalaku , bersembunyi dibalik coat. Tak lama setelah itu, aku kembali merasakan Mahardika memandangiku. Sejenak aku diam. Kubiarkan beberapa saat sambil meyakinkan rasaku. Secara sembunyi sembunyi, aku melirik kesamping. Kulihat Mahardika memang sedang memandangku. Sambil berdehem, aku menegakan tubuh dan memandang kearahnya. Namun ternyata, saat itu Mahardika sudah kembali ke posisinya dan seolah tak peduli. Huft, entah apa maksudnya. Sekilas aku memandang ke depan. Kulihat asisten Mahardika dan sopir sedang memandang spion sambil menahan tawa. Aku baru sadar, mereka mentertawakan kami. Haish, sudahlah. Aku lelah dan lebih baik tidur, ditengah kemacetan Jakarta. Setelah itu, hanya suara lagu dari pemutar musik yang terdengar. Kami terdiam mengembara dalam pikiran kami masing-masing, sampai kami tiba di rumah.
__ADS_1