
Pagi ini kehidupanku kembali seperti biasa. Ibu dan kedua iparku pagi pagi sudah tidak kelihatan dirumah. Saat aku keluar dari kamar, rumah seperti kapal pecah. Semua perlengkapan dapur berada di tempat cucian piring. Lantai dapur penuh dengan minyak dan kotoran. Bungkus makanan tampak dimana-mana, mulai dari ruang tamu sampai dapur. Sementara itu cucian kotor tampak menggunung.
Dimeja makan hanya ada sisa-sisa sarapan. Tidak ada makanan layak makan yang bisa kujadikan sarapan. Hanya piring dan gelas kotor diatas meja. Mataku tertuju pada selembar uang berwarna merah dan sebuah catatan kecil dari ibu.
- Kami pergi keluar. Rapikan rumah dan bereskan cucian. Setelah itu kamu kepasar. Ini kunci mobilmu. Kata Pradipta, mobil ini boleh kamu pakai mulai sekarang. Kalau kamu mau pergi, kamu pakai ini. Jangan membuat onar dan jangan bikin malu!-
Kulihat kunci mobil dan uang itu dengan pandangan gamang. Sebenarnya aku sedikit ragu. Entahlah. Tapi saat memegang kunci mobil ini ada perasaan gamang dan tidak enak. Mobil ini adalah mobilku hadiah dari Papa. Selama ini, mobil dipakai mas Pradipta. Sejak mas Pradipta di Singapura, mobil ini lebih sering dipakai oleh kedua
adikku. Ibu selalu bilang, aku harus mengalah pada mereka dan melarangku menggunakannya. Sampai kemarin, Prita dan Pipit membawa mobil baru. Mobil ini sempat aku gunakan tanpa ijin, dan terjadilah bencana yang jadi viral kemarin. Sekarang, tiba tiba ibu menyuruhku menggunakan ini? Ah sudahlah, dengan begini aku tidak lagi bersusah payah mengejar bus kan? Kita syukuri saja. Alhamdulilah. Untuk bensin, kemarin Sandra memberikan ATM baru atas nama mama. Disana Sandra akan mengirimkan uang bulanan untuk kupakai sesuai keperluanku, dengan syarat ATM ini tidak boleh diketahui Pradipta dan keluiarganya. Sandra minta, mulai sekarang aku tidak lagi berbaik hari memberikan uangku pada Ibu dan adik-adikku yang disebut benalu, oleh Sandra.
Aku segera mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti biasa. Setelah selesai, aku segera mandi dan bersiap untuk ke pasar dan ke klinik vertilisasi. Aku meyakinkan diri bahwa hari ini adalah awal perjuanganku mempertahankan rumah tanggaku. Belanja dipasar tidak memerlukan waktu yang lama. Semua bisa aku selesaikan dengan cepat. Aku banyak menghabiskan waktu diklinik. Entah mengapa, saat mengisi data, aku tanpa sengaja mengisi alama rumah ibu di kolom alamat surat menyurat. Lalu aku menjalani serangkaian tes yang lumayan panjang, sendirian. Aku akan memberikannya sebagai kejutan. Mungkin jika aku memiliki anak, Mas Pradipta akan berpikir dua kali untuk meninggalkanku.
Saat menunggu rangkaian test, aku mendapat telepon dari PH Makeover. Ternyata aku terpilih sebagai finalis. Mereka menelponku untuk datang ke studio besok, guna syuting malam final Make Over Total. Disitu akan diumumkan pemenang yang akan mendapatkan hadiah make over total di Korea. Selama ini aku diam-diam mengikuti acara ini, dan berjuang agar terpilih sebagai pemenang yang di makeover. Aku sudah bilang kan kalau aku ingin berubah menjadi kurus dan cantik. Bayanganku, hasil makeover ini akan seperti Juli.
Pikiranku melayang pada serangkaian syuting makeover yang lalu. Jika itu ditayangkan, aku baru sadar kalau aku akan menguak rahasia rumah tanggaku. Hal ini pasti akan membuat Mama sedih dan keluarga mas Pradipta malu. Jika itu terjadi, maka semua akan berantakan dan bisa-bisa mas Pradipta tidak memaafkanku. Akupun langsung panik menyadari itu. Aku bertanya pada kru Makeover yang menelponku, apaakah aku bisa membatalkan keikutsertaanku?
“Wah jangan dong mbak. Kisah mbak Nada benar-benar keren lho. Mbak Nada bisa menang disini. Jangan
__ADS_1
dibatalkan ya mbak,” katanya.
“Maaf mbak, saya benar-benar ingin membatalkan. Ini menyangkit nama baik keluarga saya,” kataku mendesak.
“Begini saja mbak. Mbak Nada besok datang ke PH kami atau ke kantor bapak Mahardika. Bisa dicatat ya mbak alamatnya. Mbak ada kertas dan pulpen kan?” katanya. Aku segera mengiyakan dan memberikan alamat studio dan alamat Mahardika produser sekaligus tenaga ahli Makeover. Menurutku, Mahardika ini sangat hebat. Dia ahli
komunikasi, ahli rekonstruksi wajah dan sepertinya juga dokter bedah plastik. Aku menyimpan alamat itu di dompetku baik-baik. Setelah itu aku kembali konsentrasi pada rangkaian tes dan pulang.
Sesampainya dirumah, ibu dan kedua adikku ternyata belum pulang. Aku terdiam dikamar dan memikirkan ajakan makan malam suamiku. Aku menyiapkan baju terbaikku dan menggantungnya. Ibu dan kedua adikku bilang mereka tidak akan makan malam dirumah, aku tidak perlu masak. Jika aku pergi, jangan lupa mengunci pintu. Aku mengerutkan kening. Sepertinya mereka tahu jika mala mini aku akan pergi. Baiklah, berarti tidak ada yang bisa aku kerjakan lagi. Aku memutuskan untuk berjalan sebentar ke taman, meredakan kegugupanku, menunggu malam dan bertemu makan malam dengan suamiku nanti.
Gerimis mulai turun, aku memutuskan pulang. Namun langkahku terhenti di pos ronda depan rumah. Bukan, bukan karena hujan. Namun karena netraku menangkap sebuah pemandangan yang sudah kuimpikan sejak lama, namun didapatkan oleh orang lain. Aku berhenti dan berlindung dibalik dinding pos ronda. Kulihat Juli keluar dari dalam rumah, diantar ibu mertua dan adik adik iparku. Mereka tertawa lepas bersama, saling peluk, cium dan akrab. Hal yang sudah lama kuimpikan untuk bisa kulakukan dengan tulus bersama keluarga suaminya, Ibu mencium kening Juli dan memeluknya sekali lagi sebelum gadis selingkuhan suamiku itu masuk kedalam sebuah mobil sport merah ferari. Mobil melaju pelan diiringi lambaian tangan ibu dan kedua adik iparku yang bahagia. Sekilas aku mendengar ibu dengan gembira membanggakan Juli sebagai menantu yang cantik, baik dan bisa dibanggakan. Tidak seperti aku yang selalu membuatnya malu karena mirip gajah bengkak.
Entah berapa lama aku menangis dan terduduk dibalik pos ronda bersama hujan. Saat hujan mulai reda, aku mulai menggil kedinginan, kembali membawaku kea lam sadar. Senja memanggilku dan menyadarkanku akan niatku untuk mempertahankan milikku. Aku kembali disadarkan untuk berjuang menyelamatkan semuanya, demi aku, demi janjiku, demi papa dan demi ikatan suci perkawinan. Aku sadar, aku membutuhkan mama. Surat perjanjian pranikahku memang ada di mama atas permintaan papa. Aku akan menggunakannya untuk membawa kembali mas Pradipta. Malam iini juga aku akan pulang ke Mama di Bandung. Aku tidak boleh membuang waktu. Aku pasti bisa menang. Apalagi aku punya video perselingkuhan mereka kan. Namun sebelumnya, Aku harus bicara dengan mas Pradipta. Dia harus tahu bahwa aku bisa membuat semuanya hancur.
Aku melihat kelangit lalu melihat ke jam tanganku. Aku harus cepat. Segera aku pulang kerumah. Tidak ada suara dari Ibu, Pipi maupun Prita. Tapi biarlah. Aku tidak perlu mereka sekarang ini. Aku harus bersiap untuk bertemu suamiku dan berjuang mendapatkannya kembali. Aku segera mengirim pesan ke suamiku bahwa aku akan datang ke makan malam kami. Aku juga bilang bahwa aku tidak akan melepaskannya, aku dia, juli dan aku hancur bersama-sama. Karena aku punya bukti perselingkuhan mereka yang pasti akan jadi lebih viral lagi jika aku sebarkan. Setelah pesan aku kirim, aku segera mandi dan menganti bajuku yang tadi basah oleh hujan. Aku juga menelpon Talia, untuk menemaniku keBanding. Aku memintanya untuk menungguku di kafe tempat aku janjian dengan suamiku.
Talia adalah sahabatku. Tidak sedekat Sandra memang, tapi lumayan akrab. Dia sudah tidak punya orang tua dari kecil. Aku mengenalnya saat Mama mengajakku mengunjungi panti asuhan diaman dia tinggal. Kamipun langsung akrab. Mama bahkan mengatakan kami seperti saudara kembar. Ya benar, kami memiliki bentuk tubuh yang sama.
__ADS_1
Mama menyekolahkan Talia sampai kuliah dan sekarang sudah bekerja. Kapanpun aku minta, dia selalu bersedia menemaniku. Apalagi kalau ke Bandung menemui Mama, dia langsung mau. Kamilah satu-satunya keluarga dia didunia ini, Kalau dia hilang, tidak ada yang mencarinya selain kami, begitu katanya. Seorang gadis yang juga gemuk seperti dirinya. Gadis ini dikenalnya saat dia main ke sebuah.
Pertemuanku dengan Pradipta tidak berjalan lancar sebenarnya. Pradipta awalnya tetap bertahan ingin menceraikanku dan menikahi Juli. Saat kukatakan tentang perjanjian pranikah kami, dan semua surat surat aset kami sudah ditanganku, dia sangat kaget. Ya aku sudah mengambil hampir semua surat aset dari lemari ibu dan menyimpannya. Aku juga katakana bahwa buku tabungan Ibu, Prita dan Pipit juga ada padaku. Selain itu aku juga memiliki video mesum dia dan Juli di apartemen waktu itu. Semua membuat Pradipta pucat pasi dan terdiam.
Tak lama, mukanya kembali berubah, dia memanggil pelayan dan memesan makanan untuk kami. Dia bilang, kami akan memikirkan ini baik-baik. Lalu mengajakku makan malam. Saat makanan datang, Pradipta berdiiri dan menelpon seseorang dengan serius. Entahlah, aku tidak terlalu mendengar. Hanya kata
“kerjakan, waktumu hanya 30 menit”
yang aku dengar. Setelah itu dia kembali ke meja dan mengajakku bicara seolah olah semua baik baik saja. Dia
bilang padaku untuk melupakan semua pembicaraan kami. Dia bilang, malam ini dia ingin menikmati makan malam bersama kami. Aku pikir, tidak ada salahnya mengikuti maunya suamiku. Mungkin dengan begini, dia akan berubah pikiran dan memilihku. Lagipula aku harus menunggu Talia kan.
Makan malam dengan Pradipta berjalan sekitas 40 menit, saat Talia mengabarkan jika dia sudah di parkiran kafe. Disaat yang sama kulihat Pradipta tersenyum setelah membaca pesan di gawainya.
“Sudah malam. Kamu jadi ke Bandung malam ini?” katanya. Akupun mengangguk.
“Hati-hati, jalanan licin ya,” katanya sambil menyeringai anek. Entahlah, aku agak takut dengan seringainya. Hatiku mulai tidak nyaman. Aku sedikit ragu untuk berangkat keBandung. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk tetap berangkat. Toh ada Talia menemaniku. Tadinya aku berharap Pradipta menawarkan untuk menemaniku.
__ADS_1
“Pergilah. Aku tidak bisa menemanimu karena besok pagi-pagi aku ada meeting. Dan sekarangpun aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan disini,” katanya sambil menatap ponselnya dan mengindahkanku. Aku pun akhirnya mengerti, bahwa aku tidak ada harapan.
“Oke, aku tunggu keputusanmu mas. Semua bukti dan surat-surat itu ada ditanganku,” kataku mencoba peruntunganku. Namun kali ini dia hanya menatapku tenang dan senyum meremehkan, lalu kembali memandang gawainya. Akupun segera melangkah keluar. Kulihat Talia sudah berdiri disamping mobilku dan tersenyum lebar melihat kedatanganku. Setelah berpelukan, aku segera menyerahkan kunci pada Talia. Ya malam ini aku lelah sekali. Lelah menangis dalam hujan, lelah dengan drama kehipan dan lelah menghadapi suamiku. Aku hanya ingin duduk manis disamping sahabatku. Taliapun tidak keberatan