Nada Nara

Nada Nara
Bab 81. Kencan Makan Malam 2


__ADS_3

POV Mahardika


Makan malam terjadi tanpa ada sesuatu yang mencurigakan. Pradipta dan Nara menikmati makan malam dengan tenang tanpa ada sentuhan dan hal-hal aneh.Aku, Henry dan Adrian yang mengawasi dengan jarak beberapa meja, menikmati beberapa botol Tierra De Fuego Cabernet Sauvignon. Pahitnya wine yang menyapa mulutku terasa lebih pahit malam itu. Aku selalu keheranan dengan hatiku sendiri. Mengapa reaksiku seperti ini saat melihat Nara tampak bercakap dan menikmati berdua dengan Pradipta. Aku akui, Pradipta cukup sabar dann sopan serta mampu membuat hati wanita terpesona.  Tapi ini adalah Nada yang berubah menjadi Nara. Wanita yang pernah


disakitinya. Dan Nara dengan mudahnya menerima kehadiran Pradipta. Kembali dan sepertinya memaafkannya. Entah Nada yang terlalu baik hati atau Pradipta yang sangat piawai mempengaruhi. Henry dan Adrian seperti paham dengan apa yang aku alami.  Malam semakin larut. Makan malam Nara sudah barakhir. Aku segera berdiri untuk menjemput Nara di mejanya. Tetapi Adrian menahan tanganku.


“Jangan terburu-buru. Biar aku saja yang menghampiri Nara. Toh Pradipta sudah mengenalku. Kata Adrian sambil berdiri.


“Kita pulang saja. Serahkan semua pada Adrian. Kalian semua kawal Nyonya Nara,” kata Henry kepada anak buahnya.


“Siap pak,”


“Ingat, bukan pengawalan nyata tetapi pengawalan bayangan. Jangan sampai terlihat,” kata Henry mengingatkan mereka yang diikuti acungan jempol. Aku juga langsung berdiri melihat Nara berdiri dalam gandengn Pradipta, sementara Adrian berjalan tidak jauh dari Nara. Merka berjalan beriringan menuju lobi dimana dua mobil menunggu.


Dari kode Adrian, Pradipta memaksa untuk mengantar pulang Nara. Aku menggeleng kepada Adrian yang memandangku. Lalu sahabat yang juga penngawal Nara itu membisikan sesuatu pada wanita cantik yang malam ini tampak bersinar. Aku memandang Nara dengan terpesona.


“Kedip bos. Makanya dihalalin,” Kata Henry sambil menepuk bahuku, tertawa terbahak bahak.


“Halalin bacotmu,” kata ku sewot.

__ADS_1


“Eh, jangan halalin bacot eike ganteng. Eike nggak suka batangan,” kata Henry dengan gaya kemayu yang membuatku tersenyum.  Kulihat Nara mencium pipi Pradipta dan laki laki itu mencium tanganna. Tapi aku melihat


gerakan Pradipta yang menekan tangan Nara yang membuat gadis itu goyah. Saat itu sekilas aku melihat gerakan Pradipta menarik  Nari, sehingga seolah-olah gadis itu oleh dan terjatuh di pelukan Pradipta. Aku yakin Nara sendiri tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Pradipta. Namun Aku, Adrian dan Henry mengetahui itu. Kulihat Adrian sempat bergerak namun berhenti melihat Pradipta mengayunkan tangannya, memintanya menjauh.


“Maaf,” kata Nara sambil berusaha berdiri.


“Tidak apa-apa cantik. Hati-hati dijalan ya. Nanti aku telpon lagi,” kata Pradipta, membuat pipi Nara memerah tersipu.  Lalu keduanya  masuk ke mobil masing-masing. Adrian masuk ke sisi depan mobil Nara dan meminta


sopir untuk berjalan. Dia memberikan pesan padaku bahwa mereka akan ke apartemen Nara untuk berganti mobil, baru pulang kerumah. Setelah itu aku dan Henry segera mengambil motor kami dan pulang.


Tak lama setelah aku selesai mencucu muka dan berganti baju, Nara tiba di rumah. Aku menyambutnya dengan senyum lebar. Nara tampak gembira dan bersemangat.


“Haish… sok tidak tahu, padahal tadi juga kan kamu ada disana,” kata Nara sambil cemberut lucu, membuatku tertawa.


“Hahaha iya, ternyata Pradipta bisa juga kencan normal tanpa sentuhan,” kataku sambil tertawa.


“Boss, Nyonya Nara, Kami pulang ya,” kata Adrian.


“Aku juga pulang ya, Nara tenangkan dulu laki-laki itu. Tadi dia hampir kebakaran jenggot,” kata Henry sambil nyengir lebar.

__ADS_1


“Emang M punya jenggot? Kebakar kenapa? Kena lilin di meja restoran? Kok bisa?” tanya Nara kebingungan yang justru membuat dua laki laki aneh itu tertawa terbahak. Aku mendegus kesal dan menyuruh mereka segera pulang.


“Coba aku lihat, mana jenggot yang terbakar?” tanya Nara serius. Sambil memegang daguku.


“Nara, aku kan tidak pernah punya jenggot. Tadi Henry hanya bercanda,” kataku sambil mengacak acak gemas rambut Nara. Dengan muka kesal dia menepis tanganku dari puncak kepalanya.  Tampang cemberutnya


benar-benar menggemaskan.


“Kau hari ini luar biasa Nara. Kau berhasil kencan tanpa sentuhan. Bagus sekali” ujarku memujinya.  Nara terdiam sesaat. Pipinya masih terus merona dan tersipu. Sepertinya dia kembali membayangkan kencannya bersama


Pradipta tadi sore.


“Aku masih gemetaran, aku tak percaya. Dia menatapku seperti itu. Dia menatapku seolah olah dia memujaku. Jantungku masih berdebar..” katanya sambil memegang dadanya. Sikap Nara seperti anak SMA  yang sedang


kasmaran.  Wajahnya sangat menggemaskan membuatku tidak dapat memaling wajahku darinya.


“Hahaha kamu lucu sekali Nara. Lihat wajahmu memerah,”  kataku.


“Ishh kan malah digodain. Sudah ah, Nara mau mandi,” kata Nara sambil berdiri.

__ADS_1


“Mandi dan istirahat ya. Besok kita bicara lagi,” kataku menutup pembicaraan malam ini.


__ADS_2