Nada Nara

Nada Nara
Bab 32 Anak Adalah Anugerah


__ADS_3

Papa Janu bilang,saat  paling menyedihkan dan membuatnya hancur ternyata bukan lagi saat dia diusir dari rumah karena orientasi seksualnya. Namun saat dimana dia mendengar cerita Ibu  Lis tentang kejadian  mengerikan itu, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.  Ibu Lis benar, saat ini kartu as ada ditangan orang-orang jahat itu. Setelah melihat video yang dikirimkan mereka ke pada Ibu dan Maria, Janu menjadi lebih marah lagi. Papa Janu tahu, kejadiannya tidak seperti itu. Namun jika video itu di sebarkan, maka semua orang yang melihatnya akan menghakimi Maria, tanpa bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Dengan keadaan Maria sekarang ini, maka prioritas pertama adalah menyelamatkan  mental perempuan malang itu.


“Janu, bantulah ibu menjaga adikmu dan bayinya. Bagaimanapun, bayi itu tidak bersalah. Meskipun dia ada, dari peristiwa mengerikan. Itu bukanlah salahnya. Dia pun tidak minta untuk ada,” kata Ibu. “Jika terjadi apa-apa pada ibu, maka Maria akan ibu serahkan sepenuhnya padamu.” Papa Janu hanya diam sambil menggegam tangan ibu


yang dingin dan gemetar.


“Ibu tidak apa? Ibu kenapa gemetar dan dingin begini?” tanya Papa Janu khawatir.


“Ibu tidak apa-apa.Kita sudah terlalu lama di sini. Takutnya Maria sudah bangun,” kata Ibu. Kami pun segera menuju kamar Maria. Benar saja, saat kami masuk Maria sedang duduk diatas tempat tidur sambil menarik rambutnya dan memukuli perutnya. Ibu segera lari memeluk Maria.


“Jangan nak, jangan kamu sakiti dirimu dan bayimu, Terimalah semua ini sebagai berkah.” Kata Ibu Lis lembut. Papa Janu hanya bisa termangu tak berdaya, menatap perempuan yang telah menyelamatkanya. Dalam hati Papa Janu sangat marah, karena tidak bisa melindungi dua perempuan yang berjasa bagi hidupnya.


“Bukan  bayiku! Ini Bayi bajingan itu! Aku tidak mau dia! Buang!” teriak Maria histeris, memukuli perutnya. Karena Ibu Lis berusaha menghentikan Maria, beberapa kali Ibu Lis terkena pukulan.  “Biar bu! Lepaskan Maria! Maria harus membuang bayi sialan ini!”


Papa Janu berdiri  dipintu sambil memandangi Maria yang pucat berurai air mata. Dia benar-benar bingung mau berbuat apa. Jika ditanya apa yang dia inginkan? Saat ini juga Papa Janu ingin meminjam senjata pada sahabatnya dan menembak Jerry dan Gerald. Paling tidak dia ingin membuat kedua pemuda itu babak belur sebelum memintanya untuk bertanggung jawab. Namun ancaman tuntutan hukum dan efek bully terhadap Maria akan tidak berujung. Belum lagi nasib anak yang akan dilahirkan Maria. Jikapun Jerry  mau menikahi, apakah Maria akan bahagia atas perkawinan terpaksa dengan bajingan itu. Atau jangan-jangan, hidup Maria akan menjadi neraka.


“Tidak bu! Keluarkan dia sekarang! Dia anak bajingan itu, aku tidak mau memilikinya!” teriak Maria lebih hebat lagi, mengagetkan Janu. Maria benar-benar mengamuk saat itu. Bantal yang ada didekatnya dia lempar sembaranganya. Ibu yang tadi sudah melepaskan pelukannya kembali mencoba memeluk Maria dan menenangkannya. Namun tanpa diduga, Maria mengeliat keras melepaskan pelukan Ibu, membuat ibu terpelanting jatuh dari tempat tidur. Kepala ibu membentu pinggir kursi yang ada tak jauh dari tempat tidur hingga mengeluarkan banyak darah.


“IBU!” teriakku dengan keras, berlari memeluk Ibu Lis. Maria yang melihat itu langsung terdiam dan berguman “ibu.”


Saat kurengkuh Ibu, perempuan itu tidak lagi membuka matanya. Kutepuk pipinya dan kugoyang badannya sambil memanggil namannya, namun tetep bergeming. Kuambil bantal yang ada didekatku dan kuletakkan kepala ibu disana. Kuambil handuk kecil dan kutempelkan diluka ibu yang terus mengeluarkan darah.  Tanpa kusadari, Maria sudah turun dari tempat tidur sambil berulang kali mengucapkan maaf.


“Maria, ibu pingsan dan pendarahan. Kita harus segera menyelamatkan ibu. Kita bawa ibu ke rumah sakit. Kuasai dirimu. Untuk masalah bayimu, kita bicarakan nanti. Sekarag ibu lebih membutuhkan kita. Aku tidak bisa mengawasi kalian berdua  bersamaan. Bisa?” kataku kepada Maria. Maria memandang ibu dan aku bergantian. Dia mengnhela nafas panjang mengusap matanya dan berdiri meraih tasnya. Kemudia dia berlari keluar sambil berteriak,


“Bawa ibu ke mobil Janu! Aku ambilkan kunci dan dompetmu,” kata Maria dengan tegas. Aku sedikit lega. Segera kugendong ibu dan membawaya ke garasi. Setelah sampai di rumah


sakit, Ibu segera ditangani oleh dokter.


“Saya anaknya dok? Bagaimana keadaan ibu saya?’ tanya Papa Janu. Maria yang ada di sebelahku menatap nanar. Aku tahu dia sangat merasa bersalah.


“Anda yang bernama Janu? “ tanya dokter.


“Iya dok, saya Janu,” jawab Papa Janu.

__ADS_1


“Bisa kita bicara sebentar di ruangan saya, berdua saja?”  Kata  dokter sambil melirik kearah Maria.


“Bisa dok,” kata Papa Janu.  Maria sempat memaksa untuk ikut masuk keruang dokter dan mendengarkan pembicaraan mereka, namun Papa Janu memintanya untuk menjaga bu Lis.


“Bapak Janu, tadi Ibu Lis sempat sadar dan mencari Anda. Namun Ibu Lis melihat ada adik Anda disana.


Terus terang keadaan bu Lis sangat tidak baik. Jantung dan paru parunya bermasalah. Ibu Lis juga mengalami serangan stroke kedua dalam waktu sebulan.  Namun Bu Lis meminta saya merahasiakannya dari adik Anda. Ibu lis hanya berpesan agar Pak Janu menjaga Maria dan menikahinya. Jadikan anak-anak dalam kandungannya sebagai anak Pak Janu,” kata dokter yang tadi merawat ibu Lis. Janu hanya bisa terdiam mendengar pesan Ibu Lis. Baginya, menjaga Maria adalah kewajiban, diminta atau tidak. Namun menikahi Maria yang mengandung anak laki-laki lain itu adalah hal yang berbeda. Karena Papa Janu yakin Maria akan menderita kalau menikah dengannya


yang tidak akan pernah dapat memberikan nafkah batin.


“Dok, Ibu Lis sadar dan mencari dokter dan Pak Janu,” seorang suster dengan kacamata tebal membuka pintu dan memberikan kabar, yang membuat dua laki-laki diruangan itu segera berdiri dan berlari menuju ruangan bu Lis.


Dokter segera memeriksa keadaan bu Lis. Dia menghela nafas dan meggeleng kepada Papa Janu.  Melihat reaksi dokter, Maria mendekat kepada ibunya,


“Janu, kenapa dokter menggeleng? Apakah Ibu sangat parah? Apakah semua karena kutendang?“  tanya Maria sambil mengguncang tangan Janu. Janu menghela nafas panjang. Dia langsung memeluk wanita yang pernah menolong nyawanya.


“Janu, Maria  kemarilah,” suara lemah Ibu Lis memanggil mereka berdua.


“Maria, dengar nak. Ini bukan salahmu. Memang ibu sudah seperti ini meski tadi tidak jatuh. Iya kan dok? “ kata ibu sambil memandang Maria. Dokter yang ditanyapun hanya tersenyum sambil melanjutkan instruksinya kepada suster.


“Iya Maria, tidak usah merasa bersalah. Ibu kan memang kemarin sudah stroke dan mungkin ibu sedikit kelelahan akhir akhir ini menjaga kita,” kata Janu.


“Ibu senang menjaga kalian. Tidak melelahkan sama sekali. Buat ibu, semua menyenangkan selama anak-anak ibu bahagia. Hal yang pealing menyenangkan adalah melihat anak anak oibu tumbuh dengan baik dan bahagia. Menjadi ibu itu sangat menyenangkan. Seberat apapun keadaannya, menjadi ibu itu anugerah. Anak adalah anugerah terindah bagi seorang wanita. Meski kita harus berjuang sendiri, bagaimanapun keadaannya, Anak soleh yang menyayangi kita, adalah harta yang akan membawasurga, bahkan setelah kita mati,” kata Ibu sambil mengeluas kepala Maria.


“Tapi bu, anak ini ak haram yang selalu mengingatkanku pada malam jahanam. Malam yang menghancurkan hidupku. Anak ini akan mengingatkanku pada peristiwa itu. Malam  dimana aku berubah menjadi sampah kotor yang ******. Aku tidak mau anak ini, aku akan membuangnya,” kata Maria sambil menahan histerisnya bersisakan sesak nafas karena air mata.


“Maria, Yang melakukan adalah laki-laki itu. Yang bersalah dan kotor adalah laki laki itu. Kamu tidpernah menjadi buruk, berdosa dan kotor nak. Kamu wanita baik-baik yang dikaruniai anak-anak yang menjagamu sampai ke surga.  Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atau menganggap diri kamu kotor hanya karena dosa orang lain nak. Kamu wanita cantik yang mulia. Kamu anak ibu yang baik hati dan suci,” Kata ibu sambil menghela nafas panjang. Dadanya  terlihat naik turun menahan gejolak dan rasa sesak yang menyakitkan. Papa Janu melihat nanar


pada perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibunya. Papa Janu menyadari, diantara tarikan-tarikan nafas ibu terdapat kesakitan yang ditutupi.


“Tapi bu …,” kata Maria memandang wajah ibunya dengan rasa bersalah.


 “Hargai dirimu sendiri nak. Harga dirimu bukan terletak  pada apa yang orang pikirkan tentang kamu. Harga dirimu terletak pada dirimu sendiri dan dihadapan Tuhan. Itu yang selalu Ibu katakana padamu. Jadi jangan pernah kamu merendahkan diri sendiri dengan cara seperti ini. Kamu berharga nak, apapun yang mereka lakukan padamu. Kamu wanita baik baik yang bisa mensyukuri nikmat Tuhan. Peristiwa itu bukan salah kamu. Begitu juga bayi yang ada dalam kandunganmu. Bayi itu adalah anugerah untukmu. Syukuri dan rawatlah dengan baik. Anggap saja, bayi itu dalah hadiah buat Ibu yang sudah ingin menjadi nenek, boleh ya nak?” kata Ibu Lis. Maria tercenung mendengar kata-kata ibunya. Hatinya mulai terbuka namun tidak bisa menerima sepenuhnya.

__ADS_1


“Maria, dengan menjadi korban saja kamu merasa berdosa dan kotor. Apalagi kalau kamu melakukan dosa besar membunuh. Bayi dalam perutmu berhak hidup. Mereka tidak minta dilahirkan namun tidak minta dibenci apalagi dibunuh. Kamu tegha melihat iui makin bersedih karena anak Ibu menjadi seorang pembunuh?” kata Ibu


“Tapi bu, bagaimana aku bisa hamil dan membesarkan anak ini, sedangkan aku tidak memiliki suami. Orang akan mencaci dan menghinaku. Mereka akan menghina anak ini sebagai anak haram juga.  Kami berdua sangat


menderita,” sela Maria.


“Janu mendekatlah,  Nak,” kata Ibu Lis. Papa janu mendekat dan memegang tangan wanita tua itu dengan sayang.


“Maria, Ibu minta jagalah cucu ibu bersama Janu. Dia akan melindungimu dan anakmu. Iya kan Janu,” kata Ibu. Papa Janu bilang, dia hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata. Dari apa yang disampaikan dokter, Ibu Lis tidak akan bisa bertahan. Papa Janu tahu itu, namun tidak dengan Maria. Penyakit yang diderita dan dirahasiakan Bu Lis


bertahun tahun, mulai menampakan wujud nyatanya akibat serangan stroke dirumah Jerry. Sejak itu, sebenarnya, Ibu Lis memang sudah hanya menghitung hari. Menurut dokter, dia sudah menyampaikan hal ini kepada Bu Lis, yang meminta dokter merahasiakannya dari keluarga.


“Maksud ibu apa? Mana mungkin aku membiarkan anak ini lahir tanpa ayah? Ini akan menyiksanya bu. Aku


tidak mau anakku dihina karena kesalahanku,” kata Maria menangis.


“Maria, dengar ibu. Ini bukan kesalahan. Anak ini anugerah, bukan kesalahan. Yang bersalah adalah Ayah dari anak ini, tapi anak ini bukan kesalahan. Lahir dan besarkan dia. Dia


akan punya ayah. Tidakl ada yang bisa menghina cucu ibu dengan sebutan anak haram tanpa ayah,” kata bu Lis.


“Maksud ibu?” tanya Maria  kebingungan. Namun Bu Lis tidak bisa menjawab. Nafasnya tersengal membuat suster segera memasangkan cup oxygen di mulutnya. Papa Janu segera mengambil tindakan. Dia berbisik pada di telinga


Bu Lis yang dibalas dengan anggukan dan senyum kecil.


“Maria, ibu sudah terlalu lelah. Sebaiknya kita bicara di kantin, sambil mencari sesuatu untuk   dimakan. Kamu seharian belum makan dengan benar,” kata Papa Janu


“Tidak, aku tidak mau


meninggalkan ibu. Aku disini saja. Kalau kamu mau makan, pergilah,” kata Maria keraas kepala. Ibu memegang tangan Maria dan memberikan isyarat untuk pergi.


“Maria, ada hal penting yang harus aku bicarakan. Tapi tidak di sini. Ibu harus istirahat,”  kata Papa Janu. Maria akhirnya mengerti dan mengikuti Papa Janu duduk dikanting


menikmati kopi teh dan sepiring mie goreng instan.

__ADS_1


__ADS_2