Nada Nara

Nada Nara
Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 2)


__ADS_3

Sesampainya disana terlihat ambulance dan mobil polisi berjajar didepan rumah. Beberapa orang tetangga dan pelayat tampak sudah hadir. Dari dalam rumah kudengar suara dua perempuan sedang menangis. Aku bergegas masuk dengan muka sedih dan kuyu. Suara tangis itu suara Ibu dan Mama. Sedangkan Ayah tampak sedang duduk disamping peti jenasah yang sudah ditutup rapat.


“Nada!” teriakku begitu masuk. Aku segera memeluk peti disana dan menangis. Ayah mendekatiku dan membujukku untuk tenang. Tapi aku tak peduli. aku terus menangis dan meneriakan Nada.  Akhirnya semua orang membiarkanku dengan tingkahku.


“Nada, kenapa kamu lakukan itu. Maaf aku terlambat datang. Aku tidak tahu ini yang akan kamu lakukan. Kenapa kamu meninggalkan aku Nada. Kenapa kamu harus melakukan ini. Aku tidak peduli kamu gemuk atau seperti apapun. Aku tidak peduli Nada. Kenapa kamu nekat,” kataku berulang ulang.


Aku tahu saat ini semua orang yang hadir menatapku iba dan keheranan. Tapi aku harus melanjutkan sandiwara ini dan membuat semua orang percaya, lalu iba padaku. Aku terus menangis dan melakukan monolog. Seperti yang ada di film-film drama Korea yang ditonton Ibu. Tapi tenggorokanku sudah lumayan kering sepertinya. Waktunya untuk sedikit istirahat. Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Kulihat ayah menatapku nanar. Begitu juga polisi yang ada di ujung ruangan. Ayah mendekatiku, aku harus menyiapkan diri.


“Sudah nak sabar. Maaf, kamu tidak bisa melihatnya disaat terakir. Menurut polisi, jenasahnya benar benar hangus dan tidak bisa dikenali. Jadi peti sudah ditutup di rumah sakit tadi. Hanya nomor polisi dan potongan KTP Nada yang membuat mereka bisa menghubungi rumah ini tadi pagi sebelum bapak menelponmu. Semua sudah dikonfirmasi, bentuk tubuh dan pakaian yang tersisa sesuai dengan ciri Nada, ada KTP Nada disana, barang lain sepertinya habis terbakar. Mobilnya juga sudah dipastikan sebagai mobil Nada,” kata Ayah


“Iya yah, Pradipta menyesal. Pradipta benar-benar tidak menyangka, Nada senekat ini. Pradipta pikir semua sudah selesai dan Nada hanya stress. Pradipta pikir bisa menunda kepulangan beberapa hari dan Nada hanya main-main. Sekarang bahkan Pradipta tidak bisa melihatnya sama sekali. Pradipta tidak bisa bertemu istri Pradipta disaat terakir ayah,” kataku sambil terisak. Sebenarnya karena pura-pura menangis, mata dan tenggorokanku benar-benar perih. Tapi demi keberhasilan semua rencana ini, harus totalitas kan. Ibu menghampiriku dan memberikan segelas teh manis. Semua langsung kuteguk habis. lalu aku berbisik untuk membuatkan aku es sirup setelah ini. Baiklah, ini adalah waktunya untuk berhenti pura-pura menangis yang tidak nyaman.


Aku menghitung sampai 50. Lalu aku aku menengok kearah Mama mertuaku yang dari tadi memandangku dengan mata bengkak. Tentu saja, Mama pasti sudah dari tadi menangisi kematian anak  satu-satunya. Aku harus tetap mengambil hatinya. Aku bergerak cepat kearah Mama dan memeluknya. Mama kembali menangis dan menyebutkan nama Nada. Sementara gadis di sebelahnya, berusaha menenangkan perempuan dipelukanku. Aku sebenarnya tidak tega melihat Mama seperti ini. Bagaimanapun, perempuan cantik ini selalu memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Hatiku sakit melihatnya begitu lemah dan terpukul.


Kualihkan pandanganku pada gadis yang dari tadi berusaha menenangkan Mama. Matanya juga sudah bengkak


tanda dia sudah menangis sedari tadi.  Aku tahu siapa dia. Sandra, sahabat terdekat Nada. Wanita itu memandangku dengan tajam dan galak. Hem, ada apa ini? Apakah dia tahu apa yang aku lakukan pada Nada? Mungkin saja Dia tahu. Nada memang selalu berbagi cerita dengan sahabatnya ini. Tapi aku yakin Mama tidak tahu apapun tentang aku dan Nada. Aku menajamkan pandanganku pada Sandra dan menggelengkan kepala. Aku ingin dia tahu, bahwa dia tidak boleh mengatakan apapun tentang Nada. Kulihat mukanya memerah, tangannya mengepal dan dia menggigit bibirnya dengan emosi.


Wow, wajahnya jadi sexy sekali saat dia seperti ini. Aku langsung meneliti Sandra dari dekat. Badanyapun sangat menggiurkan. Dan menurut Nada, Sandra seperti Nada, sangat menjaga keperawanannya sebelum menikah. Pasti akan sangat menyenangkan menikmati tubuh gadis ini. Tanpa sadar aku membasahi bibirku sambil memandang Sandra. Gadis itu rupanya sadar dengan makna tatapan dan inginku. Aku tahu itu, saat dia mengangkat sebelah tanganya akan menamparku. Aku tersenyum licik pada Sandra, setelah memastikan tidak ada seorangpun yang melihatku. Kuputar badanku yang masih memeluk Mama, hingga Sandra berhadapan dengan Mama. Aku tahu dia


juga tidak mau Mama tahu apa yang kulakukan. Persis seperti Nada, sedikit bodoh dan mudah dimanipulasi. Aku terkikik geli dalam hati saat melihatnya mendegus kesal. Oke, tunggu ya sayag. Suatu saat pasti aku akan memuaskanmu.


“Pradipta, kenapa harus Nada yang pergi duluan. Kenapa bukan Mama. Nada masih terlalu muda untuk meninggal. Dan kenapa harus dengan cara seperti ini,” kata Mama menyadarkanku. Aku mengeratkan pelukanku pada perempuan yang benar-benar aku sayangi seperti ibuku sendiri ini.


“Maafkan Pradipta yang tidak bisa menjaga Nada  Ma. Maaf. Seharusnya Pradipta pulang saat Nada mengirimkan e-mail itu. Seharusnya Pradipta bisa mencegah niat Nada melakukan ini. Seharusnya ini tidak terjadi. Pradipta benar-benar tidak menyangka, Nada senekat itu,” kataku dengan nada sedih. Mama mengangkat mukanya memandangku. Terlihat dari mata indah perempuan tua ini, banyak pertanyaan dan kesedihan disana. Mata itu, mengingatkanku pada mata Nada.  Sahabatku sejak kecil, yang tidak pernah mengataiku anak sopir atau pemuda miskin.

__ADS_1


“Maksudmu apa nak?” kata Mama. Dia berusaha menahan isakannya.


“Pradipta, apa maksud kata-katamu? Apakah kamu tahu apa yang terjadi pada Nada? Bahkan polisipun tidak bisa mengatakan pada bapak, kenapa kecelakaan ini bisa terjadi. Tidak ada satu saksi matapun disana yang melihat kejadiannya. Mereka bahkan menemukan Mobil saat sudah hampir habis terbakar,” kata Ayah. Aku menarik nafas panjang dan memandang Ayah dan Mama bergantian. Tentu saja, polisi tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Anak buahku sudah membereskan TKP sebelum mereka datang.


“Maafkan Pradipta Ma, Ayah. Maaf,” kataku lirih.


“Apa Pradipta, apa yang kamu lakukan?” kata Ayah sambil mulai emosi. Kulirik Ibu dan kedua adikku memandangku dari jauh dengan tatapan takut dan curiga. Merekapun tidak mengerti akan kata-kataku.


“Nada sebenarnya kemarin sore mengirimkan email ke Pradipta, Ayah,” kataku pelan.


“E-mail?” kata Ayah, Mama dan beberapa orang yang hadir disana. Mereka memandangku dengan tatapan bertanya-tanya.


“Iya, e-mail yang mengatakan bahwa Nada rindu sama Pradipta. Nada ingin Pradipta disini. Nada juga minta maaf karena tidak bisa mendampingi Pradipta. Nada minta maaf karena selalu membuat Pradipta malu memiliki istri seperti dia, istri yang sangat gemuk seperti gajah bengkak katanya. Padahal Pradipta sayang sama Nada. Pradipta


tidak pernah menganggap seperti itu. Kami berjauhan karena kami sedang berjuang untuk bisa membuat Papa almarhum, Mama, ayah dan ibu bangga,” kataku sambil menjatuhkan tubuhku ke lantai. Mendengar semua itu, Mama kembali menangis dengan keras. Ayah tampak terdiam kebingungan. Saat kulirik Ibu dan kedua adikku, mereka menatapku dengan tidak mengerti. Namun Prita sempat melihat lirikanku dan sepertinya mulai curiga.  Begitu pula saat kulirik Sandra yang dari tadi memperhatikanku dengan pandangan curiga.


Setelah usai, kami semua kembali ke rumah. Kami berkumpul di ruang tengah. Aku, Ayah, Ibu, kedua adikku, Mama dan Sandra. Ah gadis itu,benar-benar menggemaskan dengan tatapan galak dan curiganya. Beberapa kali kukedipkan mataku padanya yang disambut pelototan marah. Jika tidak dalam keadaan seperti ini, pasti aku akan tertawa terbahak-bahak. Prita pun menangkap apa yang kulakukan. Tadi dia sempat berbisik padaku, agar aku menjaga kelakuanku.


“Baiklah, kita semua sudah berkumpul disini. Pradipta, Ayah ingin tanya dua hal padamu. Pertama, ada polisi diluar yang ingin menemuimu berkenaan dengan kecelakaan Nada. Apakah kamu mengetahui sesuatu? Dan apa maksud kata-katamu?  Yang kedua, jika terbukti ini kecelakaan apakah bu Hermawan sebagai ibu dan Pradipta sebagai suami, akan meneruskan perkara ini lebih lanjut dalam penyelidikan? Jika memang mau menyelidiki penyebab kecelakaan, banyak prosedur uyang harus dijalankan, termasuk menjawab permintaan polisi tadi yang meminta ijin untuk meng autopsi jenasah Nada jika ditemukan kejanggalan yang mengarah pada hal lain. Sebaiknya kita musyawarahkan disini sebelum kita berbicara dengan polisi,”  Tanya ayah  Aku kembali memasang muka sedih dan menyesal. Aku menghampiri Mama dan menggenggamnya.


“Mama, maafkan Pradipta. Aku benar-benar tidak tahu kalau Nada se Insecure itu ,” kataku pelan.


“Maksudnya?” kini justru Sandra yang bicara. Suaranya terdengar tajam menyerangku. Sepertinya dia memang mencurigai sesuatu. Jangan jangan dia juga sudah tahu tentang hubunganku dengan Juli. Nada tahu, Sandra pasti tahu. Karena semua berita tentang Nada dan Juli, tidak ada yang menghubungkan kejadian tersebut denganku atau dengan orang ketiga. Semua murni tentang kecemburuan Nada pada wajah dan tubuh Juli. Tapi kemarahan Sandra, benar-benar membuat gadis itu makin menarik.


“Sandra, maafkan aku. Aku tahu kamu sahabatnya dan pasti tahu bagaimana Nada. Tapi ternyata banyak hal yang Nada tidak ceritakan pada kita. Dia menyimpan kekecewaannya pada diri sendiri di hatinya. Apapun ceritanya, Nada tidak mau Mama yang sangat dia cintai, tahu dan bersedih. Jadi dia selalu diam pada Mama. Begitu kan Sandra?” kataku, sekaligus mengingatkan Sandra tentang rapuhnya Mama yang selalu dijaga Nada. Aku yakin Sandra tahu itu, sebelum dia mengatakan apapun tentang pengkianatanku, pada Mama.Ayah dan Mama menatapku bingung. Aku mengeluarkan smartphoneku dan membuka e-mail. Disana ada sebuah e-mail yang dikirim Nada tadi Malam pukul 21.00 WIB.

__ADS_1


“Baiklah,  langsung saja. Nanti kalau memang dibutuhkan, Pradipta bisa print dan berikan pada semua. Ini adalah e-mail Nada tadi malam. Dia berpamitan pada Pradipta. Dalam e-mail itu Nada mengatakan kalau dia rindu sama Pradipta. Nada ingin Pradipta disini. Nada juga minta maaf karena tidak bisa mendampingi Pradipta. Nada minta maaf karena selalu membuat Pradipta malu memiliki istri seperti dia, istri yang sangat gemuk seperti gajah bengkak


katanya. Lalu Nada bilang kalau dia akan pergi jauh agar Pradipta tak lagi malu. Dia meminta Pradipta mencari Istri yang bisa mendampingi Pradipta,” kataku menjelaskan. Aku kembali menatap semua yang hadir satu persatu. Semua menangis sedih. Hanya Prita dan Sandra yang memandangku curiga.


“Kenapa Sandra? Kamu tidak percaya? Kamu tahu kan e-mail Nada? Ini, lihat dan periksa sendiri. Aku tidak berbohong. E-mail ini adalah e-mail pribadi Nada yang tidak seorangpun tahu bagaimana membukanya, termasuk aku,” kataku memberikan smartphoneku pada Sandra. Gadis itu menerimanya dan membaca dengan sangat teliti. Setelah itui dia menangis tersedu sedu.


“Nada juga minta maaf karena membuat kita semua malu di kejadian video viral kemarin. Dan itu membuatnya hancur. Banyak hinaan dan tekanan dari netizen yang membuatnya putus asa dan memutuskan untuk bunuh diri. Nada bilang, dia sudah tidak kuat dengan tekanan para netizen padanya. Padahal dia tidak bersalah. Dia tidak melakukan apa yang dituduhkan netizen padanya. Nada juga mengatakan bahwa sebenarnya dia mengakui kalau kata-kata netizen yang menyakitkuan itu ada benarnya. Nada merasa malu dengan bentuk tubuhnya yang sangat besar. Dia merasa bahwa dia tidak menarik. Padahal aku sudah berusaha meyakinkannya kalau dia cantik, apa adanya dia. Dia itu smart dan baik. Aku mencintainya apa adanya,” kataku sambil menutup mukaku. Tak ada satupun yang menanggapi kata-kataku. Mama menyentuh  tanganku lembut. Ayah memandangku dengan iba. Samar kudengar Sandra berdecih.  Rupanya wanita itu sadar dengan sandiwaraku.


“Sandra, kamu baca sendiri kan apa yang dikatakan Nada. Kamu sahabatnya. Kamu pasti tahu bahwa aku menerima Nada apa adanya. Kamu juga pasti setuju kalau Nada tidak seburuk yang netizen bilang. Tapi kenapa Nada memilih untuk pergi,” kataku memandang Sandra dan meneruskan kata-kataku. Kupegang tangannya dan kuremas kuat untuk mengatakan bahwa dia harus setuju dengan apapun yang kulakukan. Pandanganku tajam menusuk ke matanya yang berwarna coklat, indah. Aku sengaja menekan Sandra didepan semua orang. Kupastikan bahwa Sandra mengerti dengan pesan intimidasi yang aku berikan. Sandra kembali berdecih dan melepaskan genggamanku dengan sedikit kasar. Mungkin jika tidak sedang menajdi pusat perhatian semua orang, dia akan mengibashkan tanganku kuat-kuat dan berteriak. Tapi aku tahu, Sandra tidak akan memiliki keberanian untuk melakukan itu sekarang.


“Dalam surat Nada, Dia ingin aku kembali ke Jakarta. Nada ingin aku mengganntikan tugasnya merawat rumah ini, merawat Ayah, Ibu dan Mama di Bandung. Nada ingin, semua yang dijaganya tetap baik-baik saja meskipun dia sudah pergi.  Nada juga menyerahkan seluruh rumah, aset dan perusahaan pada Pradipta sebagai amanah untuk dijaga dan dilanjutkan,” kataku sambil menarik nafas berat.


“Tapi jika Mama keberatan, maka aku akan serahkan pada Mama,” kataku.


“Tidak bisa dong Pradipta. Nada sudah memberikan padamu kenapa kamu serahkan pada bu Hermawan. Itu menyalahi wasiat Nada,” sambar ibu.


“Ibu, diamlah. Ini milik Nada. Ada Mama disini,” kataku dengan tegas. Aku kesal dengan kata-kata ibu. Ibu benar-benar tidak tahu strategi. Tanpa harus mendesak dan bermain kasar, aku yakin Mama akan setuju dengan wasiat Nada. Jika seperti ini,  justru akan mengundang kecurigaan orang terutama Sandra. Aku membisiki Prita untuk menenangkan ibu dan memintanya diam. Prita langsung mengerti rencanaku. Dia segera menarik Ibu dan Pipit menjauh. Aku lihat mereka berbisik-bisik sebentar dan mengangguk setuju. Sementara ruangan itu masih hening


“Mama tidak tahu harus bicara apa Pradipta. Saat ini, Mama sama sekali tidak bisa berpikir. Mama masih sangat kehilangan Nada. Mama sekarang hanya sendiri tanpa siapa-siapa. Hanya Sandra mungkin yang menemani Mama,” kata Mama terbata. Yah aku tahu saat ini Mama sedang mengalami mental breakdown. Dan ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk menekamn Mama tanpa dia sadari, dan mendapatkan apa yang aku mau. Jika menunggu Mama tenang, semua tak akan semudah ini.


“Mama masih punya Pradipta ma,” kataku menggenggam tangan Mama. Untuk yang satu ini aku serius. Aku tidak akan mengganggu lagi perempuan tua ini. Aku masih akan  berusaha ada. Tentusaja jika aku tidak sibuk. Namun aku tidak akan mengganggunya seperti mengganggu Papa ataupun Nada. Akan aku biarkan dia menjadi tua dengan tenang.


“Kamu sudah mama anggap anak Mama. Baiklah, urusan ini Mama serahkan padamu. Lagipula Nada juga sudah tidak ada. Mama punya usaha di Bandung dan tidak mungkin mengurus yang di Jakarta. Mama tinggal di kediaman Hermawan di Bandung, tidak mungkin mengurus rumah ini juga,” kata Mama dengan lemah. Nah benar kan kataku. Semua ini hanya masalah permainan Pikiran kan.


“Sudah jangan bicara wasiat. Lalu tentang kecelakaan ini apakah masih mau kamu usut ?” tanya Ayah padaku.

__ADS_1


“Mama, Jika sudah seperti ini, Pradipta takut, kalau pengusutan justru akan merembet kemana-mana. Kasus  viral kemarin belum sepenuhnya reda.  Akan memperburuk citra almarhum jika diperpanjang. Apalagi jika banyak yang tahu kalau Nada bunuh diri. Dan lagi Jika polisi salah menduga dan harus dilakukan otopsi jenasah, Pradipta tidak akan tega mengganggu ketenangan Nada di surga dengan mengaduk aduk jasadnya,” kataku meminta dukungan dan pendapat Mama.


“Iya Pradipta, sebaiknya sudahi saja. Biarkan Nada tenang ya nak,” kata Mama.  Dan akhirnya semua selelsai seperti yang aku inginkan.


__ADS_2