Nada Nara

Nada Nara
Bab 24 Kemarahanku Karena Julia atau Nara?


__ADS_3

Pov Mahardika


Setelah kejadian di kantin, Nara menghilang sampai malam. Aku cukup cemas memikirkan dimana dia. Salahku juga, karena aku terpancing emosi hanya karena mendengar pengumuman pernikahan Pradipta dan Juli di televisi dan wajah Nara yang begitu menderita  Sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi.


Aku sendiri tidak paham kenapa aku semarah itu. Padahal tanpa mereka umumkan pun aku sudah tahu mereka akan menikah setahun setelah tanggal kematian Nada. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti kenapa emosiku langsung meledak melihat wajah Nara yang begitu menderita saat mendengar pengumuman itu. Tanpa kusadari aku sudah berteriak seperti orang gila tentang Juli dan aku.


“Apa? Mereka sudah berani mengumumkan terang terangan? Kurang ajar. Lalu bagaimana dengan aku Juli!”  teriakanku saat itu pasti mengagetkan Nara. Aku tahu, Nara sangat tidak suka bentakan dan teriakan kasar. Apalagi saat dia sedang kalut seperti itu.


Aku tidak tahu apakah Nara menyadari perkataanku, ditengah kekalutannya sendiri. Namun amarahku menutupi akal sehatku, sehingga membiarkan Nara pergi sendiri, entah kemana. Aku tidak mengejarnya saat itu. Aku hanya dibuk dengan emosi dan marahku, tidak berpikir kalau Nara pergi dari kantin. Ketika aku tersadar, semua sudah


terlambat.


Awalnya aku berpikir Nara akan ke rumah kediaman Hermawan untuk menemui Pradipta. Segera kuminta anak buahku yang ada di LC untuk mencari keberadaan Pradipta. Dari mereka aku tahu kalau Pradipta sedang mengumbar nafsunya dengan Juli, di apartemen Nada. Sungguh tidak tahu malu bukan? Bahkan sekarang apartemen itu sudah diatas namakan Juli, sebagai hadiah pertunangan mereka. Pertunangan yang dibuat sebelum Nada dinyatakan meninggal. Aku yakin Nara tidak tahu dimana Pradipta. Kupastikan kalau saat ini Nara tidak bertemu dengan laki-laki itu. Lagipula Nara sudah tidak punya access card apartemen yang terbakar bersama barang-barangnya di mobil.


Aku mencoba mencari Nara di rumah kediaman Hermawan. Namun rasanya mustahil. Rumah itu begitu sepi. Aku segera membuka laptopku dan mencari keberadaan penghuninya. Ayah Pradipta sedang sibuk di kantor. Wanita separuh baya yang menjadi nyonya dirumah itu, sedang sibuk dengan kegiatan sosialitanya. Prita sedang melakukan perawatan di salon. Penghuni terakirnya, Pipit, sedang berada di meja judi. Jadi tidak mungkin Nara


ada di rumah itu.


Berkeliling tanpa hasil, membuatku memutuskan untuk pulang kerumah dan mandi. Setelah berkutat di gym tadi, aku belum sempat mandi. Semua ini gara-gara para hidung belang yang mengganggu Nara dan memuatku emosi, disambung dengan pengumuman pernikahan Pradipta dan Juli. Aku juga berpikir siapa tahu Nara sudah pulang.


Namun nihil. Nara juga tidak pulang ke rumah sampai makan malam tiba. Aku sangat kecewa. Aku merasa seperti ada yang kurang dirumah ini. Apa aku mulai membutuhkan Nara ada dirumah ini? Bagaimana nanti kalau Nada’s Project berhasil dan Nara pergi? Semua pemikiran ini membuatku semakin tidak tenang dan ada sedikit marah.


Setelah makan seadanya, aku memutuskan untuk kembali mencari gadis itu. Aku yakin dia hanya merasa sakit dan membutuhkan waktu untuk sendiri. Nada yang kuat dan bertekad baja masih berada di tubuh Nara. Dia akan kembali ke rumah ini. Setelah ini, yang harus aku lakukan adalah membuatnya sibuk. Sebelum pergi, kusiapkan buku manajemen artis dan kutinggalkan pesan untuk Nara, siapa tahu dia pulang saat aku tidak ada. Nara perlu diberi kesibukan agar tidak terfokus pada rencana pernikahan Pradipta, kemudian depresi. Membaca buku adalah solusi tepat bagi gadis kutu buku yang menggemaskan itu. Dan aku rasa dia juga tidak keberatan.

__ADS_1


Aku pergi ke kediaman Hermawan kembali. Tapi rumah itu masih sepi. Entah kemana penghuinya aku tidak


ingin tahu. Sepertinya, Nara pun tak ada di rumah ini. Kuputuskan untuk kembali berkeliling disekitar kediaman dan sekitar rumah. Semua tempat yang memungkinkan adanya Nara aku datangi, sampai akhirnya aku menyerah lelah dan pulang. Saat kubuka pintu, hatiku menghangat. Kulihat sepetu Nara sudah ada di rak sepatu. Buku yang aku letakkan di meja makan juga sudah tidak ada. Ternyata gadis itu sudah dikamarnya dengan membawa semua buku yang kuminta untuk dipelajarinya. Akupun segera membersihkan diri, lalu menuju kamar Nara untuk berbicara, menanyakan keadaannya. Sesampainya di pintu aku termangu mendengar gumaman Nara. “Kamu siapa M?” Yeah aku sadar, aku memang tidak pernah memberi tahu siapa diriku dana pa keterlibatanku pada hidupmya. Aku tahu Nada luar dalam, namun hanya  sedikit yang Nada tahu. Hanya bagian yang perlu dia tahu.


Huft, akhirnya saat ini tiba. Sepertinya aku harus berbicara dengannya. Aku tidak mau Nara menduga-duga dan akhirnya salah mengerti. Inilah saatnya aku berbicara dengannya tentang aku dan Juli.


Aku melangkahkan kakiku mendekati gadis yang masih bergelung di ranjangnya. Buku yang sudah beberapa halaman dibaca, dibiarkannya di pangkuan. Wajahnya tampak serius. Dahinya berkerinyit pertanda dia berpikir dengan keras, hingga tidak menyadari kehadiranku. Aku tidak mau dia terkaget-kaget dan mencoba membuat suara. Akan tetapi tidak berhasil dan dia tetap bergeming. Aku berdehem dan memanggilnya, tetap menjaga jarak.


“Ehem! Nara,” kataku lembut. Nara tampak terkejut dan bergerak cepat memasang kuda-kuda diatas tempat tidur. Aku yang memang sejak awal sudah menduga hal ini, segera menjauh waspada. Inilah Nada. Refleknya begitu cepat dan lumayan ganas. Aku bahkan sudah beberapa kali menjadi korbanya. Terakir adik tangguh dibawah sana terkena serangan mematikan yang membuatku merasakah ngilu seharian penuh. Untunglah si adik benar-benar tangguh hingga efek serangan Nara tidak sampai membuatnya loyo sepanjang masa. Kali ini, Aku tidak mau Mahardika junior kembali menjadi korban, dan aku kehilangan aset berhargaku.


“Mahardika?” katanya menghembuskan nafas lega. Dia menurunkan tangannya dan melepas kuda-kuda. Nara


kembali duduk ditempat tidur dan memandangku dengan sorot mata yang memunculkan banyak pertanyaan.


“Aku tahu Nara, aku tahu. Aku akan jelaskan semuanya. Tapi sebelumnya, ceritakan padaku, kemana saja kamu siang sampai malam tadi? Apakah kamu sudah makan malam?” kataku penasaran.


“Masih ingat isi perjanjian kita Nara?” kataku mengingatkan.


“Huft iya-iya, harus menurut apapun itu,” kata Nara sambil cemberut lucu. “Aku tadi ke kediaman Hermawan,” kata Nara.


“No! tidak mungkin. Hari ini tidak ada siapa-siapa dirumah itu. Dan aku sudah kesana  tadi,” kataku menuntut kejujurannya. Sebenarnya aku tidak melihat kebohongan di sinar matanya, jadi aku masih bingung.


“Aku kesana M. Tapi tidak masuk. Aku hanya duduk di gardu dan memandangi rumah itu dari jauh,  sampai Pradipta dan Juli pulang. Mereka tidak sopan sekali. Mereka making love di mobil, di jalanan, saat parker didepan rumah!” kata Nara setengah berteriak frustasi dan jijik. Yah, banyak orang biasa dengan hal seperti ini. Banyak yang

__ADS_1


melakukannya. Namun bukan Nara dengan otak polosnya.


“Lalu, apa yang terjadi? Memangnya mereka ngapain Nara? Masa bisa Making love di mobil. Hayo kamu sengaja lihat ya,” godaku. Nara hanya menggeleng sambil cemberut. Sebuah cubita dalam mendarat di lenganku. Sungguh pedih dan perih. .


“Aku jijik. Aku cuma tahu, Juli di pangkuan Pradipta naik turun, lonjak lonjak begitu. Mereka ciuman, trus kepalanya Pradipta ada didada Juli.  Ya menurutku mereka sedang doing *** lah. Soalnya saat Pradipta turun celananya terbuka. Trus baju atasnya Juli juga terbuka.  Ah sudahlah, kenapa jadi mebahas ini.  Aku sbeneran Jijik M. aku


menangis lalu pulang. Tapi aku sudah mulai membaca bukunya kok,” katanya lirih.


“Kamu masih marah, cemburu, melihat Pradipta dan Juli berdua? Masih sakit sekali Nara?" kataku hati hati.


"Marah? Ehm, tidak sih.  Cemburu? ehm kok sepertinya bukan ya? Sakit hati mungkin iya karena mereka begitu tega sama Nada. Ah tidak tahu ... bingung," kata Nara sambil menggelengkan kepala. Ternyata kami mengalami hal yang sama, bukan marah atau cemburu tetapi sakit hati lebih tepatnya.


"Oke, sebagiknya lanjutkan membacanya ya,” kataku sambil mengusap puncak kepalanya.


“No,!  M, kamu berjanji akan memberitahuku tentang Juli dan kamu kan?” kata Nara sambil berkernyit. Dia memegang tanganku seolah tidak mengijinkanku beranjak. Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan tiga buah foto dari sana.


“Ini fotoku dan Juli saat kami sama sama di sekolah dasar. Ini foto aku, Juli dan agusta. Ya Juli adalah kakak perempuan Agusta. Ini fotoku bersama Juli saat aku kuliah. Kami dibesarkan bersama oleh papanya Juli, sampai beliau meninggal. Saat kuliah aku dan Juli sangat dekat, lebih dekat dari pada aku dan Agusta. Sampai akhirnya  aku sangat sibuk dengan kuliah dan bisnisku, tidak punya banyak waktu untuk Juli. Aku hanya memastikan kebutuhan Juli dan Agusta terpenuhi, hingga aku harus bekerja keras. Aku yang menjaga mereka sejak papa meninggal,” kataku membuat jeda untuk bernafas.  Nara diam dan mendengarkan aku dengan serius.


“Sampai akhirnya akudengar Juli patah hati dan dipermainkan oleh seorang laki-laki. Namun sudah terlambat. Juli sudah pergi untuk menenangkan diri.  Menurut Agusta, saat itu Juli sedang di Singapura dengan temannya bernama Pipit.  Juli sedang frustasi karena dikhianati kekasihnya. Padahal Juli sudah menyerahkan diri sepenuhnya pada laki-laki brengsek yang hanya ingin mempermainkan Juli. Saat itu aku baru sadar, kalau hanya aku yang menganggap Juli kekasihku. Sedangkan Juli tidak pernah menganggapku sebagai kekasihnya. Dulu Juli mengatakan aku kekasihnya, demi melindungi dirinya dari gangguan para hidung belang,” kataku sambil menerawang.


“Jadi Pipit yang mengenalkan Juli pada Pradipta? Jadi Juli memanfaatkan Pipit untuk menggoda Pradipta?” tanya Nara pelan.


“Mungkin tidak secara langsung. Juli dan Pipit sering bermain bersama, berburu laki-laki beruang untuk menjadi teman bersenang-senang. Yang aku tahu, Juli  sering berkunjung ke rumah Pipit,” kataku perlahan. Aku tahu, Nara sedang dalam mode cemburu. Jadi lebih baik aku tidak mencoba membela Juli didepannya. Meskipun aku yakin kalau Juli tidak terlalu bersalah disini. Dia hanya ingin bersenang-senang dengan masa mudanya. Salahnya dia adalh bertemu dengan Pradipta, bajingan tengik mesum.

__ADS_1


“Seminggu setelah itu, aku dengar, Juli sudah berpacaran dengan kakaknya Pipit, bernama Pradipta. Dari sanalah aku mencoba mencari tahu laki-laki mana yang berani menyakiti Juli. Dan laki-laki mana yang berpotensi menyakiti gadis kecilku. Aku harus menghukum siapapun yang membuat gadis kecilku menangis, Juliku,” kataku perlahan. Nara mengangguk dengan tenang.


“Aku menemukan kekasih Juli yang membuat dia menangis dan melarikan diri ke Singapura. Orang yang membuat Juli menyembunyikan diri di apartemen Pradipta dan memberikan balasan setimpal. Gara-gara bajingan itu, Juli bertemu intens dengan  Pradipta dan terbujuk rayuan laki-laki bajingan itu. Gara-gara rayuan laki-laki yang kau panggil suami itu, Juliku berubah,” kataku dengan emosi.


__ADS_2