
Seminggu setelah pernikahanku dengan Maria, semua berjalan normal. Ibu dan Maria masih dirumah sakit. Hanya aku yang bolak-balik rumah dan rumah sakit. Untuk membersihkan rumah, aku membayar tetangga yang memang pekerjaannya menjadi asisten rumah tangga pulang pergi. Dia juga sekaligus mencuci baju yang aku bawa dari rumah sakit, dan menyiapkan baju untuk kubawa ke rumah sakit. Aku sendiri sudah bekerja normal meski kadang aku kerjakan dirumah sakit. Keadaan ibu? Terlihat membaik namun justru membuat para dokter kuatir. Berdasarkan hasil laboratorium, keadaan ibu masih belum menunjukan kearah perbaikan, namun secara penampilan ibu terlihat ceria dan segar.Hal ini membuat Ibu setiap hari merengek minta pulang.
Siang ini aku menemani, atau lebih tepatnya memaksa Maria untuk memeriksakan kandungannya. Kami mendaftar seperti pasangan pada umumnya. Saat giliran kami, Maria sempat hanya diam saja. Dia belum merasa menjadi Ny. Januaria, sementara aku sedang ke kamar mandi. Untung di panggilan ketiga aku sudah berada disana. Segera kutarik tangan Maria masuk keruang pemeriksaan. Saat dilakukan USG, dadaku berdegub kencang melihat pada
layar kencang. Ada rasa haru dan bahagia di hatiku. Aku tahu, keputusanku tidak salah. Kini aku menjadi seorang Papa.
“hai papa, mama, ini kami ,” kata dokter wanita berwajah cantik didepanku.
“Kami?” kataku dan Maria bersama sama.
“Iya kami. Menurut saya, Ibu Januaria mengandung bayi kembar. Selamat ya,” kata dokter. Aku dan Maria
saling pandang dan tersenyum. Kugenggam tangan Maria yang masih tiduran di tempat pemeriksaan.
“Laki-laki atau perempuan dok?” tanyaku.
“Ya belum keliatan pak. Baru juga enam minggu, sabar ya. Yang penting bayi dan ibunya sekarang sehat. Ibu jangan stress ya. Banyak makan. ” kata dokter. Oke lah, berita anak-anak dan istriku sehat sudah membahagiakanku. 'Aku akan menjadi Papa!' Teriakku dalam hati.
Sejak pulang dari dokter kandungan, aku sering senyum senyum sendiri, membayangkan akan bermain dengan sepasang anak kecil yang lucu. Setiap kali mengingat hal itu, hatiku terasa menghangat. Memikliki anak
__ADS_1
ternyata sedasyat ini rassanya.
Saat melihat Maria dan Ibu sedang membicarakan perkembangan bayi dan persiapan melahirkan. Perasaanku Kembali menghangat. Kedua Wanita itu tampak antusias dan Bahagia saat membicarakan si kembar. Bahkan ibu dengan semangat mengatakan ingin pulang agar bisa merawat dan kandungannya. Sebuah permintaan yang langsung kami tolak mentah-mentah. Sampai saat ini, ibu masih sangat bergantung dengan beberapa alat yang ada di rumahg sakit. Bahkan menurut dokter, mereka tidak yakin ibu akan bertahan jika alat bantu pernafasan itu dilepas. Pada akhirnya Maria yang mengalah dengan tetap tinggal di rumah sakit. Aku mengatur ruangan VIP rumah sakit itu agar nyaman ditinggali oleh Maria yang sedang hamil. Itulah mengapa, Maria dan Ibu sudah menjadikan ruangan ini sebagai rumah kedua mereka, beberapa bulan belakangan. Aku yang selalu bolak balik untuk mengurus semua keperluan rumah, keperluan Maria dan Ibu serta pekerjaanku. Aku sebisa mungkin mengerjaan pekerjaanku dari kamar ini juga.
Sore itu, aku menemani Ibu dan Maria di rumah sakit. Aku yang belum tidur setelah semalaman mengatasi serangan pada server bisnis kami, memerlukan segelas kopi agar lebih segar. Maria yang menyadari itu, menawarkan untuk membeli kopi di kantin. Sebenarnyaaku ingin pergi sendiri dan membelinya di kantin. Namun Maria berkeras lebih baik dia yang membeli. Aku sudah terlalu Lelah untuk bergerak kata Maria. Saat dia menyebutkan bahwa dia istriku yang seharusnya merawatku, akupun mengalah dan mengijinkan dia untuk pergi.
Saat aku sedang mengupas apel untuk ibu, aku dikagetkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar dan terburu-buru. Maria pelakuknya. Setelah pintu terbuka, Maria masuk tergopoh-gopoh. Bahkan tadi sekilas kulihat, dia mendorong pintunya dengan menggunakan perutnya. Sesuatu yang membuatku tidak suka dan mual, Kulihat Maria yang masuk dengan wajah pucat pasi dan tanpa kopi ditangannya.
“Hai, Maria …. Bukankah aku sudah mengingatkanmu. Jaga kansunganmu. Jangan sampai terbentur, jangan lari-lari. Ingat kamu sedang mengandung anak kita,” tegurku. “Duduklah.”
Gadis itu melakukan apa yang aku minta dengan cepat. Aku mengambil segelas air putih dari atas
nakas dan memberikan pada Maria. “Minumlah.” Ibu yang ada disampingku menarik
terus memandangi wajah putrinya. Sudah beberapa hari ibu seperti ini. Akupun
tidak tahu mengapa. Setiap kali aku bertanya, ibu hanya menjawab dengan
gelengan kepala. Hanya tadi pagi ibu bergumam tentang firasat buruk yang akan
__ADS_1
terjadi pada Maria. Aku meyakinkan Ibu bahwa semua akan baik baik saja. Sejenak aku tersadar dari lamunan dan Kembali fokus pada Maria.
“A … ku … akau tadi ketemu …,” kata Maria terbata bata , gugup, meski nafasnya sudah mulai teratur. Aku mengernyit tanda tidak mengerti. Nafas Maria yang memburu, perlahan mulai tenang, namun masih terlihat ketakutan.
“Tenang Maria, tenang.” Kataku perlahan. “Kamu kenapa? Ketemu apa atau siapa?”
“Itu… anu… diluar aku bertemu dengan anu, eh itu, aku ketemu dengan Jerry, istrinya dan Gerald.,” kata Maria dengan wajah ketakutan HAH! Dua bajingan itu sudah berani muncul rupanya. “Aku mendengar Jerry mengatakan perempuan disebelahnya sebagai istrinya. Aku tidak sengaja bertemu dengan mereka,”
“Dimana? Trus kenapa kamu ketakutan?” kataku masih dengan lembut.
“Tadi saat aku sedang memesan kopi, mereka bertiga datang ke kantin dan memesan ditempat aku membeli kopi. Awalnya mereka tidak menyadari kehadiranku disana. Namun kemudian Jerry melihatku. Dia sepertinya terkejut
melihatku disana langsung menjatuhkan kopinya dan menyiram kaki Gerald. Saat itulah mereka mulai rebut dan mulai memandangku. Gerald menyadari kalua aku hamil. Aku sebenarnya iongin segera lari dan menghilang. Tapi kakiku terasa berat. Aku seprti kaku tidak bisa bergerak. Apalagi saat Jerry menghampirili dan bertanya banyak hal,” kata Maria dengan wajah pucatnya.
“Bertanya?” tanyaku.
“Iya, dia bertanya banyak hal tapi aku benar-benar tidak bisa memahami dia bicara apa. Aku baru tersadar saat Jerry bertanya tentang anak didalam perutku, apakah ini anak dia?” kata Maria.
“Lalu?” tanyaku berusaha sabar.
__ADS_1
“Aku begitu tersadar langsung berlari kesini. Aku takut Janu. Aku takut mereka mengira aku menyalahi perjanjian dengan sengaja bertemu. Aku takut dia akan mencelekai anakku. Aku takut dia akan mengambil anak ini,” kata Maria, sambal memeluk posesif perutnya sendiri, seolah tak mengijinkan seorangpun mengganggu perutnya, atau lebih tepatnya janin didalam perutnya. Kurengkuh Wanita didepanku ini kedalam pelukanku. Badannya gemetar menjadi penanda betapa dia sangat ketakutan. Sekilas aku teringat pada Ibu dan menengok kearah tempat tidur. Aku langsung melotot melihat keadaan Ibu yang tersengal sengal sambal memegangi jantungnya.
“Maria, Ibu…,” kataku, membuat badan Maria menegang. Dia segera melepaskan diridari pelukanku dan berlari kearah ibu yang tampak kepayahan. Aku segera memanggil dokter dan perawat. Tak lama kemudian Dokter dan perawat tampak menangani Ibu yang kolaps. Maria langsung terduduk di sofa, berulang kali mengatakan maaf. Aku katakan bahwa ini bukan salah nya. Ini salah laki-laki bajingan itu.