Nada Nara

Nada Nara
Bab 48 Aku tak Ingin Dia Terluka


__ADS_3

POV NARA


Pagi ini aku masih menikmati teh ku sambil menunggu Mahardika bangun. Sepertinya laki-laki itu sangat lelah hingga kebiasaan bangun paginya berubah pagi ini. Disinilah aku sekarang, duduk di pinggir jendela menikmati langit jingga menyambut sang mentari. Aku kembali teringat pada pembicaraan kami semalam.


Flash Back On


“Sudahlah.  Intinya aku tahu siapa kamu, Juli dan Pradipta dengan sangat baik. Kami tahu kalian sampai sekecil-kecilnya. Setelah kita hidup bersama, aku makin tahu tentang kamu, Pradipta dan Juli,” potong M sebelum aku menyanggahnya lebih lanjut.


“Ini adalah fotoku dengan Juli dan Agusta,” Kata M melanjutkan cerita, sambil menunjukan foto mereka bertiga. Dia sepertinya ingin aku memahami posisi dia diantara Juli dan keluarganya. Instingku mengatakan bahwa M ingin aku paham mengapa dia melibatkan diri dengan hubungan Juli, Pradipta dan aku. Apa M ingin aku memaklumi perbuatannya memanfaatkan kehadiranku? Bagaimanapun, semua usahanya tidak akan berjalan tanpa persetujuanku. Akulah yang menjadi bahan percobaan disini. Akulah yang mengalami semua rasa sakit, yang bahkan M sendiri sejak awal tidak yakin bisa aku tanggung. Aku memandang wajahnya yang terlihat lelah. Aku juga baru tahu bahwa seharian tadi dia mencemaskanku dan mencariku. Ada rasa hangat menjalar di hatiku mengetahui hal itu. Namun semua itu langsung aku tepis. Aku masih istri sah Pradipta. Aku tidak boleh memberikan  celah sekecil apapun bagi hati lain untuk tumbuh disana.


“Sejak kecil kami dekat satu sama lain. Papa selalu menekankan kalau kami bersaudara. Kami harus saling menjaga satu sama lain, apapun yang terjadi. Papa juga berpesan, kalau aku tidak boleh menganggap dia orang lain. Papa adalah papaku meski tidak memiliki darah yang sama. Begitu juga Agusta dan Juli, kami saudara meski tidak sedarah. Itulah yang selalu ditekankan Papa. Bahkan disaat terakir sebelum meninggal, Papa mengajakku bicara tentang hubungan kami. Papa bilang, meskipun dia bukan ayah kandungku, bagi dia aku adalah anak sulungnya. Aku sama dengan Agusta. Dia juga menitipkan Juli dan Agusta jika terjadi apa-apa padanya,”


kenang M. Matanya menerawang. Sekilas aku lihat ada kerlip seperti cahaya yang dipantulkan oleh air di matanya. Apakah M menangis?


“Diantara kami bertiga, Juli paling dimanja. Mungin karena dia perempuan. Apapun permintaannya, akan kami usahakan, agar terpenuhi. Sejak kecil Juli sudah terbiasa, apapun keinginannya, dia akan berjuang untuk mendapatkannya. Itulah Juli. Tidak gampang menyerah,selalu memperjuangkan apa yang diinginkannya sampai dapat, kadang dengan cara tak terduga,” kata M. Aku mengambil foto mereka berdua, Juli dan M. Aku ingin meyakinkan diri dan mencari tahu apakah mereka benar-benar pasangan yang saling jatuh cinta atau tidak.


“Jangan kau ambil! “ kata M dengan cepat dan keras. Dia langsung bertingkah aneh. Dengan wajah marah dia menunjukan ketidak sukaannya padaku yang lancang mengambil foto yang sekarang sudah  disimpannya. Ada aura yang sedikit menakutkan disana. Tidak sering dia melakukan tatapan ini, namun sekalinya melakukan, membuatku merinding. Jika M seperti ini, aku seperti  menghadapi koin mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Sikap dan aura M sangat berbeda.


“Kenapa? Aku takut aku mengetahui yang sebenarnya?” kataku.  Aku ingin  M jujur tentang semuanya. Tak ada lagi yang disembunyikan. Meski nantinya aku kecewa jika mengetahui M hanya memanfaatku untuk membalas dendamnya pada orang yang menyakiti orang yang disayanginya.

__ADS_1


“Itu Juli kan? Apa kalian memiliki hubungan lebih, selain kakak adik? Apakah hubungan kalian berdua spesial?” tanyaku dengan nada tajam memburu. “Kalau dari foto tadi, sepertinya kalian bukan kakak-adik. Feelnya beda.” Aku tahu aku mulai bawa perasaan. Apakah aku cemburu? Kenapa aku sulit mengendalikan rasa dan asa? Aku mungkin curiga tentang niatnya menolongku. Tapi aku tahu M orang baik. Tidak mungkin dia merencanakan Project Nara dibelakangku dan menjebakku untuk tujuan balas dendam. Bagaimanapun aku tetap percaya itu.


Aku melihat M begitu gelisah. Aku sedikit khawatir dengan keadaannya tadi malam. Aku juga sedang menata hatiku yang mulai memiliki debar aneh untuk laki-laki lain selain suamiku. Wajahku terasa panas dan dadaku sedikit sesak. Aku mencoba menarik nafas dalam dan melepaskannya pelan untuk melerai diriku sendiri. Untung M sepertinya mengerti aku karena dia memberi jeda pada ucapannya. Dia terdiam sesaat. Entah apa yang ada dipikirannya. Apa dia sedang memikirkan Juli? Argh! Kenapa  semua laki-laki dalam hidupku hanya memikirkannya? Kataku cemburu.


Apa? Oh, jangan kuatir. Aku tidak menyuarakan semua itu dengan mulutku semalam. Semua itu hanya berputar dalam pikiranku. Tapi ya, dengan diamnya M aku berpikir tentang apa yang dia pikirkan. Aku yakin pikirannya hanya berpusat pada Juli. Mungkinkah dia memikirkanku? Mungkinkah dia memanfaatkanku? Aapakah dia sedang memikirkan rencana balas dendamnya? Lamunanku berakhir saat ada tarikan nafas kasar yang dilakukan M. Aku berusaha mengemballikan konsentrasiku padanya.


“M, jadi kamu beneran kenal baik dengan Juli?” tanyaku lagi.


“Aku sudah mengatakan tadi, kalau kami tumbuh bersama. Kenal? Lebih dari kenal malahan,”  katanya pelan seolah kata-katanya takut melukaiku. Apakah dia sedang menjaga perasaanku? Apakah dia tidak mau aku salah


sangka dan cemburu? Argh! Nara, sadar. Mana mungkin M seperti itu. Kalaupun dia takut aku marah, pasti karena dia takut aku meninggalkan Nada’s Project dan rencananya mendapatkan Juli kembali,  akan gagal. Ayolah


“Aku sebenarnya tidak mau menanyakannya tapi aku penasaran M. Sudah agak lama aku sadar kalau kamu sebenarnya kenal Juli, tidak mungkin tidak. Tapi kamu menyembunyikannya dariku. Padahal kamu tahu pasti kalau Pradipta, Juli dan aku  terkait dalam Nada’s Project. Kita kan sudah sepakat untung saling jujur dan mengatakan apapun, apa adanya selama tentang Nada’s Project,” kataku mencoba mengalah dan memperjelas segala pikiran


yang berputar dikepalaku. Aku berusaha untuk tidak memaksa M mengatakan apa yang tidak ingin dikatakannya. Siapa aku kan? Kenapa M harus jujur padaku kan?


“Aku memang penasaran.tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun,  aku tidak berhak karena semua adalah milikmu. Kamu tidak terhubung dangan kami bertiga. Jadi aku takkan bertanya lagi, hanya berharap  kamu masih mau jujur. Hanya saja, boleh aku bertanya satu hal? “ tanyaku lagi dengan mencoba untuk tidak memaksa. Diapun mengangguk dengan raut tidak suka. Ya,


sepertinya dia tidak suka dengan desakanku. Tentu saja. Siapa aku kan?  Tiba tiba ada aliran listrik yang membuatku terkejut. Tanganku sudah ada dalam genggamannya dan mengalirkan kejutan aneh ke tubuhku. Apa ini? Argh! Ayolah Nara! Kamu istri seorang Pradipta. Jangan berlaku seperti ******! Teriskku dalam hati dan mencoba kembali fokus pada tujuanku, mencari tahu apa maunya M.

__ADS_1


“Kenapa Kamu melakukannya? kenapa kau menolongku?”tanyaku sambil menatap langsung kedalam matanya. Kata orang mata adalah jendela hati. Jika kamu mampu menyelami matanyanya, maka kamu akan tahu isi hatinya. Kamu akan tahu kapan dia jujur atau tidak. Aku mencoba memusatkan kemampuan analisaku saat ini.


Tanpa aku sadari ada desir aneh dihatiku. Aku merasa ada sinyal lain yang dikirimkan matanya padaku. Ada kelembutan dan sesuatu yang asing yang dia kirimkan lewat tatapan matanya. Aku pernah melihat ini, kapan? Aku kembali mencoba mengingatnya. Sekelebat bayangan Pradipta yang memandang Juli saat bermesraan di kamar apartemen itu kembali hadir dikepalaku. Ya tatapan itu mirip dengan tatapan M padaku saat ini. Tapi apa itu? Jantungku berdegup kencang tanpa bisa aku kendalikan. Tanpa sadar, tanganku berusaha mencari pegangan yang bisa menenangkan jantungku. Dan itu adalah telapak tangan besar yang sadang menggenggamku. Kurasakan hembusan nafasnya yang sedikir terdengar berat. Namun kesadaran itu kembali dan aku sedikit menyentakan tanganku untuk melepaskan genggamannya. Diapun seperti juga tersadar setelah diamnya kami tadi.


“Aku mau menjualmu setelah kau jadi cantik.” Katanya.


“Hah? Kamu anggota sidikat jual beli manusia? Tapi kenapa mafia jual beli mau terlibat balas dendam seorang Nada? Kalaupun dijual, rasanya nggak akan laku  sebesar pengeluaranmu untukku. Haish, kamu tidak masuk akal M,” kataku. Dikepalaku kembali berputar hal-hal yang mengerikan seperti yang aku lihat di film-film. Aku pandangi wajahnya yang tampan. Ya dia memang sedikit seperti mafia-mafia di film. Apakah dia benar-benar anggota mafia yang menjual belikan wanita cantik? Tapi, kalaupun begitu, memangnya aku laku berapa? Biaya operasi yang dia keluarkan untuk makeover diriku ini luar biasa banyak. Dan rasanya aku tidak mungkin dia jual sebanyak itu. Atau dia berencana menjualku pada pria-pria hidung belang, sampai hutangku terbayarkan. OH, NO! khayalan macam apa itu Nara. Tidak mungkin M seperti itu. Kataku mencoba mengusir kehaluan yang menyerang otakku tadi. Aku


menggelengkan kepalaku dan menghentakan kakiku kesal, mengusir kebodohan yang menyerang otakku. Aku lihat M tersenyum geli. Pasti dia mentertawakan ide konyol yang menyerang otakku tadi. Huft, kenapa ya laki-laki ini selalu bisa membaca pikiranku.


“Lho kan kamu yang bertanya,” katanya mengedipkan sebelah mata. Nah betulkan, dia pasti mentertawakan apa  yang aku pikirkan. Ini sangat menyebalkan bagiku. Aku memukul bahunya dengan penuh tenaga. Hasilnya? Tanganku yang terasa sakit dan dia malah tertawa geli.


“Ish Tak masuk akal! Pasti Juli alasannya. Itu baru masuk akal. Kenapa? Apakah dia menyakitimu? “ tanyaku lagi  dengan masih penasaran.  Aku mencoba mengalihkan wajah konyol yang mentertawakan pikiran anehku dengan menggodanya.


“Hayo ngaku!” kataku memasang muka serius. Dia menghela nafas panjang. Wuah! Sepertinya dia terpancing


untuk mengatakan yang sebenarnya. Ini kesempatanku untuk mengetahui laki-laki yang bisa membuatku merasa nyaman ini.


“Juli dirampas dariku!” katanya pelan. Ups! Maaf. Aku sepertinya kembali membuka luka yang dalam dihatinya. Aku tidak bermaksud membuka sakit yang ada di hati M. Sungguh, aku menyesal jika akhir dari semua kekepoanku ini, membuat M terluka. Aku menyayanginya. Ups, maksudku, aku menyayanginya sebagai sahabat yang berhutang budi padanya. Jangan salah sangka.  Tapi saat ini dia mau membuka cerita. Dan ini adalah kesempatanku untuk tahu tentang dia. Argh! Aku benar-benar bingung sekarang.

__ADS_1


__ADS_2