Nada Nara

Nada Nara
Bab 59. Melihatnya Terluka (Bagian 2)


__ADS_3

“Ya Adrian? Kenapa?” tanya Nara.Suara Nara aku dengar diearphoneku, saat aku berlari dari markas sementara menuju ballroom.


“Tidak apa apa nyonya. Senang melihat Nyonya tersenyum tenang sepanjang perjalanan. Nyonya membutuhkannya. Namun sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan saat ini adalah sia-sia. Akan lebih singkat dan lebih baik jika kalian melupakan masa lalu, mengakui  perasaan kalian dengan jujur dan berjalan bersama,” kata Adrian. Wow, omongan macam apa itu?  Aku yakin saat ini muka dingin Adrian masih terpasang, namun senyum jahil juga ada disana. Sebuah kombinasi yang menurutku sangat tidak cocok.


“Apa maksudnya Adrian? Siapa yang kamu maksud kalian? Dan apa maksudnya berjalan bersama?” tanya Nara. Oke, pertanyaan yang sama ada dikepalaku saat itu membuatku berhenti sejenak, karena penasaran menunggu jawaban dari Adrian. Namun bukan jawaban yang aku dengar malah suara pintu mobil yang terbuka dan kembali tertutup. Aku melihat Adrian turun dari mobil dan memberikan kuncinya pada salah satu asisten Adrian yang akan


membantunya memarkirkan mobil.


Sepertinya pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab. Atau mungkin nanti setelah semua selesai, aku akan menanyakan langsung pada Adrian. Aku kembali konsentrasi dengan apa yang terjadi sekarang. Aku kembali memerikasa dan memastikan semua anak buahku sudah siap ditempat masing masing. Aku segera memberikan kode pada semua anak buahku untuk berjaga melindungi Nara.


Banyak wartawan dan photograper menunggu Nara turun. Aku melihat pintu mobil dibuka Adrian. Wajah wanita itu sekilas masih tegang. Dia tampak berkonsentrasi dengan  perannya kali ini. Dikembangkannya senyum anggun yang aku yakin hanyalah sebuah topeng yang menutupi kegugupannya. Nara memang belum terbiasa menjadi pusat perhatiannya. Sebagai Nada dengan kondisi fisiknya dahulu, dia cenderung menyembunyikan diri dan berusaha menghilang dari pandangan orang, yang pada akhirnya membulinya. Meskipun kondisi fisik dia telah berubah 180 derajat dan tidak akan ada yang kembali membulinya, namun semua ketakutan Nada masih melekat pada Nara. Kulihat samar dia menarik nafas panjang dan dihembuskan.


Adrian memberikan tangannya untuk membantu Nara turun. Entah kenapa aku sedikit menggeram tidak suka melihat hal itu. Andrian sempat menggodaku dengan berbisik bahwa tangan Nara begitu lembut. Aku hanya diam dan berdehem membersihkan tenggorokanku yang mendadak merasa kering.


Setelah Nara keluar mobil, Adrian membiarkan Nara berjalan sendiri di karpet merah. Aku meminta Adrian untuk terus mengiringi Nara dengan berjalan di pinggiran karpet, posisi lebih kebelakang. Aku memperhatikan wanita cantik yang hampir setahun belakangan tinggal satu atap denganku. Dia melakukan beberapa pose di backdrop depan, untuk awak media dan Photographer yang berulang kali meneriakan namanya. Ya, usaha kami membuatnya terkenal dan viral sangat memuaskan hasilnya. Dalam waktu seminggu, Nara sudah menjadi perbincangan artis dan model yang cantik, smart dan baik hati.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, aku memerintahkan Adrian untuk membawa Nara memasuki gedung LC dan membawanya ke Ballroom. Aku melihat Pradipta sedang bersama Juli dan seorang produser gaek kenamaan. Mereka tampak sedang berbicara serius, terutama Juli dan sang produser. Pradipta sendiri tampak bosan dengan pembicaraan mereka.


Nara bersama Adrian memasuki ruangan pesta di Ballrom gedung LC yang megah dan besar. Aku harus mengeluarkan effort lebih untuk bisa memasang CCTV yang mengcover semua bagian dari ballroom ini. Ada beberapa hal yang membuatku harus memiliki rekaman dari acara ini. Bukan hanya untuk Nada’s Project. Jadi aku sangat serius dalam merekam kegiatan LC ini.  Dan sepertinya CCTV ini nantinya akan aku buat semi permanen. Juga beberapa kamera yang sempat aku pasang di LC Tower, berkat keberhasilanku menjadi vendor acara LC.


Setelah memasuki pintu, Nara dengan kecantikan dan keanggunannya langsung menyedot perhatian tamu-tamu yang hadir. Baik laki-laki maupun perempuan langsung mengarahkan pandangannya kepada Nara saat dia masuk ke ruang Ball room. Inginrasanya aku congkel mata para bandot tua ganjen yang melotot memandangi Nara. Aku seperti tidak ingin Naraku dipelototi mereka. Ini sangat menyebalkan. Apalagi  Adrian  sempat membisiku dan memandangku dengan muka jahil, yang hanya ditunjukannya padaku dan Papa Shasa.


“Tenang boss! Tahan emosi. Bisa gawat kalau boss emosi lalu melompat dan mencongkel mata para tamu. Bisa dipenjara kita boss,” katanya sambil tertawa.


“Diam kamu. Kerja!” kataku yang disambut dengan tawa kecil yang disembuyikannya dibalik jas.


Kulihat meski Pradipta sudah kembali pada Juli, dia matanya masih berusaha mencari sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Kuarahkan perhatianku untuk melihat ujung dari pendangan sembunyi-sembunyi Pradipta. Sesuai dengan dugaanku, pandangan itu berakhir pada Nara. Ya Nara, yang beberapa kali hampir terjatuh karena gugup. Untung Adrian selalu sigap menopang tubuh wanita cantik ini. Untung aku tahu bahwa dia tidak tertarik pada wanita manapun, hingga kekesalanku melihatnya memegang Nara dengan dekat, bisa aku lerai.


Nara mengangkat kembali kepalanya dan mengedarkan pandangannya menebar senyum yang memiliki magnet luar biasa. Saat matanya  bertemu dengan pandangan sembunyi sembunyi Pradipta, dia terlihat sempoyongan. Aku mendekat dan hampir bisa menyentuhnya tanpa terlihat. Jika tiba-tiba dia pingsan, aku dan Adrian yang berada dikanan kiri Nara, bisa langsung menangkapnya. Aku bisa melihat kaki jenjang Nara yang terlihat dari belakan gaun, bergetar.  Muka cantik dan tertutup make up sempurna juga tampak memucat.Aku sedikit khawatir dengan keadaan Nara. Namun dengan pandangannya, Adrian justru yang melarangku untuk menarik Nara.


“Nara, kamu bisa. Jangan terlihat lemah,” Aku segera membisikan kata-kata dukunganku untuk memberikan kekuatan padanya. Dia mendengarku. Dia mencariku. Aku segera mengambil segelas minuman yang dibawa pelayan didekatku. Minuman yang ada di bakiku sudah habis sejak tadi. Lebih tepatnya, aku memang hanya memegang baki tanpa gelas.

__ADS_1


“Minum Anda nona,” kataku setengah berbisik mendekati Nara.  Wanita itu berbalik dan menerima gelas yang tadi aku sodorkan. Ternyata gelas yang aku ambil tadi berisi wine. Semoga Nara tidak bermasalah dan tidak menghabiskannya. Tatapan mata Nara padaku seperti kagum dan lega. Aku memang tampan bukan? Jadi wajar jika nara terpesona padaku. Dan tatapan lega, mungkin karena dia merasa tidak akan sendiri karena ada aku disana.


"Sst, kenapa kamu terpesona begitu? Kamu jatuh cinta pada pria idaman Mbak Sri? Wajah ini adalah wajah pria khayalan Mbak Sri," kataku bercanda, berusaha memecahkan ketakutan dan kegugupannya tadi. Aku segera menjauh dari Nara dan memberi kode semangat dengan mengepalkan telapak tanganku.


“Ayo Nara, lanjutkan tugasmu. Kamu lebih hebat dari Pradipta, kamu bisa melakukannya. Kamu bisa membuat Pradipta jatuh cinta lagi padamu. Jangan kalah dengan ketakutanmu. Jangan kalah dengan keraguanmu. Seorang Nara pasti mendapatkan apa yang dia mau,” kataku dengan lembut. Aku melihat Nara memejamkan matanya dan tersenyum menguatkan diri. Adrian memberikan kode jempolnya padaku. Perlahan tapi pasti Nara seolah mendapatkan kembali pegangannya untuk berdiri tegak dengan cantik yang elegan. Nara kembali bersinar berkat bisikan laki-laki yang selalu hebat dihatinya, tiba tiba Adrian membisikan itu diearphoneku. Aish, laki-laki ini memang menyebalkan. Tapi anehnya, mengapa aku malah tersenyum sih?


“M, bagaimana kalau dia mengenaliku?” tanya Nara dengan sedikit gemetar.


“Tidak mungkin Nara. Pradipta tidak akan mengenalmu sebagai Nada. Dia akan mencintaimu sebagai Nara,” katak meyakinkan. Nara sepertinya terkena panic attack dan kembali tidak


percaya diri.


“Aku harus berbuat apa M?” bisik Nara. Dia melangkah pelan menyusuri karpet merah menyapa beberapa orang dan mengangguk untuk orang tertentu. Ada beberapa pembesar LC yang dia sudah kenal disaat-saat awal. Nara  seperti berpikir dengan keras. Namun semua tidak lama.


Saat menapaki karpet merah di tengah ballroom, Nara tampak sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian. Anehnya, bukan malah gugup, wanita itu langsung mengangkat kepalanya, tampak rileks. Dia melangkah dengan tenang dan anggun, menampilkan seorang wanita sempurna yang pinta dan sexy. Semua perhatian yang tersedot menuju karpet merah tampaknya membuat Pradipta mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Diarahkan pandangannya ke red karpet, yang menyedot perhatian semua orang. Pandangannya kembali terpaku pada Nara. Dari wajahnya mengatakan bahwa Nara mengingatkan sesuatu dibawah alam sadarnya, meski dia tidak tahu apa. Saat mata mereka bertemu, aku tahu kalau Pradipta mengingat mata itutapi tidak mengenalinya. Jantungku berdegup kencang, menunggu apa yang akan dilakukan Pradipta. Apakah dia akan mengenali Nara sebagai Nada?


__ADS_2