Nada Nara

Nada Nara
BAB 56 Sanggupkah aku menghadapinya tanpa menunjukan rasa cintaku padanya


__ADS_3

Hai-hai


Gimana week endnya? seru? pasti dong. nah gimana kalau week end ini diakhiri dengan kisah Nara dan mahardika yang sedang sibuk merencanakan strategi  "berperang" melawan Pradipta dan Juli. Mumpung aku juga sedang semangat karena perhatian dan apresiasi kalian terhadap tulisan ini. Jangan lupa terus kasih vote, komen dan hadiah ya buat penulis. Biar penulis bisa jajan gorengan dan beli kopi buat teman mengetik.


Selalu sehat selalu bahagia.


Please no bullying nobody shaming,


sebarkan cinta bukan kebencian


SK Sari



Persiapan masuknya Nara di dunia fashion dan keartisan sudah selesai. Bahkan diminggu pertama debutnya, Nara langsung mendapatkan tawaran untuk menjadi model utama sebuah produk kecantikan di Korea dan Thailand. Wajahnya juga langsung viral bersama dengan produk yang dibintanginya. Semua orang memuji kecantikan dan keramahan Nara, seolah-olah gadis itu memang sudah lama di dunia model dan menjadi populer saat ini. Tentu


semua itu berkat Mahardika dan timnya yang begitu piawai dalam melakukan kampanye media dan marketing komunikasi, mengangkat nama Nara. Dengan piawainya, tim Mahardika berhasil memasukan berita tentang Nara sejak setahun belakangan, tanpa ada yang curiga.


Selama seminggu setelah iklannya keluar Nara mendapatkan banyak tawaran untuk main film di Korea, thailand Philiphina dan Indonesia. Berkat ketelitian dan kepandaian Mahardika, Nara bisa memilih tawaran mana yang menguntungkan baginya, tanpa membuat pihak yang ditolak sakit hati. Nara juga selalu ramah kepada setiap orang yang menyapanya, dimanapun dia berada. Banyak hal yang dilakukan Nara, tertangkap kamera dan menjadi viral.


Kenyataan ini tentu saja didengar oleh manajemen LC. Tentu saja ada peran Mahardika dan timnya agar pihak pembuat keputusan LC mengetahui semua berita tentang Nara. Itulah mengapa Nara mendapat undangan dalam pesta amal peluncuran Studio digital terlengkap LC yang akan mengembangkan siaran digital dan film animasi 4D. Beberapa kali Mahardika dan Nara diundang bertemu dengan petinggi LC namun belum pernah terpenuhi. Benar jika data dan portofolio Nara sudah  pernah dimasukan ke database LC. Namun untuk memenuhi panggilan dari beberapa pimpinan tertinggi, Mahardika menahannya.


“Kenapa? Bukannya kamu ingin aku masuk ke perusahaan mereka dan menjadi model utama LC. Bukankah ini


yang kamu inginkan? Bukankah ini bisa menjadi batu loncatan kita?” tanya Nara.


“Benar Nara, kita memang ingin masuk kesana. Tapi kita akan membuat mereka mengemis untuk mendapatkanmu dan akan mempertahankanmu di posisi teratas, karena mereka menganggap kamu berharga dan sulit didapat. Kalau kita terlalu mudah didapat dan memohon-mohon, maka mereka juga akan merendahkan kita dan memandang kita biasa. Ini hanya masalah strategi dan membentuk pandangan serta sikap seseorang kepada kita lewat cara kita berkomunikasi dengan mereka,” kata Mahardika.


“Tetapi kalau mereka menganggap kita sombong dan memutuskan untuk tidak memakai kita bagaimana?” tanya Nara khawatir.  “Tenang, kita ini   seprti main layangan sekarang. Saat seperti ini, kita menjaga jarak namun tetap

__ADS_1


menjaga hubungan. Jangan sombong dan kasar pada mereka. Kita hanya ingin melihat bahwa kita berharga tanpa menjatuhkan siapapun terutama mareka. Namun saat mereka menjauh kita yang akan menempel dan menunjukan kita ada,” kata Mahardika   sambil tersenyum. Nara tahu, sehebat itulah Mahardika dalam hal strategi marketing komunikasi.  Dia bertanya bukan meragukan kepintaran Mahardika. Dia hanya takut Nada’s Project gagal karena


dirinya.


“Ini ada undangan untuk pesta terbatas mereka. Kalau yang ini tidak boleh disia siakan. Kamu  harus datang dan membuat para petinggi LC memperhatikan kamu. Dalam pesta itu, Pradipta dan Juli pasti ada. Ini saatnya kamu menebarkan jaring laba laba kamu pada Pradipta. Ingat, kamu harus bekerja cepat mendapatkan Pradipta karena waktu kita dua bulan saja,” kata Mahardika. Nara kembali tercenung. Dia sadar bahwa ini adalah saat yang dia tunggu. Bertemu dengan suaminya kembali setelah hampir satu tahun tidak bersama. Ia akan melihat dan berbicara dengan laki-laki yang memiliki hatinya, meski hati laki-laki itu milik orang lain. Meski laki-laki itu menganggapnya sudah tidak ada, sudah mati.


“Sanggupkah aku menghadapinya tanpa menunjukan rasa cintaku padanya? Sanggupkah aku menjadi orang lain didepan suamiku sendiri?” gumam Nada sangat pelan, namun masih didengar oleh Mahardika yang memiliki telinga sangat tajam.


Mahardika sadar bahwa merubah kepribadian 180 derajat sangat tidak mudah. Apalagi jika dia mengalami trauma yang mendalam. Namun Mahardika tidak mau perjuangan mereka sia-sia karena ketidak percayaan diri Nara. Menurut Mahardika, kecerdasan Nara bisa membuat wanita cantik itu berakting jika mau dan percaya diri. Menaklukan laki-laki buaya seperti Pradipta akan sangat mudah bagi Nara, itu menurut Mahardika. Masalahnya adalah rasa tidak percaya diri yang muncul bukan pada tempatnya.


“Nara, semua ini hanya masalah percaya diri atau tidak. Aku yakin sekali, setelah melihatmu, pasti Pradipta akan tergila-gila padamu. Tidak ada laki-laki yang tidak jatuh cinta padamu,” kata Mahardika.


“Jadi kamu juga jatuh cinta padaku?” tanya Nara dengan polos, membalas kalimat Mahardika dengan logikanya. “Kamu laki-laki dan kamu melihatku.”


“Haish, itu beda Nara!” kata Mahardika dengan suara tertahan. Tak urung muka Mahardika merah mendengar pertanyaan polos Nara.


“Maksudnya? Tapi baguslah kalau kamu tidak jatuh cinta padaku. Kamu sahabat terbaikku dan aku wanita bersuami. Kamu tidak boleh jatuh cinta padaku,” kata Nara  dengan muka serius. Tanpa keduanya sadari, saat Nara mengatakan itu, keduanya merasa ada nyeri yang tak bisa diartikan di dada mereka.


“Yes! Kita akan memilih beberapa project dengan mereka yang benar-benar penting dan melibatkan pembesar LC. Besok malam, kamu akan hadir di pesta LC dan menemui Pradipta. Ingat, kamu juga harus tarik ulur. Jangan terlalu mengejar namun juga harus mengejar,” kata Mahardika.


“Bagimana… bagaimana? Jangan terlalu mengejar namun harus mengejar itu maksudnya bagaimana ya?” tana Nara bingung.


“Maksudnya, kamu harus menggoda Pradipta dengan elegan, tidak murahan. Sedikit jual mahal “namun menangkap mangsa,” kata Mahardika.


“Bagaimana caranya?” tanya Nara.


“Banyak yang mengejar Pradipta dan melemparkan diri mereka ke pelukan Pradipta dengan cara yang benar-benar murahan. Namun Pradipta todak tergoda. Dia masih fokus dengan Juli. Para wanita tidak tahu kalau laki-laki tidak suka diburu. Laki-laki dan egonya harus menjadi pemburu, dan itu sangat dipahami Juli. Besok malam, kamu akan tampil elegan namun sederhana. Tetap berkelas tanpa harus berlebihan. Tunjukan dirimu dengan baik didepan Pradipta. Buat laki-laki itu melihatmu lalu jaga jarak dengan dia. Goda dia dengan mata dan isi kepalamu, bukan dengan rayuan murahan dan tubuhmu. Namun tetap tunjukan keseksianmu dengan cara berkelas. Mungkin gaya Nada yang malu-malu, smart ditambah kecantikanmu sekarang dan percaya diri akan menjadi perpaduan yang baik. Jagalah agar kamu selalu berada dalam jarak pandang dan perhatian Pradipta,” kata Mahardika.


“Oke aku mengerti. Sepertinya tidak terlalu sulit. Akan sangat sulit kalau aku harus merayu dan menggoda Pradipta seperti wanita-wanita penggoda itu. Aku tidak bisa,” kata Nara.

__ADS_1


“Jadi diri sendiri lebih baik, karena kalau kamu berbohong dan berpura-pura, suatu saat kamu akan terjebak dengan kepura-puraanmu. Ingat, Pradipta dan Juli bukan  orang bodoh. Jadi kamu juga harus berhati-hati dalam menunjukan jati dirimu. Ada saatnya nanti kamu membuka diri sebagai Nada, tetapi bukan sekarang,” kata Mahardika. “Sesuai prinsip PR saja, tidak berbohong hanya mengatur apa dan bagaimana orang memandang kita.”


“Siap bos!” kata Nara.


“Oh iya, untuk baju, sudah aku siapkan, bersama MUA yang kemarin kita pakai untuk pemotretan. Besok sore mereka akan datang kesini,”  Kata Mahardika lagi.


“Apa tidak terlalu mahal ya M. Sebaiknya aku make up sendiri saja. Dan Bajunya jangan terlalu mahal,” kata Nara sendu.


“Memang kenapa?” tanya Mahardika gemas.


“Ya aku tahu, berapa bayaran MUA yang kemarin. Dan baju yang kemarin digunakan pemotretan


juga sangat mahal. Kita pakai saja itu,” kata Nara.


“Lalu, kenapa kalau mahal?” tanya Mahardika lagi.


“Ish! Kamu! Kalau mahal, nanti uangmu habis. Lagian aku makin lama untuk bisa melunasi semua hutangku


pada kamu,” kata Nara memandang Mahardika dengan pandangan khawatir.


“Hem, begitu ya. Memangnya kamu yakin bisa membayar hutangmu yang sudah sangat bertumpuk ini?” kata Mahardika. Nara tampak mengambil smartphonenya dan membuka sebuah Aplikasi. Dia memandangi deretan angka disana.


“Hah kamu mencatat apa?” tanya Mahardika.


“Pengeluaranku selama menjalani Nada’s Project. Kan aku berjanji akan mengganti semuanya. Ya                    meski perhiasan dan surat berhargaku kemarin sama sekali tidak artinya. Hanya bisa menutup sedikit biaya hidup. Untuk operasi dan wardrobe lapangan aku sulit menghitungnya,” kata Nara dengan wajah sedih. Mahardika menarik nafas kasar.


“Huft, memang menurutmu berapa hutangmu padaku?” tanyanya dengan sinis. Ya Nara sangat tahu bahwa apa yang diberikan kepada Mahardika, hanya mengcover pengeluaran tidak sampai 10%.


“Ini sudah milyaran kalau di catatanku M, itupun sudah dip  otong dengan aset dan perhiasan yang aku bawa kemarin. Sabar ya M, begitu urusan ini selesai aku akan fokus membayar hutangku. Aku akan bekerja keras, lalu menyewa kamar kost saja. Semua gajiku 80% aku berikan padamu. Aku tahu, pasti sekarang tabunganmu sudah habis karenaku. Maaf,” kata Nara.

__ADS_1


“Nah itu tahu kalau kamu tidak bisa membayarku. Tapi kamu membuatku punya ide. Kamu akan melihat berapa hutang kamu yang harus kamu bayar nanti. Bersiap siaplah untuk kerja padaku seumur hidupmu Nara,” kata Mahardika dengan senyum liciknya.  Sedangkan Nara yang berpikir serius tentang masalah keuangan ini hanya mengangguk dan mengerutkan keningnya,  Tampang Nara yang serius dan polos itu membuat Mahardika gemas ingin mencubit pipinya. Sedangkan bibir merah alami Nara yang dari tadi bergerak gerak seperti sedang menghitung dan mengatakan sesuatu membuat Mahardika gemas ingin menciumnya. Eh, maaf bukan. Maksudnya ingin mencubit bibirnya. Batin Mahardika mencoba membetulkan pikirannya sendiri.


__ADS_2