Nada Nara

Nada Nara
BAB 17 Perubahan 'beauty is pain’ Disayat, Dihancurkan, disedot dan dibius (bagian 3)


__ADS_3

Hari ini aku dan Mahardika sampai di Korea. Negeri indah yang banyak menjadi tujuan wisata impian bagi para penggemar drakor. Tetapi bukan tujuan yang indah dan menyenangkan bagiku. Disini aku bukan untuk jalan-jalan atau ketemu BTS, EXO, superjunior dan oppa oppa korea. Aku disini akan fokus pada Mahardika. Maksudku pada karya dan kerja keras Mahardika.  Disinilah aku memulai transformasi Nada menjadi Nara. Mahardika sudah menyelesaikan tahap persiapan, merencanakan, merekonstruksi ulang tubuh dan wajahku menjadi wanita sempurna versi Mahardika.


Aku sendiri sudah sangat siap lahir dan batin. Sudah banyak buku tentang bedah plastik yang aku baca dan pelajari, lengkap dengan konsekwensinya. Aku sudah tahu, jika tidak dilakukan dengan prosedur yang benar, operasi plastik yang sebentar lagi aku jalani ini, dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap tubuhku nanti. Sebuah keadaan yang bisa jadi akan kuderita seumur hidupku. Efek keluhan yang sering terjadi setelah operasi adalah pembengkakan, mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri pada bagian tubuh tertentu.


Operasi plastik juga bisa menimbulkan reaksi alergi, baik alergi terhadap obat yang dimasukkan ketubuh, atau alergi terhadap alat-alat operasi yang digunakan. Untungnya, yang kutahu, tak ada riwayat alergi yang pernah menghampiriku. Jadi aku sedikit bisa bernafas lega atas reaksi yang katanya sangat menyiksa ini.


Yang namanya operasi, tentu saja melibatkan pisau, dilakukan sayatan, pemotongan, pengurangan dan sebagainya. Tentu akan terjadi bekas luka yang tidak sedikit, jika berbicara mengubah bentuk, menjadikan seekor gajah menjadi merak yang cantik.  Dalam prosesnya, dokter harus membedah dan menjahit kembali bagian yang disayat. Jika prosedur tidak dilakukan dengan benar, bekas jahitan tersebut dapat meninggalkan bekas. Selain itu kekawatiran lain, menurut artikel yang kubaca, adalah terjadinya infeksi pada bagian yang dioperasi. Dan aku yakin, untuk menghindari ini aku harus mengkonsumsi antibiotik secara terus menerus. Sedangkan aku juga tahu, bahwa antibiotik tidak boleh dikonsumsi dalam waktu lama, karena akan mempengaruhi dan bisa merusak fungsi bagian tubuh.


Sebagai manusia, jika disayat,  aku pasti akan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Darahku yang bukan berwarna biru, tapi masih merah ini, akan banyat ditumpahkan dalam proses rekonstruksi dan bedah plastik untuk


merubah Nada menjadi Nara. Bisa saja aku akan mengalami kehabisan darah atau kehabisan cairan. Walaupun aku percaya, Mahardika tidak akan membiarkan itu  terjadi.


Ya aku tahu, Mahardika menjagaku. Dan aku tahu Mahardika telah membuat konstruksi ideal seorang Nara. Dia telah berhari-hari begadang hanya untuk memberikan nyawa pada Naranya melalui Nada. Dia membuat blueprint lengkap dengan dimensi dan ukuran mendetail, demi keberhasilan project dan keselamatanku. Namun Mahardika seorang arsitek. Dia membutuhkan seorang konstruktor untuk mewujudkan rancangannya. Dalahm hal kasusku adalah dokter bedah plastic yang akan mengoperasiku.  Namun jika koordinasi antara ahli rekonstruksi dan dokter pelaksana, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah jika hasil operasi plastik tidak sesuai dengan keinginan. Misalnya, bibir menjadi terlalu tebal, hidung menjadi terlalu besar, dan lain-lain. Bila ini terjadi maka ada kamungkinan dilakukan operasi ulang. Dan itu berarti juga mengulang rasa sakit dan segala kekawatiran akan resikonya.


Hematoma adalah keadaan di mana terjadi pengumpulan darah tidak normal di luar pembuluh darah. Gejala ini biasanya muncul di sekitar area yang dioperasi. Area tersebut akan bengkak dan terlihat kemerahan. Orang awam menyebutnya lebam atau memar. Efek samping ini biasa muncul setelah seseorang melakukan operasi face-lift.


Jadi bisa aku simpulkan bahwa akupun memiliki kemungkinan mengalaminya. Dari yang aku baca, pada kasus tertentu, memar yang timbul bisa cukup besar dan menimbulkan rasa sakit. Ini bisa menghambat aliran darah. Jika hal ini terjadi, maka darah yang terkumpul harus dikeluarkan dengan jarum suntik. Dan ini bisa jadi akan kualami dalam waktu cukup lama dan biaya besar.

__ADS_1


Kerusakan saraf pun juga disebut sebagai salah satu efek samping operasi plastik yang menimbulkan area tubuh atau wajah menjadi kehilangan rasa atau merasakan rasa kebas. Bisa dibayangkan jika kita tidak bisa merasakan apapun di tubuh dan wajah.


Saat melakukan operasi plastik, tentu saja anestesi pun sangat diperlukan untuk menghilangkan kesadaran pasien. Namun, anestesi dapat menimbulkan efek samping operasi plastik juga seperti infeksi paru-paru, stroke, juga kematian atau efek yang disebut delirium. Jika ini terjadi, maka aku akan diwajibkan minum obat tertentu sampai efek itu menghilang.


Setiap ada kesempatan, aku selalu melakukan senam pernafasan untuk menenangkan diri. Bagiku semua ini akan terbayar saat aku kembali memeluk cinta pertamaku. Hari pertama di Korea, aku habiskan untuk menemani Mahardika mempersiapkan segala macam administrasi disebuah rumah sakit khusus operasi plastik di Seul. Klinik ini sangat terkenal diseluruh dunia dan sudah berdiri lebih dari 20 tahun.


Hari kedua aku disibukan dengan berbagai macam tes, seperti tes darah, tekanan darah, ekg dan banyak lagi. Dan dihari ketigalah semua dimulai. Tahap pertama, menurut M sangat sulit dan krusial. Karena yang harus diubah pertama kali adalah tubuhku yang sebesar gajah ini direkontruksikan menjadi tubuh seorang gadis yang ramping dengan ukuran ideal. Sebelum menjalani rangkaian bedah plastik, dokter melakukan banyak pemeriksaan dan pengukuran mempertimbangkan tinggi badan, berat badan, riwayat kesehatan dan BMI ku. Tentu semua dijalani bersama dengan M sebagai ahli rekonstruksi Nada’s Project.


***


Salah satu prosedur sedot lemak menggunakan sinar laser untuk memecah lemak agar lebih mudah dikeluarkan. Pada saat prosedur berlangsung dokter akan memasukkan laser ke dalam tubuh dengan memotong sedikit kulitku. Setelah itu, sinar laser akan mengumpulkan atau menyatukan sisa-sisa lemak yang masih tertinggal. Pada akhirnya, kumpulan sisa lemak tersebut akan dikeluarkan melalui kanula yang berfungsi menyedot lemak. Sayatan pertama di berikan pada tubuh belakan ku.


Setelah selesai proses bagian belakang, para dokter melakukannya lagi pada tubuh bagian depan dengan beberapa sayatan yang berbeda. Mulai dari dada sampai perut. Setelah selesai, menurut Mahardika aku tersadar dari anestesiku dan para dokter sudah cukup lelah. Lemak yang mereka keluarkan juga terlalu banyak sehingga berbahaya jika dipaksakan. Aku sudah banyak kehilangan cairan dan darah.  Jika kehilangan banyak cairan atau darah selama operasi, kemungkinan aku akan memerlukan cairan tambahan melalui intravena. Dan Mahardika tidak menginginkan itu.


Aku mencoba tidak berpikir tentang apa yang terjadi pada tubuhku. Kubayangkan wajah Pradipta yang akan menyambut kepulanganku nanti dengan senyum mesra, seperti yang ditunjukan pada Juli. Itulah mimpi yang kupelihara selama aku tertidur oleh anestesi.


Aku terbangun dalam keadaan badanku terbebat penuh dengan perban elastis dan ketat yang melapisi seluruh badan. Kata Mahardika, perban ini berfungsi mengurangi pembengkakan yang terjadi selama beberapa hari-hari.

__ADS_1


“Nada, apa yang kamu lakukan ini sebenarnya melanggar prosedur, karena melampau batas penyedotan yang biasa dijalankan. Untuk itulah kita melakukannya tidak sekaligus. Kita lihat beberapa hari ini. Jika tidak terdapat efek samping yang berlebihan kita akan melanjutkan ke tempat yang lain sambil menunggu hasil dari daerah tubuh kamu,” kata M sambil menggenggam lembut tanganku. Aku yang masih merasakan tidak nyaman dan nyeri di tubuh hanya bisa diam mengangguk.


Dua hari kemudian M kembali mendatangiku untuk menanyakan keadaanku. Aku bilang kalau aku baik baik saja


dan tidak lagi merasakan sakit. Sebenarnya rasa itu masih ada, namun aku ingin semua cepat selesai. Dokter yang memeriksaku terlihat takjub dengan kemampuanku menahan sakit. Dia bilang jika mau, bisa melakukan tindakan yang sama untuk bagian pantat, paha, kaki dan lenganku.  Aku setuju meski Mahardika sedikit ragu. Bagiku, untuk apa menyimpan sakit lama-lama. Jika bisa aku ingin semua sakit ditumpahkan namun cepat selesai.


Dua hari kemudian, prosedur aser-assisted liposuction kembali kujalani, untuk lengan, pantat, paha dan kaki. Kembali badanku menerima sayatan-sayatan pisau dokter bedah. Kembali tubuhku harus menerima terpaan sinar laser. Kembali bagian-bagian tubuh yang menemaniku sejak kecil ini dihancurkan, disedot dan dibuang. Semua itu demi Cinta pertamaku, Pradipta.


Kali ini aku terbangun dengan seluruh tubuh, tangan dan kaki dibalut dengan perban elastis. Keadaanku saat ini persis seperti mumi dari mesir berukuran besar.  Menurut M, aku harus menjalani ini selama beberapa hari kedepan sampai semua benar-benar sembuh.


“Lalu  aku akan langsung menjadi kurus? Apakah saat perban ini dibuka, tubuhku akan langsung terlihat seperti Juli?” tanyaku dengan polos. M hanya tersenyum sambil menggeleng.


“Sebaiknya kamu makan, biar aku suapi,” kata Mahardika sambil mengambil piring yang ada dimeja. Dia menyuapiku dengantelaten karena kondisiku saat ini belum bisa bergerak bebas. Menurut Mahardika, dia akan menyewa seorang suster yang akan merawatku bergantian dengan dia. Setiap pagi sampai sore, laki-laki itu sering


menghilang entah kemana. Biasanya aku akan makan malam bersama dia di tempat tidurku.


***

__ADS_1


__ADS_2