
POV NARA
Kami membicarakan rencana yang harus kami jalani saat bertemu dengan Pradipta dan Franco nanti. Aku sempat berpikir misi ini ada sedikit perubahan. Aku merasa misi fokus pada kalung Lidya Dirgantara. Tapi M meyakinkan aku bahwa kami tidak melenceng dari tujuan utama. Kalung Lidya Dirgantara memang penting bagi M, namun ini tidak disengaja. Jadi ya kenapa tidak dimanfaatkan untuk alat mendekati Pradipta.
M, Adrian dan henry kompakan menggangguku yang sering gugup menghadapi Pradipta yang dijuluki sebagai titisan Medusa bernama Modusa. Aku menutupi malu dengan cemberut, namun tidak dapat berbuat apa apa. Untunglah Mbak sri dan timnya kemudian datang menyelamatkanku.
“Oke, semetara Nara dan Mbak Sri bersiap siap, kita harus mempersiapkan semuanya. Adrian, kita bicara di kamarku saja karena ada yang harus kita bahas tentang organisasi dan juga projec DD,” kata M yang sempat aku dengar sebelum aku berjalan masuk ke kamar bersama Mbak Sri.
“Oke bos!” kudengar suara Adrian. Setelahnya aku tidak mendengar apa yang dibicarakan tiga laki-laki tampan itu. Aku dan Mbak Sri sibur dengan make up dan gaun indah yang dibelikan M untukku. Gaun lace putih selutut yang terbuat dari kain lembut dan ringan. Gaun ini dihiasi dengan bunga mawar kecil kecil yang indah yang membuat siapaun yang memakainya terlihat anggun dan segar. Sungguh nyaman dan indah. Untuk sepatu, M memilikhkan flatshoes putuh dengan hiasan stip berbentuk rangkaian mawar merah. Tidak lupa aku mengenakan anting earpieceku yang berbentuk seperti keong dari daun telinga sampai ke dalam lubang telingaku.
Setelah semua siap, aku dan Adrian berangkat menuju restoran yang sudah diinformasikan pada kita. Sementara itu Henry berangkat dengan mobil yang berbeda, seolah memang kita tidak berangkat darii rumah yang sama. Sesampainya disana, aku dan Adrian diantar ke ruang privat restoran yang sudah dipesan atas nama LC. Ternyata Pradipta sudah ada di sana. Saat aku datang, dia berdiri menyambutku dan mencium tanganku. Jantungku masih berdebar keras namun aku berusaha mengendalikan diri. Pikiranku kukunci pada kata-kata M yang menyemangatiku. Terbayang wajah lakki Kami berbasa basi sejenak dan kemudian Pradipta menarikan kursi untukku. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan pada Nada.
Dulu, Pradipta selalu duduk lebih dahulu dari Nada, karena perempuan itu selalu sibuk mempersiapkan semua untuk keluarga dan memastikan keluarga suaminya nyaman terlebih dahulu baru dia duduk. Bahkan saat semua makan, Nada sering direpotkan dengan permintaan ibu mertua dan saudara-saudaranya. Belum lagi Nada selalu meladeni dan mengambilkan apapun yang suaminya butuhkan, meski laki-laki itu bisa melakukannya sendiri. Bahkan mungkin jika bisa, Nada akan mengunyahkan makanan untuk Pradipta hingga laki-laki itu tinggal menelan. Pikiranku menerawang pada masa lalu. Baru aku sadari apa yang terjadi dahulu setelah kini aku melihat kehidupan Nada dari kacamata orang lain. Kacamata Nara.
“Ehem, Nara, kenapa melamun? Nara mau minum apa?” Suara Pradipta mengejutkanku. Ditangannya sudah ada sebotol wine yang siap dituangkan di gelaku. Aku langsung menahan tangannya dengan reflek.
“Ehm, Saya sedang tidak minum alkohol,” kataku sambil tersenyum. Kami duduk berhadapan, sementara itu Adrian berdiri tidak jauh dariku. Aku berpaling kepada Adrian,
__ADS_1
“Duduklah Adrian,” kataku dengan lembut. Kulihat Pradipta mengerutkan keningnya.
“Nara, siapa dia?” tanya Pradipta kepadaku.
“Adrian? Dia yang menemani saya,” kataku sambil tersenyum.
“Maksudnya? Menemani Nara?” kata Pradipta dengan nada kurang suka.Aku melirik Adrian yang berdiri tidak jauh dari kami. Aku sangat yakin, meski kami bercakap dengan pelan, Adrian mendengar kalau kami membicarakan dia.
“Iya menemani saya kemanapun saya pergi dan menjaga saya. Kalau kata orang, dia bodyguard saya,” kataku dengan memasang muka polos, namun suaraku sedikit kubuat manja.
“Oh bodyguard. Kenapa harus duduk bersama kita? Biarkan dia diluar ruangan, nanti saya bukakan meja dan on me,” kata Pradipta sambil memanggil pelayan. Dengan cepat dan tanpa sadar aku memegang tangan Pradipta, sedikit panik.
“Nara,” kudengar suara Pradipta yang diucapkan dengan lembut. Aku langsung tergagap.
“Ya?” kataku tanpa melihat Pradipta.
“Nara marah? Baiklah, bodyguard Nara boleh diruangan ini. Tapi jangan duduk dimeja kita ya. Biarkan dia duduk di meja belakang Nara,” kata Pradipta. Aku segera memandang Adrian. Laki-laki itu pura pura tidak memandangku. Wajah datarnya tanpa ekspresi sama sekali. Namun saat aku melihat tangannya, dia menyatukan jempol dan telunjuknya dalam bentuk huruf o yang menandakan setuju.
__ADS_1
“Adrian, duduklah dimeja itu. Makan dan minum sesukamu,” kataku sambil menunjuk meja yang ada di belakangku. Aku kembali memandang Pradipta dan mengatakan terima kasih. Kulihat dari pantulan kaca, diam diam Adrian mengeser meja dan kursinya lebih dekat denganku.
“Juli tidak ikut hadir?” tanyaku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku mencoba memberikan senyum manisku dengan tenang namun nada suaraku kubuat sedikit manja sedikit cemburu. Nada suara ini aku pelajari dari pemain film drakor yang beberapa kali aku tonton. Menurutku menjadi wanita penggoda yang berkelas dan elegan lebih menyenangkan. Aku tidak akan memberikan kesempatan pada Pradipta untuk mendapatkanku dengan mudah. Aku memilih peran tarik ulur untuk menaklukkan laki didepanku ini. Aku melihat Pradipta sedikit kikuk dan kebingungan menjawab pertanyaanku. Dia cukup beruntung karena disaat itu juga masuk seorang wanita membawa sebuah kotak perhiasan berwarna hitam. Wanita itu diikuti oleh 4 orang berbadan kekar dan wajah menyeramkan. Wanita itu membisikan sesuatu yang membuat Pradipta tersenyum. Aku melihat kilatan licik dimatanya yang membuatku bergidik. Wanita itu membuka kotak perhiasan dan menunjukannya pada Pradipta. Pradipta setelah menerima kotak perhiasan tadi dan meletakkan di meja lalu mengangguk.
“Jadi dia kemana?” tanya Pradipta perlahan sepertinya tidak ingin aku dengar. Melihat gelagat itu, aku pura-pura melihat pesan whatsupku. Sebelumnya aku sudah meyalakan mode rekaman di smartphone yang kupegang dan kuarahkan pada Pradipta dan wanita tadi. Sepertinya Pradipta yang tadi curi-curi pandang meyakinkan apakah aku memperhatikannya, menganggap aku perempuan bodoh yang bisa dia bohongi. Dia menganggapku sebagai perempuan alay yang kecanduan ponsel dan tidak memperhatikan apa yang dilakukannya. Padahal aku bisa melihat tangannya masuk kedalam rok wanita yang hanya beberapa jari dari batas ****** ******** itu. Matanya dari tadi memandang bukit yang menyembul dari balik kemeja tipis yang 3 kancing diatanys dilepas. Aku pura pura tidak tahu dan tidak memperhatikan.
“Ehmmss, tuan F masih sibuk di suitenya diatas tuan,” kata wanita itu pelan, terdengar seperti menahan sesuatu.
“Kamu tidak bergabung?” kata pradipta masih dalam mode berbisik.
“ehmmm.. sshh... Kan saya sedang bertugas mengawal aah... kalung ini tuan. auuchhhss.. Saya bertugas menemani tuan saja,” bisik wanita itu dengan nada manja-manja yang aneh. Aku mencoba merekam kata kata dan nada dia. Begini rupanya perempuan menggoda laki-laki. Namun kenapa malah terdengar menjijikkan? Sesaat kemudian aku teringatpada pesan M, aku harus bisa menggoda Pradipta dengan cara elegan. Wanita-wanita seperti yang didepanku ini hanya menjadi mainan sesaat yang dikuasai Pradipta. Sedangkan aku mau, aku yang mengendalikan, bukan sebagai sesaat. Tapi tidak ada salahnya kan mempelajari hal ini dari ahlinya?
“Hehehe, nakal kamu ya. Kamu sudah basah ya, tunggu ya. Kerja yang baik dulu nanti dijenguk sama Mr. P setelah pekerjaan kita selesai,” kata Pradipta mengedipkan sebelah matanya, mencabut tangannya dari bawah rok wanita itu dan memasukan jarinya ke mulu, seperti ada makanan dijari-jarinya. Kulihat wanita itu terkikik geli sambil mengedipkan sebelah mata.
“Pergilah, aku harus menyelesaikan penyerahan kalung ini. Bilang sama Tuanmu, jangan seenaknya aja melimpahkan tugasnya,” kata Pradipta dengan nada biasa yang menandakan kalimat ini memang dimaksudkan agar didengar Nara. Wanita itu membungkuk hormat kepada Pradipta dan kepadaku lalu melangkah pergi.
“Dia sekretarisnya Franco. Franco dan saya bersahabat sejak kami masuk kuliah. Dia yang mengajakku membantunya membesarkan LC seperti sekarang ini. Jadi kami terbiasa saling membantu dan menjadi backup satu sama lain. Ya seperti sekarang ini,” kata Pradipta dengan tenang setelah memperbaiki duduknya, kembali menghadap ke arahku. Aku yang meletakan tanganku dimeja segera menarik tangan dengan cepat. Aku bergidik membayangkan apa yang dilakukan tangannya dibawah rok tadi dan kemudi memasukannya kedalam mulut.
__ADS_1
Yakkkss! Aku tidak mau tangan itu memegangku. Entah dia sadar apa yang aku rasakan atau tidak, Pradipta memasukan tangannya kedalam gelas berisi air putik dan kemudian mengeringkan dengan serbet yang ada di pangkuannya. Laki-laki itu memanggil pelayan untuk mengganti gelasnya dengan ya ng baru. Setelah itu dia menenggak habis segelas air minum lalu winenya, seolah juga membersihkan mulutnya.
“Dengan tulus, Franco menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, karena tidak bisa hadir. Dia ada keperluan mendesak yang tidak dapat ditunda atau dibatalkan. Tanggung sih intinya, belum selesai. Dari pada wanita secantik dan sebaik Nara harus menunggu, maka Franco meminta saya mengganntikannya. Toh saya juga bagian dari LC dan saya sahabat sekaligus rekanan dan tangan kanan Frnaco. Semoga Nara tidak keberatan,” kata Pradipta sambil mengambil tanganku yang kuletakan dimeja kembali. Aku sebenarnya masih jijik. Namun demi tugas yang diberikan, sepertinya aku harus menghilangkan perasaan ini dan kembali bersandiwara. Beberapa kali Pradipta mengecup punggung tanganku. Aku menggeleng dan tersenyum.