
Sore tadi, Pradipta pulang lebih dulu. Juli masih ada beberapa pekerjaan di Studio LC, yang harus dibereskan. Saat semua selesai, malam menjelang, Juli bisa bernafas lega akhirnya. Perut Juli pun sudah membunyikan tanda untuk diberi asupan. Perempuan itu tersenyum sambil melihat ke smartphonenya, ingat pada sang tunangan yang biasa menemaninya.
“Sabar ya perutku. Kita coba cara Mas dulu untuk menemani kita mengisi perut.” Namun ternyata diujung sana terdengar nada sibuk. Hampir setengah jam Juli mencoba menghubungi tapi nadanya masih juga sibuk.
“Hei, tumben. Dia sedang menelpon siapa malam malam begini? Apakah ada pekerjaan dari Franco dan harus menemaninya?” gumam Juli pada dirinya sendiri. Namun disaat yang sama matanya menatap kebawah dari mezanin tempatnya berdiri. Disana ada Franco yang sedang berbincang-bincang mesra dengan seorang wanita. Jadi rasanya tidak mungkin Pradipta berbicara dengan Franco. Juli masih terus berusaha menelpon dan masih sibuk.
“Kak Juli, ini jatah makan malamnya. Makan dulu sebelum pulang,” kata Asti asistennya mengangsurkan sebuah piring. Akhirnya dengan kesal Juli kembali masuk ke ruang ganti, membatalkan keinginannya makan dengan Pradipta. Selama berhubungan dengannya, Pradipta tidak pernah begini. Laki-laki itu membenci pembicaraan berlama-lama di telpon, bahkan dengan dirinya atau mantan istrinya dulu. Juli memutuskan untuk makan sebelum pulang. Setelah selesai dengan makan malamnya, Juli kembali mencoba menelpon Pradipta. Kali ini telpon masuk namun tidak ada yang mengangkatnya sampai dering berakhir. Awalnya Juli tidak ingin meninggalkan pesan. Dia mencoba untuk menelpon ulang dan ulang sampai empat kali. Diusahanya yang keempat, Juli memutuskan meninggalkan pesan.
“Hei, hon, kamu dimana sih? Dari tadi Aku beberapa kali menelponmu tapi sibuk dan sekarang malah tidak kamu angkat. Kamu pergi? Aku akan kerumahmu sekarang. Kebetulan tadi temanku membawa tiket pertunjukan Teater Koma kesukaan ayahmu. Aku akan menghadiahkannya untuk ayah dan ibumu. Hubungi aku secepatnya atau temui aku dirumah.”
Juli segera menyimpan smartphonenya dan bergegas menuju parkiran mobil sambil menenteng barang-barangnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Pradipta, entah mengapa hati Juli tidak tenang.
***
Beberapa saat lalu, saat Juli menelpon Pradipta, laki-laki itu sedang asyik berbincang dengan Nara. Namun rupanya Pradipta tidak merasa cukup hanya bercakap-cakap melalui telpon. Sebelum Nara menutup telpon, Pradipta membuat permohonan.
“Nara, sebentar. Sebelum ditutup aku ingin bicara. Aku tahu kita ada janji makan malam di akhir pekan ini. Namum karena kita tetanggan, bolehkah aku bertemu denganmu?” tanya Pradipta.
“Maksudmu?” Bukankah kita kemarin bertemu dan week end besok juga akan bertemu?” kata Nara dengan
kebingungan.
__ADS_1
“Maksudku, bolehkan kita sekarang bertemu?” tanya pradipta memohon.
“Sekarang?” tanya Nara
“Iya sekarang,” kata Pradipta.
“Aku nggak… eh sebentar…,” terdengar suara gemerisik dan sayup sayup ada orang berbicara diujung sana.
“Hallo…”
“Ya hallo Nara, gimana?” tanya Pradipta.
“Mau bertemu dimana? Siapa saja?” tanya Nara.
“Ehm, iya sih. Emangnya mau bertemu diaman? Aku tidak bisa lama-lama dan tidak bisa jauh. Tidak ada yang mengantar,” kata Nara.
“Aku jemput ke rumahmu?” tanya Pradipta
“Eh jangan. Lebih baik tentukan tempatnya dan kita ketemu disana. Bagaimakan kalau kita bertemu di taman saja. Disana juga banyak tukang jajanan. Aku rindu makanan di sana,” kata Nara antusias.
“Rindu?” tanya Pradipta keheranan.
__ADS_1
“Eh maksudnya bukan rindu makanan disana. Tapi aku kangen jajan makanan pinggir jalan. Selama diluar negeri kan tidak pernah ada makanan seperti itu. Aku kemarin melihatnya,” kata Nara mencoba memperbaiki bicaranya. Pradipta mengerutkan dahi keheranan. Namun setelah itu dia menggelengkan kepala tidak peduli.
“Baiklah kita bisa ketemu disana dan berbincang sebentar. Berapa lama kamu perlu siap siap? Jangan lama-lama Nara, tidak perlu dandan, kamu sudah cantik. Aku berangkat sekarang,” kata Pradipta sambil mematikan telpon sebelum Nara sempat menjawab. Dia segera mengganti baju kerjanya dengan kaos polo merah dan celana selutut
berwarna hitam. Dia mencuci muka sebentar dan menyisir rambutnya rapi lalu memberikan kesan acak sedikit di bagian depan. Setelah puas dengan penampilannya, Pradipta segera keluar dari rumah tanpa berpamitan pada siapapun.
Sesampainya di taman, ternyata Nara sudah ada disana. Nara sedang mengenang saat saat sebelum dia menikah, sering bermain ditaman ini bersama Pradipta. Kedatangan Pradipta dengan muka cerah di taman membuat Nara terpesona. Dia kembali menjaddi Nada yang pemalu baik hati, yang selalu mengutamakan Pradipta. Mukanya memerah, membuat wajah cantik Nara makin mempesona Pradipta.
“Hai,” kata Nara dengan gugup dan malu malu, menggemaskan.
“Hai Nara. Sudah lama?” tanya Pradipta.
“Belum kok. Baru beberapa menit. Aku tadi langsung keluar tanpa berdandan dan ganti baju,” kata Nara dengan malu.
“Wah rupanya kamu sepertiku ya, tidak sabar untuk kembali bertemu. Ah senangnya.” Kata Pradipta yang disambut senyum malu-malu Nara. Pradipta membawa Nara ke sebuah bangku.
“Nara mau apa, biar mas belikan. Kamu tunggu saja disini,” kata Pradipta. Nara menunjuk beberapa kedai makanan yang ada disekitar taman. Tingkah Nara membuat Pradipta tersenyum. Nara tampak begitu menggemaskan dimatanya. Setelah membelikan pesanan Nara dan membeli dua botol air mineral, Pradipta segera kembali ke bangku dimana Nara sedang menunggu sambil memandangi bintang. Mereka berbincang sambil menyantap cemilan yang tadi dibelinya. Dalam setiap obrolan, Pradipta menyelipkan kata-kata yang intinya dia merindukan Nara. Pradipta dengan terang terang menunjukan bahwa dia tertarik pada Nara. Dia mengakui bahwa Naralah yang selalu ada di pikirannya.
“Aku ingin selalu bertemu denganmu” kata Pradipta kepada Nara. Saat itu, Nara pasti sudah melihat sebuah mobil melintas pelan disisi taman.
“Ih mas gombal
__ADS_1
ya. Nanti ada yang marah,” kata Nara. Sambil tetap memperhatikan mobil yang ternyata berhenti dipinggir taman. Nara pasti sudah tahu kalau mobil itu milik Juli.
“Bukan gombal tapi mas serius kalau selalu kangen dan selalu ingin selalu bertemu Nara,” kata Pradipta. Jantungny berdebar keras dan pikirannya terpaku pada Nara. Dia tidak menyadari, dari ujung matanya, Nara melihat Juli turun dan menuju kearah mereka. Pradipta tampak bahagia saat Nara membiarkan tangannya digenggam. Pradipta merasa, Nara sudah memberikan lampu hijau baginya untuk menjadi lebih dekat seperti yang diinginkannya.