
Setelah selesai dengan Personal Trainer, Nara melakukan beberapa tes dan pengukuran lemak serta masa tubuh. Ini adalah tes untuk menentukan keberhasilan Fase 3 Semua hasilnya sempurna sesuai target. Hal ini membuat Nara senang dan percaya diri. Nara segera menghampiri Mahardika yang sudah duduk di bangku istirahat. Dia melaporkan semua hasil tes dan keberhasilan fase 3 nya dengan ceria. Sikap Nara ini membuat kekesalan Mahardika pada para laki-laki yang menggoda dan melihat Nara tadi menguap.
“M, terimakasih kamu sudah mengubahku menjadi sempurna seperti ini. Dan setelah sekarang aku berhasil, apa boleh aku cheat makan? Sekali ini saja. Aku ingin makan seblak yang level 5, mie ayam dan bakso bakar,” kata Nara dengan mata memohon yang menggemaskan. Mahardika sempat terhanyut dengan pandangan Nara, hampir
mengangguk mengiyakan. Tapi___
“Hei, makanan apa itu Nada? Selain tidak sehat karena dijual ditepi jalan yang jorok dan berdebu, juga tidak ada gizinya. Jika kamu ingin makan mie ayam, nanti kita beli di restoran. Sedangkan bakso bakar, nanti kita buat dirumah,” kata Mahardika.
“Tidak, aku mau yang dijual abang-abang, M. Rasanya beda banget. Trus seblaknya jangan lupa,” rengek Nara. Dia membayangkan makanan-makanan yang dulu biasa dia nikmati di pinggir jalan bersama Sandra.
“Seblak? Makanan apa itu?” tanya Mahardika heran.
“Ya ampun, kamu tidak tahu seblak? Itu makanan ngetop M!” kata Nara sambil membelalak lucu.
“Hah sudahlah, hari ini saja kamu bebas makan. Makanlah, selama makanan itu ada di kantin gym ini. Jangan makan-makanan pinggir jalan dulu. Selain takut kamu sakit perut karena perut kamu belum stabil, kita pasti tidak nyaman diperhatikan orang Nara,” kata Mahardika.
“Huft, iya deh. Kalau begitu, mari kita ke kantin,” kata Nara dengan senyum lebar meskipun sempat kecewa.
“Makanlah, makanlah.. hari ini makanlah hingga kau puas” jawab Mahardika, mengikuti Nara. Mereka berdua segera menuju kantin gym yang berada disebelah gedung tempat olah raga itu. Diasana ada banyak pilihan bagi Nara. Saat Mahardika memilih mencari tempat duduk, Nara berjalan menuju deretan penjual makanan sambil melepas ikatan rambutnya. Dengan cueknya, Nara berjalan setengah melompat kecil, menarik banyak perhatian pengunjung lainnya. Para laki-laki yang tadi memperhatika Nara di gym, memanfaatkan kesempatan ini untuk
menghampiri Nara, berlomba menarik perhatian gadis itu. Mereka bahkan membelikan apapun yang Nara mau.
Dengan riang, Nara kembali ke meja Mahardika sambil membawa Mie ayam, Roti bakar, es teler dan ketoprak. Mahardika memandang semua makanan yang dibeli Nara dengan takjub.
“Nara, aku kan belum bilang mau makan apa?” kata Maharfika yang mengira Nara memesan untuknya juga.
“Lho memangnya kamu mau aku belikan juga?” kata Nara sambil bengong.
“Ini? Bukannya ini kamu pesan untukku?” kata laki-laki itu sambil menunjuk makannya. Sementara Nara terkekeh gelid an melambaikan tangan kemudian menangkupkan tangan ke dadanya, mengucapkan terimakasih pada para pria yang tadi membayar makannya. Mahardika sangat kesal saat Nara merespon para pria hidung belang itu dan bukan dirinya. “NARA!” bentak Mahardika pelan. Nara memandang Mahardika sambil mengerjap pelan.
“Maaf, kamu mau ya? Ambil saja kalau begitu,” kata Nara sambil menunduk. Mahardika sangat geram melihat sikap Nara yang kadang polos kadang menggemaskan.
“Bukan itu, aku bertanya, kenapa kamu memesankan makanan untukku. Kamu bahkan tidak menanyakannya dulu padaku,” kata Mahardika geram.
“Aku tidak membelikan untukmu M. Ini semua untukku dari mereka,” kata Nara masih dengan menunduk takut.
“Apa? Kamu mau makan ini semua? Ini semua dibayar oleh mereka? “ kata Mahardika. Nara mengangguk dengan polosnya. Mahardika merasa ubun-ubunnya mulai berasap. Belum sempat dia mengomeli gadis itu, smart phone laki-laki itu bordering dengan nada khusus, membuat Mahardika tidak bisa mengabaikannya. Dia segera mengambil gawainya dan menjauh dari Nara untuk menjawab panggil;an tersebut.
Melihat Mahardika menjauh, Nara segera meraih makanannya dan mulai menikmatinya satu persatu dengan cepat. Nara khawatir, Mahardika akan melarangnya menghabiskan itu semua. Tanpa dia sadari, banyak orang yang takjub melihatnya makan banyak dengan cepat. Bahkan mereka sampai merekam dalam gawainya.
__ADS_1
Saat sudah menghabiskan makanan terakhirnya, mata Nara terpaku menatap televise yang dipasang di kantin tersebut. Disana ada Pradipta yang sedang diwawancara disebuah acara bisnis yang digelar sebagai salah satu pengenalan perusahaan baru, Lion Comunication. Dalam acara ini, Juli ditunjuk sebagai pembawa acara. Pradipta berbicara sebagai CTO LC sekaligus dinobatkan sebagai eksekutif muda berbakat terbaik tahun ini.
“Selamat telah menjadi CTO, bapak Pradipta. Anda adalah CTO termuda dalam didunia bisnis komunikasi sekaligus paling berprestasi dengan karya-karya anda yang luar biasa,” kata Juli. “Anda benar-benar berhasil membuat dunia komunikasi di Asia tenggara pernyiaran, memandang pada Anda karena ide-ide anda yang out of the box dan sekarang dipercaya sebagai CTO perusahaan besar Lion Communications di Indonesia. Dan
berkat Anda juga, LC memindahkan Core Bussinessnya ke Indonesia,” kata Juli dengan bangga. Bagaimana tidak bangga, pria yang dia puji ini adalah kekasihnya meskipun belum banyak orang yang tahu.
“Terima kasih sayang. Terimakasih atas pujiannya. Saya ingin menyampaikan satu hal melalui kesempatan kali ini bahwa semua karya dan prestasi LC lihat ini belumlah semua. Kami masih akan terus memberikan karya-karya terbaik kedepannya,” kata Pradipta sambil tersenyum pada kamera. Nara merasa Pradipta sedang menatapnya membuat jantungnya berdegub.
“Dengan kecanggihan teknologi, kekuatan new era dan media sosial, LC akan mengembangkan diri kesemua lini komunikasi termasuk film, televise dan starup,” tambahnya. “Disini kami akan mengembangkan studio digital yang akan mengembangkan siaran digital dan film animasi 4D yang sangat luar biasa,” kata Pradipta. Nada tersenyum
dengan gembira. Apa yang dikatakan Pradipta adalah ide-ide yang dulu pernah Dia sampaikan pada Pradipta. Bahkan rancangan bisnis plan, blue print sampai perhitungannya sudah Nara selesaikan sebelum laki-laki itu dia temukan selingkuh, setahun lalu. Kini semua pemikirannya itu terwujud.
“Nara, kemana semua makanannya?” tanya Mahardika yang baru saja kembali ke meja. Hanya piring-piring kosong yang tersisa disana.
“Habis, Aku sudah memakannya, M.” Jawab Nara dengan wajah polosnya.
“Kau lupa tentang menjadi pintar itu seksi? Wanita pintar dan seksi tidak melakukan ini.” Kata Mahardika sambil menunjuk pada piring-piring kosong didepannya.
“Hehehe maaf. Aku lapar. Oke, aku mendengarkanmu dan akan mengingatnya lain kali bos,” kata Nara nyengir seperti anak kecil yang dimarahi gurunya. Mahardika menggeram menahan emosinya. Dia harus mengontrol makan gadis didepannya ini agar selalu tampil sempurna. Tapi sepertinya ini akan sulit.
“Maaf, tapi aku memang lapar sekali. Kalau aku tidak menghabiskan semua, selain mubazir, aku juga jadi mudah emosi. Apalagi melihat mereka,” tunjuk Nara pada layar televisi yang menampilkan Pradipta dan Juli sedang tertawa lepas. Mahardika menarik nafas dalam Dia memutuskan untuk memberi salad buah untuk mengisi perutnya, lalu duduk dihadapan Nara.
“Ouch,” kata Nara sambil memegang ***********. Ada rasa nyeri disana yang tiba-tiba muncul. Mahardika memandang Nara dengan kawatir.
“Bukan perutku.. sepertinya ada yang salah dengan payudaraku. Ini terasa nyeri, ” Jawab Nara seperti menahan sakit.
“Sesuatu?dimana?” tanya Mahardika.
“Kurasa ada yang salah dengan payudaraku, coba pegang.” Kata Nara segera mengambil tangan Mahardika untuk diletakkan pada kedua payudaranya. Namun karena terhalang meja, tangan itu tidak berhasil menyentuh yang diinginkan Nara. Pradipta terkejut dengan ulah Nara dan langsung meotot.
“M, coba kamu periksa sekarang. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan payudaraku. Apakah harus dioperasi lagi?” kata Nara sedikit ketakutan. Dia sudah lelah menjalani operasi dan sangat tidak ingin melakukannya lagi dalam waktu dekat.
“Ya tapi bukan aku yang memeriksamu. Aku tidak punya kapasitas untuk memeriksamu Nara,” kata Mahardika sambil menarik tangannya.
“Bukannya kamu ikut masuk ke ruang operasi. Kalau begitu pasti kamu bisa melakukannya padaku sekarang. Cepatlah sebelum terlambat. Kalau implant pecah didalam akan sangat berbahaya kan M,” kata Nara masih ketakutan.
“Aku memang boleh masuk ke dalam ruang operasi, Tidak ada yang berani melarangku. Tetapi bukan berarti
aku dokter,” kata Mahardika. “Sekarang kamu Tarik nafas dalam-dalam dan periksa sendiri payudaramu. Katakan apa yang kamu rasakan. Nara terdiam mencoba mengatasi kepanikannya. Dia menarik nafas panjang dan memeriksa panyudaranya sendiri vc Nara benar-benar tidak sadar jika dia melakukan itu didepan Mahardika,
__ADS_1
seorang laki-laki. Bahkan di tempat umum. Untungnya mereka duduk dipojokan dan kantin sedang sepi. Hal ini membuat Mahardika harus menarik nafas dalam dalam, menahan apa yang harus ditahan dibawah sana. Kepalanya mulai pusing dan jantungnya berdebar keras.
“M, kamu kenapa? Kenapa muka kamu merah sekali?” tanya Nara saat melihat kearah Mahardika yang sudah seperti kepiting rebuss menahan hasrat yang muncul. Nara mengamati wajah Mahardika sambil mendekat sampai jarak sejengkal. Mahardika bisa mencium bau Nara yang begitu menggoda. Hal ini membuat pikiran Mahardika makin berkelana dan yang mengeraspun makin keras.
“Nara, mundurlah. Apa yang kamiu oa akukan!” bentak Mahardika tanpa sengaja, karena harus melepaskan
sesak didadanya. Nara yang mendapat bentakan langsung terduduk di kursinya kembali.
“Maaf,” kata Narasambil menunduk, membuat Mahardika tersadar. Laki-laki itu memutuskan untuk lari ke toilet menNara yang ditinggal oleh Mahardika merasa aneh, berusaha mengembalikan perhatiannya ke televise. Saat itu, seorang pembawa acara sedang menggoda Juli.
“Pemirsa, hari ini adalah hari keberuntungan saya, bisa mewawancarai CTO muda berbakat didampingi aPradipta dan Juli bersamaan.
“Wua … kompak sekali mereka ya pemirsa. Jangan jangan memang jodoh. Tapi sayang tuan Pradipta, Sahabat saya ini, baru saja mengungkapkan bahwa dia akan menikah dua tiga bulan lagi, “ kata penyiar laki-laki itu.
“Hahaha tenang saja, dia akan menikah dengan saya,” kata Pradipta sambil mengedipkan sebelah matanya
pada Juli. Lalu terlihat Juli dan Pradipta bersama-sama mengumumkan bahwa mereka adalah pasangan selama beberapa bulan ini, dan sedang merencanakan pernikahan dua tiga bulan mendatang.
“Pertama-tama, Saya minta maaf kalau selama ini tidak terbuka. Kami berharap hubungan kami menjadi konsumsi kami pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Benar, kami akan menikah 3 bulan lagi” ujar Juli ditelevisi
“Menikah? 3 bulan lagi??” ucap Nara.
“Apa? Mereka sudah berani mengumumkan terang terangan? Kurang ajar. Lalu bagaimana dengan aku Juli,” kata Mahardika setengah teriak membuat Nara keheranan. Namun kali ini dia lebih memikirkan Pradipta suaminya.
Dia masih istri sah Pradipta saat ini. Jadi Pradipta tidak bisa menikah tanpa ijin darinya. Tanpa berpikir panjang, Nara segera meraih tasnya dan pergi meninggalkan Mahardika yang masih marah.
Nara pergi ke kediaaman Hermawan, Di gardu pos depan rumah itu, nara termenung menatap rumahnya yang kini dikuasai ibu mertua. Berjam-jam dia hanya duduk diam disana sampai senja menjelang. Dilihatnya mobil Juli datang. Ya, Nara sangat mengenal mobil itu. Akan tetapi bukan Juli yang ada dibelakang kemudi, tetapi Pradipta.
Laki-laki itu tampak berciuman mesra dan menggebu di mobil dengan Juli. Dari posisinya, Nara bisa melihat adegan itu dengan jelas. Bahkan kemudian saat juli berpindah kepangkuan Pradipta, Nara hanya bisa menangis berurai airmata. Mereka dengan tidak tahu malu, berpacu dalam gairah didalam mobil selama hampir setengah jam. Setelah itu, Pradipta turun dari mobil dan Juli menggantikannya dibelakang kemudi. Saat turun, bahkan Pradipta belum mengancingkan celananya. Mereka masih terus berciuman dan tertawa. Memang disekitar Nara sangat sepi
tidak ada orang lain. Diposisi Nara sekarang ini, dia bisa melihat kearah dua sejoli, namun sepertinya mereka tidak akan menyadarii kehadirannya.
Setelah pintu ditutup oleh Pradipta, laki-laki itu segera mengancingkan celananya dan menatap mobil Juli yang bergerak pergi. Pradipta sempat memandang nanar kearah Nara. Entahlah, mungkin dia merasa ada yang mengamati. Nara segera mundur dan bersembunyi. Dia tidak mau ditertawakan dan dianggap bodoh, karena ketahuan mengintip Pradipta. Jika itu terjadi, Mahardika pasti akan marah sekali.
“Aku takkan membiarkan mereka menikah..” ujar Nara sambil Menangis, melihat Pradipta masuk ke halaman rumah kediaman Hermawan. Nada mengusap air matanya dan menguatkan diri. Dia segera pulang ke rumah Mahardika.
Sesampainya dirumah, Nada tidak melihat keberadaan laki-laki itu. Meskipun dia tahu , Mahardika sudah lebih dahulu pulang dari gym. Di pintu lemari es ada catatan yang meminta Nara mempelajari bisnis manajemen artis. Nara ingat, Mahardika pernah minta dia untuk tetap cerdas dan pintar. Menurut laki-laki hebat itu, kecantikan saja
tidak akan cukup. Wanita harus kuat, cerdas dan serba bisa. “Jadilah wanita cantik dengan otak seksi.” Kata Mahardika saat itu. Nara segera mengambil buku yang sudah disiapkan Mahardika dan membawanya ke kamar. Dia langsung membersihkan badannya yang lengket, dan bergelung dibalik selimut sambil membaca.
__ADS_1
Ditengah-tengah membaca, otak nara kembali berputar pada kejadian hari ini. Alih-alih memikirkan Pradipta, gadis itu malah memikirkan Mahardika.Nara sadar ada yang aneh dengan Mahardika dan Juli. Mereka sepertinya sudah sangat mengenal satu sama lain. Atu jangan jangan Mahardika adalah kekasih Juli yang diselingkuhi, seperti dirinya? Jangan jangan Mahardika memanfaatkan dirinya untuk memisahkan Juli dari Pradipta agar kekasihnya itu kembali padanya? Lalu siapa Mahardika? Dari mana dia mendapat uang sebanyak ini tanpa bekerja dan lebih banyak mendampinginya?
“Kamu siapa M?” gumam Nara sambil berpikir keras.