Nada Nara

Nada Nara
Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 3)


__ADS_3

POV Mahardika


Aku adalah Mahardika, pria biasa yang terus berjuang agar menjadi luar biasa buat orang yang kucintai. Namun ternyata semua itu sia-sia, karena saat ada laki-laki lain yang bisa membuktikan dia luar biasa, dimata gadisku, meski sebenarnya laki-laki itu bajingan. Gadisku memilih laki-laki lain. Menurutnya, laki-laki itu tampan. Menurutnya laki-laki itu sukses. Menurutnya laki-laki itu bisa membawa karier gadisku kepuncak tertinggi. Menurutnya laki laki itu memiliki kekayaan melimpah yang bisa memanjakannya dan memberikankesenangan. Dan yang paling sering dia katakana, laki-laki itu membebaskannya dan tidak memaksanya menjadi babu rumah tangga, apalagi harus


melahirkan anak kecil yang merepotkan. Mungkin ini yang membuat gadisku pergi. Aku tampan, tidak miskin dan selalu memberikan apapun yang gadisku mau, sejak dia masih keci. Aku selalu mendukung dia, menyekolahkannnya disekolah terbaik, meski aku harus jungkir balik untuk itu. Tapi aku bilang ke dia, mimpiku adalah memiliki istri dan anak-anak yang lucu, menua bersamanya dalam cinta. Mimpi inilah yang berbeda dan tampak menyiksa bagi gadisku, jika dia membayangkan menjadi istriku. Baginya istri seperti itu sama dengan babu dan pabrik anak berkedok ikatan suci. Meskipun begitu Aku tidak akan rela melepaskan wanita yang kujaga dari kecil menderita karena bajingan seperti dia.


Aku Mahardika, yang telah membuat karya dan segala sesuatu dari nol menjadi sukses. Kata orang aku ini jenius hingga memiliki banyak gelar dan pekerjaan. Salah satunya adalah pekerjaanku sebagai seorang ahli Comminucations Image yang jago bangun citra seseorang, yang mampu membuatku menimba uang dari para politikus dan pengusaha yang ingin pansos.  Aku juga dikenal sebagai ahli rekonstruksi wajah dan psikiatri. Dari hobi fotografi dan cinematografi, aku mendirikan sebuah production house yang berkembang pesat. Dalam salah satu priduk PH ku, kugabungkan beberapa keahlian milikku, dan cukup sukses, Acara Makeover Total, mewujudkan mimpi orang-orang tertindas dan terpuruk secara mental karena kondisi fisiknya, mengalami pembulian dan bahkan korban kekerasan. Mereka aku ubah secara fisik, mental maupun branding untuk menjadi berbeda dan dipuja. Bahkan untuk acara ini, aku mengumpulkan riset tentang wanita atau pria seperti apa yang dianggap sempurna, hingga terbentuklah rekonstruksi wajah sempurna versiku.


Aku Mahardika, laki-laki idaman wanita yang bisa menyulap siburuk rupa menjadi princess Disney yang mempesona. Kalau kata gadisku, aku mirip ibu peri dalam kisah Cinderella. Namun aku juga Mahardika yang hari ini harus mengejar seorang wanita gila sampai babak belur dibuatnya. Saat aku ingin menolongnya, aku malah kena banting dan kuncian maut yang tidak dia sadari. Bahkan bahuku sempat dislokasi, kaki dan tanganku lebam karena perempuan satu ini. Dia Nara, salah satu hasil dari kerja kerasku. Dia wanita bentukan hasil riset wanita cantik versiku. Dan kalau boleh sombong, aku bangga dengan karyaku, Nara.


Hari ini, aku pikir, setelah sekian lama dia menahan begitu banyak rasa sakit dan penderitaan, terkurung dengan berbagai operasi, sayatan, potang dan bius yang bahkan aku sendiri tidak bisa memikirkan bagaimana penderitaannya, aku ingin mengajaknya menikmati dunia luar untuk pertama kalinya. Aku sudah mengatakannya sejak kemarin. Dia tampak antusias. Dan disinilah kesalahan yang membuat banyak masalah berawal.

__ADS_1


Saat kami akan membeli keperluan Nara di PIM, dia lepas dari pandanganku. Aku sendiri bukan mall person. Aku hanya ke pusat perbelanjaan saat membutuhkan sesuatu untuk kubeli, lalu pulang. Bagiku pekerjaanku dan karyaku adalah me time  dan hiburan paling menyenangkan. Aku tidak membuatuhkan mall atau club dengan asap rokok serta manusia-manusia yang kurang kerjaan, mengganggu privacy orang lain, terutama perempuan-perempuannya. Mau dengar musik? Mau minum alkohol? Ya kan bisa dirumah, lebih puas malah, bisa milih lagu suka suka kita, bisa teriak, bisa joget tanpa diganggu orang lain. Aku bukan laki-laki suci yang tidak pernah mabok dan tidak merokok. Aku melakukannya. Tapi menurutku, mabok paling enak ya dirumah, puas minum, pingin muntah tinggal buka kamar mandi, mau ngejeplak nggak perlu ngrepotin orang buat antar pulang, atau parahnya dirampok orang saat tidak sadar, mau hangover tingal tidur di sova atau tempat tidur juga dekat.  Aku memang lebih suka melakukan semua itu di rumah dan aku benci mall besar tiada akhir. Itulah kenapa, mencari Nara di mall sebesar ini sangat menuyulut emosiku.


Setelah berkeliling mall yang luar biasa besar, aku menemukan Nara di bangku pedestrian.  Saat aku menariknya untuk pulang dia malah membanting dan mengunciku. Bahkan gadis itu menyuruh satpam membawaku. Setelah


proses tanya jawab yang panjang, akhirnya aku bisa meyakinkan petugas bahwa Nara adalah keluargaku yang menderita delirium. Sebuah gejala yang muncul sebagai efek samping penggunaan anestesi berkepanjangan. Untuk menjadikan karya seindah Nara, perlu banyak operasi dan anestesi yang harus diterima gadis malang ini. Nara harus terus menerus mengkonsumsi obat, untuk mengatasi deliriumnya. Sayang, Nara sering membandel seperti hari ini. Pasti dia lupa meminum obatnya. Akibatnya, dia menunjukan gejala perubahan kondisi mental beberapa saat setelah berpisah denganku.


Kalau dari cerita pengalaman Nara di mall tadi, gadis itu mengalami gejala umum seperti gangguan emosional, seperti gelisah, mudah tersinggung, apatis, perubahan mood mendadak, perubahan kepribadian menjadi Nara


Dari jarak yang agak jauh, kulihat Nara menelpon seseorang, hem dia sedang tertarik dengan kehidupannya sendiri dimasa lalu, yang dia kira orang lain. Ya dia sedang berhalusinasi tentang Nada. Sepertinya yang dia menelpon seseorang yang berhubungannya dengan masa lalu. Apakah suami brengseknya itu, Keluarganya? Sahabatnya? Setelah selesai menelpon Nara kembali berjalan menyusuri pedestrian. Saat itulah Satpam yang tadi berjanji menolongku memanggil Nara yang langsung berhenti menunggu.


“Mbak Nara ya namanya?” kata pak Holmes.

__ADS_1


“Iya pak, kenapa?” kata Nara.


“Mbak kenal dengan Pak Mahardika?” kata pak Holmes.


“Kenal pak, dia dokter saya. Saya seharusnya bertemu dengannya. Tapi saya lupa,” kata Nara tampak kebingungungan. Mungkin dia berpikir, bagaimana pak satpam ini tahu nama dia dan dokternya? Ditambah lagi, terlihat jelas pengaruh gangguan delirium yang ada didirinya. Kemampuan berpikir yang buruk, mengalami gangguan kognitif, seperti buruknya daya ingat terutama untuk jangka pendek, disorientasi, kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata, bicara bertele-tele, serta kesulitan dalam memahami pembicaraan, membaca, dan menulis, tampak sedang dialami Nara. Aku tahu aku harus bertindak sekarang.


“Iya mbak, tadi pak Mahardika bilang sudah dipesankan taksi onlain. Mari saya antar mbak,” kata Pak Holmes. Dia melakukan persis seperti rencana kami.  Lalu Nara digiring menuju mobilku yang sudah menunggu di tepi pedestrian. Aku segera berlari mendahului pak Holmes, masuk ke dalam mobil. Kupasang masker dan topiku dan kurapatkan hoodie  ku, menunggu dibalik setir mobil dengan jantung dag diig dug. Pak Holmes berhassil menjalankan misinya dan mempersilahkan aku jalan. Kuberikan selembar seratus ribuan padanya dan mulai menjalankan mobil, pulang.


Sepanjang perjalanan, Nara hanya terdiam tanpa berkata apapun. Bahkan dia terlihat tidak fokus sama sekali. Berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya, seperti sulit fokus pada topik atau mengganti topik pembicaraan, mudah teralihkan oleh hal yang tidak penting, dan suka melamun sehingga tidak bereaksi terhadap hal yang terjadi di sekitarnya, juga merupakan gejala yang ditimbulkan oleh Delirium, dialami Nara.


Setelah aku selesai memarkir mobil di carport, aku mempersiapkan sapu tangan yang sudah kububuhi obat bius. Nara memperhatikan sekeliling, lalu turun dan mengucapkan terimakasih. Aku sedikit kawatir  dengan keadaan Nara, namun aku tidak mau mengambil resiko kembali dikalahkan oleh Nara.  Melihatku mengikutinya, Nara terlihat ketakutan. Gejala paranoid dari delirium, membuat dia tidak mengenaliku dan ketakutan. Nara  berteriak minta tolong dan menjauh dariku. Tentu saja aku tidak semudah itu dikalahkan lagi. Aku  bergerak cepat, membekap mulut Nara dengan saputangan hingga dia pingsan.

__ADS_1


Cukup lama perempuan cantik ciptaanku ini tertidur. Bahkan aku sempat untuk mandi dan berganti pakaian. Saat aku sedang mengobati diriku yang terluka akibat tingkah wanita perkasa didepanku, dia membuka matanya. Wajah ciptaanku memang luar biasa Indah, meskipun dalam keadaan kebingungan dan lelah, Dia mengerjap kerjap lucu. Nara mencoba coba menggerakan kaki dan tangannya. Dan terdiam cukup lama.


__ADS_2