
POV NARA (flash back on)
Memang tidak mudah menjadi orang lain saat kita harus berhadapan dengan suami sendiri. Benar kan? Apalagi buat aku yang hampir tidak pernah berbohong. Papa dan Mama selalu mendidikku untuk jujur apa adanya, menjadi diri sendiri. Salah satu kesulitan menjadi Nara adalah merubah kebiasaan dan kepribadianku sebagai Nada menjadi Nara. Apalagi saat berhadapan dengan orang-orang terdekatku. Aku meneguk air putihku sebelum akhirnya memulai pembicaraan.
“Eh tapi ngomong-ngomong kok mas Pradipta tahu, hari ini aku bikin putumayang?” tanyaku berpura-pura heran.
“Ya tahu dong. Kudengar kau juga baru pindah di dekat rumahku. Rumah putih yang kau kunjungi itu rumahku” jawab Pradipta.
“Hah? Masa sih? Maksudnya rumah Bapak Ibu Henky?” tanyaku masih melanjutkan drama terkejutku. M dan dua sahabatnya langsung mengacungkan kedua jempolnya memujiku.
__ADS_1
“Iya, Bapak dan Ibu Henky itu ayah dan ibuku. Tadi aku makan kue putu mayangmu. Tapi hanya tersisa satu. Enak sekali Nara,” puji Pradipta.
“Beneran? Kebetulan sekali! Bagaimana ini bisa terjadi? Wow, Menakjubkan...” jawabku sambil memegang mulutku. Suaraku kubuat setakjub mungkin. M dan kedua sahabatnya tertawa tanpa suara melihatku berakting takjub meski Pradipta tidak bisa melihatku. Tapi aku tidak peduli. Aku harus melakukannya sewajar mungkin
kan. Ini adalah cara yang aku bisa. M kemudian menepuk pundakku saat aku cemberut. Mereka bertiga kembali mengacungkan jempolnya memujiku.
“Iya, keren ya. Sepertinya kita memang ditrakdirkan untuk bersama,” kata Pradipta. Tuh kan, Pradipta percaya kalau aku memang tidak tahu siapa dia dan dimana rumahnya. Dia percaya kalau aku tidak tahu siapa keluarganya. Hahaha, ditakdirkan untuk bersama? Kenapa baru mengatakannya sekarang setelah aku berubah menjadi cantik?
“Apa?” tanyaku.
__ADS_1
“Ah nggak, aku Cuma bilang Ini keren, karena ternyata kita bertetangga,” kata Pradipta. Rupanya dia ingin menganulir kata katanya tadi, entah karena apa. Tapi aku tidak boleh terpengaruh. Aku tetap harus menjadi Nara yang tidak tahu siapa Pradipta.
“Ohhh, iya ya, tidak sengaja kita bertetangga seperti ini,” kataku sambil tertawa. Entah mengapa, M memintaku untuk terus berbicara dengan Pradipta. Kulihat Henry dan Adrian sibuk dengan laptop mereka. Sementara, M terus menatapku nanar. Aku saat ini jadi seperti sedang berbicara dengan M. Sekitar setengah jam kemudian M langsung mengacungkan jempolnya. Aku yang mulai kehabisan bahan berbicara mencoba menyudahi perbincangan. Namun
Pradipta seperti ingin terus mengobrol.
“Nara, sebentar. Sebelum ditutup aku ingin bicara. Aku tahu kita ada janji makan malam di akhir pekan ini. Namum karena kita tetanggaan, bolehkah aku bertemu denganmu?” tanya Pradipta. M, Henry dan Adrian langsung berpandangan. Mereka berbicara dengan bahasa tangan yang aku tidak mengerti. Tapi aku tahu mereka sedang
mendiskusikan permintaan Pradipta. Aku mencoba mengulur waktu.
__ADS_1
“Maksudmu? Bukankah kita kemarin bertemu dan week end besok juga akan bertemu?” kataku sedikit gugup Ya aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Aku sendiri antara ingin dan tidak, bertemu dengan suamiku. Namun aku tahu, keputusan ini penting bagi Nada’s Project. Itulah mengapa M dan teman-temannya mempertimbangkan permintaan Pradipta. Jika tidak, aku tahu pasti, M langsung memintaku menjawab tidak. Aku tersenyum menyadari betapa M menjagaku. Hatiku menghangat menyadari keposesifan M padaku. Entahlah, ini sangat menyenangkan, menjadi seseorang yang berarti bagi M. Aku ingin menjadi orang yang berarti bagi laki-laki yang juga sangat aku hormati dan sayangi itu. Sayang? Benarkah aku mulai menyayanginya?