Nada Nara

Nada Nara
Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 2)


__ADS_3

POV NARA


“Dia sekretarisnya Franco. Franco dan saya bersahabat sejak kami masuk kuliah. Dia yang mengajakku membantunya membesarkan LC seperti sekarang ini. Jadi kami terbiasa saling membantu dan menjadi backup satu sama lain. Ya seperti sekarang ini,” kata Pradipta  setelah perempuan dengan rok super mini dan selalu mendesah akibat sesuatu yang dilakukan Pradipta dibalik roknya, itu pergi. Laki-laki itu dengan tenang setelah memperbaiki duduknya,kembali menghadap ke arahku, mencoba meraih tanganku yang ada diatas meja. Aku bergidik membayangkan apa yang dilakukan tangannya dibawah rok tadi dan kemudi memasukannya kedalam mulut, dan ingin memegang tanganku. Aku dengan cepat menarik tangan pura pura mengambil smartphoneku.


Yakkkss! Aku tidak mau tangan itu memegangku. Pergerakanku sepertinya terlalu cepat, entahlah. Mungkin dia sadar dengan apa yang kurasakan.  Pradipta memasukan tangannya kedalam gelas berisi air putik dan kemudian mengeringkan dengan serbet yang ada di pangkuannya. Laki-laki itu memanggil pelayan untuk mengganti gelasnya


dengan ya ng baru. Setelah itu dia menenggak habis segelas air minum lalu winenya, seolah juga membersihkan mulutnya.


“Dengan tulus, Franco menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, karena tidak bisa hadir. Dia ada keperluan mendesak yang tidak dapat ditunda atau dibatalkan. Tanggung sih intinya, belum selesai. Dari pada wanita secantik dan sebaik Nara harus menunggu, maka Franco meminta saya mengganntikannya. Toh saya juga bagian dari LC dan saya sahabat sekaligus rekanan dan tangan kanan Frnaco. Semoga Nara tidak keberatan,” kata Pradipta sambil mengambil tanganku yang kuletakan dimeja kembali. Meskipun masih terasa risih dan menjijikan, mau tidak mau aku mendiamkan tangan laki-laki itu menggenggam tanganku. Huft, kadang memang sulit untuk menjadi orang lain, menghilangkan perasaan jijik dan muak, kembali bersandiwara. Beberapa kali Pradipta mengecup punggung tanganku membuatku sebal, Aku mencoba menutupi dengan gelengan tersipu.


“Nara mau makan dulu atau bagaimana?” tanya Pradipta.


“Saya rasa sebaiknya kita selesaikan urusan LC dahulu. Asisten sekaligus pengacara saya yang akan mengurus pembayaran dan administrasi serta memeriksa keaslian kalung, sudah menunggu,” kataku dengan tenang. Pradipta memandangku sambil mengernyitkan mukanya.


“Anda tidak percaya pada kami? LC dan Dirgantara adalah perusahaan besar. Kami tidak mungkin mengorbankan nama baik kami untuk sebuah kalung seharga Rp.150 juta nyonya,” kata Pradipta dengan tegas. Bahasanya berubah menjadi resmi. Sepertinya menghadirkan Henry membuat egonya terluka.


“Bukan begitu, percaya kok. Tapi secara bisnis kan tetep harus ada pertanggung jawabannya,” kataku kataku dengan lembut. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi sepertinya aku harus waspada. Aku melirik Ardian melalui kaca. Beberapa kali Ardian bersikap seolah olah sedang berkoordinasi dengan tim keamanan kami. Aku melihat sekilas Pradipta melirik kebelakangku.


“Bodyguard Nara cukup bagus dan waspada. Tim dia seperti cukup banyak? Dia dan teamnya hanya menjaga Nara?” tanya Pradipta mengalihkan pembicaraan.


“Sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan, dipinjam sementara untuk menemani saya. Tugas utama dia lebih kepada manajemen kok. Manajemen Nara berpikir Nara sekarang ini sedang membutuhkan dia untuk mendampingi Nara. Baiklah bisa kita mulai dengan bisnis kita terlebih dahulu? “ tanyaku lembut sambil memegang tangannya. Pradipta menatap tanganku yang ada diatas tangannya sejenak, lalu mengambil dan mengecupnya.


“Baiklah, mari. Tapi setelah itu, kamu harus temani aku makan siang,” kata Pradipta dengan wajah merajuk. Aku menanggapinya dengan tertawa.


“Tentu, kenapa seolah-olah kamu takut aku tidak mau mau menemanimu makan siang?“tanyaku sambil melirik Pradipta yang tersenyum memandangku.


“Aku hanya takut Nara langsung pulang setelah selesai. Padahal aku sangat ingin bersama Nara siang ini,” katanya dengan suara lembut. Aku sedikit merinding mendengarnya. Kudengar suara kursi berderit dari belakangku. Aku tahu kalau itu kursi Pradipta yang mungkin ingin menyadarkanku. Aku mencoba berdehem dan seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan Pradipta.


“Kita mulai serah terima dulu ya Mas,“ kataku.

__ADS_1


“Coba Nara ulang lagi,” kata Pradipta sambil mendekatkan mukanya.


“yang mana? Kita mulai lagi?” kataku pura-pura mendengarkan.


“Ish, bukan itu,” kata Pradipta tersenyum.


“Kita mulai serah terima dulu ya mas,” kataku dengan nada manja.  Pradipta langsung tersenyum. Dan mengangguk.


“Adrian, boleh minta tolong panggil Henry? Kita selesaikan urusan kalung dulu,” kataku.


“Baik nona,”  kata Adrian sambil berdiri dan keluar ruangan. Setelah Adrian keluar Pradipta mencoba mengodaku dengan menarik tangan dan mendekatkan mukanya . Namun aku pura pura memainkan smartphone dan membalas pesan M. Dalam pesannya M mengingatkan aku agar tidak terpengaruh dengan Modusa. Aku tersenyum  membaca pesan-pesan yang dikirimnya.


M : -cie-cie, pegangan tangan. Awas, tangannya bau jigong tuh juga bau itu… hiiii-


Nara: -bodo ah-


M : Buahahaha


“Ish kok cemberut sih mas?” aku menggodanya.


“Abis dilupakan. Padahal didepan mata nih,” kata Pradipta.


"Ya ampun, enggak dilupakan kok. Idih, kayak  abege cemburuan gitu sih mas mukanya," kataku menggoda.


"Emang cemburu kok, boleh nggak?" tanya Pradipta sambil mengedipkan matanya namun masih dengan nada merajuk. Belum sempat aku menjawab Adrian dan Henry sudah berada didekat kami.


“Selamat siang pak Pradipta, saya Henry dari manajemen Nona Nara,” kata Henry mengulurkan tangan. Pradipta menyambut uluran tangan Henry dengan muka datar tanpa ekspresi. Sangat berbeda dibanding saat berbicara denganku.


“Oke silahkan duduk pak Henry. Ma, boleh langsung lihat kalungnya? “ kataku

__ADS_1


“Tenang, sabar Nara,” kata Pradipta dengan lembut. Dia kembali memegang kotak yang tadi diberikan oleh sekretaris Franco.


“Pak Henry, ini kalung yang kemarin dilelang. Saya pastikan bahwa ini berlian dan emas asli,” kata Pradipta.


“Saya percaya pak Pradipta. Namun saya disini ditugaskan untuk memeriksa selain keaslian dan kualitas berlian, juga keaslian kalung ini sebagai kalung milik Lidya Dirgantara,” kata Henry dengan tegas.


“Tentu saja ini kalung milik Lidya Dirgantara. Apakah anda meragukan? Anda mengatakan bahwa kami melakukan penipuan? Anda tahu kan kalau mr. Franco adalah bagian dari keluarga Dirganta. Lagi pula bagaimana Anda membuktikannya? Nara, apa maksudnya ini?” kata Pradipta dengan nada emosi. Matanya memandangku curiga.


“Pak Pradipta, Nona Nara tidak mengetahui hal ini. Dia dan saya hanya menjalankan apa yang sudah diperintahkan. Kalung ini adalah hadiah istimewa untuk Nona Nara dari bos kami. Nona Nara sangat istimewa bagi bos kami. Itulah mengapa kami harus memastikan semua barang yang diterimanya juga istimewa. Bukan barang yang bisa didapatkan dipasaran. Kami yakin Mr. Franco dan Pak Pradipta orang yang kompeten dan bisa dipercaya. Jadi tidak akan takut dengan pembuktian kecil seperti ini. Hanya orang-orang pengecut, punya niat jahat dan curang yang ketakutan saat barang yang dijualnmya diperiksa, ” kata Henry sambil tersenyum. Pradipta terdiam sejenak. Lalu dia mendorong  kotak tersebut dengan dua tangannya, setelah berpikir sejenak.


“Tentu saja saya tidak takut barang ini diperiksa oleh Anda. Lakukan didepan mata saya,” kata Pradipta serius. Henry mengenakan kacamata khususnya sambil mengangguk. Dia membuka kotak tersebut lalu memandanginya dengan serius. Aku melihata dia membuka gelangnya dengan cepat dan  meletakkan diatas panngkuannya lalu mengenakan kaos tangannya. Dengan teliti Henry melihat dan membolak ballikan kalung dan menelusurinya. Dia lalu tersenyum sambil merapikan kalung kedalam kotak. Dia memandangku sambil memegang hidungnya.


“Mas, jangan melotot begitu. Nara takut ih. Mas masih marah karena bos ku ingin memeriksanya,” kataku lembut sambil memegang dua tangannya. Suaraku kubuat seakan aku sedih dan kecewa. Melihat apa yang kulakukan, Pradipta langsung memandangku. Dia menggeleng dan tersenyum. Kedua tanganku disatukan di genggaman tangan kanannya . Sedangkan tangan kirinya menepuk lembut. Aku mendengar tawa kecil Adrian dibelakangku. Meskipun dia seolah olah sedang tertawa dengan smartphonenya, tapi aku yakin dia sedang mentertawakanku.


“Tidak Nara, aku tidak marah,” kata Pradipta sambil tersenyum. Setelah aku merubah panggilan pak menjadi mas, dia mengubah saya menjadi aku. Rupanya dia ingin kami lebih akrab dan santai.


“Hah? Aku?”kataku


“Kenapa, aku tidak boleh aku-kamu dengan Nara?” tanya Pradipta. “Aku hanya ingin kita menjadi lebih dekat Nara. Kamu sangat cantik. Lebih cantik dari Juli.”


“Wow, tidak mungkin. Juli adalah wanita cantik yang menjadi pusat perhatian. Aku hanya seorang Nara,” kataku. Aku tahu pandangan Pradipta masih akan tetap kepadaku untuk meyakinkanku.


“Nggak lah. Kamu lebih cantik dan menggoda dibanding Juli,” kata Pradipta.


‘Ish Gombal,” kataku sambil melepaskan tanganku. Aku melakukan ini karena Henry sudah memberikan kode kalau dia sudah selesai.


“Nona Nara, semua sudah sesuai. Ini saya kembalikan kepada Pak Pradipta untuk diserahkan kepada nona Nara,” kata Henry.


“Baiklah, jadi sudah sesuai ya. Ini Nara, kalungnya aku berikan kepadamu. Pasti kalung ini akan sangat cantik di lehermu yang indah ini.

__ADS_1


“Yeiiyyy, terimakasih,” kataku menirukan tokoh di drama korea yang kecentilan menerima hadiah dari sugar daddynya. Kuraih kotak itu dan kubuka. Aku menatap Pradipta dengan berbinar.


__ADS_2