Nada Nara

Nada Nara
Bab 65 PLD Aku Harus Mendapatkannya (Bagian 1)


__ADS_3

POV Mahardika


“Nara, awas nanti rambutmu botak. Tidak usah berpikir bagimananya. Aku sudah menemukan caranya. Sebaiknya kamu segera ikut Adrian dan kita bertemu diruang sebelah. Kita akan membuat manuver rencana dan akan membuatmu menjadi pusat perhatian, bukan hanya Pradipta, namun juga seluruh undangan di ballroom ini.  Go!” kataku sekaligus  memberikan perintah yang sama pada kedua asistenku. Adrian yang sudah mendapatkan perintah sebelumnya langsung bergerak menggiring Nara.


Aku tidak perduli dengan apa yang terjadi di ballroom saat ini. Aku sudah meminta Henry untuk  menempatkan orang yang akan mengawasi jalannya acara. Aku memastikan bahsebelum kalung Dirgantara mulai dilelang, kami sudah siam untuk mendapatkannya. Aku tahu pasti acara di ballroom terus berlanjut. MC kini sibuk dengan petugas lelang diatas panggung.


Lelang barang dan perhiasan Malam Amal LC sudah dimulai. Ada puluhan barang yang dilelang malam itu. Semuanya adalah barang-barang berharga dari klien LC yang jauh dari kata murah. Bisa dimaklumi sebenarnya. Tamu undangan yang hadir malam itu memang bukan tamu biasa yang menyebut uang ratusan sebagai recehan. Meski begitu, Kalung keluarga Dirgantara adalah salah satu barang yang diinginkan banyak orang. Kalung ini akan menjadi lelang terakhir yang menutup acara. Nara akan membantuku mendapatkan PLD kedua.


Dengan cepat namun tidak mengundang perhatian, Aku dan Henry bertemu dengan  Nara dan Adrian. Kami berempat berada di sebuah ruangan kecil disebelah ballroom. Jika dilihat dari keadaannya, ruang ini adalah ruang penyimpanan minuman dan makanan yang akan disajikan di ballroom. Aku dan henry tiba lebih dulu dari Nara dan Adrian. Aku menunggu mereka di sebuah kursi yang biasa digunakan untuk meeting.  Henry duduk disebelahku sambil menikmati sebotol bir dingin. Dipangkuannya terdapat sebuah Ipad yang tampak menyala, memperlihatkan gambar kalung yang sangat mirip dengan yang dipakai Juli. Aku sendiri lebih memilih wine untuk aku nikmati.


“M kamu beneran baik baik saja? “ tanya Nara, saat masuk ke ruangan dan melihatku. Dia langsung mendekatiku dan menggenggam tanganku seolah memberikan dukungan hangat. Ternyata dia masih mengkhawatirkan Aku,


setelah apa yang dilakukan Juli. Ada rasa hangat yang mengalir dalam hatiku. Aku sangat bahagia melihat kekawatirannya. Jahat? Tapi aku tidak bisa menahan senyumku.  Kepalanya yang mungil dihiasi wajah khawatir yang sangat tulus. Aku mengelus kepalanya dan memberikan senyuman terbaikku untuknya.


“Aku baik-baik saja Nara. Aku sudah sangat terbiasa melihat Juli dengan laki-laki lain, sejak dia SMP, ingat kan?” kataku. Aku mengingatkan Nara pada cerita tentang aku dan Juli yang aku ceritakan kemarin. Nara hanya mengangguk lucu. Wajahnya begitu menggemaskan membuatku ingin menangkupkan kedua tanganku disana dan mengecupnya. Argh! Pikiran apa ini Sadar Dika! Aku menggigit bibitku keras agar aku bisa mengendalikan diri. Ini


bukan waktunya untuk melakukan kegilaan yang berakhir dengan tamparan Nara. Atau lebih parahnya lagi ini akan berakhir dengan aku terkapar dilantai karena dibanting oleh Nara.

__ADS_1


Instingku membuat aku memandang  Adrian dan Henry yang sedang saling berpandangan dan menutup bibir mereka dengan tangan seperti menahan tawa.  Tuh kan mereka memang semenyebalkan itu Mereka seringkali membaca apa yang ada dikepalaku dan mentertawakannya. Aku langsung mengepalkan tangan dan memberikan ekspresi kesal pada keduanya. Sayangnya aku tidak bisa terlalu menunjukan kekesalanku karena Nara sedang serius memandangku dan tidak menyadari apa yang dilakukan Adrian dan Henry. Untuk menetralisir semuanya, aku mencoba becanda.


“Oke, jangan buang waktu. Karena tadi kamu sudah terkena pesona Medusa laki-laki, maka kita harus manuver,” kataku yang disambut dengan pukulan dari Nara. “Kita akan membuat sensasi untukmu Nara. Kita akan membeli kalung Dirgantara berapapun harganya. Aku perkirakan, harganya akan mencapai 150 juta, bisa lebih.” Aku melanjutkan pembicaraan dengan serius.


“Apa? 150 juta? Dari mana kita punya uang sebanyak itu M?” teriak Nara kaget. Aku sedikit heran dengan reaksi Nara. Bukannya semua wanita tahu ya kalau berlian itu mahal? Apalagi untuk berlian kelas atas seperti milik Dirgantara. Apalagi dia sekarang mempersalahkan uang 150 juta ? untuk operasi dia saja bisa dikeluarkan, apalagi ini hanya 150 juta.  “Iya Nara. Kamu h arus berhasil membeli kalung itu malam ini. Dan kamu harus minta Pradipta yang mengirimkannya padamu besok,” kataku mengatakan ideku agar Nara bisa mendekati suaminya. “Dengan


begitu, besok kamu bisa bertemu dengan Mahardika saat makan siang dan kamu bisa segera menjeratnya.”


“Oke, idemu memang luar biasa M, tetapi ada maslah,” kata Nara dengan muka serius yang menggemaskan.


“Apa? Kamu akan membeku lagi? Bukankah yang melelang bukan Pradipta? Aku rasa kamu tidak akan menemukan masalah saat lelang  nanti,” jawabku sambil menggoda Nara.


”Kamu bilang minimal 150 juta kan dan kita tidak punya uang sebesar itu M,” kata Nara dengan muka berpikir. Entah apa yang ada di kepala cantiknya itu. Sepertinya dia memang tidak tahu siapa aku dan tidak pernah berpikir apa yang bisa aku lakukan atau tidak.


“Punya. Aku punya. Pastikan kamu membeli kalung itu berapapun harganya,” kataku memastikan. “Adrian, dampingi Nara dan pastikan dia mendapatkan kalung itu apapun yang terjadi.” Ya aku harus memastikan kalung itu kembali padaku. Aku memastikan 2 PLD berkumpul.


“Tapi ini 150 juta lho… bukan 150 ribu. Uang dari mana kamu?” kata Nara masih tidak percaya. Sepertinya memang sudah waktunya untuk membuka identitasku sedikit, agar segera dieksekusi. Anak buah yang sedang berjaga di acara lelang sudah memberikan kode untuk segera kembali ke  tempat lelang.

__ADS_1


“Oke, biar cepat selesai. Aku tahu kamu pasti penasaran aku ini siapa dan dari mana uangku kan? Aku berikan satu


identitasku yang tidak boleh diketahui oleh siapapun selain yang berada diruangan ini. Kamu bisa menjaganya Nara?” aku mencoba menerangkan.


“Maksudmu, identitas rahasiamu? Oke aku bisa jaga rahasia. Tapi apa hubungannya? “ tanya Nara keheranan.


“Kau tahu grup teratas dari bisnis Komunikasi, hotel, hiburan dan industri restoran?” tanyaku


“Dirgantara Corporation? “ kata Nara


“Betul. Dan sekarang kamu tahu kan kedudukan Lion Communications?” tambahku


“LION COMMUNICATION diakuisisi oleh Dirgantara Corporation,” Nada menjawab dengan ragu.


“Bukan diakuisisi tapi mengakuisisikan diri. Aku adalah Dika putra dari Putra Dirgantara. Aku memiliki uang yang Dirgantara Corp milik ayah dan bundaku almarhum, yang dititipka ke Papa Shasa. Papa Shasa adalah sahabat dekat Ayah Putra. Jadi 15 juta bukan maslah bagiku,”  jawabku menjelaskan. Aku lihat Nara malah  jadi terpana sebentar, setelah itu dia mengerutkan keningnya.


”Wow, usaha yang bagus M. Bercanda memang bagus menghilangkan gugup dan frustasi karena kegagalan, tapi bukan begini caranya. 150 juta itu bukan main main,” kata sambil tertawa, loh kok? Malah dia anggap aku becanda sih? Waktu yang sudah hampir habis malah jadi tidak serius untuk masalah seserius ini, bikin emosi jadinya.

__ADS_1


“NARA, AKU SERIUS !” aku berteriak kesal, namun masih aku tahan.  “Kita sudah tidak punya waktu untuk main-main. Kalau kamu butuh keterangan lagi, nanti akan aku ceritakan semua. Tapi sekarang tidak ada waktu.” Teriakanku membuat tiga orang  didepanku sedikit tertegun. Nara bahkan terlihat kaget. Suasana sedikit senyap


sesaat.


__ADS_2