Nada Nara

Nada Nara
Bab 22. Nara Melihatnya (Bagian 2 Aku Ingat Mobil itu)


__ADS_3

Apa yang kulihat benar-benar menjijikan. Kemarahanku pada Pradipta makin besar Dia telah mengubah gadis manisku menjadi bersikap ******. Tiba-tiba memandangku sambil mengernyitkan dahinya, berpikir. Entahlah, kali ini justru aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya. Tapi dia memperhatikan mukaku dan tanganku yang tadi memegang tangannya. Ya tangan Nara kulepas untuk mengepal menyalurkan kekecewaanku pada kelakuan Juli. Aku kembali konsentrasi pada Juli dan terus berpikir apa yang akan aku lakukan. Haruskah aku mendiskusikan ini dengan Agusta?


Saat aku sedang berpikir, aku merasa ada sentuhan listrik ditanganku yang membuatku berjengit. Sengatan mengejutkan yang sekaligus menyenangkan dan membuat dadaku kembali berulah. Kupandang gadis didepanku yang menyalurkan aliran listrik tadi, lewat sentuhan tangannya. Dia tersenyum manis.  Saat melihat senyum Nara, hatiku langsung tenang dan sejuk. Amarah yang tadi bergejolak langsung luruh tak berbekas. Kami berdua saling tatap dan saling senyum, saling menguatkan.


Secara bersamaan kami kembali memandang pasangan tak tahu malu, namun mereka sudah tak ada lagi. Kami


mengedarkan pandangan diseputar loby sampai carport. Pradipta dan Juli tampak menunggu mobil diarea drop off. Tak lama kulihat mobil Juli tiba disana.  Pradipta menerima kunci, membukakan pintu untuk Juli yang tampak tersenyum bahagia. Dia segera masuk kesisi penumpang.


Setelah menutup pintu mobil, Pradipta tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada Nara, yang saat itu juga sedang memandangnya. Mungkin laki-laki itu sadar, dirinya sedang diperhatikan. Tatapan keduanya saling bertemu dan terpaku. Wajah Nara terlihat bersemu merah. Entah apa yang dipikirkan Nara namun dia tersenyum bahagia


saat  Pradipta tersenyum dan mengangguk padanya. Secara sembunyi-sembunyi Pradipta melambaikan tangannya dan memberikan kedipan singkat, lalu segera berputar  menuju kursi sebelah Juli. Aku tidak suka ini. Aku benar-benar membenci bajingan itu. Berani-beraninya dia menggoda perempuan hebatku saat dia bersama Juli. Tanganku mengepal kuat dan tanpa kusadari aku menggeram menahan marah.


“Mobil itu!” kudengar Nara yang membuatku langsung memandangnya. Dahinta tampak  sambil mengernyit,


tanda dia sedang mengingat sesuatu yang sangat berat. Dia sedang berusaha keras mengingat sesuatu.


“Kenapa Nada? Kamu ingat sesuatu?” tanyaku memastikan.


“M, Kamu masih ingat 'kan, ceritaku tentang kecelakaan yang membuat Tania meninggal?” kata Nara.


“Iya, ingat," kataku datar, sisa emosi dan marahku akibat Pradipta menggoda Nara tadi. Aku benar-benar tidak rela melihat senyum bahagia Nara gara-gara digoda Si Bajingan itu.


“Kamu ingat aku mengatakan bahwa selain dua mobil orang yang mengejak kami dan mencelakakan kami, dibelakangnya ada mobil merah yang ikut berhenti setelah kecelakaan. Disana keluar seorang laki-laki dan perempuan yang memerintahkan penjahat-penjahat itu, seperti bosnya. Aku memang tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Tetapi aku ingat mobil itu. Mobil sport merah itu,” kata Nara terbata. Dia tampak berusaha mengingat apa yang terjadi malam itu.

__ADS_1


“Jadi kamu ingat mobilnya? Ingat plat nomornya,” kataku mulai mencoba serius.


“Ingat, itu mobil yang dipakai Pradipta dan Juli tadi,” kata Nara. Apa? Mobil Julia da dilokasi pembunuhan Nada? Nada melihat Juli bersama Pradipta saat kejadian? Berarti Juli tahu tentang pembunuhan itu dan membiarkannya?


“Tidak mungkin Nara, itu mobilnya Juli,” kataku. Aku memang tidak percaya, Gadis itu melakukan hal besar dan jahat seperti ini. Aku tidak akan pernah percaya. Ini tidak benar. Pasti ini hanya akal-akalan Pradipta.


“Kenapa tidak mungkin? Kan aku yang melihat. Aku ingat dengan mobil yang  membawa mereka. Dan aku


yakin itu mobilnya,” kata Nara dengan yakin.


“Itu mobil Juli. Tidak mungkin kalau wanita yang kamu lihat itu Juli. Dia tidak akan terlibat dengan kejahatan seperti ini,” kataku tetap dengan keyakinanku.


“Sepertinya, kamu tahu sekali dengan Juli. Dan kenapa kamu justru membela pelakor itu?” kata Nara tajam dan curiga. Ups! Ini tidak boleh dibiarkan. Sepertinya Nara curiga dengan sikapku tentang Juli. Aku harus mengalihkan hal ini.


“Lihat ini info terbaru tentang Pradipta,” kataku sambil menunjukan I-padku pada Nara. Kutunjukan padanya berita dan data terbaru tentang Pradipta dan Juli yang berhasil kukumpulkan bersama tim.


“Kamu lihat ini Nara. Lihat tanggalnya. Saat peringatan 100 hari kematian Nada, Pradipta dan Juli malah jalan-jalan keliling Eropa dengan menggunakan  uang asuransi kematianmu. Jadi itu berarti Nada tidak cukup penting bagi Pradipta,” kataku mencoba mempengaruhi pemikiran Nara, agar tidak selalu memandang positif pada Pradipta.Aku ingin dia sadar bahwa suami yang dipujanya selama ini adalah orang jahat yang pantas dijebloskan ke penjara. Aku ingin berhenti memuja laki-laki bajingan itu. Kulihat usahaku berhasil. Nara diam tercenung. Mungkin dia muai mencerna kata-kataku. Aku tidak boleh berhenti mempengaruhinya. Ini saatnya aku terus memasuki pikiran Nara.


“Dalam berita ini juga dikatakan bahwa kekasih misterius Juli ini sudah melamarnya saat perjalanan itu,” kataku..


“Kenapa mereka harus pergi di hari peringatan 100 hari kematianku?” Tanya Nara.


“Itu berarti kalau  Pradipta memang tidak pernah peduli dengan istrinya. Bahkan kamu sendiri yang mengatakan kalau Pradipta menganggap Nada sebagai istri  yang memalukan karena badannya seperti gajah bengkak. Jadi Dia memang tidak peduli pada Nada. Setelah melalui semua itu, kenapa kamu masih mempertahankan perasaanmu dan ingin kembali padanya?” kataku terus mencoba mengubah pola pikir Nara, sekaligus menyampaikan rasa tidak sukaku.

__ADS_1


“Karena Dia adalah suamiku. Kami masih memiliki ikatan perkawinan yang sah. Kami masih terikat dengan janji


suci didepan Tuhan,” kata Nara sambil menangis. Argh! Kenapa harus menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis Nara. Bukan inginku membuatmu menangis.


“Tapi Pradipta tidak menganggap ikatan dan janji itu masih ada. Bahkan menurut info dari orang terdekat, mereka  akan mengumumkan hubungan mereka dan menikah tepat satu tahun setelah kematian Nada. Dengan begitu, jika ada orang yang mengulik latar belakang Pradipta, tidak ada lagi yang mempersalahkannya,” kataku mencoba menyalahkan Pradipta, karena membuatnya menangis. Bukan aku yang membuatnya menangis. .


“Satu tahun kematianku?” tanya Nara meyakinkan.


“Dan itu tiga bulan lagi M?” kata Nara Sepertinya dia terkejut, suaminya merencanakan pernikahan dengan cepat.


“Iya memang. Itu kenapa  kita harus membuat strategi memisahkan mereka sebelum hari pernikahan," kataku mencoba tidak melihat wajah Nara yang terluka. Sakit dadaku melihat pemandangan itu..


“Lalu aku harus bagaimana? M, kamu harus menolongku. Aku tidak ingin rumah tanggaku hancur berantakan,” kata Nara dengan sedih.


“Tenang Nara, kita harus tenang. Aku akan membuat strategi baru untuk mememangkan Pradipta dan mengambalikanmu ke padamu,” kataku menenangkannya. Aku lihat berusaha menenangkan dirinya sendiri.


“Waktu kita tidak banyak lagi, tiga bulan. Jangan sampai perjuangan beratmu selama hampir setahun ini sia-sia.” Kataku mengingatkan Nara agar kembali ke rencana semula dan timeline yang berubah.  Nara tampak kembali


berpikir keras. Gayanya saat berpikir seperti ini sungguh menggemaskan. Aku selalu suka wanita cerdas sedang berpikir. Sungguh menggemaskan.


Aku biarkan Nara terhanyut pada pikirannya. Sesekali dia tampak sedih, sakit dan bahkan menahan nafasnya. Wajahnya tampak seperti sedang bermimpi namun dengan mata terbuka. Sungguh cantik. Kusandarkan punggungku sambil terus menikmati kecantikan ciptaanku sendiri, yang ada didepanku. Aku menyukainya.


End Mahardika POV

__ADS_1


***


__ADS_2