
“Balas dendam!” Nara mengucapkannya denga, nada teaterikal yang lucu, membuat Mahardika mau tidak mau mengembangkan senyum dibibirnya.
“Baiklah, mari kita ke ruanganku. Tapi sepertinya sedikit berdebu. Ruangan itu sudah lama tidak dibersihkan, karena tidak seorangpun aku ijinkan masuk kesana kecuali aku dan Henry, asisten utamaku,” Mahardika menanggapi ucapan Nara dengan santai.
“Tidak masalah, serahkan padaku. Aku adalah Nada, ahli pekerjaan rumah tangga,” kata Nara sambil berdiri mengambil lap dan kemoceng.
“Let’s Go M,” kata Nara. Dia melingkarkan tangannya di lengan kekar laki-laki yang sudah dia anggap sebagai dewa penolongnya.Keduanya memasuki sebuah ruang rahasia dirumah yang berkesan minimalis dan sederhana itu. Tidak seorangpun menyangka ada ruangan rumit di rumah ini pastinya.
Nara mengedarkan netranya menyusuri setiap inchinya. Ruangan itu penuh dengan panel panel touch screen dan beberapa computer canggih. Di ujung ada dua board yang berdiri dengan banyak catatan temple, anak panah dan coretan. Begitu rumit dan rahasianya ruangan ini, membuat Nara sadar bahwa laki-laki didepannya bukan laki-laki biasa. Nara sepenuhnya sadar untuk tidak mencampuri urusan yang dirahasiakan Mahardika. Dia berpikir, lebih baik konsentrasi dengan masalahnya sendiri terlebih dahulu.
“Mana debu yang harus hamba basmi wahai Dewa M,” kata Nara sambil mengacungkan kemocengnya, bak panglima siap perang. Kain lap yang tadi digenggamnya dia kibaskan dan disampirkan di lengannya
“Ternyata tidak kotor sama sekali Nara. Simpan saja dan kita bicarakan masalahmu. Aku sudah membuat bagan dari penyelidikan tim makeover kemarin. Saat ini masalahmu ada dua, orang yang ingin membunuhmu dan mengembalikan suamimu. Bagaimana?” kata M
“Hem, betul M Bisa sih kita menjalankan dua misi sekaligus. Namun mengingat kondisiku sekarang yang masih dalam masa pemulihan, dan kamu harus kembali bekerja, apakah tidak terlalu sulit? Aku tidak mau kamu terlalu
lama meninggalkan pekerjaanmu,” kata Nara, yang sadar bahwa ada keterbatasan dirinya yang tidak akan pernah bisa dibayar jika memaksakan diri. Nara sangat sadar jika dia berhutang banyak pada M. Nara juga sadar sepenuhnya, kalau selama enam bulan ini, M konsentrasi penuh pada dirinya, dan mendampinginya.
“Aku tidak mau berhutang terlalu banyak padamu M,” kata Nara.
“Ya, hutang kamu memang menumpuk. Tapi sementara ini jangan pikirkan itu. Tapi aku setuju. Sebaiknya kita konsentrasi pada satu project,” kata M.
__ADS_1
“Aku pikir, balas dendam pada akhirnya akan merugikan semua pihak. Lebih baik aku fokus untuk mempertahankan pernikahanku, mendapatkan kembali cinta Pradipta,” kata Nara.
M membuka panel Nada’s Project. Disana ada foto Pradipta, Nada, Juli, Ibu Mertua, Ayah mertua , Pipit dan Prita. Dimasing masing foto ada data pribadi mereka secara mendetil. Mulai dari kegiatan mereka, apa yang mereka lakukan sampai pada kelemahan dan kesalahan yang pernah mereka buat. Nara terbelalak melihat panel yang dibuat Mahardika.
“Wow! Luar biasa!” kata Nara. “Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua ini?”
Anggap saja aku pernah berada di posisi yang membuatku mengenal orang orang yang bisa mendapatkan apapun yang kita mau. Di era seperti sekarang ini Informasi apapun bisa kita dapat jika kita mencarinya ditempat yang tepat dengan cara bertanya yang benar.” Kata M. Dia mulai mengutak atik sebuat keyboard kecil di depannya.
“Pradipta: CTO Lion Corporation yang juga menjadi kepercayaan Direktur LC yang bernama Franco. Kamu bisa membaca sendiri biodatanya disini. Mungkin kamu mengenal Pradipta dengan baik sebagai pribadi. Akan tetapi aku sangat yakin, banyak hal dari informasi disini yang akan membuatmu tercengang,” kata M sambil memindahkan informasi Pradipta ke layar 1, untuk dibaca Nara.
Nara membaca satu persatu dan perlahan apa yang ada disana. Jidatnya berkerut tak percaya akan informasi tentang laki-laki yang sudah menjadi suaminya 8 tahun. Kini dia sadar sepenuhnya jika dia tidak mengenali Pradipta. Banyak hal yang selama ini tidak diketahuinya tentang laki-laki itu. Bahkan Nara melihat, Pradipta sering pulang ke Indonesia tanpa menemuinya sama sekali. Sebagai seorang laki-laki, Pradipta juga bukan laki-laki yang baik. Banyak perempuan yang sudah dipacarinya, bahkan ditidurinya. Ada beberapa catatan dari postingan wanita yang memaki dan mengutuk Pradipta karena sudah melecehkan, mempermainkan bahkan dugaan aborsipun tidak sedikit. Ada beberapa kasus yang dialami Pradipta. Anehnya ksus-kasus itu menghilang begitu saja.
“Suamimu terlibat dengan kelompok Mafia yang dipimpin sahabatnya, Marco. Mereka menjalankan bisnis -security and problem solving- sebagai kedok dari bisnis Mafia. Bahkan mereka menyewakan jasa menyelesaikan masalah dengan jalan singakat.” Kata M seperti bisa menebak pikiran M. Perempuan itu menatap M tidak percaya.
“Menghilangkan orang yang menjadi masalah Nara,” jawab M acuh sambil terus sibuk dengan pekerjaannya
di layar 2.
“Memangnya David Copperfield, bisa menghilangkan orang,” kata Nara bingung. M memandang perempuan
disampingnya dengan gemas.
__ADS_1
“Menghilangkan dengan dibunuh, dibakar, dipotong potong , atau dibuang kelaut Nara. Masa harus diperjelas,” kata M jengkel. Nara begitu kaget hingga dia hampir terjengkang. Perempuan itu mengira, semua yang dikatakan M hanya ada di novel atau film saja. Tidak mungkin di dunia nyata ini ada manusia sekeji itu.
“Kenapa tidak mungkin? Mungkin lah, buktinya suamimu dan bosnya kan. Kamu sendiri sudah mengalami kan, dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup. Untung saja Tania menyadari itu dan menggantikan dirimu sebagai korban,” kata M dengan tenang. Nara bergidik ngeri mendengarnya. Hatinya bagai teriris mengingat Tania sahabat terbaiknya yang mati dengan cara mengerikan. Dia kemballi teringat wajah ibunya yang keluar dari kediaman keluarga Hermawan sambil menangis, saat pemakaman Nada. Ibunya dan Sandra keluar rumah begitu saja, seolah-olah mereka orang asing di rumah orang lain. Padahal itu adalah rumah keluarga Hermawan. Ibunya yang lebih berhak berada disana.
Mahardika memahami saati itu Nada sedang tenggelam dalam kesakitan masa lalu. Dia hanya diam memberi waktu pada Nada untuk berpikir. Setelah beberapa saat, Nada menarik nafas, melanjutkan membaca semua data Pradipta disana. Saat ingin membuka data Juli, Mahardika menahan Nada.
“Kamu sudah tahu siapa dia. Disini tidak penting karena fokusmu adalah mendapatkan Pradipta. Bukan menyerang dia. Kalau Pradipta tidak bajingan, tebar pesona, maka Juli juga tidak akan mau didekati oleh laki-laki seperti dia,” kata Mahardika. Nada yang merasa bahwa segala bencana dan sakit jhatinya berasal dari pelakor gila itu, tidak terima. Akan tetapi baru dia akan menyuarakan protesnya, Mahardika sudah menegurnya dengan suara tegas.
“Bukannya tadi kamu sudah mengerti isi kontrak. Kamu berjanji akan mengikuti apapun kata saya. Jadi sekarang, pusatkan perhatianmu pada Pradipta dan keluarganya yang sudah memperlakukanmu sewenang-wenang,” kata M sambil menutup link Juli. Dia membuka file tentang ibu mertunya/ Disana M memperlihatkan bagaimana Ibu Pradipta bergaul dengan para sosialita. Terdapat juga buku rekening dengan jumlah yang luar biasa, yang semua berasal dari dana restoran dan bisnis Hermawan. Terdapat beberapa kali transfer dari rekening Nada, bahkan setelah Nada meninggal.
Dalam sebuah folder yang disebut kelemahan Ibu Mertua, ada banyak foto ibu mertuanya sedang berbelanja di Singapura bersama brondong. Mereka tampak mesra dan tertawa. Bahkan ada video yang menunjukan ibu mertuanya sedang membelikan baju serta perlengkapan laki-laki itu dengan kartu kredit Nada.
Setelah melihat data ibu mertua, mereka berdua membuka folder Prita. Dua gadis ini ternyata sangat menggemari club dan one night stand. Banyak sekali pria semalam yang tertangkap kamera. Belum lagi dengan kebiasaannya belanja dan foya-foya. Semua itu dia dapat dari hasil “one night stand” nya.
Di folder Pipit, gadis ini terlihat lebih kalem dari kakaknya. Namun ada beberapa foto dan video yang menunjukan kemesraannya dengan beberapa gadis di café dan hotel. Nara juga mengetahui fakta bahwa adik iparnya itu senang berjudi dan terlibat dengan judi illegal. Dalam salah satu foto, tampak Pipit sedang menggadaikan jam tangan kesayangan Ayah mertua di meja judi.
Apa yang ditunjukan Mahardika membuat Nara menggelengkan kepala sedih. Sampai saat ini rumah keluarga Hermawan masih selamat, sepertinya berkat Ayah Mertua dan tidak adanya sura-surat kepemilikan.Nara sedikit menggumam mengkhawatirkan aset aset papanya yang lumayan banyak di Jabodetabek/ Seperti bisa membaca pikiran Nara, M segera menunjukan beberapa aset Nara yang sudah berganti nama, atau sudah didirikan bangunan tanpa setahu keluarga Hermawan.
“Mereka bisa melakukan balik nama karena beberapa aset itu atas namamu, dan kamu dinyatakan sudah meninggal, membawa surat-surat itu hingga terbakar habis,” kata M.
“Tapi kan aku masih hidup M. Surat-surat itu masih ada di aku sampai sekarang,” kata Nara sedih.
__ADS_1
“Tapi kan hanya kita berdua yang mengetahui hal itu. Tak seorangpun tahu, kalau Nada masih hidup,” kata M
“Aku tidak pernah rela, harta yang dikumpulkan dengan keringat papa dan mama diambil begitu saja, apalagi dinikmati oleh pelakor itu, “ kata Nada dengan Geram.