Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 100


__ADS_3

Melati membangunkan Arnon yang masih terlelap. Gadis itu perlahan mengelus pipi suaminya lembut.


"Sayang! ayo bangun! kita makan siang dulu."


Arnon hanya menggeliat kecil melingkarkan tangannya pada pinggang Melati.


Pria itu menarik tubuh Melati menempelkan wajahnya pada bagian perut istrinya.


"Ayo bangun! kita makan siang dulu! Kak Agnez dan Asisten Pram sudah menunggu kita," ujar Melati.


Kepala Arnon mendongak ke atas menatap wajah istrinya ragu.


"Pram dan Agnez?" tanya Arnon.


"Iya, Sayang! ayo kita makan siang dulu," pinta Melati yang berdiri berjalan keluar dari kamarnya.


Arnon segera bangun dari tempat tidurnya. Pria itu berlari kecil mengejar Melati yang sudah menuruni anak tangga.


"Asisten Pram! Kak Agnez! ayo kita makan siang dulu," teriak Melati yang berjalan ke arah meja makan.


Melati menuangkan air pada gelas. Tanpa permisi, tangan kekar melingkar indah pada perutnya.


Gadis itu tetap melanjutkan aktivitasnya menuang air pada gelas terakhir.


"Kenapa masih berdiri? cepat duduk," pinta Melati.


"Aku tak sedang berdiri, aku sedang memeluk, Istriku!" Arnon melakukan kebiasaannya pada Melati yaitu mencium rambut istrinya sampai puas.


Melati tersenyum sembari meletakkan gelas yang telah terisi air pada masing-masing tempatnya.


Setelah puas dengan rambut candu Melati, Arnon duduk di kursi tepat bersebelahan dengan istrinya.


Pram dan Agnez datang bersamaan dengan jarak keduanya yang cukup jauh.


Agnez berada di depan, sedangkan Pram berada di belakangnya.


Saat melihat dua kursi kosong yang berdampingan tak berpenghuni, Pram dan Agnez saling tatap.


"Apa aku harus duduk dengan pria bermuka datar itu?"


"Kenapa hanya ada empat kursi? kenapa tidak ada 100 kursi saja, agar aku tak berada dekat dengan wanita itu," batin Pram.


Melati dan Arnon menatap kedua orang di depannya.


"Kenapa kalian tak duduk?" tanya Melati bingung.


Agnez hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Melati tanpa ingin membuka suara.


"Pram! kenapa kau tak duduk?" tanya Arnon dengan raut wajah datar.

__ADS_1


"Ini sudah akan duduk, Tuan!"


Pram terpaksa duduk di sebelah kursi kosong yang pastinya akan di tempati oleh Agnez.


Pram menatap ke arah Arnon yang juga menatapnya datar.


"Kenapa tatapannya terhadap orang lain selain, Nona! pasti datar dan dingin."


Agnez masih tetap tak kunjung duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah Pram.


"Kak? kenapa masih berdiri?" tanya Melati yang mengambil nasi ke atas piring suaminya.


"I-iya, Mel! aku akan duduk sekarang."


Agnez ragu-ragu duduk di kursi kosong yang mana di sebelahnya sudah terdapat mahluk menyebalkan baginya.


Agnez dan Pram hanya melihat makanan yang ada di atas meja makan. Mereka berdua tak ada yang berniat mengambil nasi atau apapun yang sudah tertata rapi dengan wangi menggugah selera.


"Kenapa tak dimakan? apa ada sesuatu yang kalian inginkan?" tanya Melati yang mengambil nasi ke atas piringnya sendiri.


Bukan sahutan yang Melati dengar melainkan suara berat suaminya.


"Sudahlah, Sayang! jika mereka tak mau makan, biarkan saja!"


Pram langsung mengambil nasi dan meletakkannya di atas piring.


Agnez mau tak mau harus ikut makan juga karena ia tak ingin membuat masalah jika dirinya berkata tak nafsu makan saat ini.


Agnez mengikuti arah tangan dengan lengan kekarnya. Ia terus menelusuri tiap inci tangan tersebut sampai pada bagian wajahnya, mulut Agnez seketika menganga.


Tangan kokoh tersebut milik Asisten pribadi Arnon yang juga akan mengambil tumis jamur tiram telur puyuh.


Spontan tangan Agnez langsung bergerak menjauhi tangan Pram.


"Ma-maaf!" Agnez meminta maaf pada Pram.


Tak ada jawaban dari Asisten Arnon itu. Pria itu lebih memilih melanjutkan mengambil menu makanan yang lain tanpa memperdulikan ucapan Agnez.


Kedua mata Agnez sudah menajam melirik Pram yang tak menghargai permintaan maafnya.


"Dasar, pria datar! aku minta maaf tak kau perdulikan! huh, tega sekali pria satu ini," gerutu Agnez.


Agnez kembali melanjutkan mengambil lauk lainnya dan memakannya dengan kasar.


Arnon dan Melati melirik kedua manusia yang nampak saling benci satu sama lain.


"Kenapa dengan kedua orang ini? mereka terlihat seperti seorang pasangan yang tengah bertengkar." Melati membatin pada dirinya sendiri.


"Bagaimana dengan lowongan pekerjaannya, Kak? apa kakak sudah menemukan lowongan pekerjaan yang cocok?" tanya Melati sembari menyendok makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Belum, Mel! sepertinya, aku akan mencari pekerjaan yang lain saja, seperti pelayan atau apalah yang tak membutuhkan waktu lama untuk di terima," tutur Agnez yang tak ingin lama-lama menganggur.


"Sambil menunggu ada lowongan pekerjaan yang pas untuk, Kakak! tak masalah jika ingin mencari pekerjaan yang lebih mudah untuk di terima bekerja tanpa harus menunggu lama."


"Boleh aku tanya sesuatu, Mel!"


"Tanyakan saja, Kak!"


"Aku sempat melihat kebun bunga di samping kebun sayur mayur yang ada di halaman belakang rumah lama kita! apa aku boleh menjual bunga-bunga, itu?" tanya Agnez yang merasa tak enak hati telah lancang ingin menjual bunga yang bukan miliknya.


"Jual saja, Kak! lagipula, kasihan bunganya yang ada di sana sudah tak terawat lagi! dari pada tak terpakai dan mati sia-sia, lebih baik kita manfaatkan saja," ucap Melati ramah.


"Benar tidak apa-apa, Mel!" tanya Agnez lagi.


"Tak apa-apa, Kak! daripada mati sia-sia."


"Terimakasih ya, Mel!"


Kedua wanita yang ada di meja makan itu tersenyum manis, sedangkan para pria nampak tak perduli lebih memilih makan daripada mendengarkan obrolan para wanita yang menurut mereka terdengar rumit.


Diam-diam Pram mendengarkan semua obrolan Melati dan Agnez.


"Asisten, Pram! tolong bantu, Kak Agnez! karena bunga di halaman belakang cukup banyak, jadi dia tak bisa hanya sendiri memetiknya," pinta Melati pada Om Jin-nya.


"Tapi, Nona! saya ...."


"Bantu saja dia, Pram! bukankah besok siang kita baru ada pertemuan untuk film terbaruku?"


Pram menatap ke arah Agnez dengan tatapan tak suka.


"Kenapa wanita ini sungguh menyusahkan aku, sih! apa dia tak ada inisiatif untuk menolak semua ucapan, Nona Melati!"


Agnez masih diam melanjutkan makannya, namun hatinya mulai berceloteh ria. "Kenapa harus dengan pria datar ini? pasti saat aku memetik bunga-bunga itu, dia tak akan berbicara bagai patung atau bahkan mungkin dia bisa saja berbicara dengan nada menakutkan."


Hati keduanya mulai tak tenang memikirkan angan-angan yang belum tentu terjadi.


"Kenapa kalian diam," ujar Melati dan Arnon secara bersamaan.


Sontak Agnez dan Pram terkejut dengan suara serempak pasangan muda itu.


"Baik, Tuan! saya akan membantunya."


"Aku juga bersedia di bantu olehnya," sahut Agnez terpaksa.


"Kalau begitu, besok pagi kalian berdua ke rumah lamaku ya?"


"Baik, Nona!


"Iya, Mel!"

__ADS_1


Agnez dan Pram tak nafsu makan kala keduanya membayangkan hari esok yang pastinya begitu menguras ketegangan dan kecanggungan luar biasa.


__ADS_2