Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 122


__ADS_3

Mata Agnez terbuka lebar saat Pram melepaskan bibirnya dari atas dahi wanita itu.


"Kita harus segera kembali ke rumah, karena aku takut, janin yang ada di perut, Nona muda! marah pada kita berdua."


Agnez hanya mengangguk pasrah. Ia menghadap ke arah depan tanpa berani menatap wajah Pram.


Sebelum kembali ke rumah keluarga Gafin, Agnez terlebih dulu mengambil daun pandan yang tumbuh di pekarangan rumah lamanya.


Kini keduanya berada di perjalanan menuju ke arah rumah keluarga Gafin.


Pram melirik Agnez. Menatap wanita itu sembari menarik senyum manisnya.


"Apa kita sekarang sudah resmi pacaran?" tanya Pram malu-malu.


Agnez tersenyum dengan wajah memerah. "Menurutmu?" tanya balik Agnez.


"Mulai sekarang kita pacaran dan aku akan segera melamarmu! kau harus setuju dengan rencanaku, karena kau telah menyetujui perjanjian kita, bukan?"


"Tapi ...."


"Tak ada tapi-tapian! aku akan segera menikahimu."


Tangan kiri Pram megenggam tangan Agnez dengan tangan kanan yang masih setia bertengger pada kemudi mobilnya.


Keduanya sudah sampai di halaman rumah keluarga Gafin. Agnez turun lebih dulu meninggalkan Pram yang masih berada dalam mobilnya.


Agnez dan Susan sudah berada di dapur untuk memasak kue cucur yang di minta oleh Melati.


"Nez! Tante akan membangunkan Melati dulu ya? dia ingin melihat proses pembuatannya, jika tak di bangunkan, takutnya nanti marah lagi," ujar Susan.


"Iya, Tante!"


Susan berjalan ke arah kamar Arnon. Pintu kamar putranya tak terkunci karena Melati masih tidur di pelukan suaminya.


"Bangunkan, Istrimu! kue cucur gula merahnya sudah akan di buat," tutur Susan sambil melangkah perlahan keluar dari kamar Arnon.


Arnon mengangguk. Pria itu secara perlahan mengusap lembut pipi Melati. "Sayang! ayo bangun dulu! kue cucur hangat sudah menunggumu," ucap Arnon masih mengusap lembut pipi Melati.


Melati sedikit menggeliat kecil. Ia menatap wajah Arnon dengan wajah khas bangun tidur.


Arnon tersenyum pada Istrinya. "Aku mencintaimu, Sayang!"


Melati tersenyum pada suaminya. Ia menengadahkan wajahnya. "Kita juga mencintaimu, Sayang!"


Cup

__ADS_1


Kecupan hangat untuk menyambut istrinya bangun tidur mendarat sempurna di bibir indah Melati.


"Ayo kita turun ke bawah! kue cucur hangat sudah menunggumu dan anak kita, Sayang!"


Arnon turun dari ranjangnya. Ia mengulurkan tangannya pada Melati.


Melati dengan wajah manjanya merentangkan kedua tangannya minta di gendong, "Gendong!"


"Ini keinginan anakku atau istriku?" tanya Arnon sambil tersenyum.


"Dua-duanya, Sayang!"


Pria itu hendak mengangkat tubuh istrinya, namun saat kedua tangannya sudah berada di bagian punggung dan paha Melati, ia masih menyempatkan diri menyapa anak dalam perut istrinya karena posisi wajah Arnon sangat dekat dengan perut Melati yang sudah membuncit. "Jangan terlalu manja dengan, Daddy! apa kau tau, Son! tubuh Mommy sangat berat! Daddy hampir tak kuat mengangkat kalian berdua," ledek Arnon yang mendapat kecupan pada pipinya.


Cup


"Apa Daddy masih tak kuat mengangkat kami berdua?" tanya Melati yang menggoda suaminya.


"Masih, Sayang! karena kecupanmu itu meleset, tak tepat pada sasarannya," sahut Arnon yang masih setia dengan posisi tubuhnya sedikit merunduk.


"Benarkah?" tanya Melati lagi ingin memastikan.


"Benar, Sayang!"


Cup


Arnon hanya menggeleng, pertanda jika kecupan itu kurang membangkitkan semangatnya.


Entah keberanian darimana sampai Melati berani menarik tengkuk suaminya. Menyatukan bibir mereka dan perempuan itu juga berani mengambil alih tugas Arnon. Menggerakkan bibirnya penuh agresif.


Arnon tersenyum di sela-sela ciuman mereka yang pertama kali ini Melati yang mengambil alih tugas Arnon.


Melatih menjauhkan wajahnya dari wajah Arnon. " Apa energi-mu sudah terisi penuh?" tanya Melati lagi.


Tatapan keduanya masih menyatu. Arnon mengedipkan sebelah matanya menggoda sang istri.


"Apa ini yang di sebut dengan hormon kehamilan?" tanya Arnon pada Istrinya.


"Hormon kehamilan?" tanya Melati tak mengerti.


Arnon tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia lebih memilih mengangkat tubuh Melati sambil berjalan keluar dari kamarnya.


"Kau tak perlu tahu apa itu hormon kehamilan yang meningkat, Sayang! yang jelas aku suka jika hormon itu terus meningkat saat kau hamil, karena mulai detik ini ... kau yang akan mengambil alih tugasku," bisik Arnon pada telinga Melati.


Karena merasa geli dengan bisikkan suaminya, Melati menempelkan telinganya pada dada bidang Arnon.

__ADS_1


"Kau tahu darimana itu semua," tanya Melati sembari mengendus wangi tubuh Arnon. Entah kenapa ia ingin terus berlama-lama di sana.


"Kau tak perlu tahu darimana! yang jelas malam ini aku ingin membuktikan semua itu, lagipula aku sudah 3 bulan lamanya tak mengunjungi anak kita," ujar Arnon sambil mengecup puncak kepala Melati.


"Kau ingin mengunjungi anak kita, atau kau rindu padaku?" goda Melati sambil cekikikan menggoda suaminya.


"Astaga! apa ini sungguh istriku yang pemalu jika berurusan dengan ranjang? kenapa kau semakin pintar saja menggoda suamimu ini, Sayang?"


"Kau terlalu berlebihan! aku tak menggodamu, Suamiku!"


"Terserah kau saja! yang jelas nanti malam aku akan mengunjungi anak kita," tutur Arnon dengan hati-hati menuruni anak tangga menuju lantai dasar.


Di ruang tamu sudah ada Pram dan Hadi, sementara Melati masih berada dalam gendongan suaminya.


"Sudah bangun, Nak!"


Suara Hadi menegakkan kepala Melati yang sedari tadi menyandar pada sandaran ternyamannya.


"Papa!" Melati tersenyum pada Hadi dan meminta di turunkan dari dalam gendongan suaminya, "Turunkan aku, Sayang!"


Arnon menurunkan istrinya perlahan. Melati bahagia saat melihat ayahnya.


Melati sedikit berlari kecil berjalan ke arah Hadi.


"Pelan-pelan, Sayang! Arnon sedikit cemas karena kondisi Istrinya tengah hamil.


Belum juga teriakan Arnon mencapai satu menit berlalu, tanpa Melati sadari, kakinya tersandung kaki meja saat ia berjalan mendekati ayahnya.


"Aaaaaaaa," teriak Melati.


"Mel!" Arnon berteriak terkejut karena posisi Melati terjungkal ke depan.


Teriakan Melati dan Arnon sampai ke dapur, membuat semua orang yang ada di sana berhamburan keluar menuju ruang tamu.


Hadi dan Pram terkejut melihat Melati terjungkal ke depan.


Dada semua orang yang melihat kejadian itu berdentum keras saat melihat tubuh Melati terjungkal ke depan.


Melati dan Agnez menutup mulut mereka dengan wajah terkejut dan takut yang menjadi satu.


Arnon berlari ke arah Melati. Pria itu tak perduli dengan apa yang ada di hadapannya.


Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, bagaimana dirinya bisa menangkap tubuh istrinya. Jika perlu ia ingin sekali menggantikan posisi Melati, karena ia tak ingin anak dan istrinya sampai kenapa-kenapa.


Arnon terus berlari kala ia melihat perut Melati hampir mendarat di atas keramik.

__ADS_1


"Melati! awas!"


Arnon berteriak histeris karena takut anak dan istrinya celaka.


__ADS_2