
Zinnia kembali ke dalam butiknya, gadis itu tengah mencuci tangannya di wastafel.
Saat Zinnia sibuk mencuci tangannya, gadis itu teringat kala William menggigit kecil bagian jari telunjuknya.
Wajah Zinnia tersipu malu. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. "Kenapa aku selalu teringat adegan itu ya? menggelikan sekali!"
William masih berada di halaman belakang butik Zinnia. Pria itu menatap ke arah langit yang di penuhi bintang-bintang.
Setelah selesai, Zinnia berjalan ke arah mejanya, namun para karyawan butiknya masih membuka toko mereka kembali.
"Kenapa masih dibuka? bukankah sudah aku suruh tutup lebih cepat?" tanya Zinnia pada kelima wanita cantik di hadapannya.
"Tak apa-apa, Bu! masih banyak waktu menuju pukul 9 malam," tutur salah satu pegawainya.
Zinnia hanya bisa mengacungkan jempolnya pada mereka berlima. "Tak salah aku memilih kalian menjadi pegawaiku," puji Zinnia berjalan ke arah kamarnya, namun niatnya ia urungkan saat ingin menarik hendel pintu kamarnya.
Gadis itu teringat akan suaminya yang masih tak ia lihat setelah proses makan bersama di halaman belakang butiknya.
Zinnia berjalan ke arah pintu halaman belakang dengan ponsel di tangan kirinya dan sebotol air mineral di tangan kanannya.
Saat Zinnia sudah berada di belakang pintu yang sudah tertutup rapat, ia melihat seorang pria tengah duduk membelakanginya.
Pria itu memeluk kedua kakinya. William menatap ke atas langit.
Zinnia langsung duduk di samping suaminya. Gadis itu memberikan sebotol air mineral pada William. "Minum ini! kau pasti belum minum kan?"
William mengalihkan pandangannya dari langit ke arah wajah sang istri.
Pria itu tersenyum sambil meraih botol air mineral dan meneguknya sampai tinggal setengah.
Zinnia melihat ke arah langit yang yang ditaburi oleh ratusan bintang.
"Indah sekali ya?" Zinnia tersenyum melihat ke atas langit.
William mengikuti arah pandangan istrinya, sedetik kemudian pria itu melihat ke arah Zinnia yang yang masih fokus melihat ke arah bintang di langit.
"Ya! indah sekali," ujar William tersenyum memandang wajah Zinnia.
Sebuah pahatan wajah yang sangat sempurna bagi William. Mata indah dengan bulu mata lentiknya, hidung mancung yang tak perlu diragukan lagi, dan bibir yang pasti ingin ia lahap saat menatapnya.
Zinnia mengeluarkan ponselnya. Gadis itu ingin membidik langit malam yang menurutnya sangat indah, namun saat ia hendak membidik keindahan langit itu, tiba-tiba bintang jatuh dan terlihat jelas di kamera ponselnya.
__ADS_1
Gadis itu langsung memejamkan mata dengan ponsel yang masih ada dalam genggaman tangannya.
William bingung apa yang dilakukan oleh Zinnia sampai gadis itu memejamkan mata secara tiba-tiba.
30 detik kemudian, Zinnia kembali membuka matanya. Ia menoleh ke arah William yang berada tepat di sampingnya sedang memandangi dirinya.
"Kenapa kau tak memejamkan mata?" tanya Zinnia pada suaminya.
William nampak tak mengerti dengan pertanyaan yang Zinnia lontarkan padanya. "Untuk apa aku harus memejamkan mataku?" tanya William balik pada istrinya.
"Apa kau tak tahu jika ada bintang jatuh?" tanya Zinnia lagi.
William hanya menggelengkan kepalanya.
Zinnia hanya bisa geleng-geleng kepala menatap ke arah suaminya. "Tadi kau setuju dengan ucapanku jika bintang di atas langit itu indah, tapi mau sendiri tak tahu ada bintang jatuh! kau sebenarnya melihat ke atas langit atau melihat apa sih!"
"Aku melihatmu, Gadis cerewet!"
"Aku tak melihat jika ada bintang jatuh," elak William yang tak ingin ketahuan oleh Zinnia jika dirinya tengah memandangi istrinya sedari tadi.
"Jika ada bintang jatuh, kau harus mengucapkan permohonanmu," tutur Zinnia pada suaminya.
"Jadi kau memejamkan mata karena kau sedang membuat permohonan?" tanya William memastikan.
"Tentu saja!"
"Apa kau sungguh ingin tahu?" tanya Zinnia balik pada suaminya.
"Tentu saja!"
Zinnia tersenyum sambil memutar tubuhnya agar posisinya berhadapan dengan William.
"Aku meminta agar kau bisa cepat jatuh cinta padaku secara permanen, Dokter Aiden William Pattinson!"
Deg deg deg
Jantung William mulai terpompa begitu cepat. Pria itu menatap kedua mata istrinya. Mencari kemungkinan ada kebohongan yang tersimpan dalam setiap ucapan Zinnia, namun tak ada kebohongan sama sekali.
"Sungguh kau meminta permohonan itu?" tanya William yang masih tak yakin dengan ucapan Zinnia.
"Aku tak mungkin berbohong, Pria mesum!"
__ADS_1
Zinnia kembali menebar senyum manisnya. "Jadi kau sekarang harus mengucapkan permintaanmu," tutur Zinnia.
"Apa masih bisa?" tanya William ragu.
"Tentu saja bisa! kan masih belum 5 menit," tutur Zinnia dengan cengir kudanya.
William dengan mata terbuka hendak membuat permohonannya, namun Zinnia menghentikannya.
"Kenapa kau membuat permohonan dengan mata terbuka? kau harus menutup matamu," tutur Zinnia.
"Aku ingin membuat permohonan itu dengan mata terbuka, Zi!"
"Tapi kau harus membuat permohonan itu dengan mata tertutup! baru permohonanmu akan diterima."
William menatap istrinya kesal. "Aku tak percaya! intinya aku ...."
Zinnia langsung menutup mata suaminya dengan telapak tangannya. "Biar aku yang membantumu! kau tinggalkan ucapkan dalam hati saja."
William tersenyum. Pria itu mulai membuat permohonannya, namun tidak dalam hati, melainkan dengan suara lantang, "Aku ingin permohonan Zinnia terkabul dan jika semua permohonannya terkabul, aku tak ingin rasa ini bertepuk sebelah tangan," mohon William yang perlahan membuat tangan istrinya terlepas dari mata William.
Mata Hot Dokter itu mulai terbuka. Pria tampan tersebut menatap mata Zinnia yang juga menatapnya dengan tatapan tak paham akan ucapan pria tampan itu.
Zinnia masih dalam posisi duduk berhadapan dengan suaminya.
"Apa kau sudah mendengar permohonanku?" tanya William yang hendak menyentuh telapak tangan istrinya, namun salah satu pelayan butik itu tiba-tiba saja datang.
"Kami pamit pulang dulu, Bu Zinnia! ini sudah jam 10 malam! maaf, kami sedikit terlambat menutup butiknya karena kami juga sedang menunggu Ibu, ternyata Ibu masih ada di sini! jika Bu Zinnia ingin menginap di sini, kami akan pulang dulu! selamat malam."
Pelayan wanita itu langsung pergi dari hadapan Zinnia dan William.
Zinnia langsung berlari ke dalam untuk mengunci butiknya.
Gadis itu kembali ke halaman belakang untuk bertanya pada William pria itu akan pulang atau menginap di sini.
"Mmmm, kau ingin pulang atau menginap di sini? sudah jam 10 malam lebih," tutur Zinnia dan William langsung melihat ke arah jam tangannya.
"Kau bilang akan ke suatu tempat?" tanya balik William.
"Jika kau menginap, aku tidak jadi ke rumah temanku."
William masih memikirkan sesuatu sampai ia akhirnya memilih. "Aku akan menginap di sini! aku juga ingin tahu tempat tidur desainer terkenal seperti dirimu."
__ADS_1
William langsung berjalan masuk ke dalam. Pria itu nampak tetap cool meskipun ia sudah membuat jiwa Zinnia panas dingin mendengar permohonannya tadi.
Gadis itu mengikuti suaminya masuk ke dalam.