
Tiga hari setelah insiden yang menimpa Sandra dan wanita itu masih belum sadar juga. Marquez setiap hari yang menjaga Sandra. Nina tentunya tak tahu jika Marquez yang menjaga adiknya karena Zinnia yang menjadi umpan agar Marquez dapat menjaga teman duetnya untuk bersitegang dalam artian saling ejek satu sama lain.
Marquez dengan telaten membersihkan wajah, tangan, dan kaki Sandra menggunakan sapu tangan dengan air hangat. Pria itu sangat perhatian sekali dengan Sandra.
Setelah selesai membersihkan bagian wajah, tangan, dan kaki Sandra, Marquez mengeringkan bagian tubuh yang basah itu dengan handuk kecil. Setelah semuanya selesai, Marquez menyemprotkan sesuatu pada tangannya kemudian mengusap kedua telapak tangannya agar saling bergesekan dan mengusapkan pada leher dan lengan Sandra. Seketika wangi segar menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Marquez.
Pria itu sudah selesai dengan tugasnya. Marquez kembali duduk menggenggam tangan Sandra yang sudah bersih dan wangi. Hampir tak ada bau obat-obatan lagi di ruangan itu karena wangi segar dari tubuh Sandra menghilangkan bau tak nyaman di hirup.
"Kau sudah wangi dan bersih! kapan kau akan sadar? apa kau tahu? aku sudah lelah setiap hari merawatmu yang tak bisa mandi sendiri! apa kau tahu? saat aku bangun dari tidurku, hal pertama yang aku lihat adalah dirimu! aku ingin memastikan kau sudah sadar atau tidak dan ... kau masih tetap dalam keadaan seperti ini," curhat Marquez pada Sandra yang masih dalam keadaan tak sadar.
Marquez melihat ke arah wajah Sandra yang masih pucat. Tangan kanan Marquez terulur untuk menggapai kening wanita yang membuatnya merasa seperti seorang budak cinta. "Aku baru kali ini cemas pada wanita selain, Zinnia! aku baru kali ini perduli pada wanita yang tak aku kenal lama! aku baru kali ini melihat wanita sakit dan hatiku juga ikut sakit," gumam Marquez lagi sembari mengusap lembut kening Sandra yang masih terlapis perban.
Ceklek
Suara pintu ruang rawat inap Sandra terdengar. Marquez yang tengah asyik berkomunikasi dengan Sandra menoleh ke arah pintu kamar itu. "Tumben jam makan siang kemari? biasanya tak ada yang perduli denganku," sindir Marquez pada Zinnia dan Jenifer yang datang untuk menjenguk Sandra.
Dua wanita cantik itu melangkahkan kakinya mendekati Marquez. Saat mereka sudah berada di hadapan desainer tampan kenamaan dunia, Zinnia meletakkan kotak makan tepat di pangkuan Marquez, dan Jenifer meletakkan satu keranjang buah pada meja ruangan tersebut.
"Kau makan dulu! Sandra biar aku dan Jenifer yang menjaganya," tutur Zinnia.
"Aku masih belum lapar, Zi! Marquez lagi-lagi menolak permintaan Zinnia.
Zinnia dan Jenifer saling bertukar pandangan. "Apa yang aku katakan padamu benar kan, Jen! Marquez sepertinya sudah mulai keracunan cinta yang berlebih sehingga diam di samping Sandra saja sudah kenyang," ledek Zinnia.
"Tuan Copaldi! jika anda tidak mau makan tak apa, tapi kasihanilah cacing-cacing di perut anda itu yang merasa kelaparan," ledek Jenifer juga.
Marquez segera membuka kotak bekal yang di bawa oleh Zinnia. Saat kotak itu sudah sepuhnya terbuka, wangi makanan yang di buat oleh Zinnia membuat perutnya berbunyi.
__ADS_1
Sontak Zinnia dan Jenifer tertawa kecil karena takut menganggu Sandra yang sedang sakit. "Hahaha! katanya tak lapar, tapi alarm perutnya sudah berbunyi," ledek Zinnia lagi.
Marquez hanya bisa menatap Zinnia kesal dan desainer kenamaan dunia itu berpindah tempat ke arah sofa yang berada di ruangan rawat inap Sandra.
Marquez lebih baik menjauh dari ibu hamil yang super duper jahil dan cerewetnya minta ampun.
Zinnia melirik Marquez yang mulai hendak menyantap makanannya. "Lapar ya, Pak!"
Marquez menghentikan gerakan sendoknya dengan mulut menganga. Desainer tampan itu melirik ke arah Zinnia yang duduk di kursi tempat ia duduk tadi. "Jika kau tak diam, aku akan marah, Zi!"
"Huuu! dasar pria yang suka marah-marah! awas nanti cepat tua dan, Sandra ...."
"Zi!" Marquez memberikan peringatan pada Zinnia.
Zinnia tersenyum manis pada rekannya itu. "Silahkan dimakan makanan buatan ibu hamil yang paling cantik seantero negeri ini, Tuan Copaldi!"
"Semoga saja Sandra cepat sadar ya, Zi! acara penghargaan itu sudah kurang 1 Minggu lagi dan gaun yang kalian berdua rancang sudah selesai," ujar Jenifer melihat ke arah Sandra yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Semoga saja, Jen!" Zinnia menggenggam tangan Sandra erat. "Kau harus sadar, San! kasihan Kak Nina dan Marquez yang selalu menyayangimu."
Marquez menghentikan makannya. Pria itu melihat ke arah Sandra. Lagi-lagi rasa sakit menyeruak dalam hatinya karena Sandra tak kunjung sadar juga.
Jari-jari tangan Sandra bergerak-gerak dan Jenifer menyaksikan itu semua. Mulut Jenifer menganga dari saking terkejutnya. "Zi! jari-jari Sandra bergerak-gerak," tutur Jenifer dan Zinnia segera menekan tombol yang terhubung ke ruangan Dokter Yoga.
Tak butuh waktu lama untuk Dokter Yoga datang. Dokter itu sudah masuk ke dalam ruang rawat inap Sandra.
"Ada apa, Ibu Zinnia?" tanya Yoga pada istri pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.
__ADS_1
"Jari-jari Sandra bergerak-gerak tadi, Dok!"
Jenifer memberikan ruang untuk Yoga memeriksa keadaan Sandra.
Setelah semuanya di periksa, Yoga membuka suaranya, "Keadaan Nona Sandra semakin berkembang pesat, kita tunggu besok atau lusa untuk ia sadar!" Yoga menjelaskan pada Zinnia, kemudian Dokter itu menatap ke arah Marquez. "Terus rangsang istri anda dengan cara berkomunikasi, Tuan! karena ia pasti merasakan kehadiran anda."
Jenifer dan Zinnia bingung mendengar kata istri dari mulut Dokter Yoga.
"Saya akan kembali ke ruangan saya dulu! jika ada sesuatu langsung tekan tombol itu," tunjuk Yoga pada tombol yang baru saja di tekan oleh Zinnia.
"Baik, Dok!"
Setelah Dokter Yoga sudah keluar dari ruangan rawat inap Sandra, Zinnia melihat ke arah Marquez dengan tatapan tajam menusuk mata. "Kapan kau menikah dengan, Sandra? kenapa aku baru tahu jika Sandra sudah menjadi istrimu," cecar Zinnia sembari melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah meminta penjelasan dari mulut Marquez.
Marquez meletakkan sendoknya dan meminum air putih yang juga di bawakan oleh Zinnia.
"Kau jangan tanyakan padaku, Zi! Aku tak tahu apa-apa tentang itu! dia saja yang menganggap aku sebagai suami, Sandra!" Marquez menjelaskan pada Zinnia.
Tiba-tiba tubuh Sandra mengalami kejang. Semua orang yang berada di ruangan itu panik termasuk Marquez. Pria itu berlari ke arah Sandra menggenggam tangan asisten cantik tersebut. "Sandra! kau kenapa? aku mohon jangan tinggalkan aku!" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Marquez.
Dokter Yoga datang dan Zinnia memberikan ruang bagi Dokter itu agar dapat memeriksa kondisi Sandra.
Bayangan negatif kembali berputar dalam otak Marquez. Pria itu merasa takut kehilangan Sandra.
Marquez memejamkan matanya mengecup tangan Sandra yang berada dalam genggaman tangannya.
"Tuhan! aku masih tak yakin dengan perasaan ini tapi dengan adanya kejadian saat ini aku mulai yakin, jika wanita yang saat ini terbaring lemah di depanku adalah wanita yang bisa menggeser posisi Zinnia dalam hatiku, jadi aku mohon jika kau mengizinkan aku untuk bisa mengungkapkan perasaan ini padanya, tolong buat dia sadar dan aku berjanji akan menjaganya seumur hidupku."
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.