
Semua tamu yang hadir pada pesta itu menikmati jamuan yang sudah di sediakan. Zinnia dan William meminum sirup yang sudah di sediakan pula.
Marinka tengah mengobrol dengan beberapa rekan bisnis onlinenya. Wanita bergaun Hitam itu melirik ke arah William dan Zinnia yang terus bersama.
"Nikmati saja kebersamaan kalian berdua."
Marion dan Jerry menyapa Zinnia dan suaminya. "Kenapa kalian hanya di sini saja? ayo nikmati jamuan malam ini," tutur Marion pada keduanya.
"Iya," sahut Zinnia tersenyum pada Marion.
Jerry dan William saling tatap. Suami Marion itu mengedipkan matanya pada William agar Dokter tampan yang sekaligus mantan calon suami Marion melancarkan rencana pertama mereka.
"Sayang! aku ke toilet sebentar," tutur William pada istrinya.
"Apa perlu aku ikut?" tanya Zinnia pada suaminya. William tersenyum sambil mengusap lembut tangan Zinnia yang masih melingkar pada lengannya. "Tidak perlu, Sayang!"
Zinnia menganggukkan kepalanya dan William bergegas menuju arah toilet.
"Kita berkumpul dengan yang lain yuk, Zi!" Marion menarik tangan Zinnia untuk mengalihkan perhatian desainer cantik itu jika suaminya bukan pergi ke arah toilet, melainkan menuju arah suatu tempat.
Marinka memisahkan diri dengan tamu lainnya. Ia berada di dekat sebuah bunga besar yang berada di ruangan itu.
"Halo! kau dimana sekarang?"
"Saya sudah di tempat yang aman, Boss!"
"Bagus! kau cepat lakukan tugasmu sekarang juga!"
"Siap, Boss! saya akan meluncur sekarang juga!"
Tut tut tut tut tut
Panggilan di akhiri oleh anak buah Marinka. "Bagus! sebentar lagi pertunjukan menegangkan akan segera di mulai." Senyum licik mengembangkan sempurna dari bibir tebal Marinka.
Zinnia masih berbincang dengan Marion dan Jerry, sampai pada detik dimana teman Marion datang menyapa.
"Selamat ya, Marion!" Wanita bertubuh sedikit lebih pendek dari Marion memeluk kembaran Marinka itu.
"Anak-anak yang lain ada di sana, kita kesana saja ya," tawar teman Marion.
"Iya, kau kesana saja dulu! sebentar lagi aku menyusul," tutur Marion dan temannya langsung kembali kepada kumpulan teman kuliahnya dulu.
__ADS_1
"Zi! aku tinggal sebentar ya? kau nikmati semua jamuan malam ini," tutur Marion sembari menggandeng tangan Jerry menuju arah kumpulan teman lamanya.
Zinnia diam melihat ke arah sekelilingnya. "Kemana dia? kenapa masih belum kembali juga? apa dia sedang dalam kondisi perut tak enak," gumam Zinnia masih terus mencari keberadaan suaminya sampai seorang pria berpakaian pelayan datang menghampiri Zinnia dengan sebuah nampan di tangannya. Nampan itu berisi minuman dan terselip sepucuk surat di sela-selanya.
"Surat ini untuk anda dari seseorang, Nona!" Pelayan pria itu segera pergi setelah Zinnia mengambil surat yang terselip di bagian gelas yang berisi minuman.
Pada waktu yang bersamaan, Marquez juga di datangi oleh seorang pelayan dan pelayan itu juga memberikan sepucuk surat pada desainer tampan tersebut. "Ini dari siapa?" tanya Marquez pada pelayan itu.
"Saya tidak tahu! anda baca saja, siapa tahu ada identitas pengirimannya," tutur pelayan pria itu dan segera pergi dari kerumunan para tamu.
Marquez membuka surat itu dan membaca isi suratnya.
Aku menunggumu di ruangan sebelah kanan persimpangan menuju arah toilet.
Zinnia
Marquez melihat ke arah Zinnia yang masih celingak-celinguk melihat ke segala arah seperti orang tengah kebingungan.
"Apa dia sedang melihat kondisi?" tanya Marquez pada dirinya sendiri.
Marquez memilih pergi ke tempat yang sudah tertulis pada surat yang berasal dari Zinnia, namun pada kenyataannya surat itu bukan dari Zinnia.
Zinnia masih tak membaca isi surat dari pelayan tadi. Wanita itu masih sibuk mencari suaminya.
Jika kau ingin tahu hubungan yang sebenarnya antara William dan Marion, kau harus menemuiku di ruangan sebelah kanan persimpangan menuju arah toilet.
Jantung Zinnia lagi-lagi berdebar kencang karena surat yang entah siapa pengirimnya.
"Siapa orang yang mengirim surat ini? kenapa dia masih ingin mengungkit hubungan William dan Marion?" tanya Zinnia sambil terus menatap surat yang ada di tangannya.
Zinnia bimbang antara harus pergi ke tempat itu atau tidak.
Sedangkan Marquez sudah berada di persimpangan menuju arah toilet dan ruangan yang sudah ada di dalam surat tadi.
Saat Marquez hendak berjalan menuju arah ruangan itu, tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang. "Tuan Copaldi!" Asisten pribadi Zinnia mencegah Marquez agar tak melanjutkan niatnya untuk berjalan ke arah ruangan private tersebut.
"Kau asisten, Zinnia kan?" tanya Marquez pada Sandra.
"Iya, Tuan! saya kemari karena Ibu Zinnia meminta untuk memberitahu anda kapan hari yang pas memulai membuat sketsa busana untuk kolaborasi anda dan Ibu Zinnia," jelas Sandra pada Marquez.
"Jadi ini yang ingin dibicarakan Zinnia padaku."
__ADS_1
"Kita duduk di sebelah sana saja, Tuan!" Sandra menunjuk sebuah tempat yang sudah tersedia sofa dan mejanya. Tempat itu masih masuk dalam ruangan pesta namun, tertutup oleh sebuah kelambu berwarna putih untuk orang menunggu temannya yang masih berada di toilet.
Zinnia masih belum memutuskan. Ia masih bimbang. "Jika aku tak pergi, aku akan mati penasaran! jika aku pergi, aku harus siap dengan kenyataan yang akan aku terima," gumamnya lagi.
Zinnia menguatkan diri dan tekatnya untuk menemui orang yang mengirimkannya surat.
Zinnia berjalan ke arah tempat yang sudah dituliskan dalam surat itu. Langkah Zinnia sudah melewati sebelah kanan persimpangan menuju arah toilet.
Kini Zinnia sudah berada di depan pintu yang bertuliskan private room. Tangan Zinnia yang hendak membuka hendel pintu ruangan tersebut sudah basah berkeringat dingin.
"Kau harus berani, Zi!"
Zinnia mulai membuka secara perlahan hendel pintu ruangan tersebut. Saat pintu ruangan itu sudah terbuka, ruangan itu gelap tak ada cahaya apapun.
Zinnia hendak keluar dari dalam sana namun, seseorang membekap mulutnya dan membawanya masuk ke dalam ruangan gelap itu.
Pintunya tertutup rapat. Zinnia meronta-ronta ingin lepas dari bekapan orang yang tak terlihat wajahnya.
Sekuat tenaga Zinnia memberontak, orang itu malah memeluk tubuh Zinnia erat.
"Ini aku, Sayang!" suara William menenangkan Zinnia yang dalam keadaan ketakutan.
"Aku takut! disini sangat gelap," ujar Zinnia dengan suara ketakutan.
"Ada aku di sini, jadi kau jangan takut ya," ucap William memberikan suntikan semangat pada istrinya agar Zinnia tak takut.
"Jadi kau yang mengirim surat itu padaku?" tanya Zinnia sambil memeluk tubuh suaminya erat.
"Nanti akan aku jelaskan padamu, yang jelas ini jebakan dari, Marinka! kau harus mengikuti permainanku," jelas William pada istrinya.
Zinnia tak habis pikir dengan apa yang sudah direncanakan oleh Marinka si kutu loncat itu.
"Kita ikuti permainannya, buat dia semakin panas karena telah berani mengusik ketenangan keluarga baru kita," tutur William menyambar bibir Zinnia.
Dengan suasana yang gelap gulita membuat keduanya semakin menikmati ciuman itu.
"Jika pintu terbuka, kita harus terus berciuman seperti ini," tutur William pada Zinnia.
"Jika itu denganmu, aku bersedia sampai pagi melakukan hal lebih dari itu."
William tersenyum meskipun Zinnia tak bisa melihat senyumannya. "Jika kau ingin sampai pagi berada di bawahku, kita harus sampai di rumah terlebih dulu, karena aku tak ingin menjadi tontonan banyak orang," jelas William kembali menyambar bibir Zinnia dan keduanya saling membalas ciuman panas mereka.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.