
Di dalam kamarnya, Marinka tengah bersolek. Wanita dengan rambut coklat itu melihat tiap inci wajahnya pada cermin. "Sempurna!" satu kata itu keluar dari mulut Marinka.
Wanita berbibir tebal itu memasukkan lipstik dan bedaknya ke dalam tas yang akan ia bawa untuk memoles kembali makeup-nya jika makeup yang ia gunakan luntur.
Marinka masuk ke dalam mobilnya. Ia mengemudi mobil itu sendiri. Mobil yang digunakan oleh Marinka adalah mobil pemberian dari Marion.
Marinka memilih menjadi pengusaha online karena ia tak ingin di perintah oleh orang, ia ingin memerintah orang bukan di perintah.
Sebelum mobil itu keluar dari pekarangan rumahnya, Marinka berhenti di depan pintu pagar rumahnya karena perawat sang ibu baru pulang dari pasar.
"Jangan lupa berikan obat untuk mama setelah dia selesai makan," pinta Marion.
"Baik, Nona!"
Marinka menutup kaca mobilnya, ia mengendarai mobil itu menuju arah rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan yang ada dalam pikiran Marinka hanya wajah tampan William.
"Pasti sekarang Kak William sedang duduk di kursi kebesarannya, kacamatanya juga pasti sudah bertengger di kedua matanya."
Senyum Marinka lagi-lagi terpancar saat senyuman dan bibir seksi William melayang dalam kepalanya.
Marinka memperdalam injakan pedal gasnya. Wanita itu ingin segera bertemu dengan William.
Beberapa menit kemudian, Marinka sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit milik William.
Wanita bertubuh ramping dengan pakaian super seksinya itu mulai menurunkan kakinya yang memakai hak tinggi 7 senti.
Marinka menjadi pusat perhatian bagi orang yang lewat. Para kaum wanita melihat Marinka dengan tatapan risih bahkan Marinka bisa mendengar bisik-bisik para tetangga yang ilfil padanya.
"Wanita itu ingin memamerkan tubuhnya atau ingin ke rumah sakit ya?" tanya salah satu wanita yang lewat sembari memandang Marinka.
"Hus! biarkan saja dia! mungkin kelainan jiwa," celetuk teman wanita itu.
Marinka menghentikan langkah kakinya menengok ke arah para wanita yang suka nyinyir itu.
Marinka hanya tersenyum tanpa ingin menuntaskan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun.
Wanita dengan bibir tebal tersebut kembali melanjutkan langkah kakinya sembari berkata, "orang-orang tak berguna."
Marinka sudah sampai di meja resepsionis. "Dokter William ada?" tanya Marinka tersenyum manis pada salah satu petugas resepsionis rumah sakit itu.
Para petugas tercengang karena wanita yang mereka lihat adalah mantan calon istri pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja saat ini.
"Maaf, Bu! Dokter William sedang cuti hari ini," sahut petugas resepsionis itu dengan ramah.
"Cuti? tumben sekali Dokter William cuti! biasanya dia tipe orang yang gila kerja," tutur Marinka pada resepsionis itu.
__ADS_1
"Menurut info yang saya dapat, hari ini adalah hari penting bagi beliau, jadi beliau cuti hanya untuk sehari saja," tutur petugas resepsionis itu.
"Hari penting? hari ini bukan hari ulang tahun, Kak William! tapi kenapa dia harus cuti?"
Marinka tersenyum renyah pada petugas resepsionis wanita itu. "Terimakasih banyak untuk informasinya."
Marinka langsung berjalan keluar dari rumah sakit William. Wanita itu masuk ke dalam mobil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam kamar pengantin baru, Zinnia sedang membersihkan kamar tempat penyatuannya dan William yang sangat berantakan.
Wanita itu memunguti helai demi helai pakaian yang tergeletak di lantai.
Sebenarnya bagian intim Zinnia masih terasa perih namun, ia tak ingin terus berlarut-larut dengan rasa itu.
William masih berada di dalam kamar mandi karena sebelum itu William memandikan istrinya lebih dulu.
Dokter tampan itu memang tak ingin mandi bersama pagi ini karena ia takut tak bisa menahan diri untuk tak menerkam Zinnia. Jadi William memutuskan untuk memandikan istrinya terlebih dulu baru dirinya.
William keluar dari dalam kamar mandi melihat Zinnia yang sedang menggulung seprei berwarna putih bersih.
William memeluk istrinya dari belakang. Pria itu mencium punggung Zinnia.
"Sedang apa?" tanya William menghirup wangi rambut Zinnia yang masih terlilit handuk.
"Apa kau tak bisa melihat aku sedang apa?" tanya balik Zinnia sambil terus menggulung sprei berukuran besar itu.
"Bekas apa itu?" tanya William pura-pura tak tahu saat melihat bekas bercak darah keperawanan istrinya.
"Tubuhku terluka," sahut Zinnia sekenanya.
"Bagian mana? apa aku boleh melihatnya?" tanya William menggoda Zinnia.
Wanita itu tersenyum berbalik berhadapan dengan suaminya. "Apa kau yakin ingin melihatnya?" tanya Zinnia menaik turunkan alisnya.
"Hm!"
"Apa kau yakin tak akan memakanku jika kau melihat bagian dari tubuhku yang luka ini?" tanya Zinnia kembali.
William tertawa sembari memeluk tubuh istrinya. William yang hanya mengenakan handuk pada bagian pinggangnya membuat dada telanjangnya menyentuh dada istrinya yang sudah terbalut kain.
"Aku tak berani melihatnya sekarang! tapi nanti malam, aku akan membuat luka itu terasa nikmat," goda William yang mendapat pukulan pada lengannya.
"Sudah berani nakal ya? rasakan pukulanku ini," ujar Zinnia terus memukul lengan suaminya cukup keras.
William membawa Zinnia kembali dalam pelukannya. "Hentikan, Sayang!"
Zinnia tersenyum membalas pelukan suaminya. "Aku mencintaimu," tutur Zinnia menempelkan wajahnya pada dada bidang William.
__ADS_1
Pria itu sedikit memundurkan tubuhnya agar ia dapat melihat wajah Zinnia. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"
William menarik ujung hidung Zinnia sampai hidung wanita itu sedikit memerah. "Sakit!"
William mengangkat tubuh Zinnia mendudukkan gadis itu di atas ranjang yang sudah berganti sprei berwarna peach.
"Kau diam di sini jangan kemana-mana," pinta William.
Pria itu berjalan menuju walk in closet untuk berganti baju, kemudian berjalan ke arah laci meja rias. Ia mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Zinnia.
Zinnia melihat semua gerak gerik suaminya. "Untuk apa itu? apa kau ingin mengeringkan rambutmu?" tanya Zinnia pada suaminya yang kini sudah berada tepat di bibir ranjang tempat ia duduk.
"Aku akan mengeringkan rambutmu, Sayang! kau bisa kedinginan jika rambut ini terus basah," tutur William membalik tubuh Zinnia agar membelakanginya.
William dengan telaten menyisir rambut panjang Zinnia. Dengan gerakan hati-hati William mulai mengeringkan rambut panjang istrinya.
"Kau pintar sekali mengeringkan rambut menggunakan hair dryer?" tanya Zinnia dengan kedua lutut yang sudah berada di dada dan tangan Zinnia memeluk lutut itu.
"Ini pekerjaan kecil, Sayang! semua orang juga bisa," ujar William dengan nada santai.
"Tapi supir kita tak bisa," celetuk Zinnia sekenanya.
"Hahaha! kau ini ada-ada saja! dia hanya tak pernah menggunakan alat ini, jika dia belajar pasti juga bisa," tutur William masih mengeringkan rambut panjang Zinnia.
"Aku kira kau ...."
"Apa? aku pria tulen bukan pria abal-abal! apa kau tak percaya padaku?" tanya William.
"Aku percaya, tapi yang meragukan ...."
William meletakkan hair dryer di atas ranjang dan melompat ke atas tempat tidur tepat di depan Zinnia.
"Apa kau perlu bukti, Sayang?" tanya William mendekatkan wajahnya pada wajah Zinnia.
"Mati aku! jika dia kembali memakanku lagi, bisa-bisa aku tak bisa berjalan normal hari ini."
"Kenapa diam? apa kau ingin bukti selama dua jam saja kita di atas ranjang!"
Zinnia menelan ludahnya. Wajah desainer cantik itu sudah ketar-ketir membayangkan pinggangnya sakit sampai bengkok.
"Aku tidak ingin berjalan seperti robot."
"Aku percaya, Sayang! kita makan dulu ya?"
Zinnia sedikit demi sedikit menggeser duduknya. Saat ia sudah berada di bibir ranjang, Zinnia langsung turun berlari kecil keluar dari kamarnya.
Zinnia menahan sakit pada bagian daerah intimnya. "Huh, untung bisa kabur! jika tidak, habislah aku dimakan oleh Dokter mesum itu," gumam Zinnia yang menyandarkan diri pada pintu kamar utama itu.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰