
William sudah berada di sebuah pintu yang ia yakini jika pintu itu adalah pintu kamar Zinnia.
Zinnia berada tepat di belakang suaminya. "Kenapa diam? apa kau ingin tetap berdiri seperti ini?" tanya Zinnia yang lebih dulu membuka hendel pintu kamarnya.
Nuansa kamar itu berbeda jauh dengan desain kamar yang berada di rumahnya.
Kamar dengan nuansa putih dan cream. Semua perabotan yang berada di kamar itu juga berwarna putih atau cream.
William melihat setiap sudut kamar istrinya. Pria itu duduk di atas tempat tidur Zinnia, sedangkan si empunya kasur duduk di sofa kamarnya.
"Kau sering tidur di sini?" tanya William.
"Tentu saja! aku lebih sering berada di kamar ini dan sisanya aku habiskan keluar Negeri untuk acara fashion show."
William melihat ke arah dinding kamar itu. Di sana terdapat gambar istrinya berukuran sangat besar dengan ekspresi wajah Hot namun masih dalam kategori sopan, karena pakaian yang di pakai Zinnia tertutup namun lekuk tubuh istrinya sungguh bagai gitar spanyol.
William meneguk ludahnya saat ia melihat gambar Zinnia yang hanya memakai lingerie transparan. Menampilkan pakaian dalamnya yang terawang namun tubuh gadis itu menghadap ke arah belakang kamera dengan wajah bagian samping saja yang terlihat.
William kembali menormalkan dirinya. Ia tak ingin fantasi liarnya harus bermain malam ini juga, karena ia tak ingin menerkam sang istri dalam keadaan masih belum saling memiliki rasa satu sama lain.
Zinnia berjalan ke arah tempat tidurnya untuk berbaring.
William melihat Zinnia. "Apa kau akan tidur dengan baju itu?" tanya William.
"Hanya baju ini yang aku punya sekarang! biasanya aku tidur di sini tak memakai baju, hanya dalaman saja! apa kau ingin aku melakukan itu?" tanya Zinnia menggoda suaminya.
Wajah William di buat salah tingkah. Pria itu langsung berbaring di sebelah Zinnia.
Zinnia memiringkan badannya menghadap ke arah William yang masih tetap dengan posisi terlentang menghadap ke atas langit-langit kamar.
"Kenapa kau terlihat gugup, Pak Dokter! apa kau mulai membayangkan jika aku benar-benar tanpa pakaian luar ini," goda Zinnia yang mendapat tatapan tajam dari William.
"Jika kau tak diam dan terus saja mengangguku, aku tak akan segan-segan memakanmu sampai habis malam ini," ancam William dengan wajah dan nada serius.
Gadis itu mulai memundurkan tubuhnya agar menjauh dari William.
Zinnia menarik selimut sampai batas lehernya. "Selimut ini milikku!"
William menatap istrinya dengan tatapan ingin menguliti. "Bagi dua," pinta William pada Zinnia.
Gadis itu menatap ke arah langit-langit kamarnya. "Tidak!"
__ADS_1
"Kau ingin aku kedinginan? kau sungguh tega sekali menjadi seorang istri," cecar William pada istrinya yang masih bergulung di dalam selimut.
"Sobek saja selimut ini jika kau bisa," tantang Zinnia yang mendapat senyuman licik dari bibir William.
"Sungguh kau akan memberikan selimut ini jika aku bisa menyobeknya?" tanya William memastikan.
"Tentu saja! dan kau tak akan bisa menyobek selimut setebal ini," ujar Zinnia penuh percaya diri yang tinggi.
Gadis itu masih berada di dalam selimutnya. Hanya bagian kepalanya saja yang terlihat.
William yang masih dalam posisi berbaring tiba-tiba bangun dan duduk menghadap ke arah Zinnia.
Pria itu mengangkat kedua tangannya sambil menggerak-gerakkan setiap jarinya tanda ia sedang meregangkan otot-ototnya, namun senyum pria itu mengisyaratkan jika William sedang merencanakan sesuatu.
"Apa yang akan dilakukan pria mesum ini? jangan-jangan ia sungguh akan merobek selimutku? huwaaaa, selimut ini baru kemarin lusa aku membelinya dan barangnya juga limited edition."
Zinnia semakin memeluk erat selimutnya. Ia tak ingin William sungguh akan merobek selimut yang baru ia pakai.
William tanpa permisi langsung menarik selimut Zinnia sampai tubuh gadis itu sedikit tertarik ke arah suaminya.
Zinnia langsung manarik selimutnya lagi masih dalam posisi tidur di kasurnya.
"Ingat janjimu, Zi! jika aku bisa membuat selimut ini robek menjadi dua, kau harus memberikan selimut ini padaku!"
"Coba saja jika kau bisa," tantang Zinnia.
Gadis itu sudah mencengkram erat selimutnya, Zinnia tak ingin William menang.
William masih diam memikirkan cara agar ia bisa mengambil selimut Zinnia, meskipun tak berhasil merobeknya, setidaknya ia dapat mengambilnya.
Pria itu tak ingin tidur tanpa selimut. William masih diam tak ingin membuat pergerakan sedikitpun. Saat Zinnia sudah sedikit lengah, ia akan menyerang.
Zinnia masih diam dengan persiapan yang matang. "Kenapa tak kau sobek selimut ini?" tanya Zinnia.
William hanya diam dengan raut wajah datar menatap ke arah istrinya.
Zinnia tersenyum remeh. "Sudah kuduga jika kau ...."
William langsung menarik tubuh Zinnia dan menjatuhkan tubuh istrinya tepat di atas tubuhnya yang sudah berbaring di atas ranjang.
Kini bukan hanya selimut yang di dapatkan oleh William, tapi tubuh si pemilik selimut sudah berada dalam dekapannya.
__ADS_1
Mata Zinnia terpejam karena serangan tiba-tiba dari William. Gadis itu tak berani membuka matanya karena ia tahu jika tubuhnya saat ini berada di atas tubuh suaminya.
William tersenyum menang karena taktik yang ia susun sedari tadi berhasil tanpa harus bersusah payah merobek selimut tebal itu.
"Kenapa matamu terpejam? apa kau sedang melihat hantu?" tanya William yang meledek istrinya.
"Ya! aku melihat hantu dan hantu itu adalah kau, Pria mesum!" Zinnia berkata seperti itu masih dengan mata terpejam.
William lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri sampai gadis itu bergerak-gerak tak enak diam. "Hei, Pria mesum! apa kau ingin membuatku mati? kau memelukku atau ingin membuatku kehabisan napas sih!"
Mata Zinnia masih setia terpejam. Ia masih tak ingin melihat tampang William yang pasti sudah berbangga diri karena berhasil membuatnya dalam posisi tak mengenakkan ini.
"Buka matamu," pinta William pada istrinya.
Zinnia masih diam tak mengikuti semua kemauan suaminya. Ia masih diam di atas tubuh William.
"Jika kau tak membuka matamu, kau akan tahu akibatnya," ancam William kembali mengeratkan pelukannya.
"Tidak mau! kau boleh memelukku seerat yang kau mau, tapi aku akan tetap memejamkan mataku seperti ini karena aku tak ingin melihat wajahmu yang sudah merasa menang itu," gerutu Zinnia sekenanya.
"Baik! karena kau yang meminta hal itu, aku akan dengan senang hati akan membuatmu patuh padaku, Gadis cerewet!"
William mengecup mata kanan Zinnia.
Cup
"Buka matamu," pinta William lagi.
"Tidak!"
Pria itu tersenyum sembari mencium mata kiri istrinya.
Cup
"Buka matamu," pinta William lagi.
"Sekali tidak, tetap tidak!"
"Jadi kau ingin meminta ciuman di bibir rupanya ya, Nona! baiklah, aku akan mengabulkannya."
Saat bibir pria itu sudah hampir menempel, mata Zinnia terbuka lebar dengan jarak wajah keduanya sudah sangat dekat.
__ADS_1
Fokus mata William bukan pada mata istrinya, melainkan pada bibir Zinnia.