Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 157 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia sedikit bergerak-gerak kecil saat bagian jari-jari William tak sengaja menyentuh langsung kulit bagian punggungnya.


"Kau bisa diam tidak! kau seperti cacing yang terus menggeliat tanpa henti," celetuk William yang terus membuka ikatan-ikatan tali pada bagian atas gaun pengantin Istrinya.


Belum juga William selesai membuka semua ikatan-ikatan itu, Zinnia langsung berbalik ke arahnya.


"Apa kau bilang? aku seperti cacing kepanasan? apa kau tak salah bicara?" tanya Zinnia melangkahkan kakinya ke depan dan jarak mereka berdua semakin dekat.


Gadis itu menatap suaminya tajam, sedangkan yang di tatapannya nampak salah tingkah.


William berusaha mengontrol dirinya yang sudah panas dingin karena bagian depan tubuh Zinnia semakin terlihat sangat jelas saat posisi mereka berdua sangat dekat.


Zinnia menatap William dengan wajah tak mengerti. "Kau kenapa? kenapa wajahmu merah seperti itu? apa kau ...."


"Kau bisa diam tidak! kau cerewet sekali, Zi! kau buka saja sendiri bajumu itu! aku akan ke kamar mandi."


William hendak melangkah ke arah kamar mandi, namun tangan kekar pria itu di tahan oleh tangan lembut sang istri.


"Jangan pergi! bantu aku melepaskan baju ini dulu, aku janji tak akan cerewet," tutur Zinnia meyakinkan suaminya.


William menatap Zinnia dengan raut wajah penuh rasa tak percaya. Gadis itu memberi kode mulutnya seakan sudah iya kunci tak akan berani berbicara lagi.


"Balik badan," pinta William dan gadis itu menuruti perintahnya.


William menghela nafas panjang. Ia harus bisa tahan akan godaan ini.


Pria itu mulai membuka kembali tali gaun pada punggung istrinya.


Saat sudah tinggal tali terakhir yang ia buka, William tak sengaja melihat pengait pembungkus kedua daerah sensitif Zinnia dan tubuhnya kembali panas dingin saat ia membayangkan isi dari pembungkus itu.


"Tidak bisa! ini sudah tak benar."


William langsung berlari ke arah kamar mandinya.


Zinnia melihat ke arah suaminya yang berlari ke arah kamar mandi saat pria itu sudah selesai membuka ikatan tali pada atasan gaunnya.


Zinnia masih mengapit atasan itu dengan kedua lengannya, jadi hanya bagian belakang saja yang terlihat dan gaun itu tak begitu saja lolos dari tubuhnya.


William mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Nafasnya kembali naik turun tak beraturan.


"Gila! ini benar-benar gila! aku hanya melihat bagian belakangnya saja sudah begini, apalagi bagian ... ah, kenapa dia begitu mudah membuatku terangsang seperti ini! Marion saja meskipun berpakaian super seksi aku tak sampai panas dingin seperti sekarang," umpatnya dengan guyuran air yang masih setia membasahi tubuhnya yang masih terbalut kemeja putihnya.


Zinnia menunggu William di meja rias. Ia sudah menggunakan kaos suaminya yang kebesaran sampai atas lutut karena bajunya tak ia bawa. Besok semua bajunya akan di antar oleh Asistennya.


Gadis itu masih asyik menghapus makeup di wajahnya. Ia berada di depan meja rias. Pantulan tubuh William yang keluar dari kamar mandi langsung terlihat oleh Zinnia.

__ADS_1


Gadis itu memutar arah duduknya yang awalnya menghadap ke arah cermin, kini sudah menghadap ke arah suaminya.


William masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia sengaja memakai bathrobe agar tubuhnya tak terekspos langsung saat Zinnia melihatnya.


"Kau seperti wanita saat mandi, sangat lama!" Zinnia berdiri dari duduknya berjalan ke arah kamar mandi.


Saat gadis itu sudah berpapasan dengan suaminya yang masih asyik mengerikan rambutnya, lengan Zinnia tiba-tiba di tarik oleh William.


Pria itu menatap tajam ke arah sang Istri.


"Kau yang membuatku harus berlama-lama di kamar mandi, Zi!"


Zinnia menatap lengannya yang di cengkram erat oleh William. "Kenapa?" tanya Zinnia tak mengerti.


William terkejut. Ia baru sadar jika gadis itu memakai kaosnya yang terlihat kebesaran pada tubuhnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Zinnia, ia malah balik bertanya pada sang istri, "Baju siapa itu?"


Zinnia melihat ke arah kaos yang di pakainya.


"Bajumu," sahut Zinnia sesuai kenyataan yang ada.


"Kenapa kau memakinya?"


"Karena bajuku tak ada satupun di rumah ini! apa kau ingin aku telanjang?" tanya Zinnia sambil mengancam William.


"Tidak!"


"Lepaskan!"


"Tidak!"


"Kau ingin melepaskannya sendiri atau aku yang akan melepaskannya," ancam William.


Zinnia tersenyum remeh pada suaminya. "Coba saja kau lepaskan jika kau berani," tantangan Zinnia semakin mendekatkan dirinya pada William.


"Pasti kau tak akan berani."


William berjalan ke arah kamar mandi dan Zinnia tersenyum penuh kemenangan. "Sudah kuduga jika dia tak akan bera ...."


Ucapan terhenti karena William kembali dengan bathrobe yang berada di tangannya.


Wajah Zinnia terlihat panik seketika, sedangkan William sudah berada di depannya.


"Buka bajuku!"

__ADS_1


"Tidak!"


Zinnia menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia tak ingin harus telanjang di depan William.


"Jika kau tetap tak mau, aku yang akan membantumu membukanya."


William menarik pinggang Zinnia agar mendekat ke arahnya.


Zinnia terus bergerak-gerak tak enak diam karena gadis itu tak ingin membuka kaos yang dipakainya.


Pria itu melebarkan bathrobe yang akan ia pakaikan pada Zinnia.


Perlahan kedua tangan William masuk ke dalam kaos yang di kenakan oleh Zinnia untuk memakaikan bathrobe yang ia ambil tadi agar gadis itu tak polos di hadapannya.


Bathrobe itu sengaja ia pasang terbalik karena ia tak ingin mengikat talinya pada bagian depan tubuh Zinnia. Ia bisa melihat yang tak seharusnya ia lihat.


Mata William terpejam saat ia mencoba membuka kaos bagian lengan istrinya. Dan kini kaos itu masih menyangkut di leher Zinnia.


Zinnia masih terus bergerak tak enak diam. "Jika kau tetap bergerak aku akan membuka mataku dan melihat semua tu ...."


"Iya! aku diam! puas!"


"Biara aku saja yang memakai bathrobe-nya," pinta Zinnia yang memasukkan tangannya dengan posisi bathrobe itu tetap terbalik karena gadis itu pikir, William takut jika mengintipnya bila ia harus membuka dan membalik bathrobe itu.


Setelah tali bathrobe sudah terikat sempurna di bagian belakang tubuh Zinnia. Gadis itu meminta William membuka matanya, "Buka matamu!"


William membuka matanya dan gadis itu sudah berganti baju, namun kaosnya tetap berada di leher Zinnia.


William mendekat ke arah Istrinya. "Mau apa kau?" tanya Zinnia panik.


"Aku ingin mengambil bajuku," sahut William yang menarik kaos itu ke arah atas kepala Istrinya.


Saat kaos itu berada tepat menutupi kedua mata Zinnia, pandangan mata William tertuju pada bibir seksi Istrinya.


Pria itu mulai mengingat kejadian tadi saat di ruang pesta dimana pertemuan bibirnya dengan milik sang istri untuk yang pertama kalinya.


Wajah pria itu mulai mendekat ke arah bibir Zinnia. Deru napas Zinnia terasa jelas menerpa bagian wajahnya.


"Kenapa pria ini lama sekali hanya membuka baju saja," batin Zinnia.


Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menarik kaos William agar matanya yang tertutup bisa terbebas.


Zinnia terkejut karena wajah William hanya berjarak tiga senti dari wajahnya.


Tatapan mereka berdua bertemu. Tak ada respon penolakan dari Zinnia dan itu merupakan lampu hijau bagi William.

__ADS_1


Saat jarak wajah mereka sudah tinggal satu senti, tiba-tiba ponsel William berbunyi.


Keduanya langsung saling menjauh dengan wajah yang sudah sama-sama memerah.


__ADS_2