
Zinnia dan Arnon masih fokus melihat ke arah William yang tengah menunggu serabinya matang.
Melati sibuk menyiapkan piring sebagai tempat untuk menyajikan serabi yang sudah matang itu.
Ibu dari Zinnia tersebut juga sedang sibuk memisahkan daging Durian dari bijinya.
Melati langsung membeli Durian Montong yang masih utuh dengan kulitnya. Ia tak suka membeli Durian yang sudah dijual dagingnya saja karena menurutnya lebih enak jika Durian itu masih utuh belum tersentuh sama sekali.
William membuka penutup kaca cetakan yang digunakan untuk membuat kue serabi keinginan istrinya. Saat Dokter tampan itu membuka penutup kaca cetakan tersebut, hawa panas menyembul keluar sampai William terkaget karena hawa panas dari cetakan itu mengenai sebagian tangannya.
Zinnia yang awalnya fokus melihat suaminya yang kerepotan spontan berjalan ke arah William. "Kau tak apa-apa?" tanya Zinnia pada suaminya.
Melati melirik putrinya yang cemas akan keadaan William. Wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum karena putrinya sudah menikah dan dirinya sudah siap menjadi seorang Grandma.
"Sepertinya baru kemarin aku melahirkan, Zinnia! tapi sekarang dia sudah besar dan akan segera menjadi orangtua untuk kedua bayi kembarnya."
Melati tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga Putrinya.
Zinnia melihat ke arah tangan William yang sedikit memerah terkena kepulan hawa panas dari cetakan serabinya.
"Panas ya?" tanya Zinnia pada William yang tengah melihat serabinya sudah matang apa belum.
"Tidak panas! demi istri dan anak-anak kita, apapun akan aku lakukan, Sayang!"
William hendak menyentuh serabi yang berada di dalam cetakan itu namun, Melati memberikan sebuah sumpit kecil pada menantunya. "Pakai ini, Will! jika di tusuk masih membekas adonan kue serabinya, maka kue itu masih belum matang dan harus menunggu beberapa menit lagi dan apinya jangan terlalu besar agar tidak gosong," jelas Melati pada William dan menantu dokternya itu mengangguk patuh.
William mulai mempraktekkan apa yang diajarkan oleh mertuanya. Perlahan suami Zinnia itu mulai menusuk bagain serabi dan sudah tak menempel adonannya.
Senyum William mengembang kala ia tahu jika kue serabi idaman istrinya sudah matang.
Arnon mendekati istrinya yang sibuk menata empat piring untuk menyajikan serabi yang sudah matang.
"Ternyata menantuku ini bisa masak juga ya!" Arnon mulai menganggu menantunya lagi.
"Semua berkat Mommy juga, Dad!" William menyahut.
William sekarang sudah cukup cekatan mengangkat setiap kue serabi yang sudah matang.
Zinnia melihat suaminya sangat antusias merasa senang karena William tak terpaksa melakukan itu semua.
William meletakkan pada sebuah nampan sebagai tempat semua kue serabi yang sudah matang.
"Aku akan menghias kue ini dulu, Mom! sisa adonannya biar pelayan yang menyelesaikannya," tutur William dan Melati berpindah tempat ke arah meja bar diikuti oleh sang suami.
"Apa dia bisa menghias makanan itu?" tanya Arnon berbisik pada istrinya.
"Pasti bisa! dia kan dokter, tampan lagi! pasti bisa," dukung Melati yang sangat berharap menantunya bisa benar-benar memberikan persembahan yang bagus.
"Aku tak yakin! dia saja tak pernah masak kan? pasti gagal," bisik Arnon lagi.
"Kau saja belum tentu bisa membuatnya, Suamiku! yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek tua," sergah Melati.
__ADS_1
"Kau meremehkan suami jantanmu ini, Sayangku?" tanya Arnon masih tetap dengan suara berbisik.
"Coba saja jika kau bisa," tantang Melati yang ingin melihat kemampuan Suaminya.
Arnon tersenyum remeh. "Siapa takut! akan aku buktikan padamu!"
Arnon berjalan ke arah William yang masih sibuk meletakkan satu persatu kue serabi pada tiap piring yang sudah disiapkan oleh mertuanya. Dari tadi William sibuk memarut keju sebagi taburan kue serabinya.
Zinnia memilih kabur ke arah ibunya. "Apa Daddy kesurupan, Mom?" tanya Zinnia setengah berbisik pada sang ibu.
"Mungkin seperti itu karena ia juga ingin menjadi pria yang memperlihatkan bagaimana ia menyayangi istrinya," sahut Melati.
Zinnia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Daddy akan membantumu untuk meletakkan toppingnya," pinta Arnon pada William dan Dokter tampan itu dengan senang hati memberikan ruang untuk mertuanya. "Silahkan, Dad!"
Kedua pria tampan berbeda generasi itu mulai bergulat dengan dua piring masing-masing yang harus mereka sajikan.
Zinnia dan Melati tersenyum. "Enak sekali ya, Mom! jika mereka yang memasak tiap harinya," celetuk Zinnia pada ibunya.
"Hahaha! Mommy pikir juga seperti itu, Nak!"
William mulai meletakkan topping Durian di atas serabinya seperti eskrim dan menaburkan keju di atasnya.
William mengambil pasta cokelat dan membentuk cokelat di atas piringnya berbentuk hati cukup besar yang mengelilingi serabi tersebut. Tak lupa William juga mengambil daun mint di dalam kulkas beserta strawberry segar dan meletakkan di atas kue serabinya.
William melakukan hal yang sama pada kue yang satunya lagi.
Kini kedua Chef kacangan itu membawa dua piring masing-masing ke arah para istri yang tengah menunggu mereka di meja bar.
Zinnia dan Melati melihat dua karya para Chef dadakan tersebut.
William melepaskan apron yang sedari tadi ia pakai.
Zinnia mengambil satu piring yang sudah berisi karya sang suami tercinta.
Zinnia mencium wangi makanan itu. "Wanginya sangat enak, tapi aku tak tahu rasanya seperti apa," komentar Zinnia bagai juri sebuah ajang pencarian bakat memasak kelas internasional.
Wajah William menegang saat Zinnia mengomentari masakannya.
"Semoga saja enak! jika tidak, maka tugasku hari ini belum selesai sampai disini."
William bercucuran air mata dalam hatinya karena ia sudah tak mau berada di depan kompor untuk membuat kue serabi dan terkena hawa panas cetakan serabi itu.
Perlahan Zinnia mulai mengambil topping serabi tersebut menggunakan sendok. Mendekatkan serabi dengan wangi Durian bercampur parutan keju itu ke depan bibirnya dan ibu hamil itu mencicipi sedikit Durian dan campuran kejunya.
Zinnia mencoba mengunyah dan merasakannya. "Enak! tapi masih belum pas jika belum dipadukan semuanya."
Zinnia mengambil garpu untuk menahan serabi tersebut saat hendak ia potong.
Ibu hamil itu mulai memotong kue tradisional yang sangat ia inginkan menjadi bagian kecil.
__ADS_1
Zinnia mengangkat bagian kecil dari kue tersebut yang sudah terpotong.
Jantung William mulai dag dig dug.
"Kenapa adegan ini seperti lomba yang pernah aku tonton di tayangan televisi saja!"
Melati melihat raut wajah kecemasan dari wajah menantunya. "Kau tenang saja, Will! Mommy yakin jika makanan yang kau buat pasti enak dan kau harus optimis, Nak!" Melati menguatkan memberi semangat pada mentunya.
Karena ucapan Melati, William merasa sedikit lega. "Terima kasih, Mom! Mommy selalu menguatkan aku!" William tersenyum pada Melati.
"Itu tugas seorang ibu, Nak! dan kau juga anak, Mommy!"
Zinnia tanpa pikir panjang langsung melahap serabi tersebut karena sedari tadi liurnya telah mengalir deras di dalam tenggorokannya.
Hap
Ibu hamil itu mengunyah serabi tersebut. Tak ada komentar apapun dan itu semua membuat William semakin cemas.
"Apa makanan itu tak enak, ya? kenapa dia tak berkomentar apapun?"
Zinnia kembali melahap satu persatu potongan kecil dari kue serabi itu sampai akhirnya bagian untuk Zinnia habis tak tersisa termasuk pasta cokelatnya juga ia makan habis.
Semua mata tertuju pada Zinnia yang tampak menikmati makanannya.
"Bagaimana, Sayang? enak?" tanya William ingin memastikan.
Zinnia menatap tiap mata yang melihat ke arahnya. "Mmmmm ... enak!" Zinnia tersenyum pada William sembari melahap strawberry yang menjadi makanan penutupnya dan ibu hamil itu turun dari kursi yang ia duduki berjalan memeluk suaminya. "Terima kasih, Sayang!"
Perasaan William sangat lega karena masakannya tak mengecewakan.
"Sekarang kau harus merasakan serabi yang aku buat, Sayang!" Arnon mulai berceletuk ria.
Melati melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Ia mulai memotong kue itu dan memakan bagian kecilnya.
Wanita paruh baya tersebut merasakan makanan yang disajikan oleh suaminya.
"Serabinya enak! Duriannya juga enak! kejunya apalagi! dan semua buahnya menambahkan perpaduan rasa tersendiri saat masuk ke dalam mulut.
"Jadi enak kan?" tanya Arnon tersenyum mengemis pujian dari sang istri.
"Enak! enak sekali!" Melati memuji Suaminya menerbangkan Arnon ke angkasa namun, Melati kembali berceloteh, "bagaimana tak enak! semua ini kan aku dan William yang membuatnya, sementara dirimu hanya menumpang ingin dipuji saja."
Wajah Arnon yang awalnya bahagia bukan main, kini wajah itu suram tanpa cahaya yang meneranginya setelah sang istri dengan satu kalimat langsung membuatnya terjun ke bawah dan terjatuh di atas tanah kering berbatu.
"Kau tega, Sayang!" Arnon berbalik badan memunggungi Melati dan ibu Zinnia itu tersenyum berjalan ke arah Suaminya memeluk tubuh Arnon dari belakang. "Hanya bercanda, Sayang! maaf ya?"
Arnon berbalik dengan wajah yang sudah merengut kesal. "Jangan begitu lagi! aku marah padamu," tutur Arnon memeluk istrinya dan Zinnia tertawa melihat tingkah konyol kedua orangtuanya.
Dua pasangan beda generasi itu menikmati kebersamaan bersama pasangan masing-masing, ditemani wangi Durian yang mengelilingi seisi dapur rumah William dan Zinnia.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.
__ADS_1