
Anniversary pernikahan Melati dan Arnon yang ke-10 tahun di rayakan malam ini.
Semua keluarga, sahabat , dan rekan kerja hadir pada perayaan itu.
Seorang anak perempuan berumur 9 tahun mengendap-endap keluar dari ruangan yang penuh dengan orang-orang dewasa. Ia tak ingin kedua orangtuanya yang sedang dipenuhi rasa bahagia tahu jika dirinya kabur dari acara pesta mereka.
Anak perempuan itu berjalan menuju ke arah halaman belakang. Ia ingin menghirup udara segar. Udara di dalam rumahnya terasa sangat pengap karena parfum dari para tamu bercampur menjadi satu.
Anak perempuan itu melangkah ke arah kolam ikan koi. Ia duduk di tepian kolam sambil bermain air.
"Pasti kalian senang sekali berada di sini," gumam anak perempuan itu yang tak lain adalah Zinnia.
Zinnia tengah asik bermain air di kolam ikannya. Ia tak sadar jika ada seseorang selain dirinya yang berada di halaman belakang itu.
Saat Zinnia melihat ke arah seberang kolam, ia melihat seseorang tengah duduk di gazebo taman belakang rumahnya.
Wajah orang itu tak begitu jelas. Rasa penasaran menjalar dalam pikiran Zinnia.
Tanpa sadar kakinya mendekat ke arah orang tersebut yang masih diam tak bergerak, meskipun orang itu tahu jika ada seorang anak perempuan yang mendekatinya.
Langkah kaki Zinnia berjalan semakin melambat kala ia tahu ternyata yang duduk di gazebo halaman belakangnya adalah seorang anak laki-laki.
Jarak Zinnia dan anak laki-laki itu semakin dekat. Saat gadis kecil itu sudah bisa melihat langsung wajah anak laki-laki tersebut. Zinnia diam di tempat. Ia tak berani untuk lebih dekat lagi mendekati anak laki-laki yang menatap dingin padanya.
Saat Zinnia hendak mundur selangkah karena merasa takut dengan anak laki-laki tersebut yang ia yakini usainya lebih tua darinya, tiba-tiba gadis kecil dengan wajah cantik tersebut terjatuh karena kakinya tersandung sesuatu.
"Aduh!" Zinnia mengaduh kesakitan.
Spontan anak laki-laki dengan tatapan dingin itu mendekati Zinnia yang masih terduduk di atas rumput gajah.
"Apa kau tak apa-apa?" tanya anak laki-laki itu pada Zinnia.
"A-aku tak apa-apa," sahutnya dengan suara sedikit takut.
Anak laki-laki itu membantu memapah Zinnia untuk duduk di gazebo. Ia melihat telapak tangan Zinnia sedikit lecet.
Tanpa mengeluarkan kata-kata, anak laki-laki itu merogoh saku jasnya, kemudian mengeluarkan sebuah plester dan memakaikannya pada telapak tangan Zinnia yang sedikit lecet.
"Terimakasih!" Zinnia kecil memberanikan diri menatap wajah anak laki-laki berwajah dingin itu.
"Hem."
Hanya suara itu yang keluar dari mulut anak laki-laki tersebut. Zinnia semakin dibuat penasaran dengan tingkah orang yang sudah menolongnya.
"Siapa nama, Kakak?" tanya Zinnia yang ia tahu jika usia anak laki-laki itu lebih tua darinya.
"William! kau sendiri siapa?" tanya William balik.
__ADS_1
"Aku Zinnia ...."
"Jadi kau baby Zi itu? hah, kau sudah besar rupanya," ujar William memotong perkataan Zinnia.
"Darimana Kakak tahu nama kecilku?" tanya Zinnia heran.
"Saat kau lahir, aku datang melihatmu," jelas William tersenyum pada Zinnia.
"Dan waktu itu juga perkataan konyol keluar dari mulutku jika aku mau menikah denganmu karena kau cantik."
Baru pertama kali ini Zinnia melihat senyum William yang berwajah datar itu.
"Apa masih ada yang sakit lagi?" tanya William yang terlihat sedikit cemas pada Zinnia.
"Sudah tidak ada, Kak! kenapa Kakak bisa membawa plester? apa Kakak sudah tahu jika aku akan jatuh?" tanya Zinnia masih terlihat kebingungan.
"Aku sudah terbiasa sejak kecil membawa plester kemana-mana, karena itu merupakan pertolongan utama jika ada luka kecil yang tak kita duga," jelas William lagi.
Zinnia hanya manggut-manggut mendengar penjelasan orang yang di panggilnya Kakak.
"Kenapa Kakak berada di sini? kenapa tak di dalam saja!"
William tersenyum sambil mengusap lembut rambut panjang Zinnia yang di sanggul ala Putri pada film kartun.
"Kau ini cerewet sekali ya, Adik kecil! aku bosan berada di dalam ruangan yang sesak seperti itu," tutur William pada Zinnia.
Keduanya saling melempar senyum sampai suara teriakan Melati terdengar di telinga Zinnia.
"Zi! kau sedang apa di situ?" tanya Melati yang berjalan ke arah putrinya diikuti Arnon dan yang lain.
"Mommy? sedang apa Mommy disini?" tanya Zinnia balik pada ibunya.
"Tentu saja Mommy cemas padamu, Sayang!"
Zinnia berhambur ke dalam pelukan ibunya. "Maafkan Zi, Mom!"
"Tidak apa-apa, Sayang! yang penting kau aman."
"William? sedang apa kau di sini?" tanya Edward penuh selidik.
"Maaf, Dad! aku jenuh berada di dalam, jadi aku kemari!"
"Kau dan Zinnia?" tanya Edward memastikan lagi.
"Tidak, Dad! aku yang awalnya kemari, setelah itu baru Zinnia, karena dia juga merasa bosan di dalam," jelas William yakin.
"Jika ingin kemana-mana, beritahu kami dulu, Sayang!" Salma menyuarakan suaranya dengan suara yang menandakan kecemasan pada William.
__ADS_1
"Maaf, Bunda! Will memang memang salah kali ini tak memberitahu Daddy atau Bunda jika ingin kemari," sesal William menundukkan kepalanya.
Anak laki-laki berumur 5 tahun berlari ke arah William, memeluknya erat. "Kakak jangan menangis, Daddy dan Bunda tak marah kok," ujar anak laki-laki yang bernama Jonathan Pattinson tersebut.
William seketika tersenyum mendengar celotehan adiknya itu yang tak lain anak dari Edward dan Salma.
Edward dan Salma sudah menikah karena setelah Melati melahirkan, keduanya semakin dekat dan memutuskan untuk menikah.
Teman Arnon yang lain seperti Harry dan Hamish sudah menikah juga tapi mereka tinggal di luar negeri karena alasan pekerjaan yang mengharuskan mereka berdua pindah.
Agnez dan Pram masih berada di Belanda. Setelah masa kontrak kerja Agnez selesai, mereka akan kembali ke Indonesia. Masalah pekerjaan Pram di Indonesia tetap ia urus karena teknologi saat ini sudah sangat canggih jadi jika hanya lintas Negara semua laporan penting tinggal di kirim lewat email.
"Ayo kita pulang, Will!" Edward mengajak pulang keponakannya, namun sudah ia anggap anak sendiri.
"Kenapa sudah ingin pulang, Dad?" tanya William sambil mengusap lembut punggung adiknya.
"Karena acaranya sudah selesai dan ini sudah jam setengah 10, Will!"
William langsung menggendong adiknya membawanya pulang, namun sebelum kakinya melangkah lebih jauh, ia menatap ke arah Zinnia. "Semoga lukamu cepat sembuh ya, Adik kecil!"
William berlalu dari halaman belakang rumah megah itu menuju ke arah mobil yang terparkir di halaman depan.
"Kami pulang dulu ya Arnon, Mel!" Edward berpamitan pada si pemilik rumah dan diangguki oleh Arnon dan Melati.
Dokter Edward dan istrinya melangkah keluar dari halaman belakang menuju arah halaman depan.
Arnon menatap Zinnia mencari sesuatu hal yang aneh pada putrinya. Pria yang sudah berusia 40 tahun itu penasaran dengan perkataan William yang terngiang dalam ingatannya.
"Zi!" Arnon memanggil putrinya yang masih memeluk sang ibu.
"Iya, Dad! ada apa?" tanya Zinnia melonggarkan pelukannya pada sang ibu.
"Bagian mana yang luka, Sayang?" tanya Arnon dengan mata yang masih mencari luka yang di sebut oleh William tadi.
Zinnia langsung menunjukkan lukanya pada sang ayah. "Ini, Dad! hanya lecet sedikit."
"Huh, Daddy kira kau terluka parah, Nak!"
"Tidak, Dad! Kak William, sudah memberikan pertolongan pertama padaku," jelas Zinnia pada ayahnya.
"Mmmmm, Arya kemana?" tanya Zinnia kecil.
"Adikmu sudah tidur! besok pagi dia harus sekolah dan kau juga harus sekolah, Sayang! jadi kita semua masuk ke dalam," titah Arnon pada Melati dan putrinya.
Mereka bertiga masuk ke dalam. Arnon menggendong Zinnia, sedangkan Melati merangkul pinggang suaminya.
Arya Putra Marvion Gafin adalah anak kedua dari Melati dan Arnon yang tak lain adalah adik dari Zinnia. Umur Zinnia dan Arya hanya terpaut dua tahun.
__ADS_1