
Arnon menggeliat kecil saat pria itu mulai merasa ada sesuatu yang kurang di sampingnya.
Perlahan tangan Arnon meraba tempat sisi kasur yang biasanya di tempati oleh Melati, namun tak ada keberadaan tubuh gadis yang selalu menjadi candunya.
Mata pria itu mulai terbuka melihat ke arah samping. Tak ada Melati yang biasa setiap pagi berada di sampingnya, memeluk tubuhnya posesif, melihat pemandangan indah saat ia bangun, dan yang pasti selalu ingin berolahraga pagi saat ia membuka matanya.
Arnon langsung bangun berjalan menuju arah kamar mandi, saat pintu kamar mandi terbuka, tak ada wajah yang ia rindukan saat ini.
Arnon berjalan ke arah tempat tidurnya, namun ekor matanya tak sengaja menangkap sebuah roti yang berada di meja ruangan itu.
Arnon berjalan menuju arah sofa. Senyum Arnon terukir indah kala ia melihat sarapan yang sudah di sediakan oleh sang istri. Roti tawar dengan selai coklat berbentuk hati.
Arnon juga melihat ada sebuah catatan kecil yang terselip pada bagian bawah piringnya.
Pria itu mengambil dan membaca apa isi dari cacatatan kecil yang di tinggalkan oleh sang istri.
Selamat pagi, suamiku! aku sudah menyiapkan pengganjal perut untukmu sebelum kau memulai aktivitas hari ini. Maaf aku tak membangunkanmu karena aku tak tega melihatmu yang sepertinya merasa sangat kelelahan, meskipun aku juga merasakannya. Aku pagi ini kerumah papa karena Kak Agnez sedang sakit. Mama Anggi meminta agar aku menjaga kakak untuk sementara waktu, dia sedang ada urusan sebentar. Aku sudah membawa baju untuk aku kenakan saat nanti makan malam bersama mama Anggi. Aku akan pulang cepat. Aku mencintaimu, Sayang.
Arnon tersenyum saat ia sudah membaca catatan dari istrinya. sebenarnya bukan catatan, melainkan surat untuknya yang di lipat sekecil mungkin.
Saat mengingat jika Melati saat ini tengah berada di rumah yang di penuhi dengan mahluk sadis di dalamnya, pria itu mengubah raut wajahnya yang awalnya tersenyum penuh cinta, tapi kali ini berubah dingin hendak memakan mangsanya hidup-hidup.
Pria itu berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponselnya.
Setelah mengutak-atik ponselnya, pria itu meletakkan benda pipih tersebut pada telinganya menunggu seseorang di balik ponselnya mengangkat panggilan darinya.
Tak menunggu waktu lama. Akhirnya orang di balik ponselnya bersuara.
"Ya, Tuan!"
"Cepat selidiki, apa yang akan dilakukan oleh 2 ular betina di rumah Papa Hadi karena istriku saat ini ada di sana."
"Baik, Tuan muda!"
"Cepat kabari aku jika ada sesuatu yang mencurigakan, kabari aku secepatnya karena aku tak ingin terjadi sesuatu pada, Istriku!"
Arnon menutup panggilan terlebih dulu. Pria itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Melati sudah berada di rumahnya. Ia berjalan ke arah kamar Agnez untuk melihat kondisi kakak tirinya itu.
__ADS_1
Ceklek
Pintu kamar sudah terbuka dan Melati melihat Agnez sudah terbaring dengan wajah pucat pasi.
Melati mendekati Kakak tirinya itu. Ia teringat saat masa kecil mereka berdua.
Agnez sebenarnya bukan orang yang memiliki kelakuan mines seperti sekarang ini. Dia dulu anak yang baik, sosok Kakak yang sayang akan adik tirinya, namun karena didikan Anggi yang salah, akhirnya Agnez tumbuh besar dengan kebencian yang besar pula pada Melati.
Awal kebencian itu di mulai saat tahu Hadi lebih menyayangi Melati dari pada Agnez.
Anggi geram dengan sikap Hadi yang membedakan anak-anak. Bermulai dari itulah, pikiran licik Anggi terbentuk untuk menghasut Agnez agar putrinya itu tak lagi memberikan perhatiannya pada adik tirinya, bahkan rasa sayang itu perlahan berubah menjadi kebencian.
Cukup mudah menghasut Agnez karena anak itu memang kehausan akan kasih sayang seorang ayah.
Ayah Agnez bunuh diri karena perusahaannya terlilit hutang.
Karyawan yang di percaya oleh ayahnya melakukan korupsi besar-besaran, sehingga membuat perusahaan itu bangkrut.
Melati menyentuh kening Agnez. Yang Melati rasakan adalah rasa panas menyentuh langsung permukaan kulitnya.
Gadis itu berjalan ke arah dapur mengambil air untuk mengompres Kakak tirinya agar suhu panasnya turun.
"Kak! Kakak harus sembuh! aku kasihan melihat kakak terbaring lemah seperti ini," gumam Melati menatap nanar wajah Agnez yang masih terlelap tidur.
Melati terus mengganti sapu tangan untuk mengompres Agnez sampai pada akhirnya gadis itu merasa lelah dan mengantuk.
Sesungguhnya Melati merasa sangat lelah karena ia semalam suntuk di gempur habis-habisan oleh Arnon.
Semua tubuhnya terasa remuk. Melati meletakkan kepalanya pada kasur tepat di samping Agnez yang masih tertidur.
Gadis itu perlahan memejamkan matanya yang mulai terasa berat.
Selang beberapa menit, Agnez membuka sedikit kelopak matanya. Ia menyentuh sapu tangan yang di gunakan untuk mengompresnya.
Wanita itu mengambil sapu tangan tersebut kemudian menoleh ke arah Melati yang tertidur tepat di sampingnya dengan posisi duduk di sebuah kursi.
"Apa dia yang mengompresku?"
Hati Agnez seketika tersentuh dan bayangan masa kecil mereka berdua mulai muncul dalam benaknya.
__ADS_1
Air mata Agnez menetes tanpa wanita itu sadari. Ia sungguh merasa bersalah selama ini pada Melati.
Ia sudah jahat pada adik tirinya itu, namun Melati tak sekalipun membalas perbuatannya. Gadis itu lebih memilih menghindar, bahkan saat ini ia merawatnya.
"Apa aku selama ini sudah salah bersikap tak baik padanya? apa aku di pecat karena ini hukuman untukku yang tak bersikap baik padanya?"
Air mata Agnez meluncur semakin deras. Sungguh ia merasa bodoh selama ini telah bersikap tak baik pada Melati. Orang yang merawatnya saat ini.
"Mama kemana? kenapa bukan dia yang merawatku? apa aku selama ini juga salah menganggap jika Mama itu orang yang baik?"
Pertanyaan mulai menumpuk pada otak Agnez yang sungguh membuat kepalanya bertambah pusing.
Gadis itu mulai memejamkan matanya kembali untuk menetralkan rasa sakit yang mulai menderanya.
Belum juga satu menit mata Agnez terpejam, suara handel pintu terbuka mulai terdengar di telinganya.
Ceklek
Suara derap kaki terdengar semakin dekat ke arahnya, namun tiba-tiba suara itu terhenti.
Agnez masih mencoba menutup matanya seakan-akan ia masih tertidur pulas.
"Dasar gadis, bodoh! mau saja kau mengurus Agnez yang sedang sakit! huh, untunglah ada Melati yang menjaga putriku, jadi aku bisa shopping sepuasnya."
Derap kaki mulai terdengar menjauh dari kamar Agnez diiringi suara pintu yang telah tertutup rapat.
Kedua mata Agnez semakin deras mengeluarkan air matanya.
"Kenapa mama begitu tega membiarkan aku yang sedang sakit begini sendirian? kenapa ibuku sendiri lebih memilih pergi berbelanja dari pada mengurus anaknya?"
Hati Agnez benar-benar hancur menerima kenyataan pahit yang bertubi-tubi menimpanya.
"Apakah ini balasannya karena aku telah menyakiti Melati selama ini?"
Agnez menangis sejadi-jadinya dalam diam tanpa ada suara Isak tangis yang sekiranya dapat mengganggu aktivitas tidur adik tirinya.
"Maafkan aku, Mel! mungkin aku yang selama ini sudah salah menilaimu akan merebut perhatian, papa Hadi! tapi kenyataannya kau memang lebih berhak dari pada aku yang hanya seorang anak tiri, anak tiri yang haus akan kasih sayang ayahnya."
Agnez kembali menitikkan air matanya dalam diam. Ia merasa hancur karena orang yang selama ini ia anggap malaikat ternyata tega membiarkan anaknya terlantar dalam keadaan sakit dan masih asyik berbelanja.
__ADS_1
Agnez terus menangis tanpa henti. Karena terlalu lama mengeluarkan air matanya, gadis itu mulai merasa lelah sampai pada akhirnya kedua matanya tertutup menuju alam mimpi.