
Pram berjongkok menyentuh pipi mungil anak perempuan dengan rambut yang di kepang dua. "Karena kau sangat lucu, jadi Paman akan bergabung dengan kalian."
Pram menggendong anak perempuan itu. Membawanya ke taman untuk bergabung dengan yang lain.
Pram meniup gelembung itu dengan tubuh berputar-putar, sampai ia tak sadar jika Agnez berada di depannya.
Tabrakan antara keduanya tak terhindari lagi.
Tubuh Agnez terjungkal ke belakang hendak jatuh, namun beruntung tangan Pram sigap menahan pinggang kakak tiri Melati, sehingga tubuh Agnez berada dalam dekapan hangat Asisten pribadi Arnon.
Keduanya masih saling tatap satu sama lain, sampai suara ledekan para anak-anak mengejutkan mereka berdua.
"Cie cie, Paman dan Bibi sedang pacaran ya?"
Sontak keduanya saling menjauhkan diri dengan wajah yang sudah sama-sama memerah.
Agnez berjalan sekencang mungkin ke arah mobil Pram dan diikuti oleh si pemilik mobil tersebut.
"Bagaimana aku bisa melupakan dia jika terus begini," gumam Agnez sembari terus berjalan kencang.
Wajah Pram masih memerah. Jantungnya juga berdetak kencang tak beraturan. "Tak mungkin rasa itu tumbuh lagi! aku sudah tak ingin merasakan sakit hati untuk yang kedua kalinya."
Agnez sudah berada di rumahnya. Ia terbaring di kamarnya dengan hati penuh rasa bahagia saat mengingat kesan romantis antara dirinya dan Pram saat di taman bermain dengan anak-anak.
Wanita itu mengambil selimut Pram. Ia mengelus, mengendus sisa wangi aroma tubuh maskulin Pram yang masih menempel pada selimut tersebut.
"Aku akan menggunakannya untuk yang terakhir kali, besok aku akan mengembalikannya padamu."
Agnez tidur menggunakan selimut milik Pram. Ia berkhayal jika hangat dari selimut itu adalah pelukan hangat dari Pram untuknya.
"Aku mencintaimu, Pram!"
Ucapan Agnez menjadi pengantar tidur bagi wanita itu.
Berbeda dengan Pram yang masih tak dapat tidur. Ia berguling ke kanan dan ke kiri dengan wajah terpejam berusaha untuk tidur nyenyak.
Pram tiba-tiba bangun dengan posisi duduk. "Kenapa dengan aku! senyuman itu ... ah, ini tak benar! aku telah membentengi hatiku darinya dan aku tahu jika dia sudah mulai suka padaku saat aku melihat gelagatnya itu."
Pram sesungguhnya sudah tahu gelagat Agnez, jika wanita itu sudah suka padanya karena ia sudah pernah sekali jatuh hati pada wanita dan sialnya, kisah cintanya tak semanis kisah drama romantis yang pernah ia tonton.
Wajah Agnez terbayang dalam otaknya. Senyum tulus yang terukir indah pada bibir wanita itu kini menjalari kepalanya.
Pram menutup kepalanya dengan guling, agar ia bisa tidur dengan nyenyak dan menyambut hari esok yang indah.
Pram terus berusaha memejamkan matanya, sampai kedua indera penglihatannya itu sungguh tak tahan lagi untuk menutup rapat-rapat.
Kokok ayam jantan mulai saling menunjukkan kemampuan mereka. Membangunkan semua orang yang masih terlelap tidur.
Agnez sudah meletakkan sebuah kado di kamar Hadi dengan sebuah kertas yang masih terselip di atasnya.
Agnez sudah berpenampilan rapi. Celana jeans dark blue dan blouse cantik berwarna hijau sepaha dengan bagian bawahnya sedikit mengembang.
Rambut ia naikkan setinggi mungkin dengan kacamata yang bertengger di kedua matanya dan wedges berwarna coklat.
Taksi online pesanannya sudah berada di depan rumah.
__ADS_1
Agnez sudah berada di dalam taksi tersebut dengan ransel dan paper bag yang berada di sampingnya.
Tak lama, taksi itu berhenti tepat di sebuah rumah mewah milik Pram.
Agnez turun dengan wajah yang ia buat setegar mungkin. Ini pilihan yang tepat yang harus ia ambil demi menemukan kehidupannya yang baru.
Jari-jari Agnez lagi-lagi menyentuh pagar besi ruamh besar tersebut dan satpam yang tempo hari membukakan gerbang untuknya kembali membukakan gerbang itu lagi.
"Mau bertemu Tuan, kan?"
"Tidak, Pak! saya hanya ingin menitipkan paper bag ini untuk, Pram! tolong berikan ini padanya ya, Pak!"
"Baik, Mbak!"
Agnez berjalan kembali menuju taksi yang sedang menunggunya sedari tadi. Ia memerintahkan agar supir menekan pedal gasnya untuk melanjutkan perjalanan.
Tepat saat taksi Agnez melaju menuju bandara, mobil Pram hendak keluar dan satpam tadi membuka gerbang rumah Pram, namun sebelum Tuannya keluar dari halaman rumahnya, satpam tersebut memberikan paper bag titipan Agnez.
"Maaf, Tuan! ini ada titipan dari seorang wanita yang kemarin sempat datang kemari mencari anda," ujar satpam itu.
Pram menerima paper bag dari dalam mobil dengan posisi kaca mobil terbuka.
"Wanita?" tanya Pram yang tak mengerti maksud satpam rumahnya.
"Iya! wanita yang tempo hari datang kemari ingin menemui, Tuan! waktu itu ada orangtua anda, jadi saya membiarkan wanita itu masuk ke dalam sendiri," jelas satpam itu.
"Jadi dua hari yang lalu? tapi saat orangtuaku kemari, tak ada tamu selain mereka," elak Pram.
"Tidak mungkin, Tuan! jelas-jelas dia masuk ke dalam dan beberapa menit kemudian wanita itu keluar dengan mata sembab."
"Iya! wajah wanita itu sembab seperti habis menangis dan saat saya tanya? dia bilang ada keluarganya yang meninggal."
Pram masih belum tahu siapa kira-kira gadis itu.
Ia tak ingin terlalu memikirkannya. Pram masih penasaran dengan isi paper bag-nya. Ia melihat isinya. Di sana sudah ada selimut, sebuah kunci rumah, dan sebuah gelang pemberian Agnez yang sempat ia tolak.
Jantung Pram seketika berdetak sangat cepat kala ia mengingat kejadian dua hari yang lalu dimana kedua orangtuanya dan Marina datang kemari.
Pram mematikan mesin mobilnya. Berlari menuju ruangannya yang berada di lantai atas. Ia menghidupkan laptopnya.
"Ayolah lebih cepat sedikit!"
Saat laptopnya sudah menyala sempurna, ia melihat rekaman CCTV pada bagian teras rumahnya.
Ia mencari waktu saat kedua orangtuanya datang kerumahnya.
Pram terus mencari waktu itu dan itu terjadi saat pagi hari sekitar jam 9 pagi.
Pram melihat ke arah jam yang sama. Rekaman mulai di putar tepat saat Agnez masih berjongkok di jalan melihat bunga berwarna salmon.
Jantung dan mata Pram sungguh kali ini siap kapan saja melompat keluar dari sarangnya.
Pram melihat dari mulai Agnez mendengarkan obrolan dirinya dan keluarganya.
Pram juga tahu bagaimana raut wajah wanita itu dan Pram juga tahu bagaimana ia menahan tangisnya.
__ADS_1
Pram juga tahu bagaimana air mata wanita itu mengalir deras membanjiri wajahnya.
Pram melihat semua kejadian sampai Agnez menunggu taksinya di luar halaman rumahnya.
Bayangan kejadian kemarin saat Agnez secara tiba-tiba memintanya ditemani berbelanja, memberikan dirinya gelang persahabatan, semua kejadian itu bagai sebuah kenangan perpisahan.
Pram mengutak-atik ponselnya.
"Cepat cari tahu keberadaan, Agnez! aku tunggu 1 menit lagi."
Pram memutuskan panggilannya dengan raut wajah gusar. Ia sungguh tak menyangka jika wanita itu tahu jika ia akan di jodohkan dengan wanita pilihan ibunya.
"Kenapa kau harus memiliki perasaan sedalam itu padaku? kenapa?"
Pram mulai mengacak rambutnya kasar. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia tahu jika dirinya sudah mulai tertarik pada pesona Agnez.
Ponsel Pram berbunyi.
"Bagaimana?" tanya Pram.
"Nona, Agnez! ... akan segera terbang ke Belanda 15 menit lagi."
Pram melonggarkan dasinya berlari menuju mobil.
Pram menancapkan pedal gasnya sedalam mungkin dengan kecepatan penuh.
"Kau tak boleh begini, Agnez! kau yang memulai semua ini dan kau juga yang harus mengakhirinya."
Tin tin tin tin
Klakson mobil Pram bagai alunan musik yang berbunyi sepanjang jalan karena jalanan hari ini macet total.
"Ah, kenapa harus sesulit ini," gumam Pram memejamkan matanya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Pram melihat waktu keberangkatan Agnez sudah kurang 7 menit lagi.
Pria itu terus melajukan mobilnya.
Kurang 2 menit lagi pesawat yang di tumpangi Agnez akan terbang.
Pram mencari keberadaan Agnez, namun tak kunjung ia temukan.
Pram terus melihat semua wajah orang-orang yang berada di bandara itu, namun tak ada wajah yang ia temukan saat ini.
Saat Pram melihat kembali ke arah jam tangannya, waktu keberangkatan pesawat Agnez sudah pas dan bersamaan dengan itu sebuah pesawat mulai merangkak naik melayang di udara yang semakin lama semakin cepat dan jauh sampai tak terlihat.
Pram menatap nanar pesawat yang ditumpangi Agnez.
"Ini semua salahku yang tak ingin mengakui perasaan ini karena aku masih berlarut dalam masa lalu yang seharusnya aku buang jauh-jauh."
Pram mengambil gelang karet Agnez dari dalam sakunya. Pria itu memakai gelang karet itu dekat dengan jam tangannya.
"Gelang ini sama pentingnya dengan jam tangan yang selalu berada melingkar di pergelangan tanganku dan aku akan menunggu sampai pasangan gelang karet ini kembali," ucap Pram dengan wajah yang hendak menangis, namun ia tahan.
Pram berjalan lunglai menuju pintu keluar Bandara.
__ADS_1
Sungguh hati pria itu kali ini bagai tak merasakan apa-apa lagi.