Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 155 ( Season 2 )


__ADS_3

Malam telah tiba. Semua para tamu sudah hadir di gedung tempat terselenggaranya pesta pernikahan dokter yang terkenal tampan di dunia kesehatan tanah air.


Semua tamu wanita lajang merias dirinya sesempurna mungkin agar lirikan mata William bisa mengarah pada mereka.


Gaun yang dikenakan para tamu jomblo juga terlihat begitu seksi dan menggoda.


Rata-rata mereka yang masih lajang adalah anak para pengusaha yang kenal dengan Edward dan Arnon.


Melati dan Arnon sudah berada di dalam ruangan pesta. Salma dan Edward juga sudah berada di sana sambil berbincang hangat dengan para rekannya.


Suara lantunan musik instrumental Thousand Year by Cristina Perri mulai terdengar. Semua tamu menghadap ke arah depan dimana mempelai pria keluar dengan balutan texudo yang sangat pas di tubuhnya.


Para wanita itu lagi-lagi menatap William kagum dan meleleh.


Badan tegap, dada bidang dan senyum manisnya membuat para kaum hawa klepek-klepek di buatnya.


Sebuah mobil mewah terparkir tetap di depan gedung itu. Pengantin wanita turun dari mobil tersebut di dampingi oleh 5 orang wanita cantik untuk mengangkat gaunnya yang menjuntai ke bawah.


Saat ia turun dari mobilnya, hells mewah dengan aksen bunga dari berlian terpampang sangat jelas. Entah darimana datangnya para awak media yang begitu saja menyambut kedatangan Zinnia dan Susan yang mendampingi sang cucu.


Gadis itu tersenyum manis ke arah kamera. Ia mencoba tak tegang dan menetralkan dirinya.


"Santai, Zi! anggap saja ini lomba peragaan busana dan kau harus menjadi pemenangnya."


Zinnia terus berjalan ke arah pintu masuk. Ia mendengar lantunan instrumental yang menjadi soundtrack film favoritnya.


Sungguh hati Zinnia kini seakan melambung tinggi. Ia membayangkan jika suaminya seromantis pemeran Edward Cullen si vampir tampan.


Zinnia semakin dekat dengan ruangan pesta pernikahannya. Lantunan instrumental itu semakin terdengar jelas.


Ia melihat banyak sekali tamu yang hadir. Semua orang memberi jalan padanya seakan ia ratu malam ini.


Saat semua orang mulai minggir memberi jalan padanya agar menghampiri mempelai pria, Zinnia menatap lurus ke depan.


Pria tampan, putih, gagah dan manis tentunya tengah berdiri menunggunya. Ia terkejut saat dirinya mulai memperhatikan lebih detail pria itu.


"Bukankah itu pria yang aku temui di bandara?"


William yang menatap intens ke arah Zinnia juga turut terkejut. Ia tak habis pikir, kenapa dunia ini begitu sempit.


"Dia wanita yang aku buat terluka kan?"


Pikiran mereka sudah melayang entah kemana. Seakan keduanya tertarik oleh magnet membuat kaki pasangan itu melangkah saling menghampiri satu sama lain.


Mereka ingin melihat lebih dekat wajah masing-masing.


Saat keduanya hanya berjarak dua langkah, kesadaran mereka mulai kembali.


William menarik pinggang istrinya agar ia bisa berkomunikasi lebih dekat lagi tanpa ada orang yang mendengar dan curiga.


Jarak keduanya sudah sangat dekat. Mata mereka juga sudah saling beradu.

__ADS_1


"Jadi kau adik kecil itu?" tanya William tersenyum simpul pada Istrinya.


Zinnia menatap William heran. "Jadi kau pria mapan yang di ting ...."


Pria itu menarik lebih dekat lagi pinggang Zinnia. "Jangan katakan di sini! kita selesaikan masalah kita di rumah," bisik William yang seakan terlihat sedang bermesraan di depan semua tamu.


Tepuk tangan dari para undangan yang hadir menggema di seluruh ruangan itu.


Alunan musik romantis mulai terdengar. Zinnia dan William yang harus mengawali dansa pada malam ini.


William kembali menarik pinggang Istrinya lebih dekat. Wajah Zinnia sudah kusut karena pria itu sudah seenaknya main tarik pinggangnya.


"Jangan memasang wajah seperti itu, orang-orang akan curiga jika kau terpaksa menikah dengan dokter tampan sepertiku," tutur William sambil meletakkan kedua tangan Zinnia tepat berada di pundaknya.


"Apa yang kau ...."


"Ssstttt! jangan banyak bicara, ikuti saja permainan malam ini, kau tak ingin keluarga kita malu kan?"


Kedua tangan William mulai bertengger pada pinggang Zinnia.


Keduanya bergerak mengikuti alunan musik romantis yang terdengar.


"Pelan-pelan! gaunku sangat panjang dan susah jika bergerak," protes Zinnia.


"Kau ini tetap cerewet ya, Adik kecil! apa dulu Aunty Melati mengidam petasan?" tanya William ingin menggoda Istrinya.


"Kau ini ...."


"Diam, Adik kecil! apa kau ingin kita menjadi tontonan malam ini?"


"Aku diam saja dan kau tak perlu mengajakku berbicara," ujar Zinnia kesal.


Entah karena alasan dia sudah kenal dari kecil dengan Zinnia membuatnya senang menggoda gadis yang sudah menjadi istrinya ini.


Acara dansa sudah selesai, semua tamu kini mulai berbincang.


Zinnia berbaur dengan keluarganya, sedangkan William berbaur dengan para dokter dan beberapa wanita yang merupakan penggemarnya.


Salah satu wanita itu berani mendekati William yang sedang fokus berbincang dengan dokter lainnya.


"Dokter William! selamat ya atas pernikahannya anda," ujar wanita yang berpakaian super seksi dengan tangan terulur untuk memberikan selamat.


Mau tak mau William harus menerima uluran tangan itu. Ia tak ingin nama baiknya tercoreng hanya karena ia tak mau menerima uluran tangan wanita genit di hadapannya.


William menjabat tangan wanita itu, saat ia ingin melepaskan tangannya, wanita itu semakin mengeratkan genggamannya sambil tersenyum genit.


Semua hal itu tak luput dari tatapan Melati, ibu mertua dari William.


"Zi! coba kau lihat itu," pinta Melati pada putrinya.


Zinnia hanya melihat, kemudian beralih menatap ke arah ibunya kembali. "Ada apa, Mom?" tanya gadis polos itu.

__ADS_1


"Astaga, Zi! apa kau tak melihat jika ada wanita yang tengah menggoda suamimu?"


"Astaga! kenapa aku lupa jika aku sudah menikah ya, Mom!"


Zinnia langsung berjalan menghampiri suaminya, sedangkan Melati hanya bisa tepuk jidat melihat tingkah kekanakan sang putri.


Zinnia mendekati William yang masih berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya dari wanita lapar tersebut.


Zinnia langsung manarik paksa tangan suaminya yang di pegang wanita lain. "Tolong lepaskan tangan suami saya, Nona!"


Wanita itu menatap tajam ke arah Zinnia yang berani mengganggu aktivitasnya.


"Maaf! tapi bukankah anda hanya mempelai pengganti? jadi saya tahu jika suami anda hanya mencintai, Nona Marion! Anda itu hanya sebatas pengganti saja tak lebih," sarkas wanita itu yang tak lain perawat di rumah sakit milik William.


Semua mata tertuju pada mereka. Sebenarnya semua orang sudah tahu perihal calon istri William kabur dan menikah dengan pria lain, namun mereka tak ingin menggali lubang kuburan mereka jika sudah berurusan dengan dua keluarga berpengaruh di Negaranya.


"Kau tak tahu tentang aku dan, suamiku! yang kau tahu hanya hubungan dia dan mantan calon istrinya! asal kau tahu ya, Nona! kami ini sudah kenal sejak aku masih kecil, sebelum dia mengenal mantan calon istrinya itu," jelas Zinnia sedikit emosi.


"Aku tak percaya dengan perkataan anda, Nona!"


Perawat itu tersenyum remeh pada Zinnia karena ia sudah tahu seluk beluk kisah cinta William dan Marion. Perawat itu merupakan fans berat William sampai ia tahu semua tentang William.


"Nampaknya wanita ini tak mudah untuk aku taklukan hanya dengan kata-kata saja."


"Apa kau ingin bukti?" tanya Zinnia menatap perawat itu tajam.


"Tentu saja! saya ingin mendapat bukti yang nyata," tantang wanita itu.


"Tak ada cara lain, aku harus melakukan hal ini! nanti saat acara ini sudah selesai, aku akan menjelaskan padanya."


Zinnia menghadap ke arah William. Ia menatap kedua mata suaminya dalam.


Zinnia mendekatkan bibirnya pada bibir William dan ....


Cup


Kecupan singkat mendarat sempurna pada bibir indah hot Dokter tersebut.


William masih diam mematung mendapat serangan tak terduga dari Istrinya.


Gadis itu menyentuh pipi suaminya sambil berkata, "Apa kau mencintaiku?"


Mata keduanya masih saling pandang.


"Kau rela membantuku agar lepas dari wanita gila ini, sekarang giliranku untuk membantumu."


Tangan kiri William menarik pinggang Zinnia, sementara tangan kanannya menarik tengkuk Istrinya.


Bibir mereka sudah menyatu sempurna. William tak berani menggerakkan bibirnya karena dia sendiri juga baru sadar apa yang dilakukannya.


Semua orang tersenyum karena perkataan perawat itu semua tak benar.

__ADS_1


GAMBAR WILLIAM DAN ZINNIA AUTHOR SHARE DI GRUP CHAT YA.


KALAU DISINI REVIEW NYA AKAN LAMA.


__ADS_2